Tuesday, December 29, 2009

My Rating:★★★★★
Genre: Pop
Artist:Endah N Rhesa

Endah N Rhesa, duo asal Jakarta yang kini sedang amat saya gandrungi. Mengusung format akustik, duo yang terdiri dari Endah (vokal, gitar) dan Rhesa (bass) ini telah mengeluarkan album indie bertajuk Nowhere To Go (Repackaged). Sebelas lagu dalam album yang dirilis tahun 2009 ini kental dengan nuansa folk, jazz, blues, dan ballads. Musiknya yang easy listening, ditambah lirik-lirik yang menyentuh, membuat lagu-lagu Endah N Rhesa selalu masuk dalam playlist saya.

Berikut ini adalah beberapa track yang saya sukai:

1. When You Love Someone
Lagu yang telah masuk ke dalam album solo Endah di tahun 2004, The New Beginning, ini merupakan lagu andalan mereka. Lirik dalam When You Love Someone mengisahkan tentang seseorang yang pantang menyerah untuk mendapatkan cintanya.

2. Catch The Windblows
Dalam lagu ini, selain gitar dan bass, Endah N Rhesa juga memasukkan instrumen piano. Lirik dalam Catch The Windblows cukup menyentuh, mengajari kita untuk selalu mensyukuri hidup.

3. Thousand Candles Lighted
Thousand Candles Lighted, sebuah lagu yang cukup memotivasi saya untuk terus memiliki harapan dan kekuatan untuk menjalani hari esok yang lebih baik.

4. Living With Pirates
Lagu ini cukup nge-beat, dengan iringan gitar yang asik. Sesuai judulnya, Living With Pirates menceritakan tentang rasanya tinggal bersama seorang bajak laut.

Selain empat lagu favorit saya itu, masih ada lagi tujuh track yang juga asik untuk disimak, yaitu:

1. I Don’t Remember
2. Dreams Interlude
3. Blue Day
4. Uncle Jim
5. Baby Its You
6. Before You Sleep
7. Take Me Home

Album ini amat saya rekomendasikan, terutama bagi mereka yang suka lagu-lagu mellow...

Monday, December 21, 2009

Pas nerima piala
Lagi beraksi
Foto bareng habis nerima piala
Gambarku jadi cover Arif
Piagam penghargaan
Meski aku sekarang seperti ini, tapi sumpah, masa kecilku penuh dengan prestasi.
My Rating:★★★
Genre: Drama

Para penikmat film atau novel Laskar Pelangi pasti sudah tak asing lagi dengan sosok Ikal. Bocah ini adalah siswa SD Muhammadiyah Gantong, sebuah sekolah kecil yang bangunannya hampir roboh. Sang Pemimpi, yang merupakan sekuel dari film Laskar Pelangi, mengisahkan tentang kelanjutan hidup Ikal selepas lulus dari bangku SD.

Suatu ketika, terjadi kebakaran yang menimpa keluarga jauh Ikal. Satu-satunya anak yang selamat dari bencana itu adalah Arai, sepupunya. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab keluarga Ikal untuk mengurus bocah yang ditinggal mati seluruh keluarganya tersebut.

Arai adalah seorang anak luar biasa yang dipenuhi mimpi dan harapan. Ia selalu ceria dan penuh semangat. Jalan pikirannya tak bisa diterka. Hati Arai juga sungguh mulia.

Pada suatu sore di masjid, Ikal dan Arai bertemu dengan Jimbron, bocah gagap yang ayahnya meninggal karena serangan jantung. Mereka bertiga kemudian bersahabat karib hingga SMA.

Saat SMA inilah ketiga sahabat itu bermimpi untuk keliling dunia, mulai dari Eropa hingga Afrika. Namun ada satu negara yang benar-benar menjadi impian mereka, yaitu Perancis. Mereka lalu menyusun rencana untuk lulus SMA dengan nilai tertinggi, melanjutkan kuliah di Jakarta, kemudian mencari beasiswa ke Perancis.

Film yang diangkat dari novel berjudul sama ini mengajarkan tentang mimpi yang tetap harus dikejar, meski banyak rintangan yang menghadang. Beberapa adegan dalam Sang Pemimpi amat menyayat hati, memaksa penonton untuk meneteskan air mata. Munculnya Ariel Peterpan juga menjadi daya tarik tersendiri dalam film yang disutradarai oleh Riri Riza ini.

Meski demikian, tampaknya Laskar Pelangi lebih diminati dibanding film sekuelnya ini. Hal tersebut terlihat dari tak begitu panjangnya antrian untuk tiket menonton Sang Pemimpi jika dibanding dengan Laskar Pelangi. Sekarang, kita tunggu saja film ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi, Edensor.

Luna membenarkan letak bantalnya, lalu kembali merebahkan kepala. Tangan kanannya memegang handphone. Malam itu ia sedang chatting dengan Octa, sahabatnya, melalui aplikasi handphone. Pandangannya menyapu kamar tidurnya yang bernuansa pink. Gadis berusia 21 tahun itu sedang menunggu balasan dari Octa. 

Sudah menjadi rutinitas Luna untuk chatting dengan Octa tiap malam. Topik yang diobrolkan selalu sama: bagaimana cara mendekati Choki, lelaki yang sedang digila-gilai Luna. Sebenarnya Luna sudah mengenal lelaki berambut cepak itu sejak duduk di bangku SMA, namun ia baru mulai menyukai Choki setelah menginjak dunia kuliah.

Luna menghela napas. Ponselnya bergetar, tanda Octa sudah membalas pesannya.

Octa: sabar aja lun, bentar lagi juga choki OL
Luna: kalo dia OL, trus harus kusapa g?
Octa: ini namanya jenis pertanyaan seribu, pertanyaan yg uda kamu tanyain seribu kali
Luna: hehe
Octa: dan jawabanku tetep sama, kamu harus sapa dia
Luna: tiap malem selalu aku duluan yg nyapa, gengsi kalik taaa
Octa: kamu mau dapetin dia g?
Luna: mau siii...
Octa: ya udah, usaha dunk

Luna terdiam, berpikir. Ia lalu mulai mengetik di handphone-nya.

Luna: kalo choki malah jadi ilfil gara2 aq terlalu agresif, gimana?
Octa: kasimbel deh lu
Luna: yee... jahat!
Octa: hihi
Octa: daripada g usaha sama sekali?
Octa: gimana dia bisa tau kamu suka ma dia?

Luna memejamkan mata sejenak, sebelum akhirnya membalas.

Luna: yawda deh, aq bersumpah malam ini akan menyapanya lagi!
Octa: haha
Octa: gila kamu lun
Luna: hihi
Luna: aq gila karena cinta
Octa: hueeek...

Luna memandang jam mejanya yang berbentuk hati. Baru pukul 9 kurang 5 menit. Gadis mungil itu sudah hapal betul, Choki biasanya baru online sekitar jam 22.00.

Luna: aq makan dulu ya ta
Octa: bukan urusanku

Luna tertawa membaca jawaban Octa. Ia lalu me-minimize aplikasi messenger di ponselnya, kemudian beranjak ke ruang makan.

***
Luna meraih handphone­-nya dari atas meja belajar, menghempaskan badannya ke atas tempat tidur. Ia me-maximize aplikasi messenger­-nya. Sekarang sudah jam 22.15. Sesuai dugaan Luna, nama Choki sudah tertera di daftar teman yang online.

Sebelum mengobrol dengan Choki, gadis berambut panjang itu menyempatkan diri menyapa Octa.

Luna: choki uda OL
Octa: buruan disapa

Meski sumpahnya tadi hanya bercanda, Luna tetap melakukannya juga. Ia memberanikan diri menyapa Choki.

Luna: halo chok
Choki: hei
Luna: lagi ngapain nih?
Choki: lembur kerjaan
Luna: wah, semangat ya!
Choki: iya, makasih lun
Luna: btw, kamu uda nonton sang pemimpi belom?
Choki: belom
Luna: pingin nonton g??
Choki: nunggu VCD bajakannya aja deh
Choki: hahaha
Luna: hihi

Luna tersenyum kecut. Tadinya ia berencana mengajak Choki nonton. Namun setelah membaca jawaban Choki, Luna mengurungkan niatnya.

Choki: kamu sendiri uda nonton belom?
Luna: belom juga
Luna: males antri tiket
Choki: hahaha
Choki: makanya, nunggu bajakannya aja
Luna: huu
Luna: tidak menghargai karya anak negeri
Choki: iya nih, payah kamu lun
Luna: loh, ko malah jadi aq yg payah?
Choki: hahaha

Pembicaraan mereka terus bergulir, mulai dari film hingga musik, mulai dari tugas kuliah hingga masalah kerjaan. Luna akhirnya menyudahi pembicaraan saat sudah lewat tengah malam.

***
Luna: halo octa sayaaang
Octa: gimana semalem?
Luna: seperti biasa, gitu2 doang
Luna: g ada perkembangan signifikan

Malam itu Luna chatting lagi dengan Octa. Topik pembicaraannya masih idem dengan malam-malam sebelumnya. Entah kenapa, Octa tak bosan-bosannya meladeni curhatan Luna yang itu-itu saja.

Octa: payah lu lun
Octa: kamu kurang mancing kalik
Luna: mancing gimana ta?
Octa: ya mancing, goda2in
Luna: pas kapan?
Octa: yailah, geblek lu
Octa: kapan aja bisa, tergantung topik obrolanmu apa
Luna: susah taaa
Luna: malu jugaaa
Octa: gimana mau majuuu?!

Luna melirik jam meja berbentuk hatinya. Sudah pukul 22.05. Ia mengecek daftar nama teman online. Choki ternyata sudah muncul.

Luna: ta, si doski uda OL ni
Octa: buruan disapa
Luna: harus aku lagi ya yg nyapa duluan?
Octa: IYA

Luna berpikir sejenak, kira-kira obrolan apa yang menarik dibahas pada malam hari ini. Lima menit kemudian, ia pun menyapa Choki.

Luna: halooo
Choki: hei
Luna: taon baru mau kemana ni?
Choki: lom tau
Choki: kamu?
Luna: lom tau juga
Luna: taon baru sebelom2nya selalu pas lagi ada pacar, kalo taon ini jomblo ni...
Choki: hahaha
Luna: besok taon baruan ma aq aja yuk chok

Jantung Luna berdetak semakin cepat setelah mengirim ajakan itu. Ia tak sabar menanti jawaban Choki. Namun lima belas detik, tiga puluh detik, hingga satu menit pun berlalu tanpa ada balasan.

Luna: woi

Choki tetap diam.

Luna: chok
Choki: ya?
Luna: ko g jawab?
Choki: uda kujawab dua kali ko
Luna: g nyampe...
Choki: hahaha

‘Siaaal! Kenapa koneksinya error pas pertanyaan penting?!’ batin Luna.

Luna: jadi?
Choki: apa?

Luna bimbang, perlukah ia mengulang ajakan. Jika mengajak lagi, Luna akan terlihat sangat berharap bisa melewatkan tahun baru bersama Choki. Jika tidak bertanya lagi, Luna sungguh penasaran dengan jawaban cowok satu itu. Belum sempat Luna memutuskan, handphone-nya bergetar tanda Choki mengatakan sesuatu.

Choki: eh lun, aq off dulu ya
Choki: ada temen yg dateng

‘APAAA?! Aku kan belom tau jawabannya! Kampreeet!’ umpat Luna dalam hati.

Luna: malem2 gini?!
Choki: iya
Luna: hmm... yawda

Gadis itu hanya bisa mengikhlaskan saat status Choki berganti offline. Luna lalu langsung melapor pada Octa yang masih online. Ia menceritakan secara detil kata demi kata dalam obrolan singkatnya dengan Choki.

Luna: dan jawabannya akan selalu menjadi misteri bagiku taaa
Octa: norak lu, hihihi
Octa: aduh, tuh cowok emang rada susah ditebak
Octa: kalo dia peka, mustinya dia uda sadar kalo kamu naksir dia
Octa: atau, benernya dia uda sadar, tp g mau kehilangan fans
Octa: jadi responnya abu2 gitu, antara ya dan tidak
Luna: tauk ah ta
Luna: bete nih, aq off dulu ya

Luna mengela napas. Ia meletakkan ponselnya di atas meja belajar, di samping jam meja hatinya. Setiap malam selalu berjalan seperti ini. Luna chatting dengan Choki tanpa ada perkembangan dalam kualitas obrolan. Perempuan itu mulai lelah, lelah mengejar Choki.

Luna mengambil laptop dari tasnya, meletakkannya ke atas tempat tidur. Ia menyalakan laptop mungil itu, membuka program microsoft word. Luna pun mulai mengetik, merangkai kata tentang kisahnya dengan Choki, menceritakan kegiatan yang dilaluinya tiap malam demi Choki.

Tak sampai dua jam, cerpen itu selesai digarapnya. Luna langsung mem-posting tulisan itu di blog pribadinya.

***
Malam berikutnya, Luna kembali menjalani rutinitasnya: chatting dengan Octa sembari menunggu Choki online. Tapi malam itu spesial, karena tiba-tiba Choki menyapa Luna duluan. Luna sungguh kegirangan.

Choki: ak uda baca tulisan di blogmu

Luna langsung terlonjak dari tempat tidurnya. Handphone-­nya nyaris meloncat dari tangannya. Hati Luna berdegup tak karuan. Ia sama sekali tak menyangka pujaan hatinya akan membuka dan membaca blognya.

Luna: terus?

Dua menit berlalu tanpa balasan dari Choki.

Luna: chok?
Choki: ya?
Luna: kamu uda baca tulisan di blogq. terus?

Lagi-lagi Choki diam.

‘Siaaal! Pasti koneksinya error lagi!!!’ jerit Luna dalam hati.

Luna: helllooo?
Choki: balesanku g sampe lagi?
Luna: engga
Choki: hahaha
Luna: jadi?
Choki: eh bentar lun, ada telpon
Luna: oke

Luna menanti jawaban Choki dengan kecemasan tingkat akut. Ia mengguling-gulingkan badan ke kanan dan ke kiri, tapi rasanya tidak ada posisi yang nyaman bagi tubuhnya. Tiba-tiba, status Choki berubah menjadi offline. Luna terkejut, tapi terus menunggu. Ia yakin Choki akan online lagi. Namun hingga jam meja hati menunjukkan pukul 1 lewat, lelaki itu tak muncul lagi.

Luna pun ketiduran. Dan jawaban Choki, akan selalu menjadi misteri bagi Luna.

Thursday, December 17, 2009

Berlibur ke Bandung bukan lagi hanya sekedar wacana bagi Geng Glamor. Aku, Dildol, Zata, dan Yuyun, akhirnya berwisata juga ke kota kembang itu pada hari Jumat-Minggu (11-13/12) kemarin.

Liburan kali ini bisa dibilang sebagai wisata paket ekonomis, atau kalau menurut bahasa kami, “liburan gembel”. Alasannya, tentu saja karena budget kami yang superminim. Berikut ini secuil pengalaman kami selama 3 hari berwisata di Bandung.

Jumat, 11 Desember 2009

Pagi itu kami menggunakan kereta ekonomi sebagai sarana transportasi menuju Bandung, namun bukan kereta ekonomi jurusan Jogja-Bandung. Kereta ekonomi Jogja-Bandung berangkat dari Surabaya, sehingga kereta itu cenderung sudah sesak akan penumpang ketika sampai di Jogja.

Kami pun memilih untuk naik Prambanan Express (Pramex) menuju Kutoarjo. Dari Kutoarjo, kami naik kereta ekonomi jurusan Kutoarjo-Bandung. Tiket Pramex hanya Rp 8.000,-, sedangkan tiket ekonomi Kutoarjo-Bandung adalah Rp 19.500,-. Total kami hanya membutuhkan Rp 27.500,- untuk sampai ke kota impian.

Dengan style ala gembel, pukul 8.25 kami meluncur dengan kereta ekonomi Kutoarjo-Bandung. Seperti yang sudah banyak kami dengar dari cerita orang, akan banyak pedagang dan pengamen di kereta ekonomi. Benar saja, rasanya ada lebih dari sejuta pedagang dan pengamen yang menghampiri kursi kami selama perjalanan.

Banyak di antara mereka yang justru menjadi hiburan bagi kami, karena cara mereka yang unik dalam menjajakan dagangan atau membawakan lagu. Namun tak sedikit juga yang menyebalkan bahkan cenderung mengerikan, seperti saat kami dikatai pelit karena hanya memberi uang Rp 100,-, atau saat lenganku dicolek pengamen waria.

Hal lain yang menjadi ciri khas kereta ekonomi, kereta ini terkenal hobi berhenti. Rasanya kami berhenti setiap 3 detik sekali. Cuaca panas melengkapi penderitaan kami, membuat tampang kami kian mirip dengan gembel.

Setelah menempuh 7,5 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Stasiun Kiara Condong Bandung sekitar pukul 16.00. Aku dan ketiga temanku langsung membeli tiket perjalanan pulang agar besok tidak kehabisan.

Selanjutnya kami harus mencari angkot untuk sampai ke kos temanku, namanya Vita, yang akan menjadi “hotel” kami selama di Bandung. The journey is begin. Kami berlari-lari mengejar angkot, dimarahi supir angkot karena bayarnya kurang, dan harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke kos Vita.

Pada akhirnya kami tiba di kos sekitar pukul 17.30. Tak ada waktu bagi Geng Glamor untuk beristirahat, karena malam itu Vita mengajak kami menonton ludrug di Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah bersiap-siap dan makan soto di belakang ITB, kami langsung menonton ludrug. Entah apa judul pentas malam itu, yang jelas ludrug tersebut banyak menyindir pemerintah dan juga rektorat ITB. Dikemas dengan amat menarik, aku dan ketiga temanku tak henti-hentinya tertawa.

Meski ludrug belum selesai, namun kami memutuskan untuk pulang pada pukul 22.00. Kami harus beristirahat, untuk menyongsong hari esok yang melelahkan.

Sabtu, 12 Desember 2009

Agenda hari kedua adalah berbelanja di Gedebage, pusat pakaian awul-awul murah meriah. Lokasinya cukup jauh dari kos Vita, namun kami sangat, sangat puas berbelanja di sana. Berbagai sandang lucu dan unik bisa kami bawa pulang, hanya dengan membayar mulai dari Rp 7.500,- saja. Aku sendiri memperoleh 3 kemeja, 2 overall, 1 dress, dan 1 kaos hanya dengan menggelontorkan uang Rp 95.000,-.

Sepulang dari Gedebage, kami mampir makan yamin, makanan sejenis mie bakso. Rasanya enak, apalagi kami kelaparan usai 3 jam berbelanja. Sungguh mantap jaya.

Sampai di kos VIta, kami langsung mandi dan berdandan. Sore itu Vita mengajak kami berfoto di Braga. Entah beruntung atau sial, kebetulan pada saat itu sedang digelar Braga Bike Fest. Kami jadi bisa berfoto dengan moge, tapi di sisi lain kami tidak bisa berfoto di beberapa spot menarik karena ramai. Selain berfoto, kami juga mencicipi es krim tempo dulu di Braga.

Malamnya, kami pergi ke Paris Van Java, salah satu mall di Bandung. Karena keterbatasan dana, malam itu kami makan di tempat makan termurah se-PVJ, yaitu KFC. Jauh-jauh ke Bandung, ujung-ujungnya cuma makan di KFC. Tak apalah, namanya juga wisata paket ekonomis.

Setelah mengisi perut, kami nongkrong di halaman depan PVJ. Kebetulan saat itu sedang ada gerombolan breakers yang berlatih. Lumayan, tontonan gratis. Kami pun akhirnya baru pulang ke kos Vita pukul 23.00.

Minggu, 13 Desember 2009

Hari terakhir di Bandung kami awali dengan jalan-jalan di Gazibu. Kebetulan tiap Minggu pagi digelar pasar murah di Gazibu, seperti Sunday Morning di UGM. Aku sama sekali tidak berniat untuk membeli sesuatu, mengingat kemarin aku sudah banyak belanja. Namun sungguh sial, pulang dari Gazibu aku membawa plastik berisi tas, jaket, dan dompet baru. Aku gagal membendung keinginan untuk belanja.

Dari Gazibu, kami langsung naik angkot menuju Kartika Sari. Di sana kami membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di Jogja.

Tangan kami semakin penuh dengan plastik, namun petualangan hari ketiga belum berakhir. Kami masih terobsesi membeli sepatu di pusat sepatu murah sekitar King’s. Perjalanan menuju King’s amat melelahkan, karena kami harus banyak berjalan setelah turun dari angkot satu untuk naik ke angkot lainnya.

Namun sayang beribu sayang, hari itu adalah hari Minggu. Harga sepatu di sana rupanya bertambah mahal. Pada hari biasa, sepatu-sepatu cantik dijual seharga Rp 20.000,-, namun siang itu tidak ada sepatu yang berharga kurang dari Rp 30.000,-. Kalau harganya segitu mah di Jogja juga banyak. Kami pun terpaksa pulang ke kos Vita tanpa sepatu baru.

Berhubung uang di dompet sudah menipis, siang itu kami hanya makan mie instan di kos. Sorenya, Geng Glamor plus Vita pergi lagi ke ITB untuk jajan cilok.

Hujan deras menyambut setibanya kami di kampus itu. Entah karena hujan atau karena memang sudah sore, penjual cilok yang kami cari sudah tidak mangkal lagi. Akhirnya kami hanya berfoto di ITB, dilanjutkan dengan makan ayam cola di warung sekitar ITB. Sebenarnya ayam cola lumayan lezat, sayang banyak tulangnya. Tapi lumayanlah untuk mengisi perut.

Tak terasa jam sudah menunjuk pukul 18.30, padahal kereta ekonomi Bandung-Jogja berangkat jam 20.25. Kami langsung ke kos Vita untuk mengambil barang dan berangkat lagi ke Stasiun Kiara Contong tanpa sempat mandi.

Ternyata ada sedikit perbedaan situasi antara kereta ekonomi yang berangkat siang dan berangkat malam. Pada malam hari, jumlah pedagang dan pengamen tidak terlalu banyak. Tentu saja tak banyak, karena memang tidak ada tempat lagi bagi mereka untuk lewat. Seluruh lorong penuh dengan penumpang yang berdiri. Tak sedikit juga yang duduk di bawah beralaskan koran. Banyak juga yang duduk di lengan kursi, sehingga cukup mengganggu kenyamanan mereka yang duduk di kursi. Beruntung kami memperoleh tiket duduk, meski malam itu hawa terasa panas dan kami kekurangan oksigen.

Senin, 14 Desember 2009

Kami tiba di Stasiun Lempuyangan Jogja pukul 5.30. Meski kurang tidur, aku tidak bisa langsung beristirahat setibanya di rumah. Ada kuliah jam 7 yang hukumnya wajib hadir, dilanjutkan dengan mengerjakan tugas kelompok pukul 9. Lelah, tapi tetap ceria. Mengantuk, tapi tetap tertawa. Aku sungguh menikmati masa-masa kami berada di Bandung.

Bandung adalah tempat kedua yang paling ingin dikunjungi Geng Glamor. Tempat impian pertama justru belum kesampaian, yaitu Bali. Kita lihat saja, mampukah kami menggembel lagi hingga ke Pulau Dewata.



Monday, November 9, 2009

Sungguh miris rasanya mendengar curahan hati rekan-rekan aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UGM. Tiap UKM memiliki permasalahan masing-masing, semuanya disuarakan pada Lokakarya Pembinaan UKM, Jumat-Sabtu (6-7/11) lalu.

Kebetulan, saya mewakili SKM Bulaksumur dalam menghadiri lokakarya yang dihelat di Wanagama tersebut. Lokakarya yang digelar oleh Direktorat Kemahasiswaan UGM itu diikuti oleh sekitar 30 UKM. 

Permasalahan dana

Permasalahan umum yang dihadapi tiap UKM adalah mengenai pendanaan dari rektorat. Dari jumlah anggaran dana yang diajukan UKM, biasanya tidak sampai 50% yang dicairkan oleh UGM. UGM, khususnya bagian Direktorat Kemahasiswaan, dinilai tidak transparan dalam melaporkan alokasi dana untuk UKM.

Permasalahan lain adalah mengenai kesejahteraan pelatih UKM, hal ini khususnya dirasakan oleh teman-teman dari UKM seni dan olahraga. Misalnya saja untuk pelatih UKM UKJGS (tari Jawa gaya Surakarta), pelatihnya hanya digaji Rp 150 ribu per bulan oleh kampus yang mengaku sebagai world class university ini. Sementara untuk pelatih UKM basket, pelatihnya digaji Rp 750 ribu per bulan. Padahal pelatih basket UGM saat ini merupakan mantan pelatih klub Satria Muda, yang standar gajinya di atas Rp 1 juta. Namun jangan salah, uang Rp 750 ribu itu pun tidak seluruhnya berasal dari kampus biru. Tak disebutkan berapa jatah uang gaji yang diberikan UGM, yang jelas kekurangannya ditutup menggunakan uang saku manajer tim basket.

Menanggapi keluhan tersebut, Drs. Haryono, Ak., M.Com. selaku Direktur Keuangan UGM hanya mengatakan, “namanya juga kampus kerakyatan,” yang langsung kami sambut dengan tawa sinis. Memang untuk permasalahan ini, bukan kapasitas Pak Haryono untuk memberi tanggapan. Tugas Direktur Keuangan “hanya” mencairkan dana. Keputusan mengenai jumlah nominal yang diberikan kepada UKM terletak pada Drs. Haryanto, M.Si selaku Direktur Kemahasiswaan UGM. Namun amat disayangkan, beliau yang terhormat itu tidak bisa mengikuti jalannya lokakarya. Karena sibuk, sosok yang akrab disapa Pak Sentot itu hanya sempat datang ke lokakarya untuk memberi kata sambutan. 

Peminjaman tempat

Problem lain yang banyak dikeluhkan adalah mengenai peminjaman gedung yang dimiliki UGM, seperti UC (University Club) dan Gedung Koesnadi Hardjasoemantri. UKM tidak diberi keringanan dana dalam meminjam gedung-gedung tersebut, padahal tempat itu seharusnya merupakan fasilitas yang bisa dinikmati oleh mahasiswa UGM.

Jangankan meminjam tempat untuk mengadakan event, untuk melakukan kegiatan rutin saja kini banyak UKM yang terancam digusur dari tempatnya semula. UKM Marching Band yang biasa berlatih di halaman Gedung Koesnadi Hardjosoemantri misalnya, dalam waktu dekat ini tak lagi diperbolehkan berlatih di sana. UKM-UKM bela diri juga harus mencari tempat latihan baru, karena pihak rektorat lebih sayang kepada hijaunya rumput boulevard. Sementara itu, UKM Pramuka tidak lagi boleh melakukan upacara di sebelah utara gedung pusat.

Menurut Pak Bambang, salah satu kepala subdirektorat di Direktorat Kemahasiswaan, tempat-tempat itu berada di luar kewenangan Direktorat Kemahasiswaan. Beliau tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu UKM. Sementara untuk permasalahan lain yang terkait dengan Direktorat Kemahasiswaan, beliau berjanji akan menyampaikannya pada Pak Sentot.

Semoga saja hasil sharing dari lokakarya tersebut benar-benar disampaikan dan ditanggapi oleh sang Direktur Kemahasiswaan. Jika tidak, lokakarya mewah selama dua hari itu hanya merupakan salah satu bentuk penghambur-hamburan uang yang dilakukan kampus kerakyatan.
My Rating:★★★
Genre: Drama

Satu lagi film yang mengisahkan persahabatan antara anjing dan manusia, Marley & Me. Yang menjadikannya berbeda dibanding film bertema serupa adalah, persahabatan anjing-majikan yang disajikan dalam Marley & Me tergolong cukup unik.

Kisah di film ini bermula dari pernikahan antara John Grogan (Owen Wilson) dan Jenny Havens (Jennifer Aniston). Merasa belum siap memiliki anak, John berusaha menyibukkan Jenny dengan menghadiahinya anak anjing. John kemudian menamai anak anjing itu Marley, terinsipirasi oleh penyanyi reggae Bob Marley.

Seiring dengan berjalannya waktu, Marley tumbuh menjadi anjing yang besar, kuat, namun amat sulit diatur. Masalah kian bertambah saat John dan sang istri akhirnya sepakat untuk memiliki anak pertama.

Secara keseluruhan, Marley & Me cukup menarik untuk ditonton. Beberapa adegan terasa mengharukan, amat memanjakan mata para penggemar film drama.

Monday, November 2, 2009

My Rating:★★★★
Genre: Drama

Film ini bercerita tentang sepasang kakak-beradik dengan kisah cinta mereka masing-masing. Kwang Sik (Kim Joo-hyuk), sang kakak, adalah seorang lelaki yang amat pemalu. Ia tak berani menyatakan perasaan pada wanita yang telah ia cintai selama tujuh tahun. Keadaan begitu sulit menurut Kwang Sik hingga ia berpendapat, Tuhan seharusnya memberi pertanda bila seseorang baru saja bertemu dengan jodohnya.

Sementara itu adiknya, Kwang Tae (Bong Tae-gyu), memiliki sifat yang amat berkebalikan. Kwang Tae adalah seorang lelaki bengal, amat percaya diri dalam urusan cinta. Meski demikian, kisah cinta Kwang Tae bukan berarti tanpa rintangan.

Meski menggunakan alur loncat, jalan cerita When Romance Meets Destiny cukup mudah dipahami. Film Korea satu ini juga kerap diselingi dengan adegan humor. Film ini cukup menarik, dapat dijadikan alternatif tontonan di kala senggang.

Friday, October 16, 2009

Jurusan Ilmu Komunikasi UGM seolah belum siap menggelar kelas Bahasa Inggris.

Bahasa Inggris sebenarnya merupakan mata kuliah wajib di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM. Mata kuliah ini nyata tercantum dalam buku panduan akademik.

Tak ada kelas

Beberapa tahun lalu, mahasiswa yang mengambil kelas Bahasa Inggris dipersilakan untuk mengikuti mata kuliah ini di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Namun sejak angkatan 2004, tidak ada lagi mahasiswa yang mengambil Bahasa Inggris. Anehnya, para mahasiswa tersebut tetap dapat lulus tanpa harus mengikuti mata kuliah berstatus wajib ini.

Seiring dengan berlakunya kurikulum baru 2009, pihak jurusan menawarkan banyak mata kuliah baru. Salah satu mata kuliah yang disodorkan adalah Bahasa Inggris. Namun karena tidak adanya tenaga pengajar, kelas ini tidak memberikan materi apa pun. “Mahasiswa tinggal menyerahkan hasil tes TOEFL-nya, tidak ada pelajaran di kelas,” ujar Budhy Komarul Zaman, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UGM.

Nilai Bahasa Inggris mahasiswa otomatis hanya diukur semata-mata melalui tes TOEFL. Namun, tes TOEFL tersebut tidak digelar oleh pihak jurusan. Mahasiswa dipersilakan melakukan tes di lembaga Bahasa Inggris mana pun. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan mahasiswa. “Terus uang SKS sebesar Rp 180 ribu lari ke mana? Nggak ada dosen, nggak ada materi, mahasiswa malah harus bayar lagi buat tes TOEFL di luar,” tukas Yuyun, mahasiswa Ilmu Komunikasi ‘06.

Menanggapi protes yang bermunculan, Budhy menerangkan bahwa memang sudah seharusnya mahasiswa membayar uang SKS. “Jumlah SKS Bahasa Inggris nantinya masuk di transkrip nilai. Jadi ya memang sudah sewajarnya mahasiswa membayar uang SKS, seperti halnya membayar uang SKS untuk mata kuliah lainnya,” jelas beliau.

Simpang Siur

Status yang disandang mata kuliah Bahasa Inggris pun dirasa kurang jelas. “Ada dosen yang bilang ini mata kuliah wajib, ada yang bilang enggak,” tutur Kiki, mahasiswa Ilmu Komunikasi ’06.

Menurut Budhy, Bahasa Inggris adalah mata kuliah wajib. “Saat sosialisasi kurikulum baru, sudah dijelaskan bahwa Bahasa Inggris adalah mata kuliah wajib,” tandas beliau. Namun karena sosialisasi diadakan saat libur antarsemester, banyak mahasiswa yang tidak mengetahui adanya sosialisasi.

Hingga kini, tak sedikit mahasiswa yang tetap bersikukuh tidak mengambil Bahasa Inggris. Mereka tetap merasa mata kuliah ini tak jelas hukumnya. “Nggak jelas!” komentar Yuyun.

Pihak jurusan hendaknya memperbaiki segala sesuatunya sebelum membuka kelas Bahasa Inggris, apalagi sebelum menetapkannya sebagai mata kuliah wajib. Semua harus dipersiapkan, mulai dari sosialisasi, tenaga pengajar, hingga materi. Dengan demikian, tidak terdapat kesimpangsiuran yang membuat mahasiswa enggan mengambil mata kuliah.

Wednesday, September 30, 2009

Hari Minggu (27/9) lalu aku berwisata dengan teman-teman SMA. Kami pergi ke empat pantai di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Berikut ini adalah pendapatku terhadap pantai-pantai berpasir putih tersebut.

Pantai Indrayanti
Pantai ini terbilang baru, kata temanku baru dibuka sekitar bulan Juni. Oleh karena itu, Pantai Indrayanti cukup sepi dibanding pantai lain di sekitarnya. Namun demikian, pemandangan di sini cukup berani untuk diadu. Kios makanan masih belum begitu banyak, namun telah tersedia fasilitas jet ski bagi pengunjung yang ingin mencoba.
Di sekitar pantai terdapat batu-batu karang besar dan tajam. Aku peringatkan, jangan sekali-kali bermain di dekat batu karang itu. Percayalah, aku sudah mencoba. Hasilnya, hampir seluruh tubuhku lecet terkena karang saat ombak menghantam.

Pantai Sundak
Karena sudah relatif terkenal, maka wajar saja bila pantai ini cukup ramai dipadati pengunjung. Di pantai Sundak, aku dan teman-teman hanya menumpang makan di warung yang memang lumayan banyak jumlahnya. Di pantai ini pula aku mengobati lukaku, karena di sini telah terdapat tenda P3K yang belum dijumpai di Pantai Indrayanti. Meski pelayanannya pas-pasan, obat juga tidak meyakinkan, tapi lumayanlah daripada lukaku tidak diobati sama sekali.

Pantai Ngandong
Pantai ini terletak persis di sebelah Pantai Sundak, pengunjung tinggal berjalan melewati bukit untuk mencapai pantai yang berbentuk seperti teluk kecil ini. Ombak di pantai Ngandong relatif kecil dan tenang. Ombak-ombak itu datang dari segala arah, saling bertubrukan dengan anggunnya.

Pantai Drini
Pantai Drini merupakan persinggahan terakhirku dan teman-teman. Tak jauh dari pantai ini terdapat pulau kecil berbukit. Pengunjung dapat berjalan kaki untuk menyeberang sampai pulau tersebut. Saat menyeberang, air laut kira-kira hanya setinggi lutut orang dewasa.
Untuk bisa menaiki bukit, pengunjung dikenai tarif sebesar Rp 1.000 saja. Pemandangan di atas bukit amat indah, namun kami memutuskan untuk turun sebelum matahari terbenam karena tempat itu pasti akan amat gelap di malam hari.
Akhirnya kami menyaksikan sunset dari tepi pantai. Pantai Drini indah dan sepi, penutup sempurna untuk wisata kami.

Wednesday, September 16, 2009

Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Film ini dibuka dengan adegan heroik George Kirk, kapten pesawat luar angkasa yang rela mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan 800 penumpangnya. Pada malam sang kapten meninggal, istrinya melahirkan seorang bayi lelaki yang kemudian diberi nama James Kirk.

Star Trek berkisah tentang usaha James Kirk untuk menjadi kapten pesawat seperti ayahnya. Kirk memutuskan untuk bergabung dalam akademi Starfleet. Dalam perjalanannya menjadi kapten, ia bertemu dengan pesaing bernama Spock. Keduanya kemudian mendapat ujian nyata saat bangsa Romulan datang dari masa depan untuk membalas dendam .

Secara keseluruhan, film yang disutradarai J. J. Abrams ini cukup menarik untuk ditonton. Perpindahan gambar terkadang terlalu cepat, namun jalan ceritanya cukup mudah dipahami dibanding film berjenis sci-fi/fantasy lainnya.

Tuesday, August 11, 2009

Hari Senin (10/8) kemarin, aku menyantap sarapan sembari menonton sebuah tayangan musik populer, Dahsyat. Saat itu, pengisi acara yang sedang tampil adalah Wayang, band yang namanya cukup berkibar jaman aku masih SD. Setelah Wayang usai membawakan sebuah lagu, Raffi Ahmad muncul disusul Olga yang sedang menggendong Baim si artis cilik.

Raffi Ahmad dan Olga kemudian bermain-main dengan bocah imut itu. Tiba-tiba, Baim menjambak rambut Olga. Semua penonton di studio tertawa. Seolah belum puas, Baim menjambak lagi rambut sang presenter, kali ini lebih keras. Penonton kembali terbahak-bahak. Adegan menjambak ini terjadi berulang-ulang, diselingi dengan suara Baim yang sedang mengejek, ”Om Olga jelek!”

Jujur saja, aku ikut tertawa saat menyaksikan tayangan ini. Walau begitu, menurutku adegan ini tidak pantas ditayangkan di televisi. Bagaimanapun juga, Olga jauh lebih tua dibanding Baim. Tidak seharusnya Baim menjambaki rambutnya. Dan jika Baim belum mengerti bahwa perbuatannya itu tidak baik, seharusnya ada yang mengingatkan. Tapi pada kenyataannya, tak ada seorang pun yang memberi tahu Baim. Bahkan, Raffi Ahmad malah mengajari Baim untuk mengatai Olga.

Sungguh keterlaluan tayangan televisi kita saat ini. Jika ada anak kecil yang menonton, Baim tentu memberi contoh yang kurang baik. Dengan kata lain, televisi telah mendidik generasi penerus bangsa menjadi kurang bermoral.

Tidak hanya Dahsyat, aku yakin masih banyak acara lain yang menyajikan tontonan sarkas seperti ini. Kini orang tua tidak bisa lagi membiarkan anaknya ’diasuh’ televisi. Orang tua harus mendampingi anaknya menonton, kalau masih ingin sang buah hati tumbuh menjadi anak yang bermoral. 

Monday, July 20, 2009

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Film ini mengisahkan tahun keenam Harry Potter di sekolah sihir Hogwarts. Di tahun ini, Dumbledore merekrut Profesor Slughorn untuk mengajar kelas ramuan. Profesor ini diyakini mengetahui banyak informasi tentang Voldemort.

Salah satu informasi penting dari Profesor Slughorn adalah bahwa Voldemort memiliki Horcrux. Horcrux adalah belahan jiwa yang disimpan di sebuah benda. Orang yang memiliki Horcrux tidak akan meninggal jika dibunuh. Ia baru akan meninggal setelah Horcruxnya dihancurkan. Harry dan Dumbledore pun bersama-sama berjuang untuk menghancurkan Horcrux milik Voldemort.

Selain mengisahkan petualangan Harry, film ini juga banyak menampilkan kisah cinta antara Harry dan Ginny. Cinta segitiga antara Ron-Hermione-Lavender juga banyak menjadi sorotan.

Lucu, menarik, dan menegangkan. Ketiga kata itu tampaknya tepat untuk menggambarkan film berdurasi 153 menit ini. Walau begitu, semua penggemar novel Harry Potter pasti beranggapan bahwa novelnya lebih menarik dibanding filmnya. Meski demikian, film ini tetap menarik untuk ditonton.

Wednesday, July 8, 2009

Rating:★★★
Category:Books
Genre: Entertainment
Author:Marti Leimbach
Daniel Isn’t Talking bercerita tentang kehidupan Melanie, seorang ibu yang memiliki anak autis bernama Daniel. Autisme Daniel ini baru terungkap saat ia berusia tiga tahun. Amat sulit bagi Melanie untuk menghadapi kenyataan bahwa anak bungsunya mengalami autis. Keadaan ini menjadi semakin sulit lagi saat suaminya pergi meninggalkannya.

Novel ini mengajarkan kegigihan dan kesabaran yang harus dimiliki seorang ibu dalam mendidik anaknya yang autis. Melanie tidak mengijinkan anaknya dimasukkan ke dalam Sekolah Luar Biasa. Menurutnya, sekolah semacam itu justru akan menghambat perkembangan putranya. Melanie yakin, lingkungan yang normal akan membantu Daniel menjadi semakin normal.

Novel karangan Marti Leimbach ini amat menarik dan mengharukan. Namun sayang, mungkin karena novel ini merupakan terjemahan, banyak kalimat yang terasa sukar dicerna. Akhir cerita dari novel ini juga kurang mengesankan. Walau begitu, novel setebal 358 halaman ini cukup menarik untuk dibaca.

Sudah satu pekan aku menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Dusun Umbulsari B, Prambanan. Tema KKN yang kuangkat bersama teman-teman adalah tentang pertanian terpadu berbasis potensi lokal.

Sesuai ketentuan, minggu pertama KKN merupakan waktu untuk observasi. Berikut adalah kegiatanku selama enam hari pertama di Dusun Umbulsari B, mungkin dapat memberi gambaran bagi teman-teman yang belum KKN.


Hari Pertama (Kamis, 2 Juli 2009): Berangkat ke Lokasi

Aku, teman-teman satu tim, dan Pak Yoyo selaku dosen pembimbing menghadiri acara penyambutan di Kantor Kecamatan Sleman, dilanjutkan dengan acara penyambutan di Kantor Kelurahan Sumberharjo. Setelah itu, kami langsung menuju pondokan di Dusun Umbulsari B. Kami menempati dua pondokan yang letaknya berhadapan. Setelah sampai di pondokan, tidak banyak yang kami lakukan. Kami hanya membereskan kamar, rapat koordinasi unit, dan bergosip.


Hari Kedua (Jumat, 3 Juli 2009): Survey

Seingatku, hari kedua merupakan hari paling melelahkan dalam seminggu. Pagi hari kami habiskan dengan survey ke wilayah kerja masing-masing subunit. Aku kemudian beristirahat sejenak di siang hari saat kaum Adam menjalankan sholat Jumat. Seusai Jumatan, giliran aku dan teman-teman cewek yang harus mengikuti pengajian rutin ibu-ibu setempat. Ba’da maghrib, kami melakukan rapat koordinasi bidang yang dilanjutkan dengan rapat koordinasi unit.


Hari Ketiga (Sabtu, 4 Juli 2009): Sosialisasi Program

Aku dan teman-teman satu bidang, yaitu bidang sosial budaya, mencari data di Kantor Kecamatan dan Kelurahan. Di Kantor Kelurahan, aku mulai merasa pusing. Sekembalinya ke pondokan, tubuhku demam. Seusai makan siang, aku diare. Badanku rasanya tak karu-karuan. Tapi aku tetap memaksakan untuk ikut rapat koordinasi bidang. Aku kemudian minum obat dan beristirahat sejenak di sore hari. Malamnya, kami satu tim melakukan sosialisasi program kepada Kepala Dusun dan Perangkat Dusun Umbulsari B.


Hari Keempat (Minggu, 5 Juli 2009): Bertemu Kelompok Ternak

Saat membuka mata di pagi hari, aku merasa sudah lebih baik. Panasku mulai turun, tapi perutku masih mules. Namun aku masih sanggup membantu Ajeng, sekretaris unit, dalam mengerjakan proposal KKN. Siangnya, aku dan teman-teman mengikuti pertemuan rutin kelompok ternak Dusun Umbulsari B. Banyak fakta menarik yang kami temukan dari pertemuan itu.


Hari Kelima (Senin, 6 Juli 2009): Piket

Hari ini aku kebagian jatah piket bersama Yeri. Kami yang mendapat tugas piket wajib mencuci piring, membantu Ibu Dukuh memasak, dan jaga rumah. Jadi, pagi ini aku tidak ikut teman-teman berkunjung ke rumah para Ketua RT. Cukup senang rasanya tidak perlu ikut keliling dusun. Sayangnya dalam menjalankan tugas piket aku berpartner dengan Yeri yang culas. Ia kerap mangkir dari tugas-tugas piket. Untung ada Opik yang baik, ia dengan senang hati membantuku mencuci piring. Tapi ternyata Opik pun juga licik, ia meminta namanya dihapus dari jadwal piketnya yang seharusnya. Alasannya, ia sudah ikut piket hari ini. Padahal Opik cuma membantuku mencuci piring seusai makan malam.


Hari Keenam (Selasa, 7 Juli 2009): Pulang

Hari ini aku menargetkan proposal sudah jadi. Tapi ternyata, masih ada juga bidang yang belum mengumpulkan anggaran dana untuk programnya. Salah satu bidang yang belum mengumpulkan adalah sosial budaya, bidangku sendiri. Oleh karena itu, pagi ini aku dan teman-teman satu bidang langsung ngebut menggarapnya. Siangnya, saat anggaran dari semua bidang telah terkumpul, aku membantu Ajeng menyatukan anggaran ke dalam proposal.

Sungguh tak terduga dan tak terkira, tiba-tiba Pak Yoyo datang. Tanpa diundang. Tanpa memberi kabar. Kaget dan cemas langsung menyerang, karena proposal belum usai. Tapi syukurlah, Pak Yoyo tidak memaksa proposal harus dikumpul saat itu. Kami kemudian mengonsultasikan program kepada beliau sebelum akhirnya kami meninggalkan pondokan bersama untuk mencontreng pada Pemilu 2009.

Hari Ketujuh (Rabu, 8 Juli 2009): Pemilu 2009

Yeah, I love Pemilu. Kalau tidak ada Pemilu, mungkin aku dan teman-teman belum pulang ke rumah. Saat bertemu ibunda tercinta, menurut beliau aku terlihat kacau. Kulitku bertambah hitam. Bibirku pecah-pecah. Padahal baru satu minggu aku meninggalkan rumah.

Sore ini, aku sudah harus kembali ke Dusun Umbulsari B. Sore ini, aku sudah harus bergulat lagi dengan kegiatan-kegiatan KKN. Berat rasanya meninggalkan rumah, tapi aku harus melakukannya, demi mengabdi kepada masyarakat.


Tuesday, June 30, 2009

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Kids & Family
Garuda di Dadaku berkisah tentang perjuangan seorang bocah untuk masuk ke dalam timnas sepak bola Indonesia U-13. Film ini berpusat pada kehidupan Bayu (Emir Mahira), anak berusia 12 tahun yang gemar bermain sepak bola. Ia ingin menjadi pemain sepak bola seperti almarhum ayahnya, namun mimpinya ini ditentang keras oleh kakeknya (Ikranagara). Menurut beliau, pemain sepak bola akan hidup melarat, apalagi pemain sepak bola Indonesia. Oleh karena itu, sang kakek lebih memilih mendaftarkan Bayu ke tempat les lukis dan drum.

Walau begitu, diam-diam Bayu tetap mendaftar ke Arsenal Soccer School Indonesia (SSI) dengan dibantu oleh Heri (Aldo Tansani), sahabatnya. Secara sembunyi-sembunyi, Bayu berlatih sepak bola. Ia bahkan sering berbohong pada kakeknya agar tetap bisa latihan. Saat peluang untuk masuk timnas U-13 sudah di depan mata, sang kakek akhirnya mengetahui kegiatan Bayu selama ini.

Garuda di Dadaku merupakan film yang sarat akan kritik-kritik sosial, misalnya saat Bayu mencari lapangan kosong untuk latihan. Film ini menunjukkan betapa Jakarta sudah amat sesak dengan bangunan, tak ada lagi lahan kosong untuk bermain sepak bola. Bayu pun akhirnya harus berlatih di kuburan.

Kritik lain disampaikan dalam adegan seorang ayah yang berusaha menyuap pelatih Arsenal SSI agar anaknya bisa lolos dalam timnas U-13. Adegan ini menunjukkan masih banyaknya praktek suap yang menodai persepakbolaan Indonesia.

Secara keseluruhan, Garuda di Dadaku amat menarik untuk ditonton. Memang, beberapa teman mengaku kecewa karena tidak banyak adegan sepak bola yang ditampilkan. Namun menurutku, esensi dari film ini memang terletak pada perjuangan Bayu, bukan permainan sepak bola itu sendiri.

Film garapan sutradara Ifa Isfansyah ini mengharukan dan penuh motivasi. Tema yang diangkat cukup berbeda dibanding film-film Indonesia kebanyakan. Jalan cerita yang mudah dicerna, artistik yang baik, ditambah dengan musik yang sesuai, menjadi nilai tambah dari film ini.

Seperti laiknya mahasiswa semester atas, aku harus mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai syarat kelulusan. Selama dua bulan ke depan, yaitu Juli-Agustus, aku akan menjalani KKN di Desa Sumberharjo, Prambanan. Lokasi itu memang cukup dekat dengan rumahku, namun dibutuhkan perjalanan panjang sampai akhirnya aku bisa KKN di sana.

Cerita ini bermula pada akhir tahun lalu. Sejak bulan Desember, aku dan ketiga temanku sudah mulai mencari program KKN milik kakak angkatan yang sekiranya bisa kami lanjutkan. Alasannya, dengan menjalankan program lanjutan milik kakak angkatan, kami tidak perlu pusing lagi menentukan tema KKN. Selain itu, kami juga mendengar kabar bahwa KKN lanjutan lebih besar kemungkinannya untuk lolos seleksi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) .

Kami berempat akhirnya menemukan satu tema KKN yang bisa dilanjutkan, yaitu tentang ekowisata air terjun Curug Muncar, Purworejo. Kami kemudian mulai bergerilya mencari teman-teman dari jurusan lain yang juga hendak KKN tahun ini. Cukup sulit mencari teman yang mau bergabung, karena Purworejo memang cukup jauh dari Jogja. Tapi kami tetap optimis KKN ini berhasil. Kami yakin LPPM akan membantu mencarikan anggota.

Setelah proposal KKN diajukan, kami mengadakan survey ke Desa Bruno, Purworejo. Cukup mengejutkan memang saat pertama kali ke sana. Medannya berbukit-bukit, menelan habis sinyal handphone semua provider . Walau begitu, kami berusaha untuk tetap semangat.

Hingga akhir Mei, LPPM tak kunjung memberi anggota tambahan. Padahal, jika anggota tim berjumlah kurang dari 20, otomatis tim kami harus bubar. Tak adanya kepastian dari LPPM, ditambah dengan sulitnya medan KKN, telah membuat semangat kami merosot drastis.

Kami semua sadar akan situasi kritis yang sedang terjadi. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk bubar. Para anggota dipersilakan untuk pindah ke tim lain. Tapi bagi anggota yang tidak tahu akan pindah ke mana, ia akan dimasukkan ke tim KKN lain milik Pak Yoyo, dosen pembimbing kami. Ada dua tim KKN lain yang juga dibimbing oleh beliau, yaitu tim KKN Magelang dan Prambanan.

Kebetulan, tim KKN milik temanku masih membutuhkan satu anggota. Aku pun memutuskan untuk pindah ke timnya saja. Namun saat mengurus kepindahanku ke LPPM, rupanya lembaga ini langsung menolak keinginanku. Menurut mereka, jika tim KKNku bubar, aku harus pindah ke tim KKN lain milik Pak Yoyo. Aku sudah menjelaskan bahwa Pak Yoyo tidak keberatan atas kepindahanku, namun mereka tetap tidak peduli. Aku kemudian mengatakan bahwa tim KKN Magelang dan Prambanan akan overkuota jika kami semua dipindahkan hanya ke dalam dua tim tersebut.

LPPM kemudian memberikan keputusan yang, tumben, solutif. Mereka sudah tahu bahwa masalah utama tim kami adalah semangat dan motivasi. Oleh karena itu, tim kami dipersilakan pindah ke lokasi KKN lain milik Pak Yoyo, yaitu di Magelang atau Prambanan. Kedua lokasi ini relatif dekat dan mudah dijangkau, sehingga dengan berbekal semangat pas-pasan pun kami tetap dapat melakukan KKN di sana. Konsekuensinya tentu saja, kami harus mencari tema baru dalam waktu amat singkat. Mengenai jumlah anggota, LPPM berjanji akan memberi tambahan anggota.

Setelah mengetahui keputusan itu, kami memilih untuk pindah KKN ke Prambanan. Kami bersama Pak Yoyo kemudian langsung mengurus pondokan KKN di Desa Sumberharjo, Prambanan. Pak Lurah Desa Sumberharjo lalu menempatkan kami dalam dua pondokan, masing-masing di Dusun Sawo dan Dusun Umbulsari B.

Seminggu berikutnya, kami dilanda kabar mengejutkan. Saat rapat koordinasi dengan tim KKN seluruh Sleman, kami mengetahui bahwa Dusun Sawo telah ditempati oleh tim KKN lain. Bahkan, tim KKN lain itu juga menempati pondokan yang sama dengan kami. Entah kenapa, Pak Lurah tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini. Di sela-sela ujian, kami harus mengurus masalah pondokan. Keputusan akhir, kami semua dipersilakan untuk menempati dua pondokan di Dusun Umbulsari B.

Saat mengurus pondokan, tak lupa juga kami melakukan survey atas potensi yang dimiliki dusun tersebut. Sabtu (27/6) lalu, akhirnya kami menemukan tema KKN, yaitu tentang pertanian terpadu berbasis potensi lokal. Kami nekat mengambil tema itu meski tak satu pun anggota tim berasal dari fakultas pertanian.

Penerjunan KKN akan dilakukan hari Kamis (2/7). Dari tujuan awal ke Purworejo, akhirnya kami pindah KKN ke Sumberharjo. Gara-gara malas membuat tema baru, nasib kami justru berakhir dengan mencari tema baru, dalam waktu singkat pula. Semoga saja, keadaan selama dua bulan ke depan tidak lebih sulit dibanding perjalanan kami selama ini.


Wednesday, June 10, 2009

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Satu lagi film action yang harus kutonton dengan terpaksa, yaitu Terminator: Salvation. Film ini masih berkisah tentang pertarungan antara manusia dan robot, sama seperti film Terminator sebelumnya.

Cerita bermula dari Marcus Wright (Sam Worthington) yang tubuhnya dijadikan separuh robot. Beberapa tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 2018, terjadi peperangan hebat antara manusia dan robot. Salah seorang pejuang dari kubu manusia adalah John Connor (Christian Bale). Dengan kondisinya yang separuh robot, Wright kemudian membantu Connor untuk menyelinap masuk ke markas para robot.

Selain peperangan, film produksi Sony Pictures ini juga dibumbui dengan sedikit kisah cinta. Proses pencarian Connor terhadap ayahnya juga cukup menjadi sorotan dalam Terminator: Salvation ini.

Pada awal film, aku merasa kesulitan dalam mencerna jalan ceritanya. Hal ini barangkali karena aku belum menonton film Terminator sebelumnya. Tapi seiring dengan berlangsungnya film, semakin jelas pula ceriteranya.

Sepanjang film, aku tak henti-hentinya dibuat tegang. Cukup seru, wajib ditonton oleh para pecinta film action.
Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Comedy
Film ini berkisah tentang petualangan Larry (Ben Stiller), mantan penjaga malam Museum Sejarah Nasional yang kini sudah menjadi pengusaha sukses. Pada suatu ketika, Larry menengok musem tempat kerjanya dulu. Ia kemudian mendapat kabar bahwa Museum Sejarah Nasional akan direnovasi. Untuk sementara, sebagian besar isi museum dipindahkan ke Museum Washington. Larry harus bertindak, karena di Museum Washington terdapat Kahmunrah, sosok jahat Pharaoh yang hidup dan dapat mengakibatkan perang.

Film sekuel dari Night at The Museum ini masih dibintangi oleh pemeran-pemeran dalam film pertamanya, seperti Ben Stiller dan Robbin Williams. Walau begitu, film produksi 20th Century Fox ini terasa lebih kocak dibanding film pendahulunya. Kelucuan demi kelucuan muncul di sela-sela film, bahkan di saat-saat tegang.

Night at The Museum: Battle of The Smithsonian merupakan film pertama yang mengambil lokasi di Museum Washington. Film ini lucu, menarik, dan merupakan penghibur jitu di kala stres.

Monday, June 1, 2009

Pada kuliah Cybermedia minggu lalu, Cak Budhy selaku dosen pengampu melontarkan satu pertanyaan kepada para mahasiswanya. “Kamu ingin bekerja di mana kelak?” tanya beliau. Tidak ada yang menjawab, Cak Budhy kemudian menunjuk teman sekelasku bernama Gleni.“Belum tahu, Cak,” jawab Gleni.

“Gimana ini kok belum tahu? Coba, kalau kamu ingin bekerja di mana?” Cak Budhy tiba-tiba menudingkan jari telunjuknya ke arahku.

Sedikit terkejut, kujawab pertanyaan beliau dengan singkat dan agak marmos, “rahasia!”
Cak Budhy tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala.

Memang sudah menjadi kebiasaanku untuk menjawab “rahasia” jika ada teman yang menanyakan sesuatu. Tapi jika dosen yang bertanya, baru kali ini aku sembrono menjawabnya demikian. Jawaban tersebut tampaknya terlontar karena aku juga belum tahu pekerjaan apa yang kuinginkan, sama seperti Gleni.

Keesokan harinya, aku iseng mengajukan pertanyaan Cak Budhy itu kepada Awe, ketua Publicia Photo Club (PPC) 2008/2009.

“Kerjaan yang bisa dapet uang banyak,” jawabnya sambil tertawa.

Lewat percakapan lebih lanjut, akhirnya kuketahui bahwa ia juga belum menentukan pilihan tentang kariernya di masa depan. Padahal sebelumnya, aku yakin 100 persen ia bercita-cita menjadi fotografer. Tapi rupanya Awe mengaku fotografi hanyalah sekadar hobi yang membantunya membuat hidup menjadi lebih bermakna.

Entah dengan mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM yang lain, tapi yang jelas teman-teman di sekelilingku kebanyakan masih bingung tentang pekerjaannya kelak. Hal ini barangkali bisa terjadi karena luasnya bidang pekerjaan yang dapat kami geluti. Mulai dari media planner, humas, produser, sutradara, jurnalis, fotografer, hingga dosen. Banyaknya profesi tersebut sayangnya tidak didukung dengan adanya pengelompokan secara jelas di jurusan kami.

Sebenarnya, pihak jurusan sudah mulai mengarahkan kami pada semester tiga. Terdapat tiga konsentrasi yang dapat kami pilih, yaitu media, sistem penunjang media, dan perspektif media. Namun demikian, jurusan kami seolah kekurangan mata kuliah. Seorang mahasiswa pengambil konsentrasi media misalnya, pada akhirnya juga akan mengambil mata kuliah milik konsentrasi sistem penunjang dan perspektif media. Dengan demikian, materi yang kami pelajari tidak lagi terfokus, melainkan terpecah.

Di satu sisi, keadaan ini menguntungkan karena seorang mahasiswa dimungkinkan untuk mempelajari berbagai macam skill. Di sisi lain, kondisi ini menimbulkan kebimbangan dalam menentukan profesi di masa mendatang, seperti yang kini sedang kualami bersama teman-teman.

Kami sudah semester enam. Bila semuanya lancar, bulan depan kami KKN, semester depan mulai skripsi, tahun depan lulus. Tapi apa gunanya ijazah jika masih belum menentukan arah?

Jurusan Ilmu Komunikasi UGM hendaknya menambah lagi jumlah mata kuliah di masing-masing konsentrasi. Penambahan jumlah mata kuliah ini tentunya juga harus dibarengi dengan penambahan jumlah dosen yang berkualifikasi. Selain itu, bantuan dari KOMAKO selaku himpunan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi juga dibutuhkan. KOMAKO dapat mengadakan diskusi, seminar, atau kuliah bareng praktisi untuk membantu mengarahkan kami yang masih bimbang. Dengan begitu, semoga tidak ada lagi jawaban “belum tahu” ketika mahasiswa semester enam Ilmu Komunikasi UGM ditanya mengenai pilihan kerjanya kelak.

Monday, May 25, 2009

Surat Kabar Mahasiswa (SKM) UGM Bulaksumur menggelar lomba mural tas, Minggu (24/5).

Lomba yang bertempat di halaman gedung Koesnadi Hardjasoemantri ini dihelat untuk memperingati ulang tahun Bulaksumur Pos, salah satu produk SKM UGM Bulaksumur. Selain lomba mural tas, SKM UGM Bulaksumur juga mengadakan pameran stand komunitas dan talkshow bertema industri kreatif. Seluruh kegiatan tersebut disusun dalam suatu rangkaian acara bertajuk Aksi Kreasi.


Animo peserta

Lomba mural tas yang ditujukan untuk umum ini berhasil menggaet cukup banyak peserta. Menurut Saiful Bachri selaku ketua panitia, jumlah peserta lomba melebihi target dan kuota yang disediakan. “Jumlah pesertanya 217 orang. Padahal, target kami sebenarnya hanya 200 peserta saja. Takutnya, jika lebih dari 200 orang, tempatnya nggak cukup,” terang laki-laki yang akrab disapa Ipul ini.

Tingginya animo peserta ini disebabkan oleh adanya keinginan untuk menuangkan ekspresi dan kreativitas diri. Hal ini diakui Sinta, salah satu peserta. “Aku daftar karena pingin corat-coret aja,” ungkap Sinta. Selain itu, biaya pendaftaran lomba ini cukup terjangkau. Hanya dengan membayar Rp 20 ribu, peserta dapat memperoleh fasilitas berupa tas, cat, dan sertifikat. Tak hanya itu, tas hasil kreasi para peserta ini nantinya dapat mereka bawa pulang.

Telah ditunjuk tiga juri kompeten untuk menilai karya-karya peserta, yaitu Sandi (Mulyakarya), Indra (Bajigur Magz), dan Angga Dalijo. Dari hasil penjurian mereka, terpilih tiga orang yang berhasil menjadi pemenang, yaitu Imam Santoso (juara 1), Agung Prasetya (juara 2), dan Irfan Muhammad (juara 3). Juara 1 berhak memperoleh uang sebesar Rp 500 ribu, juara 2 sebesar Rp 250 ribu, dan juara 3 sebesar Rp 150 ribu.


Hujan

Lomba mural tas yang diselenggarakan mulai jam 8.00 sampai jam 15.00 ini tak lepas dari kendala. Hujan besar sempat mengguyur area lomba pada pukul 15.00. Panitia yang telah memajang hasil karya peserta di halaman gedung Koesnadi Hardjasoemantri terpaksa memindahkannya ke dalam gedung. “Penjurian akhirnya dilakukan di dalam gedung. Tapi untung saja hujannya turun setelah lomba selesai,” papar Ipul.

Walau begitu, hujan besar tersebut sedikit banyak tetap menimbulkan kekacauan. Salah satu tenda milik sponsor rubuh karena tak kuat menampung air hujan. Para panitia harus rela hujan-hujanan untuk menyelamatkan barang-barang milik sponsor.

Beruntung, cuaca tak bersahabat ini akhirnya berhenti dua jam kemudian. Pengumuman pemenang yang dilakukan pada malam harinya dapat berjalan dengan lancar. 

Tuesday, May 19, 2009

Usai sudah rangkaian kegiatan suksesi KOMAKO yang digelar sejak awal April lalu. Pasangan Iim-Aish akhirnya terpilih sebagai Ketua-Sekretaris Jenderal (Sekjen) KOMAKO periode 2009/2010. Dalam penghitungan suara Senin (18/5) lalu, pasangan ini berhasil mengungguli Dhidha-Fajar dengan angka 149-87.

Perjalanan Iim-Aish menuju kursi panas ini tidaklah mudah. Pada mulanya, Iim hampir tidak mencalonkan diri karena tak menemukan calon sekjen yang sesuai. Namun pada detik terakhir, mahasiswa Ilmu Komunikasi ’06 ini akhirnya berhasil menggaet Aish sebagai calon sekjennya.

Acara serah jabatan untuk pasangan baru ini akan digelar pada hari Rabu (20/5) di Ruang Seminar FISIPOL. Diharapkan, masa depan KOMAKO dapat semakin cerah pada masa kepemimpinan Iim-Aish.


Friday, May 15, 2009

Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) telah disahkan sejak Desember tahun lalu. Namun saat itu aku tak terlalu ambil pusing tentangnya karena memang kurang paham dengan isinya. Baru pada Februari kemarin aku mengenal lebih jauh tentang seluk beluk UU BHP, itu pun juga karena tak sengaja dijelaskan oleh kakakku.

Pada intinya, UU BHP menyebutkan bahwa kewenangan pengelolaan universitas negeri kini sepenuhnya berada pada pihak universitas yang bersangkutan. Universitas tidak lagi ditempatkan sebagai unit pelaksana teknis dari Departemen Pendidikan Nasional, melainkan sebagai suatu unit yang otonom. Hal itu berarti, UU BHP “memaksa” universitas negeri untuk melakukan privatisasi. Dengan privatisasi, terdapat kecenderungan universitas negeri akan menjadi semakin komersil. Biaya pendidikan dikhawatirkan akan melejit tinggi. Tampaknya alasan itulah yang membuat UU ini kemudian menuai berbagai protes.

Walau sudah sedikit mengerti tentang UU BHP beserta problematikanya, namun aku tetap memutuskan untuk tidak terlalu peduli. Toh juga universitas negeri memang sudah mahal sejak belum disahkannya UU BHP.

Tapi beberapa hari yang lalu tiba-tiba persoalan UU ini mendapat ruang di pikiranku. Setrajana, sebuah organisasi pecinta alam FISIPOL UGM, menggelar suatu acara band-bandan, Selasa (12/5) siang. Acara yang digelar di lapangan tengah FISIPOL tersebut tampaknya didukung sepenuhnya oleh sebuah produk multivitamin. Hal itu terlihat dari banyaknya umbul-umbul dan stand di sekitar panggung yang bertuliskan merk produk tersebut. Bahkan, pada awalnya aku mengira acara tersebut digelar murni oleh sang produk multivitamin, bukan oleh Setrajana.

Saat pertama melihat umbul-umbul produk di dalam gedung FISIPOL, tak terlintas pikiran apa pun di benakku. Namun beberapa saat kemudian aku baru tersadar. Tahun lalu ketika KOMAKO hendak menghelat Communication Expo (Commex), panita dilarang memasang media promosi milik sponsor di dalam lingkungan kampus. Spanduk dan segala tetek-bengek milik sponsor paling mentok hanya bisa dipasang di tempat parkir. Namun kini, lapangan tengah FISIPOL dipenuhi warna merah, warna utama produk tersebut.

Barangkali sejak disahkannya UU BHP, pihak fakultas mengambil kebijakan untuk bersikap lebih longgar terhadap masuknya sponsor dari luar. Sekarang kegiatan belajar mengajar seolah dikesampingkan. Acara band-bandan yang digelar di jam kuliah tentu cukup mengganggu kegiatan belajar mengajar. Meski di satu sisi aku merasa senang ada tontonan, tapi di sisi lain aku mengakui bahwa acara itu membuatku malas masuk kelas. Setelah kupaksakan untuk masuk kelas pun, rupanya kegiatan belajar mengajar cukup terganggu oleh kerasnya dentuman musik yang berhasil menerobos masuk ruang kelas.

Terlepas dari dampak UU BHP atau bukan, aku berharap pihak fakultas dapat lebih memikirkan lagi saat hendak menerima proposal acara semacam ini. Biaya kuliah boleh mahal, tapi harus setimpal dengan servis dan fasilitas yang diberikan. 


Sunday, May 10, 2009

Korps Mahasiswa Komunikasi (KOMAKO) sedang menggelar rangkaian acara suksesi untuk mencari ketua dan sekretaris jenderal (sekjen) baru. Rangkaian acara yang dimulai sejak awal April itu kini tengah memasuki tahap pemungutan suara.

Pada awalnya, suksesi tahun ini berlangsung “panas”. Ada tiga calon ketua yang hendak mencalonkan diri. Namun semenjak salah satu calon ketua dinyatakan gugur karena tidak memenuhi persyaratan, atmosfer suksesi langsung berubah menjadi “adem”. Hal ini terlihat dari masa kampanye yang berlangsung hingga Rabu (6/5) lalu. Selama sepekan masa kampanye, tak terlihat satu pun poster kampanye yang tertempel di papan-papan pengumuman. Sejauh pengamatan saya, hanya ada beberapa selebaran milik salah satu calon yang tergeletak di Kepel, pohon rindang di depan Ruang Jurusan Komunikasi UGM. Selebaran itu pun juga baru terlihat pada hari terakhir kampanye. Sementara itu, calon lainnya memilih untuk berkampanye melalui Facebook.

Setelah periode kampanye ditutup, rangkaian acara suksesi dilanjutkan dengan orasi dan debat antarcalon yang dihelat Kamis (7/5) lalu. Acara orasi dibuka dengan yel-yel oleh tim sukses kedua calon. Satu hal yang menjadi perhatian saya, yel salah satu calon hanya dibawakan oleh empat orang tim sukses, dan yel calon lainnya bahkan hanya dibawakan oleh satu orang tim sukses. Padahal, syarat untuk menjadi calon ketua dan sekjen KOMAKO adalah “memperoleh dukungan dari minimal 30 mahasiswa Komunikasi yang dibuktikan dengan mengumpulkan fotocopy ke-30 KTM mahasiswa tersebut.” Tiga puluh. Tapi di mana puluhan orang itu saat calon yang mereka dukung berorasi? 

Hal ini amat kontras jika dibandingkan dengan suksesi tahun lalu yang berlangsung seru dan ramai, mulai dari masa kampanye hingga orasi. Tahun lalu, selama masa kampanye dapat ditemukan berbagai poster kampanye tertempel dengan desain yang menarik. Tim sukses para calon berkoar-koar di mana-mana. Meriah, terdengar gaungnya.

Saat orasi pun tidak kalah seru. Pada orasi tahun lalu memang tidak ada acara yel-yel dari tim sukses. Namun tim sukses salah satu calon berinisiatif untuk memakai topeng-topeng dengan wajah calon yang mereka ajukan. Unik, lucu, serta menunjukkan dukungan dan loyalitas terhadap si calon.

Walau begitu, secara keseluruhan acara orasi tahun ini berjalan lancar. Sesi tanya jawab yang dibuka seusai para calon memaparkan visi dan misi berlangsung ramai. Para mahasiswa Komunikasi, mulai dari angkatan 2005 sampai 2008, berlomba-lomba mengajukan pertanyaan kritis kepada kedua calon.

Sesi tanya jawab itu kemudian diteruskan dengan sesi debat antarcalon. Memasuki sesi debat, ada satu hal lagi yang menjadi perhatian saya. Para calon tampak malu-malu dalam mengritisi dan mendebat pesaingnya. Moderator sudah banyak memancing para calon, namun tetap saja mereka seolah enggan, cari aman, dan tampak berusaha sopan. Hal ini terlihat saat salah seorang calon ingin mengatakan bahwa pesaingnya belum berpengalaman di KOMAKO. Calon tersebut memaparkannya dengan hati-hati dan didahului dengan kata maaf yang tulus, seakan takut menyakiti hati lawan.

Saya tertawa melihatnya. Kejadian ini ibarat Kimi Raikkonen mengucapkan “permisi” sebelum menyalip Jenson Button dalam lintasan F1. Ngapain bilang “permisi”? Jadi, ngapain takut menyakiti hati lawan? Namanya juga acara debat. Asalkan argumen kita masuk akal dan sesuai fakta, tak ada yang perlu disegani.

Tahap pemungutan suara masih akan berlangsung hingga Jumat (15/5). Siapa yang akhirnya menjadi jawara, kita tunggu saja hasilnya. 

Friday, May 1, 2009

“It’s not easy to be me…” (Superman, Five for Fighting)

Kisah ini bermula dari rapat petinggi Korps Mahasiswa Komunikasi (KOMAKO), sebuah organisasi mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM, kira-kira sebulan yang lalu. Rapat yang kuhadiri tersebut membahas mengenai suksesi KOMAKO yang sudah harus segera digelar. Dalam rapat kecil itu dirumuskan persyaratan calon ketua dan sekretaris jenderal (Sekjen) KOMAKO periode 2009/2010. Tercatat ada enam persyaratan yang sudah fix, serta ada satu persyaratan yang masih perlu digodok. Persyaratan yang masih diperdebatkan itu adalah perolehan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,00 bagi calon ketua dan sekjen.


Setelah membahas persyaratan, rapat tersebut kemudian memutuskan untuk membentuk sebuah badan independen yang bertugas mengurus masalah suksesi. Entah berkah atau musibah, aku ditunjuk sebagai ketua tim suksesi itu.

Seminggu setelah rapat petinggi KOMAKO, aku mengadakan rapat bersama tujuh anggota tim suksesi. Dalam rapat itu, aku dan teman-teman panitia membahas masalah persyaratan IPK minimal 3,00. Setelah perdebatan sengit, akhirnya diputuskan bahwa persyaratan IPK tersebut sah diberlakukan pada suksesi tahun ini.

Awalnya, periode pendaftaran ketua dan sekjen KOMAKO hanya dua minggu saja, yaitu 6-22 April 2009. Namun satu hari menjelang pendaftaran ditutup, baru ada satu pasang calon yang mendaftar, yaitu pasangan Dida-Fajar. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ditetapkan bahwa masa pendaftaran diperpanjang hingga 29 April 2009.

Selama perpanjangan waktu tersebut, banyak hal yang terjadi. Tiga mahasiswi Ilmu Komunikasi 2007, sebut saja 3 Diva, membuat gebrakan dengan menjadi tim sukses Cemi-Aish sebagai calon ketua dan sekjen. Cukup banyak mahasiswa yang menjagokan Cemi sebagai ketua, namun sayang IPK lelaki jangkung tersebut tak mencapai angka 3,00. Tapi bukan 3 Diva namanya jika mereka menyerah. Mereka mengumpulkan tanda tangan teman-teman untuk meyakinkan tim suksesi bahwa IPK di bawah 3,00 tak akan menjadi masalah.

Dengan terpaksa aku menolak tanda tangan tersebut, karena aku berusaha konsisten terhadap peraturan yang telah dirumuskan. Tapi ternyata semua itu tidak mudah, banyak pihak yang berusaha membuatku goyah. Aku berusaha menegakkan peraturan, tapi tak sedikit kujumpai godaan. Semakin aku teguh, semakin banyak yang mengeluh. Aku dihujat banyak pihak, sungguh sulit untuk mengelak. Aku berada dalam dilema, berusaha mencari pencerahan atas permasalahan yang ada.

Percayalah teman-teman, tidak menyenangkan berada dalam posisiku. Meski pada awalnya persyaratan IPK hanyalah sebuah wacana, namun tim suksesi telah mengesahkannya. Seharusnya seluruh tim suksesi ikut mempertanggungjawabkan keputusan yang kami buat bersama, namun pada kenyataannya seolah hanya aku yang menanggung. Tidak mudah bagiku untuk memperoleh dukungan, bahkan dari anggota tim suksesi sendiri. Salah satu anggota tim suksesi adalah anggota 3 Diva, dan salah satu anggota yang lain adalah Aish, si calon sekjen sendiri. Dengan susunan tim suksesi yang amat subjektif itu, tidak mudah menjadi diriku. Sungguh.

Waktu itu rasanya kepalaku mau pecah. Masa depan KOMAKO berada di tanganku. Apa pun keputusanku akan amat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup KOMAKO. Beban berat itu tak sanggup kupikul sendirian. Aku butuh masukan, masukan yang objektif. Namun dalam situasi politik sepanas itu, sulit menemukan orang yang masih berkepala dingin, dengan pendapat-pendapat bijaksana.

Hari-hari terakhir menjelang batas pendaftaran, tekanan untukku meningkat tajam. Bahkan hingga 20 menit menjelang pendaftaran ditutup, masih ada saja pihak yang mengirimiku sms agar melunakkan peraturan. Namun aku tetap bertahan, konsisten dengan persyaratan yang telah kutetapkan.

Saat ini pendaftaran ketua dan sekjen KOMAKO telah resmi ditutup. Tercatat ada dua calon yang masuk, yaitu Dida-Fajar dan Iim-Aish. Pasangan yang disebut terakhir ini akhirnya mendaftar pada detik-detik terakhir.

Dengan adanya dua calon, suksesi tahun ini akan berlangsung seru. Namun satu hal yang membuatku kecewa, banyak pihak yang mengancam tidak akan peduli lagi terhadap KOMAKO jika Cemi tak diperbolehkan mencalonkan diri. Menurutku perbuatan mereka sungguh tak dewasa. Mereka seolah meng-underestimate-kan calon-calon yang ada. Belum tentu ketua terpilih nantinya lebih buruk dibanding Cemi. Siapa pun yang menjadi ketua nanti, aku yakin mereka memiliki itikad baik untuk memajukan KOMAKO. Dengan bimbingan ketua-sekjen sebelumnya, aku optimis KOMAKO akan berjalan menuju ke arah yang lebih baik.

Jika kita MEMANG peduli pada KOMAKO, seharusnya tak terpilihnya Cemi bukanlah alasan untuk bersikap apatis. Jika ragu KOMAKO bisa menjadi lebih baik di tangan ketua terpilih, seyogyanya kita justru membantu dan mendukungnya. Bersama, kita bisa menciptakan masa depan cerah bagi KOMAKO. 

Tuesday, April 28, 2009


Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure

Aku bukanlah seorang pecinta film action. Kalau bukan karena dibayarin dan diajak oleh keluarga, aku tidak akan menonton The Fast and The Furious 4. Namun rupanya, film berdurasi 100 menit ini berhasil membuatku merasa tidak rugi menontonnya.

The Fast and The Furious 4 berkisah tentang Dom Toretto (Vin Diesel) yang berniat untuk membalas kematian Letty (Michelle Rodriguez), kekasihnya. Letty ditembak pada suatu malam oleh Fenix (Laz Alonso), salah satu anak buah Braga (John Ortiz), seorang gembong narkoba. Untuk membalas kematian kekasihnya, Dom mendaftar menjadi salah satu pembalap anak buah Braga yang bertugas untuk mengantar narkoba.

Sementara itu, Braga sendiri sudah lama menjadi incaran FBI. FBI kemudian mengirimkan Brian O'Conner (Paul Walker) untuk menyamar menjadi pembalap anak buah Braga, sama seperti Dom. Dom dan Brian dulu merupakan teman yang tidak begitu baik hubungannya. Namun karena memiliki tujuan yang sama, mereka bahu membahu dalam kasus ini. Dom sebenarnya juga merupakan salah satu target yang ingin ditangkap FBI, tapi setelah segala perjuangan yang dialami bersama, Brian lalu berusaha menghapus status buron Dom.

The Fast and The Furious 4 dibuka dengan adegan perampokan truk bermuatan minyak oleh Dom dan Letty. Perampokan yang dilakukan saat truk sedang melaju ini cukup mendebarkan dan menimbulkan minatku untuk terus menonton. Berbagai mobil mewah dengan desain modern, serta serunya balapan, menjadi daya tarik dalam film yang diproduseri sendiri oleh Vin Diesel ini.

Namun ada beberapa teman yang berkata, “filmnya gitu-gitu doang.” Menurut mereka, film ini tak jauh berbeda dari The Fast and The Furious sebelumnya. Tapi menurutku itu tak jadi masalah, toh aku belum pernah menonton segala jenis The Fast and The Furious selain yang ke-4 ini.

Terlepas dari kelebihan dan kelemahan film ini, ada satu hal yang cukup menarik perhatianku. Film ini banyak menampilkan adegan orang-orang lesbi. Meski hanya sekilas-sekilas, tapi sering. Entah latar belakang sosial apa yang dimiliki Justin Lin sebagai sutradara.

Secara keseluruhan, The Fast and The Furious 4 cukup menarik untuk ditonton. Tapi tentu saja, malaikat juga tahu film drama yang jadi juaranya.

Wednesday, April 22, 2009

Ada dua belas bulan dalam setahun. Kedua belas bulan itu memiliki makna sendiri-sendiri yang selalu melekat di ingatanku.

Januari : Bulan beres-beres kamar
Kata mamaku, kamar bersih di awal tahun dapat membuka kran rejeki sepanjang tahun. Benar atau tidak, yang jelas aku selalu membereskan kamar pada bulan Januari. Membereskan kamar adalah hal yang spesial bagiku, karena kegiatan itu hanya kulakukan sekali saja dalam setahun. Silakan dibayangkan betapa berantakannya kamarku.

Februari : Bulan kasih sayang
Februari identik dengan valentine’s day. Meski sudah tidak pernah lagi merayakan hari kasih sayang, namun bagaimana pun juga aku pernah muda. Aku masih ingat betul jaman-jaman jahiliyah saat aku SMP dan SMA. Saat itu idiom yang berlaku adalah “nggak g4ul kalau nggak tukar cokelat”. Selain itu, hampir semua media menggembar-gemborkan tentang hari kasih sayang pada bulan Februari. Stasiun televisi berlomba-lomba menayangkan sinema spesial valentine, majalah-majalah remaja menerbitkan edisi khusus valentine, stasiun-stasiun radio menyiarkan kuis spesial valentine. Intinya, tidak mungkin aku mengabaikan valentine’s day.

Maret : Bulan menabung
Bulan Maret kutetapkan sebagai bulan menabung, mengenai alasannya dapat dibaca pada makna bulan April di bawah. Tapi meski aku sudah bertekad untuk giat menabung, tetap saja uang yang berhasil kukumpulkan pada bulan ini tak terlalu banyak.

April : Bulan bokek sedunia
Aku adalah seorang aries yang lahir di bulan April. Tentu sudah bisa ditebak mengapa kutetapkan April sebagai bulan bokek sedunia, yaitu karena aku harus mentraktir teman-temanku. Ditambah lagi kebetulan kakakku juga berulang tahun di bulan April. Tapi memberi kado untuk kakakku sifatnya sukarela. Kalau punya uang ya ngasih kado, kalau punya uang tapi nggak rela ya nggak ngasih. Tapi pos pengeluaran terbesar di bulan ini bukan terletak pada traktiran atau kado untuk kakakku, melainkan pada kado untuk sang pacar. Sayang seribu sayang dia juga lahir di bulan April. Oh miskinnya diriku di bulan ini.

Mei : Bulan Bulaksumur Pos
Mungkin karena saat ini teman-teman sedang mempersiapkan acara perayaan untuk ultah Bulaksumur Pos, jadi hal itulah yang langsung muncul di pikiranku saat menyebut kata “Mei”. Bulaksumur Pos merupakan salah satu produk dari Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Bulaksumur, salah satu pers mahasiswa di UGM yang kugeluti. Bulaksumur Pos pertama kali terbit pada 8 Mei 2000, terbit setiap Selasa dan dibagikan secara gratis kepada civitas akademika UGM.

Juni : Bulan aku dan dia
Empat tahun yang lalu, aku jadian sama sang pacar di bulan ini. Setiap bulan Juni kami selalu merayakan hari jadi kami. Keuanganku lagi-lagi sedikit terkuras, karena kami punya tradisi bertukar kado pada bulan ini.

Juli : Bulan bermalas-malasan
Dari jaman TK sampai kuliah, liburan selalu terletak di bulan Juli. Karena judulnya adalah liburan kenaikan kelas, jadi liburan di bulan Juli merupakan liburan terpanjang selain libur lebaran. Hari libur bagaikan surga, karena aku bisa bermalas-malasan sepanjang hari, main game sepuasnya, nonton TV sampai muak. Tapi malang nasibku bulan Juli tahun ini harus kuisi dengan Kuliah Kerja Nyata alias KKN. Aku KKN di sebuah desa kecil di perbukitan Purworejo. Sudah kupastikan tidak ada TV dan sinyal handphone di sana. Selamat menempuh hidup baru.

Agustus : Bulan kemerdekaan
Seperti yang kita semua tahu, hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia jatuh pada tanggal 17 Agustus. Dari SD sampai SMA selalu ada upacara untuk memperingati tanggal kelahiran cucu Presiden SBY ini. Meski sekarang sudah tidak pernah ikut upacara kemerdekaan lagi, tapi aku tetap tak bisa lepas dari hingar-bingar 17-an. Perumahanku selalu mengadakan bermacam-macam lomba untuk merayakan HUT Indonesia. Tidak hanya lomba, biasanya digelar juga bazar dan pentas seni.

September : Bulan Padmanaba
Saat masih SMA, sekolahku selalu mengadakan upacara HUT pada tanggal 19 September. Upacara ini spesial, karena seragam yang harus dikenakan para siswa juga spesial. Atasan putih, bawahan khaki, serta dasi dan muts Padmanaba yang istimewa. Kusebut istimewa karena aku dan teman-teman harus menjalani MOS selama sebulan, mengerjakan semua tugas MOS dengan bonus dibentak-bentak, baru kami resmi dilantik pada suatu dini hari dan memperoleh pakaian kebangsaan itu.

Oktober : Bulannya mama
Mamaku ultah di bulan ini. Walaupun ada bulannya mama, tapi sayang sekali nggak ada bulannya papa. Hal ini dikarenakan papaku sendiri tidak tahu kapan tanggal lahirnya. Di KTP-nya, tercatat bahwa tanggal lahir beliau adalah 6 April. Tapi ternyata oh ternyata, 6 April adalah tanggal lahir kakaknya.

November : Bulan biasa
Saat mengetik tulisan ini, aku berpikir keras tentang apa yang langsung kuingat saat mendengar kata “November”. Tapi ternyata tidak ada yang terlalu spesial di bulan ini, jadi kuputuskan untuk memberi predikat bulan biasa untuk bulan kesebelas ini.

Desember : Bulan hujan
Saat ini hujan memang suka datang seenak perutnya. Tapi tetap saja yang paling nge-soul menurutku adalah hujan di bulan Desember. Pada bulan ini hujan turun setiap hari, seolah-olah ikut bersiap menyambut kedatangan tahun baru. Aku suka hujan, kecuali saat sedang dalam perjalanan naik motor. That’s why I love December.

Tiap bulan pasti memiliki makna yang berbeda bagi tiap orang. Judul tulisan ini memang sedikit mekso, tapi kalian wahai temanku pasti sudah memahami apa maksudnya. Makna bulan bagi bintang, bisa dibaca sebagai makna bulan bagi Starin. 

Friday, March 27, 2009


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Entertainment
Author:Andrea Hirata

Maryamah Karpov adalah seri terakhir dari tetralogi Laskar Pelangi. Tiga karya Andrea Hirata sebelumnya adalah Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Maryamah Karpov berkisah tentang petualangan Ikal mencari A Ling, cinta pertamanya. Ikal mengarungi samudra, berbagai negara dan benua, semua itu dilakukan demi menemukan gadis pujaannya.

Banyak tokoh muncul dalam novel ini. Selain anggota Laskar Pelangi, masih banyak tokoh lain yang lucu dan unik, seperti Ketua Karmun, Berahim Harap Tenang, Mahmuddin Pelupa, dan Dokter Diaz. Judul Maryamah Karpov sendiri rupanya diambil dari nama seorang Mak Cik yang sering berkumpul di Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi. Mak Cik Maryamah ini sering kali mengajari orang langkah-langkah catur Karpov.

Secara keseluruhan, isi novel ini sungguh menarik. Melalui 73 babnya, Maryamah Karpov berhasil memadukan aspek sains dengan budaya orang Melayu. Penggambarannya sungguh detil, mampu membawa pembacanya terbuai masuk ke dalam cerita. Gaya bahasa yang digunakan Andrea masih sama ajaibnya dengan karya-karya sebelumnya. Ending dari novel ini juga tak terduga. Novel setebal 504 halaman ini wajib dibaca oleh para pecinta sastra.

Wednesday, March 18, 2009


Hari Minggu kemarin aku dan teman-teman mengadakan survey KKN di Desa Kaliwungu, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo. Jarak desa itu cukup jauh dari pusat kota Purworejo, kira-kira membutuhkan satu jam perjalanan. Medannya pun berbukit-bukit, mengingatkanku pada jalan menuju Pantai Siung.

Sesampainya di sana, kami langsung kebingungan. Pasalnya di desa yang amat asri itu tidak ada sinyal handphone sama sekali. Simpati, IM3, XL, apalagi Smart, semuanya tewas. Anehnya, ada kios seluler di sana, yang menyediakan kartu perdana, isi ulang pulsa, dan pernak-pernik handphone. Kios seluler itulah yang pertama kali kami kunjungi setibanya di desa itu. Bukan karena mau beli pulsa, tapi karena pemilik kios itulah orang yang kami cari.

Sang pemilik kios bernama Mas David, ia adalah ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Desa Kaliwungu. Karena program KKN kami adalah ekowisata Curug Muncar, maka Mas David adalah orang yang tepat untuk diajak berbincang. Saat ditemui, beliau mengaku Pokdarwis sedang vakum akhir-akhir ini. Dengan sabar laki-laki asal Lampung itu menjelaskan problem-problem yang dihadapi Pokdarwis, salah satunya adalah kesibukan para pengurus Pokdarwis.

Mas David lalu mengajak kami berkeliling menemui Kepala Dusun (Kadus) Kalibang dan Kamasan. Dua dusun itulah yang nanti akan menjadi tempat tinggal kami selama dua bulan, yaitu pada Juli dan Agustus nanti. Kalibang dipilih karena di dusun itulah letak Curug Muncar, air terjun yang menjadi objek program KKN kami. Sementara itu Kamasan adalah dusun yang menjadi tempat pusat kegiatan Pokdarwis.

Pada saat menemui Kadus Kalibang, pria tua itu mengemukakan satu masalah genting. Debit air Curug Muncar semakin menurun dari tahun ke tahun. Menurut beliau, hal ini disebabkan oleh banyaknya penebangan liar (ilegal logging) di desa itu. Penebangan ini dilakukan oleh pihak-pihak dari luar desa, sehingga tentu saja warga desa tak memperoleh keuntungan sepeser pun.

Menurut Pak Kadus, di daerah itu sudah ada polisi hutan yang berpatroli. Namun entah mengapa, penebangan liar tetap marak terjadi. Hampir tiap 500 meter bisa ditemukan tumpukan kayu yang baru saja ditebang, siap diangkut menggunakan truk. Jika ditanya siapa pelakunya, para warga dapat menjawab dan menunjuk siapa saja orangnya. Tapi masalahnya, mereka tidak tahu bagaimana dan ke mana harus melapor.

Masalah penebangan liar memang sudah melanda Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Menurut data Badan Penelitian Departemen Kehutanan, kerugian finansial akibat penebangan liar mencapai angka Rp 83 milyar per hari. Kerugian tersebut tentu belum mencakup punahnya keanekaragaman flora-fauna dan jasa-jasa lingkungan yang dihasilkan hutan. Pemerintah sudah berupaya untuk mengurangi jumlah penebangan liar ini, namun hasilnya belum terasa.

Setelah empat jam berada di Desa Kaliwungu, kami merasa sudah memperoleh cukup gambaran tentang desa yang masih sedikit warganya yang memiliki TV itu. Masalah ilegal logging di area Curug Muncar menjadi PR yang harus kami kerjakan saat KKN nanti.

Sebelum pulang, kami iseng bertanya, mengapa ada kios seluler di desa yang tak terjamah sinyal itu. "Bisa saja dapat sinyal, tapi handphone-nya harus disambungkan ke antena," jelas Mas David sambil menunjuk ponselnya yang tergeletak manis, tersambung dengan kabel antena yang panjang. Kami pun langsung ber-ooh ria sambil membayangkan kehidupan kami selama KKN nanti. Tak apalah dua bulan hidup tanpa handphone, tanpa TV. Tapi jangan tanpa hutan.

Thursday, March 5, 2009


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Jostein Gaarder

Seminggu yang lalu saya mendapat tugas untuk mata kuliah filsafat komunikasi, yaitu mereview novel pengantar filsafat apapun. Inilah tugas yang saya kumpulkan untuk mata kuliah tersebut.


Belajar Filsafat Melalui Surat

“Siapakah kamu?”

Pertanyaan itu tampak singkat dan sederhana. Namun bagi Sophie, tidak mudah untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Surat misterius

Sophie Amundsend adalah seorang gadis 14 tahun yang tinggal di Norwegia. Hidupnya mulai berubah saat ia menerima sepucuk surat misterius pada suatu sore. Surat yang tak diberi nama pengirim itu hanya berisi satu pertanyaan: “Siapakah kamu?” Belum sampai dua jam, Sophie kembali memperoleh surat misterius. Kali ini berisi pertanyaan: “Dari mana datangnya dunia?”

Kebingungan Sophie bertambah saat gadis berambut lurus ini menerima sebuah kartu pos yang dialamatkan untuk Hilde Moller Knag, d/a Sophie Amundsend. Sophie sama sekali tidak kenal, bahkan tidak tahu siapa itu Hilde. Ia tak habis pikir mengapa kartu pos yang berisi ucapan selamat ulang tahun itu dikirimkan kepadanya.

Hari-hari berikutnya, Sophie terus menerima surat misterius. Surat-surat itu masih berisi pertanyaan tentang filsafat, seperti “adakah zat dasar yang menjadi bahan untuk membuat segala sesuatu?” atau “apakah kamu percaya pada takdir?”

Biasanya Sophie memiliki waktu selama beberapa jam untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut, sebelum akhirnya datang surat berikutnya yang memberi penjelasan mengenai pertanyaan itu. Selama beberapa hari, Sophie mempelajari filsafat melalui surat, mulai dari apakah itu filsafat, gambaran mitologis dunia, sampai pemikiran para filsuf dari berbagai masa.

Memperoleh pelajaran filsafat dari sosok tak dikenal sungguh menggugah rasa penasaran Sophie. Ia pun memutuskan untuk menulis surat kepada sang “guru” filsafat. Sophie menanyakan siapa namanya sekaligus mengundangnya untuk datang ke rumah. Bingung harus dikirim ke mana, Sophie menaruh surat itu di kotak suratnya.

Esok harinya, guru filsafat itu membalas surat Sophie. Meski menolak undangannya, tapi sang guru berjanji untuk segera menemui Sophie. Di akhir surat ia mencantumkan namanya, yaitu Alberto Knox.

Sementara Sophie belajar filsafat melalui surat-surat yang dikirim Alberto, gadis ini juga terus menerima kartu pos aneh yang ditujukan untuk Hilde. Kedatangan kartu pos itu pun tak kalah aneh dan misterius, mulai dari jatuh keluar dari buku tulis hingga tiba-tiba tertempel di jendela.

Beberapa minggu kemudian, Alberto menepati janjinya. Pria berusia sekitar lima puluh tahun ini mengajak Sophie bertemu di sebuah gereja peninggalan Abad Pertengahan. Sejak saat itu Sophie sering menemui Alberto. Selain membahas filsafat, ia juga berdiskusi dengan Alberto mengenai kartu pos aneh itu.

Menjelang hari ulang tahun Sophie pada tanggal 15 Juni, kejanggalan demi kejanggalan semakin kerap terjadi. Anjing Alberto tiba-tiba bisa berbicara dan mengucapkan selamat ulang tahun untuk Hilde. Saat Sophie mengupas pisang, rupanya di dalam kupasan pisang terdapat ucapan selamat ulang tahun untuk Hilde. Semuanya berkaitan dengan Hilde.

Pada akhirnya Sophie dan Alberto menyadari bahwa mereka hanyalah tokoh fiktif yang ada dalam sebuah buku karangan Albert Knag, ayah Hilde. Albert mengarang buku yang berjudul Dunia Sophie itu sebagai hadiah untuk Hilde yang berulang tahun pada tanggal yang sama dengan Sophie. Sophie dan Alberto kemudian mencari-cari cara agar bisa keluar dari dunia buku.

Novel filsafat

Sebagai novel pengantar filsafat, Dunia Sophie bisa dibilang berhasil dalam memopulerkan bidang ilmu tersebut. Novel karya Jostein Gaarder ini berhasil mengemas sejarah filsafat menjadi sebuah cerita yang ringan dan menarik. Cara bertuturnya sederhana dan amat mudah dipahami. Ada beberapa bagian yang sedikit sukar dicerna, yaitu saat membahas mengenai beberapa pemikiran filsuf ternama. Walau begitu, bahasanya tetap masih lebih mudah dipahami dibanding kebanyakan buku filsafat.

Pada awalnya novel ini terasa sedikit datar dan membosankan. Namun begitu misteri demi misteri muncul, novel ini mampu membangkitkan rasa penasaran kita. Jalan cerita dalam novel yang mengambil setting pada tahun 1990 ini benar-benar unik, tak biasa, bahkan bisa dibilang aneh.

Dengan seorang remaja sebagai tokoh utamanya, kisah yang dihadirkan dalam Dunia Sophie tentu juga menyangkut kehidupan remaja. Tidak hanya melulu filsafat, novel ini juga mengisahkan hubungan Sophie dengan teman-temannya.

Hubungan Sophie dengan ibunya juga mendapat porsi yang cukup besar dalam novel ini. Ibunya khawatir saat mengetahui Sophie belajar filsafat. Ia menganggap Sophie berubah menjadi aneh setelah mempelajari bidang ilmu tersebut. Keadaan ini sedikit banyak menggambarkan realitas yang terjadi di sekitar kita. Anggapan ibu Sophie bahwa mempelajari filsafat dapat mengubah seseorang menjadi aneh ini mungkin sama seperti anggapan kebanyakan orang.

Selain itu, novel ini juga berusaha membangkitkan rasa ingin tahu kita terhadap dunia sekitar. Dunia Sophie mengibaratkan alam semesta sebagai seekor kelinci yang ditarik keluar dari topi pesulap. Orang-orang yang tidak peduli terhadap misteri dunia ini bagaikan bersembunyi di balik bulu-bulu kelinci yang lembut dan nyaman. Sementara para filsuf, dengan segenap rasa ingin tahunya, berusaha untuk memanjat helaian-helaian lembut dari bulu binatang ini untuk dapat mengetahui rahasia sang pesulap.

Saat membaca Dunia Sophie, barangkali secara tidak sadar kita ikut memikirkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan singkat yang diajukan dalam surat misterius. Dunia Sophie mampu mengajak kita berpikir tentang pertanyaan mendasar mengenai makna dan tujuan hidup. Setelah membaca novel ini, kita dapat menjadi orang yang lebih peka dan menghargai hidup.