Thursday, January 29, 2009

Aku adalah seorang manusia yang tak bisa hidup tanpa geng. Seperti kata Aristoteles, manusia adalah zoon politicon, yaitu makhluk yang pada dasarnya selalu ingin bergaul dan berkumpul dengan sesama manusia lainnya. Tapi tampaknya aku adalah contoh zoon politicon yang ekstrim.

Sewaktu SMP, aku memiliki geng beranggotakan sembilan orang, namanya Gomu-Gomu Soldier. Huek cuh, dari namanya saja sudah kelihatan norak. Saat SMA kelas 1, aku juga punya geng dengan anggota enam orang, biasa dipanggil Mommierz. Kelas 2 dan 3, gengku sudah berbeda lagi. Kali ini beranggotakan lima orang, dengan nama Pengkierz.

Menginjak bangku kuliah, seharusnya aku bisa menjadi sosok yang lebih dewasa dan mandiri. Tapi ternyata sifat dasar untuk hidup nge-geng tak bisa diubah. Saat ini aku punya geng dengan personil empat orang, sering dipanggil dengan nama Geng Glamor.

Meski sudah jarang bertemu, namun perlu dicatat bahwa aku dan teman-teman gengku sewaktu SMP dan SMA masih tetap saling kontak. Saat liburan, kami sering mengadakan reuni geng. Yang baru-baru ini dihelat adalah reuni Pengkierz.

Tak pernah kusangka, memiliki banyak geng bisa menjadi suatu masalah tersendiri. Aku tidak akan banyak curhat di sini. Intinya, salah satu teman gengku baru saja jadian dengan mantan pacar salah satu teman dari gengku yang lain.

Aku benar-benar dibikin bingung. Di geng yang satu, aku harus ikut senang karena seorang temanku baru saja jadian. Di geng yang lain, aku harus menunjukkan rasa bela sungkawa karena temanku ada yang patah hati. Seseorang yang bermuka dua, itulah aku. Aku tidak suka diriku yang seperti ini, tapi aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan.

Masalah seperti ini bukan hanya sekali terjadi. Saat SMA pernah juga ada kasus yang lebih gawat. Seorang teman gengku menjadi selingkuhan pacar teman gengku yang lain! Di geng yang satu, aku dituntut untuk menjadi teman baik yang bisa menjaga rahasia. Di geng yang lain, aku merasa bersalah karena merahasiakan informasi penting. Saat akhirnya kebenaran terungkap, kedua temanku itu menangis padaku, tidak secara bersamaan tentunya. Mereka memang tidak marah padaku, tapi rasanya tetap saja, sungguh… sungguh menyesakkan. Aku bingung harus berkomentar apa, bersikap bagaimana, memihak siapa.

Ada satu hal lagi yang kerap membuatku getir. Seringkali, kasus yang terjadi sebenarnya merupakan masalah interpersonal. Tapi karena menyangkut anggota kedua geng, masalah tersebut lantas membesar menjadi masalah antargeng. Mungkin masalah antargeng itu tidak seekstrim seperti yang ditunjukkan oleh sinetron-sinetron Indonesia: saling tampar, saling menjahili, cuih… najis.

Yang terjadi di geng-gengku hanyalah saling menggunjingi di belakang. Nah, kalau salah satu gengku sedang menggosipkan gengku yang lain, biasanya aku tak terlalu banyak berkomentar. Kalau ada informasi yang tidak benar, baru aku membela geng yang sedang digosipkan. Mungkin aku memang pengecut, cari aman, bermuka dua… Tapi yang jelas, semua ini kulakukan karena aku tidak ingin memperbesar masalah. Buat semua teman gengku, I love u all, girls.

Tuesday, January 20, 2009


Aktif di beberapa organisasi mahasiswa telah banyak merenggut masa remajaku. Jarang di rumah, kuliah terlantar, pacar terabaikan. Semua itu konsekuensi yang harus dihadapi jika ada urusan organisasi yang harus diselesaikan. Naasnya, urusan itu datang dan pergi bergantian, selalu menghampiri tiada henti.

Saat menjelang ujian misalnya, ada tulisan teman-teman yang harus di-edit untuk diterbitkan organisasi. Saat musim ujian datang, ada proposal kegiatan organisasi yang harus diselesaikan. Saat liburan tiba, proposal lainnya menunggu untuk dikerjakan.

Terkadang aku berpikir, apa yang kuperoleh dari organisasi-organisasi mahasiswa itu? Uang? Tentu saja tidak. Aku justru rugi dari segi materi: pulsa, bensin, uang makan. Yang kudapatkan hanya lelah, kuliah terganggu, waktu untuk bermain berkurang.

Organisasi mahasiswa memiliki berbagai lingkup anggota. Mulai dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang lingkupnya universitas, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang setingkat jurusan, sampai Badan Semi Otonom (BSO) yang merupakan “anak” dari HMJ. Namun pada dasarnya semua organisasi mahasiswa itu sama. Sama-sama lembaga volunteer, lembaga yang keanggotaannya bersifat sukarela. Anggotanya harus mau bekerja keras tanpa mengharap pamrih. Harus mau meluangkan waktu tanpa mengharap imbalan.

Hal inilah yang mungkin membuat banyak anggota organisasi mahasiswa berguguran di tengah jalan. Sementara aku, hanya sepatah kata bernama “komitmen” yang membuatku tetap bertahan di organisasi. Demi kata itu, aku memberikan pengabdian dan kesetiaan pada organisasi.

Aku yakin, lembaga volunteer ini pasti akan bermanfaat, baik sekarang maupun nanti. Manfaat saat ini, selain memiliki banyak kenalan, aku juga bisa menambah daftar pengalaman berorganisasi di Curriculum Vitae (CV). Untuk jangka panjang, bukan tak mungkin kenalan yang kudapat sekarang ini bisa menjadi koneksi yang bermanfaat di dunia kerja nanti.

Organisasi mahasiswa memang lembaga volunteer. Tidak ada yang perlu dikeluhkan. Ikhlaskan semuanya sekarang, petik hasilnya di masa mendatang.

Thursday, January 15, 2009


Rating:★★★★★
Category:Books
Genre: Romance
Author:Dewi Lestari

Rectoverso adalah judul buku teranyar Dewi Lestari yang berisi sebelas cerita pendek, yaitu: Curhat buat Sahabat, Malaikat Juga Tahu, Selamat Ulang Tahun, Aku Ada, Hanya Isyarat, Peluk, Grow a Day Older, Cicak di Dinding, Firasat, Tidur, dan Back to Heaven’s Light. Sudah terlihat dari judulnya, dua cerita dalam novel ini murni menggunakan Bahasa Inggris.

Secara keseluruhan, cerita dalam Rectoverso lebih ringan dan mudah dicerna dibanding novel-novel Dee –nama pena Dewi Lestari– sebelumnya. Walau begitu, karya fiksi ini tetap tidak kehilangan ciri khas gaya bahasa Dee yang cerdas dan renyah.

Sulit rasanya untuk memilih satu saja yang paling menarik di antara sebelas cerita bertema cinta yang disuguhkan. Semua cerita memiliki keunikan dan daya tarik masing-masing. Namun jika harus memilih, saya akan menyebut Hanya Isyarat sebagai cerita yang paling saya suka.

Hanya Isyarat berkisah tentang seorang laki-laki yang mencintai seorang gadis, namun ia tahu bahwa gadis itu takkan pernah menjadi miliknya. Walau begitu, ia sudah merasa puas hanya dengan melihat punggung gadis itu, mengiriminya isyarat halus melalui udara.

Sepuluh cerita lainnya tak kalah mengharukan dan romantis. Menggunakan berbagai sudut pandang pencerita, mengisahkan bermacam bentuk cinta. Kelebihan lain dari buku ini, desain halamannya menarik. Banyak gambar yang menghiasi, sehingga tidak membuat mata lelah membaca buku setebal 148 halaman ini.

Saturday, January 3, 2009


Hai. Namaku Pembalut Wanita. Jangan jijik ya, aku belum dipakai kok. Aku ingin bercerita sedikit tentang proses pembuatan diriku, serta bahaya yang mengancam cewek-cewek yang menggunakanku.

Dulu, aku adalah selembar kertas. Kertas bekas. Tapi orang-orang itu mendaur ulang diriku menjadi sebuah pembalut wanita. Orang-orang itu bilang, aku termasuk dalam klasifikasi Produk Konsumen Cepat Saji, produk sekali pakai. Karena itu, mereka kerap mendaur ulang bahan kertas bekas dan menjadikannya bahan dasar untuk menghemat biaya produksi.

Dalam proses mendaur ulang, banyak bahan kimia yang dipakai untuk membuatku putih kembali, atau bahasa kerennya adalah bleaching. Belum lagi bahan kimia yang digunakan untuk menghilangkan bau dan mensterilkan kuman yang ada pada diriku.

Akibatnya, aku mengandung bahan kimia berlebih. Pada gilirannya nanti, aku dapat menyebabkan terjadinya gangguan terhadap organ reproduksi cewek-cewek yang sering memakaiku.

Tahukah kamu, kemungkinan wanita dewasa terjangkit infeksi vagina adalah 83%. Nah, 62% infeksi tersebut ternyata disebabkan oleh pemakaian diriku, sebuah pembalut!

Masih ada lagi fakta mengerikan tentang aku. The Tampon Safety and Research Act of 1999, U.S.A, menyatakan bahwa zat dioksin dan serat sintetis yang terkandung dalam diriku beresiko tinggi terhadap kesehatan wanita. Termasuk di dalamnya adalah resiko terkena kanker serviks, endometriosis, kanker ovarium, kanker payudara, penurunan sistem kekebalan tubuh, radang pelviks, dan sindroma syok keracunan.

Sungguh mengerikan. Ternyata hidup ala nenek-nenek yang masih menggunakan kain sebagai pembalut itu lebih menyehatkan.

Wah, gawat! Orang-orang itu datang! Mereka akan membungkusku serapi mungkin dan menjualku di pasaran. Hanya itu yang bisa kuceritakan sekarang, semoga kamu lebih berhati-hati dalam menggunakan diriku. Salam!