Saturday, December 27, 2008


Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama

Film 3 Doa 3 Cinta mengambil setting di Yogyakarta pada tahun 2001. Disutradarai Nurman Hakim, film ini berkisah tentang tiga sahabat yang tinggal di pondok pesantren Al Hikmah, yaitu Huda (Nicholas Saputra), Ryan (Yoga Pratama), dan Sahid (Yoga Bagus). Mereka memiliki sebuah lokasi rahasia, yaitu dinding tua di belakang pesantren, yang biasa mereka gunakan untuk menulis impian-impian mereka. Setelah lulus SMA, ketiga sahabat ini berniat untuk mengejar harapan masing-masing.

Huda ingin mencari ibu yang telah meninggalkannya sejak masih SMP. Dalam pencariannya, Huda bertemu dengan Dona Satelit (Dian Sastro), seorang penyanyi dangdut kampung. Dengan bantuan Dona, Huda mencari ibunya di Jakarta. Setelah melakukan pencarian, akhirnya Huda harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ibunya telah meninggal.

Sementara itu, Ryan ingin melanjutkan usaha ayahnya yang bergerak di bidang video shooting. Setelah lulus SMA, Ryan diberi hadiah handycam oleh ibunya. Keinginan Ryan untuk meneruskan usaha ayahnya semakin menjadi setelah bertemu dengan rombongan layar tancap di pasar malam.

Lain lagi impian Sahid. Ia terjerumus ke dalam ajaran Islam sesat dan bercita-cita mati sahid. Ia sangat membenci bangsa Amerika dan sudah hampir menjadi seorang teroris. Kebenciannya ini luluh ketika ada seorang Amerika yang membiayai pengobatan ayah Sahid yang sakit keras. Sahid lalu mengurungkan niatnya untuk menjadi teroris. Beberapa hari kemudian, terjadilah tragedi 11 September.

Suasana islami sungguh terasa di sepanjang film berdurasi 114 menit ini. Film 3 Doa 3 Cinta menunjukkan bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang cinta damai. Pondok pesantren di Indonesia bukanlah sarang teroris seperti anggapan kebanyakan orang Barat. Salah satu nilai plus film ini, pesan-pesan yang ingin disampaikan tersebut dikemas secara kocak dan menghibur.

Namun, film ini terkesan kurang ‘dalam’ karena mencakup tiga cerita dari tiga tokohnya. Ending-nya pun terkesan menggantung. Walau begitu, 3 Doa 3 Cinta tetap menarik untuk ditonton. Akting Yoga Pratama dalam film ini mampu mengantarnya menggondol penghargaan dalam Festival Film Indonesia untuk kategori pemeran pembantu pria terbaik. Film ini juga berhasil memperoleh Script Development dari Global Film Initiative (San Fransisco) dan Goteborg International Film Festival (Swedia).

Sunday, December 21, 2008

Alkisah, aku punya temen anak Bandung, namanya Ridla. Hari Senin (15/12) kemarin, Ridla dateng ke Jogja buat ikut workshop pembuatan film. Karena lagi banyak tugas kuliah, aku belom sempet nemuin dia.

Hari Jumat (19/12) pagi, tiba-tiba Ridla sms aku. Katanya laptopnya ilang! Selesai kuliah, aku langsung meluncur ke Hotel Mercure, tempat Ridla nginep. Waktu aku sampai di hotel, ternyata Ridla lagi ngurus kasus kehilangannya itu di Polsek Jetis. Aku langsung nyusul ke sana. Usut punya usut, ternyata temen Ridla sendiri yang ngambil laptopnya! Namanya Andre (24). Jadi begini kronologi kehilangannya...

Minggu (7/12)
Ridla ke Jogja buat ikutan Festival Film Dokumenter (FFD).

Jumat (12/12) 
Ridla balik ke Bandung naik kereta. Nah, pas di kereta, dia kenalan sama cowok, namanya Kris. Lalu Kris mengenalkan Ridla pada Andre. Mereka ngobrol-ngobrol, trus Ridla bilang kalo Senin bakal ke Jogja lagi.
 
Senin (15/12)
Ridla ke Jogja lagi buat ikutan workshop pembuatan film. Entah dari mana Andre dapet nomer handphone Ridla, tiba-tiba Andre menelepon Ridla ngajak ketemuan.

Selasa (16/12) 
Ridla, Andre, dan Kris makan malam bareng. Andre yang traktir semuanya.

Rabu (17/12)
Andre ngajak ketemuan lagi, tapi Ridla sibuk.

Kamis (18/1)
Andre jemput Ridla dari tempat workshop. Mereka udah janjian buat nonton film “3 Doa 3 Cinta”. Sebelom nonton, Andre bilang ke Ridla, mending laptopnya ditinggal di hotel aja daripada dibawa ke bioskop. Akhirnya mereka balik ke hotel bentar buat naruh laptop trus pergi nonton. Andre udah ngebeliin tiket nonton yang jam setengah 10 malem. Dan nggak cuma tiket nonton, Andre juga ngebeliin Ridla tiket pulang ke Bandung untuk hari Jumat (19/12) malem.

Di tengah-tengah film, tiba-tiba Andre pamit mau ke kamar mandi. Andre minta tiket ke Ridla, dengan alasan kalo mau keluar masuk studio bioskop di Jogja harus nunjukin tiket. Andre pun nawarin buat nyariin tiket di tas Ridla. Setelah nemu tiketnya, Andre keluar.

Lima belas menit berlalu. Andre nggak balik-balik. Ridla mulai curiga trus nelepon Andre. Andre bilang, dia terlanjur pipis di celana dan sekarang lagi dalam perjalanan pulang. Sungguh mencurigakan. Ridla langsung keluar dari studio dan mengecek isi tasnya. Dan ternyata... tet tot... kartu hotelnya ilang!

Ridla langsung pulang ke hotel naik taksi. Sampe di hotel, dia lapor ke security, minta dibukain pintu kamarnya. Habis masuk kamar, dia langsung sadar kalo laptopnya ilang... Pihak security langsung memeriksa rekaman CCTV, dan ternyata emang si Andre yang ngambil tuh laptop! Dasar penjahat!!! Ridla nelepon Andre, tapi nomernya udah nggak aktif. Ridla nelepon Kris buat minta alamat rumah Andre, tapi Kris nggak tau. Ternyata Kris juga baru kenal Andre di kereta...

Jumat (19/12)
Aku ketemu Ridla. Dari CCTV, dapat diketahui nomor plat taksi yang udah nganter Andre ke hotel. Ridla langsung lapor polisi, trus polisi bantuin Ridla nyari si sopir taksi. Si sopir taksi pun dipanggil. Pas dimintai keterangan, sopir taksi bilang kalo Andre mau ke Solo trus terbang ke Jakarta hari Jumat (19/12) pake penerbangan paling pagi.

Habis dari kantor polisi, Ridla sibuk neleponin travel agent Solo. Dia ngecekin semua nama yang naik penerbangan paling pagi, trus akhirnya ketemulah satu nama, dan satu-satunya, yang bernama Andre: Andre Nico Saputra. Dari travel agent itulah, kita dapet alamat rumah Andre di Solo. Ridla bener-bener pingin nemuin si pencuri, soalnya laptop yang diambil ternyata bukan punya Ridla, melainkan punya kakaknya. Trus Ridla ngajakin aku nyari alamat rumahnya. Aku nggak tega ngeliat Ridla pergi sendirian ke Solo, jadi aku akhirnya nyanggupin buat nemenin dia. Nekat, siang itu juga kita berdua ke Stasiun Tugu buat pergi ke Solo. Berdua aja, cewek semua, memburu pencuri laptop.

Saat itu jam udah menunjukkan pukul satu kurang lima. Kita kira keretanya berangkat jam 13.00. Kita lari-lari di stasiun, trus begitu sampe loket... fiuuhhh, kereta ke Solo ternyata baru berangkat jam 13.15. Masih ada waktu untuk bernafas...

Satu jam kemudian, akhirnya kita sampe juga di Stasiun Balapan. Di sana ujan derrreees banget! Kita istirahat bentar buat sholat trus makan, habis itu kita langsung nyari taksi. Pas udah di dalem taksi, ternyata pak sopir taksi nggak tau di mana alamat yang kita cari. Pak Sopir yang orang Solo aja nggak tau, apalagi kita! Tapi kita terus cari dan mencari... Rasanya udah kayak ikut reality show aja, Termehek-mehek atau reality show lain, yang pas adegan nyari rumah orang.

Setelah dua puluh menit pencarian, akhirnya ketemu juga rumah Andre. Si Andre nggak ada di rumah, jadi kita ketemu sama ibunya. Pertama-tama kita nanya dulu, ciri-ciri Andre Nico Saputra itu kayak gimana. Ibunya bilang, Andre itu putih, nggak terlalu tinggi, chinese... pas banget kayak Andre yang dikenal Ridla!

Ridla langsung ngejelasin semua yang dilakukan Andre padanya... Ibunya jelas aja nggak percaya kalo anaknya udah nyuri laptop! Trus Ridla minta sang ibu buat nunjukin foto Andre. Kebetulan Ridla juga bawa foto Andre. Dan setelah ditunjukin ternyata... tet tot!

Beda. Kita salah orang. Mission incomplete. Ridla langsung frustasi. Dia udah berharap banyak sama cowok bernama Andre Nico Saputra ini, tapi ternyata dia bukan Andre yang udah nyuri laptop Ridla. Trus sang ibu langsung nelepon travel agent-nya di depan kita dan marah-marah. Intinya, dia marah gara-gara travel agent itu udah ngasih alamat rumah Andre Nico Saputra ke Ridla.

Setelah minta maaf berkali-kali, aku ma Ridla mutusin buat dateng ke travel agent yang tadi. Kita mau ngecek sekali lagi semua nama yang berangkat ke Jakarta hari itu.

Sampe di travel agent yang berada di jalan Urip Sumoharjo, kita mengungkapkan maksud kedatangan kita. Ridla juga bilang kalo dialah yang menelepon travel agent itu tadi pagi buat minta alamat Andre. Si resepsionis travel agent langsung marah besar! Dia marahin Ridla gara-gara ngomong ke ibunya Andre kalo travel agent itu yang udah ngasih alamatnya ke Ridla. Akibat dari perbuatan Ridla, travel agent itu jadi kena marah. So pasti, si resepesionis nggak mau nunjukin daftar nama semua orang yang berangkat hari itu... Dasar apes. Tampaknya kita emang harus pulang dengan tangan kosong...

Karena hari itu kita udah habis duit banyak buat naik taksi, kita mutusin buat ke Stasiun Balapan naik bus. Bus pertama yang lewat langsung kita hadang trus kita tanyain, “lewat stasiun nggak pak?”

Pak kondektur menjawab, “Lewat, Mbak!”

Kami pun naik dengan pedenya. Trus pas udah naik bus, kita baru nanya ke salah satu penumpang, bener nggak kalo bus ini nglewatin Stasiun Balapan. Tapi ternyata tidak. Maksud pak kondektur, bus ini ngelewatin Stasiun Jebres. Bukan Stasiun Balapan. Karena kita nggak yakin kalo kereta menuju Jogja bakal ngelewatin Stasiun Jebres, kita langsung buru-buru turun sebelom kesasar...

Trus akhirnya kita mutusin buat naik becak, karena kemungkinan kesasar naik becak relatif lebih kecil daripada naik bus. Begitu sampai di Stasiun Balapan, aku berkali-kali nanya ke Ridla, yakin mau menyerah sampai di sini? Setelah Ridla mantap untuk mengikhlaskan laptopnya, kita akhirnya beli tiket pulang ke Jogja yang jam 6...

Fuuh, walo akhirnya nggak berhasil nemuin pencurinya, tapi hari ini aku dapet pengalaman dan pelajaran baru: jangan mudah percaya sama orang yang baru dikenal...

Tuesday, December 9, 2008


Tak kurang 200 orang memadati gedung Societeit Militaire Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu (6/12) malam. Rupanya, Komunitas Dokumenter sedang menghelat acara pembukaan Festival Film Dokumenter (FFD) 2008.

FFD yang kembali digelar untuk ketujuh kalinya ini akan berlangsung selama 6-13 Desember 2008. Empat venue dipilih sebagai tempat penyelenggaraan festival, yaitu Societeit Militaire TBY, Benteng Vredeburg, Lembaga Indonesia Perancis, dan Rumah Budaya Tembi.


Acara pembukaan

Acara pembukaan FFD 2008 yang dimulai pukul 20.00 WIB ini dibuka dengan sambutan dari Abraham Mudito selaku Koordinator Festival. “FFD tahun ini mengambil tema Ordinary People, Extraordinary Life. Kami menyoroti orang-orang biasa yang menjalani hidup dengan tak biasa,” terang lelaki yang akrab disapa Abib ini.

Sambutan berikutnya datang dari Agus Nugroho, Koordinator Program. “Ada banyak program pada FFD kali ini, mulai dari pemutaran film, workshop, temu komunitas, masterclass, sampai diskusi,” tutur Agus dalam sambutannya.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film bertajuk Operation Homecoming: Writing the Wartime Experience yang disutradarai oleh Richard Robbins. Film berdurasi 81 menit ini berisi tentang pendapat pribadi tentara-tentara Amerika mengenai gambaran detail perang. Setelah pemutaran film, para penonton dipersilakan menikmati hidangan yang tersaji.


Beragam komentar

Meski berjalan lancar tanpa ada kendala berarti, acara pembukaan FFD 2008 tetap menuai berbagai komentar dari para penonton. “Film opening-nya menarik. Tentang kisah para tentara,” ujar Ibnu (21), salah seorang penonton.

Sebaliknya, Perwiro Haryo (20) mengaku bosan selama pemutaran film. “Alurnya lambat. Aku tadi sampai ketiduran,” kata Perwiro. Walau begitu, ia tetap berminat untuk mengikuti rangkaian acara FFD 2008. “Film dokumenter mampu memberikan pengetahuan baru,” tandas Perwiro.

Tuesday, December 2, 2008


Belakangan ini aku benar-benar merasa menjadi anak pantai. Setelah Kamis (27/11) harus ke Pantai Siung untuk shooting tugas mata kuliah Program Siaran TV (PSTV), aku kembali lagi ke pantai pada hari Minggu (30/11). Pantai yang kudatangi kali ini adalah Pantai Pandansimo, Bantul.

Kunjunganku ke pantai ini sungguh merupakan suatu ketidaksengajaan. Awalnya, aku dan ketiga teman gengku –Dildol, Yuyun, Zata– berniat melakukan riset di daerah Bantul untuk memenuhi tugas mata kuliah Sinematografi. Namun sesampainya di sana, Yuyun malah mengatakan bahwa pada saat itu juga sedang digelar Lomba Muatan Roket di Pantai Pandansimo. Kami pun tergiur untuk menonton lomba itu barang sejenak.


Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya kami tiba juga di pantai tempat diadakannya lomba. Sialnya, kami datang di waktu istirahat. Lomba baru akan dimulai lagi pukul 15.00, padahal saat itu baru jam 11.00.

Jika dibandingkan dengan Pantai Siung, pemandangan alam di Pantai Pandansimo bisa dibilang kalah jauh. Tapi karena sudah jauh-jauh ke Pantai Pandansimo, rugi kalau tidak dimanfaatkan untuk berwisata. Belum pulihnya kulit yang gosong akibat ke Pantai Siung tiga hari sebelumnya tak menjadi masalah besar. Kami asyik berfoto-foto di bawah teriknya matahari yang menyinari Pantai Pandansimo.


Wisata kami ke pantai ini tampaknya membawa berkah tersendiri bagi Yuyun. Dia bertemu salah seorang temannya yang, ehem... lumayan ganteng. Usut punya usut, ternyata Yuyun suka dengan temannya itu! Kayaknya sih...

Di Pantai Pandansimo juga, Zata bertemu dengan pakdenya yang kebetulan bekerja di LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), lembaga yang menyelenggarakan Lomba Muatan Roket. Beruntung bagi Zata, sang pakde menawarinya bekerja di lembaga tersebut setelah lulus kuliah nanti.


Sementara aku dan Dildol, kami harus puas hanya dengan bertemu penjual bakso ojek. Sudah beberapa hari terakhir ini, kami –terutama aku– ngidam cilok. Tak ada cilok, bakso ojek pun jadi.

Wisata dadakan kami ini akhirnya harus berakhir ketika teringat bahwa ada tugas Sinematografi yang menunggu untuk dikerjakan. Meski rasa malas menyerang, kami tetap berusaha memenuhi tujuan awal kami. Dengan berat hati, keempat anak pantai akhirnya meninggalkan Pandansimo...