Saturday, December 27, 2008


Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama

Film 3 Doa 3 Cinta mengambil setting di Yogyakarta pada tahun 2001. Disutradarai Nurman Hakim, film ini berkisah tentang tiga sahabat yang tinggal di pondok pesantren Al Hikmah, yaitu Huda (Nicholas Saputra), Ryan (Yoga Pratama), dan Sahid (Yoga Bagus). Mereka memiliki sebuah lokasi rahasia, yaitu dinding tua di belakang pesantren, yang biasa mereka gunakan untuk menulis impian-impian mereka. Setelah lulus SMA, ketiga sahabat ini berniat untuk mengejar harapan masing-masing.

Huda ingin mencari ibu yang telah meninggalkannya sejak masih SMP. Dalam pencariannya, Huda bertemu dengan Dona Satelit (Dian Sastro), seorang penyanyi dangdut kampung. Dengan bantuan Dona, Huda mencari ibunya di Jakarta. Setelah melakukan pencarian, akhirnya Huda harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ibunya telah meninggal.

Sementara itu, Ryan ingin melanjutkan usaha ayahnya yang bergerak di bidang video shooting. Setelah lulus SMA, Ryan diberi hadiah handycam oleh ibunya. Keinginan Ryan untuk meneruskan usaha ayahnya semakin menjadi setelah bertemu dengan rombongan layar tancap di pasar malam.

Lain lagi impian Sahid. Ia terjerumus ke dalam ajaran Islam sesat dan bercita-cita mati sahid. Ia sangat membenci bangsa Amerika dan sudah hampir menjadi seorang teroris. Kebenciannya ini luluh ketika ada seorang Amerika yang membiayai pengobatan ayah Sahid yang sakit keras. Sahid lalu mengurungkan niatnya untuk menjadi teroris. Beberapa hari kemudian, terjadilah tragedi 11 September.

Suasana islami sungguh terasa di sepanjang film berdurasi 114 menit ini. Film 3 Doa 3 Cinta menunjukkan bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang cinta damai. Pondok pesantren di Indonesia bukanlah sarang teroris seperti anggapan kebanyakan orang Barat. Salah satu nilai plus film ini, pesan-pesan yang ingin disampaikan tersebut dikemas secara kocak dan menghibur.

Namun, film ini terkesan kurang ‘dalam’ karena mencakup tiga cerita dari tiga tokohnya. Ending-nya pun terkesan menggantung. Walau begitu, 3 Doa 3 Cinta tetap menarik untuk ditonton. Akting Yoga Pratama dalam film ini mampu mengantarnya menggondol penghargaan dalam Festival Film Indonesia untuk kategori pemeran pembantu pria terbaik. Film ini juga berhasil memperoleh Script Development dari Global Film Initiative (San Fransisco) dan Goteborg International Film Festival (Swedia).

Sunday, December 21, 2008

Alkisah, aku punya temen anak Bandung, namanya Ridla. Hari Senin (15/12) kemarin, Ridla dateng ke Jogja buat ikut workshop pembuatan film. Karena lagi banyak tugas kuliah, aku belom sempet nemuin dia.

Hari Jumat (19/12) pagi, tiba-tiba Ridla sms aku. Katanya laptopnya ilang! Selesai kuliah, aku langsung meluncur ke Hotel Mercure, tempat Ridla nginep. Waktu aku sampai di hotel, ternyata Ridla lagi ngurus kasus kehilangannya itu di Polsek Jetis. Aku langsung nyusul ke sana. Usut punya usut, ternyata temen Ridla sendiri yang ngambil laptopnya! Namanya Andre (24). Jadi begini kronologi kehilangannya...

Minggu (7/12)
Ridla ke Jogja buat ikutan Festival Film Dokumenter (FFD).

Jumat (12/12) 
Ridla balik ke Bandung naik kereta. Nah, pas di kereta, dia kenalan sama cowok, namanya Kris. Lalu Kris mengenalkan Ridla pada Andre. Mereka ngobrol-ngobrol, trus Ridla bilang kalo Senin bakal ke Jogja lagi.
 
Senin (15/12)
Ridla ke Jogja lagi buat ikutan workshop pembuatan film. Entah dari mana Andre dapet nomer handphone Ridla, tiba-tiba Andre menelepon Ridla ngajak ketemuan.

Selasa (16/12) 
Ridla, Andre, dan Kris makan malam bareng. Andre yang traktir semuanya.

Rabu (17/12)
Andre ngajak ketemuan lagi, tapi Ridla sibuk.

Kamis (18/1)
Andre jemput Ridla dari tempat workshop. Mereka udah janjian buat nonton film “3 Doa 3 Cinta”. Sebelom nonton, Andre bilang ke Ridla, mending laptopnya ditinggal di hotel aja daripada dibawa ke bioskop. Akhirnya mereka balik ke hotel bentar buat naruh laptop trus pergi nonton. Andre udah ngebeliin tiket nonton yang jam setengah 10 malem. Dan nggak cuma tiket nonton, Andre juga ngebeliin Ridla tiket pulang ke Bandung untuk hari Jumat (19/12) malem.

Di tengah-tengah film, tiba-tiba Andre pamit mau ke kamar mandi. Andre minta tiket ke Ridla, dengan alasan kalo mau keluar masuk studio bioskop di Jogja harus nunjukin tiket. Andre pun nawarin buat nyariin tiket di tas Ridla. Setelah nemu tiketnya, Andre keluar.

Lima belas menit berlalu. Andre nggak balik-balik. Ridla mulai curiga trus nelepon Andre. Andre bilang, dia terlanjur pipis di celana dan sekarang lagi dalam perjalanan pulang. Sungguh mencurigakan. Ridla langsung keluar dari studio dan mengecek isi tasnya. Dan ternyata... tet tot... kartu hotelnya ilang!

Ridla langsung pulang ke hotel naik taksi. Sampe di hotel, dia lapor ke security, minta dibukain pintu kamarnya. Habis masuk kamar, dia langsung sadar kalo laptopnya ilang... Pihak security langsung memeriksa rekaman CCTV, dan ternyata emang si Andre yang ngambil tuh laptop! Dasar penjahat!!! Ridla nelepon Andre, tapi nomernya udah nggak aktif. Ridla nelepon Kris buat minta alamat rumah Andre, tapi Kris nggak tau. Ternyata Kris juga baru kenal Andre di kereta...

Jumat (19/12)
Aku ketemu Ridla. Dari CCTV, dapat diketahui nomor plat taksi yang udah nganter Andre ke hotel. Ridla langsung lapor polisi, trus polisi bantuin Ridla nyari si sopir taksi. Si sopir taksi pun dipanggil. Pas dimintai keterangan, sopir taksi bilang kalo Andre mau ke Solo trus terbang ke Jakarta hari Jumat (19/12) pake penerbangan paling pagi.

Habis dari kantor polisi, Ridla sibuk neleponin travel agent Solo. Dia ngecekin semua nama yang naik penerbangan paling pagi, trus akhirnya ketemulah satu nama, dan satu-satunya, yang bernama Andre: Andre Nico Saputra. Dari travel agent itulah, kita dapet alamat rumah Andre di Solo. Ridla bener-bener pingin nemuin si pencuri, soalnya laptop yang diambil ternyata bukan punya Ridla, melainkan punya kakaknya. Trus Ridla ngajakin aku nyari alamat rumahnya. Aku nggak tega ngeliat Ridla pergi sendirian ke Solo, jadi aku akhirnya nyanggupin buat nemenin dia. Nekat, siang itu juga kita berdua ke Stasiun Tugu buat pergi ke Solo. Berdua aja, cewek semua, memburu pencuri laptop.

Saat itu jam udah menunjukkan pukul satu kurang lima. Kita kira keretanya berangkat jam 13.00. Kita lari-lari di stasiun, trus begitu sampe loket... fiuuhhh, kereta ke Solo ternyata baru berangkat jam 13.15. Masih ada waktu untuk bernafas...

Satu jam kemudian, akhirnya kita sampe juga di Stasiun Balapan. Di sana ujan derrreees banget! Kita istirahat bentar buat sholat trus makan, habis itu kita langsung nyari taksi. Pas udah di dalem taksi, ternyata pak sopir taksi nggak tau di mana alamat yang kita cari. Pak Sopir yang orang Solo aja nggak tau, apalagi kita! Tapi kita terus cari dan mencari... Rasanya udah kayak ikut reality show aja, Termehek-mehek atau reality show lain, yang pas adegan nyari rumah orang.

Setelah dua puluh menit pencarian, akhirnya ketemu juga rumah Andre. Si Andre nggak ada di rumah, jadi kita ketemu sama ibunya. Pertama-tama kita nanya dulu, ciri-ciri Andre Nico Saputra itu kayak gimana. Ibunya bilang, Andre itu putih, nggak terlalu tinggi, chinese... pas banget kayak Andre yang dikenal Ridla!

Ridla langsung ngejelasin semua yang dilakukan Andre padanya... Ibunya jelas aja nggak percaya kalo anaknya udah nyuri laptop! Trus Ridla minta sang ibu buat nunjukin foto Andre. Kebetulan Ridla juga bawa foto Andre. Dan setelah ditunjukin ternyata... tet tot!

Beda. Kita salah orang. Mission incomplete. Ridla langsung frustasi. Dia udah berharap banyak sama cowok bernama Andre Nico Saputra ini, tapi ternyata dia bukan Andre yang udah nyuri laptop Ridla. Trus sang ibu langsung nelepon travel agent-nya di depan kita dan marah-marah. Intinya, dia marah gara-gara travel agent itu udah ngasih alamat rumah Andre Nico Saputra ke Ridla.

Setelah minta maaf berkali-kali, aku ma Ridla mutusin buat dateng ke travel agent yang tadi. Kita mau ngecek sekali lagi semua nama yang berangkat ke Jakarta hari itu.

Sampe di travel agent yang berada di jalan Urip Sumoharjo, kita mengungkapkan maksud kedatangan kita. Ridla juga bilang kalo dialah yang menelepon travel agent itu tadi pagi buat minta alamat Andre. Si resepsionis travel agent langsung marah besar! Dia marahin Ridla gara-gara ngomong ke ibunya Andre kalo travel agent itu yang udah ngasih alamatnya ke Ridla. Akibat dari perbuatan Ridla, travel agent itu jadi kena marah. So pasti, si resepesionis nggak mau nunjukin daftar nama semua orang yang berangkat hari itu... Dasar apes. Tampaknya kita emang harus pulang dengan tangan kosong...

Karena hari itu kita udah habis duit banyak buat naik taksi, kita mutusin buat ke Stasiun Balapan naik bus. Bus pertama yang lewat langsung kita hadang trus kita tanyain, “lewat stasiun nggak pak?”

Pak kondektur menjawab, “Lewat, Mbak!”

Kami pun naik dengan pedenya. Trus pas udah naik bus, kita baru nanya ke salah satu penumpang, bener nggak kalo bus ini nglewatin Stasiun Balapan. Tapi ternyata tidak. Maksud pak kondektur, bus ini ngelewatin Stasiun Jebres. Bukan Stasiun Balapan. Karena kita nggak yakin kalo kereta menuju Jogja bakal ngelewatin Stasiun Jebres, kita langsung buru-buru turun sebelom kesasar...

Trus akhirnya kita mutusin buat naik becak, karena kemungkinan kesasar naik becak relatif lebih kecil daripada naik bus. Begitu sampai di Stasiun Balapan, aku berkali-kali nanya ke Ridla, yakin mau menyerah sampai di sini? Setelah Ridla mantap untuk mengikhlaskan laptopnya, kita akhirnya beli tiket pulang ke Jogja yang jam 6...

Fuuh, walo akhirnya nggak berhasil nemuin pencurinya, tapi hari ini aku dapet pengalaman dan pelajaran baru: jangan mudah percaya sama orang yang baru dikenal...

Tuesday, December 9, 2008


Tak kurang 200 orang memadati gedung Societeit Militaire Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (6/12) malam. Rupanya, Komunitas Dokumenter sedang menghelat acara pembukaan Festival Film Dokumenter (FFD) 2008.

FFD yang kembali digelar untuk ketujuh kalinya ini akan berlangsung selama 6-13 Desember 2008. Empat venue dipilih sebagai tempat penyelenggaraan festival, yaitu Societeit Militaire TBY, Benteng Vredeburg, Lembaga Indonesia Perancis, dan Rumah Budaya Tembi.


Acara pembukaan

Acara pembukaan FFD 2008 yang dimulai pukul 20.00 WIB ini dibuka dengan sambutan dari Abraham Mudito selaku Koordinator Festival. “FFD tahun ini mengambil tema Ordinary People, Extraordinary Life. Kami menyoroti orang-orang biasa yang menjalani hidup dengan tak biasa,” terang lelaki yang akrab disapa Abib ini.

Sambutan berikutnya datang dari Agus Nugroho, Koordinator Program. “Ada banyak program pada FFD kali ini, mulai dari pemutaran film, workshop, temu komunitas, masterclass, sampai diskusi,” tutur Agus dalam sambutannya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film bertajuk Operation Homecoming: Writing the Wartime Experience yang disutradarai oleh Richard Robbins. Film berdurasi 81 menit ini berisi tentang pendapat pribadi tentara-tentara Amerika mengenai gambaran detail perang. Setelah pemutaran film, para penonton dipersilakan menikmati hidangan yang tersaji.


Beragam komentar

Meski berjalan lancar tanpa ada kendala berarti, acara pembukaan FFD 2008 tetap menuai berbagai komentar dari para penonton. “Film opening-nya menarik. Tentang kisah para tentara,” ujar Ibnu (21), salah seorang penonton.

Sebaliknya, Perwiro Haryo (20) mengaku bosan selama pemutaran film. “Alurnya lambat. Aku tadi sampai ketiduran,” kata Perwiro. Walau begitu, ia tetap berminat untuk mengikuti rangkaian acara FFD 2008. “Film dokumenter mampu memberikan pengetahuan baru,” tandas Perwiro.

Tuesday, December 2, 2008


Belakangan ini aku benar-benar merasa menjadi anak pantai. Setelah Kamis (27/11) harus ke Pantai Siung untuk shooting tugas mata kuliah Program Siaran TV (PSTV), aku kembali lagi ke pantai pada hari Minggu (30/11). Pantai yang kudatangi kali ini adalah Pantai Pandansimo, Bantul.

Kunjunganku ke pantai ini sungguh merupakan suatu ketidaksengajaan. Awalnya, aku dan ketiga teman gengku –Dildol, Yuyun, Zata– berniat melakukan riset di daerah Bantul untuk memenuhi tugas mata kuliah Sinematografi. Namun sesampainya di sana, Yuyun malah mengatakan bahwa pada saat itu juga sedang digelar Lomba Muatan Roket di Pantai Pandansimo. Kami pun tergiur untuk menonton lomba itu barang sejenak.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya kami tiba juga di pantai tempat diadakannya lomba. Sialnya, kami datang di waktu istirahat. Lomba baru akan dimulai lagi pukul 15.00, padahal saat itu baru jam 11.00.

Jika dibandingkan dengan Pantai Siung, pemandangan alam di Pantai Pandansimo bisa dibilang kalah jauh. Tapi karena sudah jauh-jauh ke Pantai Pandansimo, rugi kalau tidak dimanfaatkan untuk berwisata. Belum pulihnya kulit yang gosong akibat ke Pantai Siung tiga hari sebelumnya tak menjadi masalah besar. Kami asyik berfoto-foto di bawah teriknya matahari yang menyinari Pantai Pandansimo.


Wisata kami ke pantai ini tampaknya membawa berkah tersendiri bagi Yuyun. Dia bertemu salah seorang temannya yang, ehem... lumayan ganteng. Usut punya usut, ternyata Yuyun suka dengan temannya itu! Kayaknya sih...

Di Pantai Pandansimo juga, Zata bertemu dengan pakdenya yang kebetulan bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), lembaga yang menyelenggarakan Lomba Muatan Roket. Beruntung bagi Zata, sang pakde menawarinya bekerja di lembaga tersebut setelah lulus kuliah nanti.


Sementara aku dan Dildol, kami harus puas hanya dengan bertemu penjual bakso ojek. Sudah beberapa hari terakhir ini, kami –terutama aku– ngidam cilok. Tak ada cilok, bakso ojek pun jadi.

Wisata dadakan kami ini akhirnya harus berakhir ketika teringat bahwa ada tugas Sinematografi yang menunggu untuk dikerjakan. Meski rasa malas menyerang, kami tetap berusaha memenuhi tujuan awal kami. Dengan berat hati, keempat anak pantai akhirnya meninggalkan Pandansimo...

Monday, November 24, 2008

Kamis malam aku makan di semacam tempat makan berinisial F. Hembusan angin dingin yang menusuk raga membuatku ingin mencicipi makanan pedas. Aku pun memutuskan untuk memesan jamur balado. Setelah cukup lama menunggu, akhirnya pesananku terhidang juga. Tanpa banyak basa-basi, aku langsung menyantapnya.

Kunyahan pertama. Hmm, nikmat...

Kunyahan kedua. Mulai terasa pedas. 

Kunyahan ketiga. Hwaaa… superpedas! 

Sialnya lagi, di antara jamur ternyata terselip jahe yang dipotong besar-besar. Hueeek… aku segera tahu bahwa aku salah pesan! 

Tapi sesungguhnya bukan jamur balado sialan itu yang ingin kuceritakan. Seusai makan, tiba-tiba ada seorang cowok menghampiri mejaku. Aku kira dia ingin mengajakku kenalan, atau minta tisu, atau kemungkinan terburuk dia ternyata menyembunyikan gitar di balik tubuhnya alias mau ngamen. Tapi ternyata semua dugaanku salah.

Setelah mengucapkan permisi, lelaki itu mengambil sendok dari gelasku dan… zap! Dia membengkokkannya. Aku langsung terperangah. Ia kemudian meniup sendok tersebut dan menjadikannya lurus kembali seperti semula. Aku hanya bisa melongo, memandangnya dengan takjub.

Seakan belum puas unjuk kebolehan, lelaki bertubuh tinggi kurus itu lalu mengeluarkan selembar uang Rp 5000,- dan selembar uang Rp 1000,-. Ia menyuruhku menggenggam uang Rp 1000,- dan temanku menggenggam yang Rp 5000,-. Dalam hitungan detik, ia meminta kami membuka kepalan tangan. Ajaibnya, uang-uang itu telah bertukar tempat! Uang Rp 5000,- di tanganku dan uang Rp 1000,- di genggaman temanku. Aku tambah kagum bin nggumun. Baru kali ini aku menyaksikan sulap secara live.

Usut punya usut, ternyata si pesulap itu memang selalu mangkal di tempat makan itu pada hari-hari tertentu. Ia menampilkan atraksi dari meja ke meja secara gratis, tanpa memungut biaya! Aku merasa beruntung karena mejaku adalah salah satu meja terpilih. Kapan lagi aku melihat sulap secara langsung?

Lelaki berkulit gelap itu kemudian terus menampilkan berbagai atraksi. Mulai dari aksi mengeluarkan api dari dompetnya, sampai berbagai sulap menggunakan kartu remi. Kebeteanku dengan jamur balado langsung sirna, ikut tersulap oleh atraksinya.

Setelah merasa puas melihat ekspresi kagum di wajahku, lelaki itu akhirnya menutup perjumpaan dengan menyodorkan selembar kartu nama berwarna merah. Kubaca nama yang tertera. Dia bernama Jack Spearrow’s.


Sunday, November 16, 2008

Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM kembali menggelar acara tahunannya. 

Tak kurang 2500 orang memadati Stadion Kridosono, Sabtu (15/11) malam. Rupanya, mahasiswa FKG sedang menyelenggarakan acara tahunan bertajuk Dental Nite.


Musik untuk bumi


Dental Nite yang baru dihelat untuk kedua kalinya ini selalu mengusung tema khusus di setiap pagelarannya. Tahun ini, tema yang diangkat adalah Music for Mother Earth. Tema ini dipilih sebagai bentuk kepedulian FKG terhadap bumi yang terancam pemanasan global. “Untuk mengurangi global warming, sebagian dari hasil penjualan tiket nantinya akan digunakan untuk menanam seribu pohon di daerah Cangkringan,” ujar Rani (KG ’06), panitia bagian publikasi.

Untuk meraih massa, berbagai band lokal diundang untuk mengisi acara yang telah dipersiapkan selama empat bulan ini, di antaranya Discomojoyo, Superkustik, dan SKJ ’94. Babyclown-x tak mau ketinggalan unjuk kemampuan dance mereka. Panitia juga menghadirkan pihak WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) untuk menyampaikan kampanye peduli bumi, sesuai dengan tema Dental Nite malam itu. Puncaknya, penonton dihibur oleh penampilan band asal ibu kota, Andra and the Backbone.


Terbilang sukses

Meski tiket tidak habis terjual, acara berdurasi 3 jam ini bisa dibilang sukses. Hal itu tampak dari kepuasan yang tersirat di wajah para penonton setelah acara usai. “Kadang-kadang ada jeda agak lama antara band satu dengan band selanjutnya. Tapi nggak masalah, Andra keren banget malam ini!” ungkap Bahana (Arsitek ’06), salah satu penonton.

Melihat tanggapan positif dari penonton, Rani mengaku puas. “Semoga saja Dental Nite tahun depan bisa lebih meriah lagi,” tandas Rani. 


Tuesday, November 11, 2008

Hujan deras mengguyur kota Jogja, Sabtu (8/11) siang. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat awak SKM UGM Bulaksumur untuk menempuh perjalanan jauh ke Balai Istirahat Karyawan (BIK), Kaliurang. Selama dua hari, Sabtu-Minggu (8-9/11), mereka akan menggelar acara sakral di tempat ini, yaitu Musyawarah Bulaksumur (Mubul). Selain bertujuan untuk memilih pemimpin baru, acara ini juga dipergunakan untuk me-launching web baru SKM UGM Bulaksumur.

Rombongan tiba di BIK pukul 13.00 WIB. Setelah beristirahat sejenak, acara langsung dilanjutkan dengan sidang Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) oleh Dewan Pemimpin 2007/2008. Dewan Pemimpin yang akan segera lengser ini terdiri dari Indah Widyaning (Pemimpin Umum), Pandu Satria (Sekretaris Umum), Mufti Nurlatifah (Pemimpin Redaksi), Avicenna Nindya (Manajer Iklan dan Promosi), Raras Cahyafitri (Kepala Litbang), dan Dewi Ratih (Kepala Produksi).

Sidang LPJ berakhir pada pukul 17.30 WIB. Semua LPJ diterima dengan beberapa catatan, kecuali untuk Indah Widyaning, Pandu Satria, dan Raras Cahyafitri yang diterima tanpa catatan. Peserta Mubul kemudian diberi kesempatan untuk beribadah dan makan malam.

Pukul 19.30 WIB, acara dilanjutkan kembali dengan sidang visi misi untuk calon Dewan Pemimpin 2008/2009. Sidang yang berlangsung alot ini diwarnai dengan berbagai drama, mulai dari tangis sampai jatuh sakitnya salah seorang calon. Perdebatan sengit terutama terjadi pada saat pemilihan Pemimpin Umum, Sekretaris Umum, dan Kepala Produksi.

Sidang berakhir pada hari Minggu pukul 2.00 WIB dini hari. Calon yang akhirnya berhasil maju menjadi Dewan Pemimpin 2008/2009 adalah Gilang Gusti Aji (Pemimpin Umum), Starin Sani (Sekretaris Umum), Dila Maretihaq (Pemimpin Redaksi), Nur Septiana (Manajer Iklan Promosi), Anggi M. L. (Kepala Litbang), dan Kurnia Rahmad (Kepala Produksi).

Meski sudah menemukan Dewan Pemimpin baru, Mubul belum usai. Keesokan harinya, digelar acara launching web baru SKM UGM Bulaksumur yang beralamat di www.bulaksumur-online.com. Setelah launching, dilakukan prosesi serah terima jabatan dari Dewan Pemimpin lama kepada Dewan Pemimpin baru. Acara akhirnya berakhir pada pukul 10.00 WIB.

Di tangan Dewan Pemimpin lama, SKM UGM Bulaksumur telah berhasil menjadi suatu media komunitas yang profesional. Berbagai kegiatan hiburan digelar dengan penuh rasa kekeluargaan, berbagai pekerjaan dilakukan dengan menjunjung tinggi profesionalisme. Tampuk kekuasaan sudah berganti. Mari kita saksikan kiprah SKM UGM Bulaksumur di bawah Dewan Pemimpin baru.


Wednesday, November 5, 2008


Marmos. Kata itu semakin akrab saja di telingaku. Teman-teman sering sekali menyebutku begitu. Demikian pula sebaliknya, aku kerap mengatai mereka dengan kata itu.

Marmos berasal dari kata marai (Jawa=membuat) dan emosi. Jadi, marmos adalah sebutan bagi orang yang gemar sekali membuat sesamanya terpancing emosi, baik disengaja maupun tidak. Cara orang marmos memancing emosi bisa bermacam-macam, mulai dari penggunaan bahasa yang kasar sampai perilaku yang congkak dan takabur.

Semakin hari, aku menemukan jumlah orang marmos semakin banyak. Menurutku, ada beberapa faktor yang menyebabkan orang menjadi marmos, yaitu:

1. Bad Mood 
Orang yang baru saja mengalami kejadian buruk, mood-nya akan berubah menjadi buruk pula. Mereka akan menjadi cepat tersinggung dan marah. Secara tidak sadar, mereka mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan hati lawan bicaranya. Orang yang marmos karena faktor ini biasanya akan langsung menyadari kemarmosannya setelah mood-nya kembali baik.

2. PMS (Pre Menstruation Syndrome) 
Faktor ini adalah penyebab utama marmos di kalangan kaum wanita. Mendekati datangnya menstruasi, perempuan biasanya menjadi lebih sensitif. Sedikit saja ada hal yang tidak berkenan di hati, mereka akan langsung bereaksi. Reaksi ini berbeda-beda pada masing-masing perempuan. Ada yang langsung marah-marah, ada juga yang justru diam seribu bahasa. Tapi intinya sama: marmos. Lebih marmosnya lagi, perempuan biasanya tidak merasa bersalah setelah segala kemarmosan yang dilakukannya. Dengan santai mereka berkata, “maklumlah, namanya juga lagi PMS.”

3. Genetik 
Faktor genetik atau keturunan sudah tidak bisa lagi diganggu gugat. Sejak masih di dalam kandungan, darah marmos sudah mengalir di tubuh orang-orang marmos. Hampir tidak ada cara untuk menghilangkannya. Walau begitu, orang-orang yang marmos karena faktor ini biasanya sudah menyadari kemarmosannya sejak masih kanak-kanak. Saat masih kecil, mereka dikucilkan dari pergaulan. Mereka lalu berusaha untuk berubah sehingga kebanyakan dari mereka tidak lagi marmos setelah menginjak usia dewasa.

4. Virus 

Ini adalah faktor yang paling berbahaya. Marmos adalah virus yang dapat menular dengan mudah dari satu oknum ke oknum lain. Jika dalam suatu komunitas terdapat satu orang marmos, maka sebulan kemudian minimal akan ada lima orang marmos dalam komunitas itu. Hal ini dikarenakan orang yang menjadi korban kemarmosan tentu akan merasa emosi dan berubah menjadi marmos pula. Jika setiap hari orang itu menjadi korban marmos, maka tanpa disadari sifat marmos akan menular ke dalam dirinya. Saat penular virus marmos pada akhirnya keluar dari komunitas, si korban marmos sudah terlanjur sukar untuk menghilangkan kebiasaan marmosnya.

Dari keempat faktor tersebut, tampaknya marmos yang ada pada diriku berasal dari faktor virus. Entah siapa yang pertama kali membawanya, yang jelas hampir semua teman di lingkunganku juga sudah terkena virus ini. Oleh karena itu, waspadalah bagi Anda yang belum tertular. Virus marmos ada di mana-mana!


Foto diambil dari ardiwilda.multiply.com

Sunday, November 2, 2008


Sabtu pagi yang cerah. Aku pergi ke tempat fotocopy-an untuk meng-copy buku Etika Komunikasi. Lalu aku pergi ke markas SKM UGM Bulaksumur. Lalu aku rapat. Lalu aku berbincang dengan teman-temanku. Lalu aku pulang. Lalu aku makan siang. Lalu aku mengisi teka-teki silang.

Cara bertuturku terasa membosankan? Maklum, aku masih pemula. Ini adalah tulisan pertamaku di blog ini. Aku bergabung di Multiply karena dipaksa oleh kunyuk-kunyuk Komunikasi. Mereka bilang, wajib hukumnya mempunyai blog karena mahasiswa Komunikasi harus bisa menulis. Keahlian menulis diperlukan dalam segala bidang profesi yang berkaitan dengan Komunikasi.

Awalnya aku menolak, dengan alasan aku terlalu sibuk untuk mengurus blog. Namun setelah kupikir-pikir, menulis di blog tidak menyita terlalu banyak waktu. Menulis di blog lebih mudah dibanding menulis untuk Bulaksumur Pos, menulis tugas kuliah, ataupun menulis laporan pertanggungjawaban dalam suatu kepanitiaan. Apalagi dibanding menulis skripsi, menulis di blog jauh lebih gampang. Di blog, kita bebas berekspresi. Tidak perlu takut salah, tidak perlu takut mendapat nilai C, tidak ada batas minimal harus menulis berapa kata. Semua bebas.

Walau begitu, awalnya aku sempat malu kalau tulisanku dibaca oleh teman-teman. Aku takut tulisanku diejek dan dipandang remeh oleh mereka. Aku minder karena tulisan mereka jauh lebih bagus dariku. Aku malu kalau blogku dibilang sepi kayak soto.

Tapi aku HARUS mulai membiasakan menulis mulai sekarang. Mengutip judul buku Nunung Prajarto, "Tulis Saja, Kapan Lagi." Ya, kapan lagi aku akan mulai menulis kalau bukan sekarang? Ejekan dari teman-teman justru bisa kugunakan sebagai kritik yang membangun. Aku juga akan terpacu untuk terus menulis dan meramaikan blogku agar tidak dikatakan sepi kayak soto.

Maka sekarang, inilah yang kulakukan. Setelah mengisi teka-teki silang, aku pun mulai menulis.