Wednesday, February 18, 2009

Tadi malam hujan deras. Aku sedang membaca novel Maryamah Karpov di kamar saat tiba-tiba pintu depan rumahku diketuk. Aku segera membukakan pintu. Rupanya, tamu yang datang adalah dua lelaki aktivis organisasi pemuda di perumahanku. Salah satu dari mereka baru saja memberiku cokelat pada hari Valentine kemarin, jadi tentu saja aku geer bukan main melihatnya datang ke rumahku.

Aku langsung mempersilakan mereka duduk di teras rumah. Kedua lelaki itu segera menjelaskan maksud kedatangan mereka. Entah aku yang lambat berpikir atau mereka yang bicaranya berputar-putar, aku tidak kunjung menangkap arti kehadiran mereka. Yang jelas tidak ada hubungannya dengan kegeeranku.

Lalu akhirnya si pemuda yang pernah memberiku cokelat berkata gamblang, “ini ada uang dari Lurah yang sekarang untuk pemuda-pemudi di perumahan kita. Terima aja Rin, kamu nggak harus nyoblos dia kok walaupun kamu nerima uang ini…”

Aku langsung paham. Rupanya mereka sedang membagi-bagikan uang sogokan dari Pak Lurah. Tujuannya jelas, si Lurah ini ingin memperoleh suara dari para pemuda untuk pemilihan Lurah Nogotirto yang akan digelar sebentar lagi.

Aku belum mengantongi KTP lima tahun lalu. Tahun ini adalah kali pertama aku menyoblos, jadi baru kali ini pula aku disodori amplop berisi uang sogokan. Kaget, aku langsung menolak amplop itu. Lelaki satunya kemudian bertanya, “memang kamu ada masalah dengan Lurah yang sekarang?”

Kujawab polos, “memang Lurah yang sekarang itu siapa sih?”

Mereka berdua hanya tersenyum, lalu kembali membujukku untuk menerima amplop itu. Berulang kali mereka membujuk, berulang kali pula aku menolak. Akhirnya mereka menyerah, pulang dengan tetap membawa amplop itu.

Sepulangnya mereka berdua, aku membaca lagi novel Maryamah Karpov yang tadi sempat terhenti kubaca. Selama membaca, pikiranku gelisah tak tenang. Seandainya tadi aku menerima amplop itu, pasti besok aku bisa berfoya-foya. Toh tak ada ruginya, aku tak berkewajiban untuk menyoblos si Lurah yang memberi sogokan.

Walau sampai detik ini aku masih tak tahu siapa Lurah yang akan kupilih nanti, aku tahu persis bahwa si Lurah penyogok itu bukanlah pilihanku. Tapi masalah yang timbul sekarang adalah, bagaimana aku bisa tidak memilih Lurah itu jika nama Lurah terkutuk itu saja aku tak tahu?

Aku kemudian keluar kamar untuk menanyai siapa saja yang bisa kutanya tentang nama Lurah Nogotirto saat ini. Kutanya pada mamaku, beliau menggeleng tanda tak tahu. Kutanya pada papaku, beliau menyebut satu nama dengan ragu-ragu, lalu meralatnya dengan nama lain, masih dengan sikap ragu-ragu.

Kusadari, ternyata keluargaku memang cenderung apatis untuk masalah politik dalam lingkup kecil semacam ini. Padahal terciptanya politik sehat dalam lingkup kecil adalah modal terbentuknya politik sehat dalam lingkup yang lebih besar. Jika dalam lingkup Lurah saja sudah main sogok, bagaimana jadinya kehidupan politik negara kita?

Setelah sekian lama merenung, aku menyadari bahwa sikap apatis tidak akan mengubah apa-apa. Aku kemudian membulatkan tekad untuk memulai dengan satu langkah kecil yang mampu membebaskan diriku dari apatisme, yaitu mencari tahu nama Lurah Nogotirto saat ini.

Monday, February 16, 2009

Halaman dalam Benteng Vredeburg, Yogyakarta, ramai dipenuhi anak-anak pada Sabtu-Minggu (14-15/2) lalu. Rupanya, Ciprat Production sedang menggelar pameran untuk anak yang bertajuk Dunia Anak Jogja 2009.

Menurut Maharani Ratna Pambayun (21) selaku ketua panitia, inisiatif untuk membuat pameran ini muncul karena masih kurangnya acara untuk anak-anak. “Selain itu, kami (Ciprat Production, -Red) juga belum pernah membuat event untuk anak. Maka kami memutuskan untuk membuat acara ini,” jelas perempuan yang akrab disapa Rani ini.


Beragam stand

Dunia Anak Jogja 2009 yang baru dihelat untuk pertama kalinya ini dimeriahkan oleh berbagai stand. Di stand-stand tersebut anak bisa bermain xbox, menonton pertunjukan robot, bahkan belajar bermain wayang. Semuanya gratis, tinggal membayar tiket masuk pameran seharga Rp 2 ribu. Selain itu, masih ada juga acara khusus berupa story telling, bedah buku, hingga pentas kreasi anak.

Dalam kurun waktu dua hari, pameran untuk anak ini berhasil meraup 1734 pengunjung. Tak sedikit pengunjung yang datang dua hari berturut-turut, salah satunya adalah Ryan (7). “Aku senang main di stand itu,” ungkap siswa kelas 1 SD ini sembari menunjuk stand science developer yang menawarkan beragam percobaan ilmiah.


Kendala

Meski terbilang sukses, Dunia Anak Jogja 2009 tak luput dari kendala. Padamnya listrik selama setengah jam pada hari kedua membuat acara pentas kreasi anak menjadi terhambat. “Kami langsung mengisi acara dengan peluncuran roket air yang memang tidak memerlukan listrik,” tutur Rani. Selain itu, Rani juga menyayangkan banyaknya pengunjung yang menerobos masuk tanpa tiket.

Walau begitu, Rani tetap merasa puas dengan terselenggaranya acara ini. “Kemungkinan tahun depan kami (Ciprat Production, -Red) akan mengadakan pameran ini lagi,” pungkasnya.


Thursday, February 12, 2009


Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Comedy

Jagad X Code berkisah tentang tiga sahabat pengangguran, yaitu Jagad (Ringgo Agus Rahman), Bayu (Mario Irwiensyah), dan Gareng (Opi Bahtiar), yang tinggal di kawasan Kali Code, Yogyakarta. Pada suatu sore, mereka tiba-tiba bertemu dengan seorang preman bernama Semsar (Tio Pakusadewo). Semsar meminta mereka untuk mengambil flashdisk dari dalam tas Dita (Febi Febiola) dengan iming-iming uang Rp 30 juta. Ketiga sahabat ini akhirnya menyanggupi permintaan Semsar meski tidak tahu apa itu flashdisk.

Dengan cara yang konyol, akhirnya Jagad, Bayu, dan Gareng berhasil mendapatkan tas Dita. Setelah mengubek-ubek seluruh isi tas, mereka menyepakati sebuah benda untuk disebut sebagai “flashdisk”. Saat mereka hendak menyerahkan “flashdisk” itu pada Semsar, tiba-tiba benda itu diambil oleh Regina (Tika Putri), seorang anak pejabat tapi klepto.

Jagad, Bayu, dan Gareng kemudian berhasil memperoleh “flashdisk” itu kembali dan bersahabat dengan Regina. Mereka lalu menyerahkan “flashdisk” pada Semsar dan atasannya. Semsar dan atasannya tentu langsung mencak-mencak, karena benda yang diserahkan pada mereka rupanya bukan flashdisk, melainkan sebuah parfum.

Ketiga sekawan ini segera mencari flashdisk yang sebenarnya dari dalam tas Dita. Malangnya, tas yang mereka sembunyikan di balik semak-semak itu telah diambil oleh salah seorang tetangga di kawasan Kali Code. Padahal, mereka dituntut untuk menyerahkan flashdisk dengan segera karena Semsar telah menculik Regina. Beruntung, mereka tak membutuhkan waktu lama untuk menemukan si tetangga yang mengambil tas. Dengan bantuan tetangga itu pula, mereka bertiga mengetahui benda mana yang bernama flashdisk.

Terjadilah transaksi pertukaran flashdisk dengan Regina. Setelah mendapatkan Regina, Jagad mengambil kembali flashdisk yang telah diserahkannya. Penasaran, Jagad dan kawan-kawan kemudian membuka file seharga Rp 30 juta yang ada di dalam flashdisk. Sungguh kejutan bagi Regina, ternyata flashdisk itu berisi daftar pejabat yang korupsi, dan ayah Regina adalah salah satunya.

Secara keseluruhan, Jagad X Code terbilang mampu mengocok perut. Film yang disutradarai oleh Herwin Novianto ini juga didukung oleh musik soundtrack yang asyik, menggabungkan gamelan dengan musik modern. Melalui film ini pula, penonton dapat melihat Ringgo –yang kerap berbahasa Sunda– menggunakan bahasa Jawa dengan logat medhok. Film produksi Maleo Pictures ini juga didukung oleh sederet artis dan seniman, seperti Didik Nini Thowok, Butet Kertaradjasa, dan Desta Club 80’s.

Walau begitu, Jagad X Code tergolong standar dan biasa untuk sebuah film komedi. Ending-nya pun kurang menggigit. Tidak ada hal istimewa yang ditawarkan. Walau begitu, film ini tetap dapat dijadikan alternatif hiburan di kala senggang.

Saturday, February 7, 2009


Sewaktu masih duduk di bangku SMA, aku amat mengidam-idamkan memiliki pacar anak band. Keren, terkenal, punya banyak fans. Pasti bangga rasanya menggandeng sang pacar ke mana-mana.

Tiga tahun berselang, saat ini impianku sudah terwujud. Aku memiliki pacar seorang drummer. Awalnya memang senang bukan main, tapi lama-kelamaan aku menjadi muak. Muak dengan segala rutinitasnya. Bosan dengan semua pembatalan janjinya.

Malam minggu ini, aku ditinggal pacar ke Semarang. Dia ada job manggung di sana. Lalu Senin besok, kami sudah janjian mau nge-date. Tapi tadi pagi aku menerima sms pembatalan darinya, katanya hari Senin ada latihan band. Malam minggu pekan depan, bertepatan dengan hari valentine, lagi-lagi dia harus manggung bersama bandnya. Masih ada lagi kenangan pahit yang membekas di ingatanku. Pada hari ulang tahunku tahun lalu, dia membatalkan dinner bersamaku karena harus mengikuti seleksi band. Huff… band lagi, band lagi. Lagi-lagi band. Band kok lagi-lagi?

Keadaan ini diperparah dengan sikapnya yang cenderung mengabaikan aku kalau sudah bertemu dengan teman-temannya, baik teman band maupun teman kuliah. Setiap kali aku berusaha masuk ke dalam obrolan dia dan teman-temannya, aku selalu terpental kembali. Mereka seolah berada dalam sebuah kubah yang tak tertembus. Dan pacarku, ia merasa hangat dan nyaman di dalamnya. Pacarku, ia lupa kepada aku yang berdiri di luar, kedinginan dan kesepian.

Hal inilah yang kerap membuatku malas untuk ikut menemaninya tampil, atau untuk sekedar nongkrong
bersama teman-temannya. Aku merasa lebih baik tidak ikut sama sekali, daripada ikut tapi makan hati. Maka sekarang peraturan yang berlaku dalam Undang-Undang Perpacaran kami adalah: dilarang mengajak pacar dan teman-teman untuk pergi bersama-sama. Peraturan ini jelas membuat frekuensi pacaran kami menjadi berkurang. Sesekali dia masih memintaku untuk menemaninya tampil, tapi entah kenapa aku tetap keras kepala untuk menyatakan “tidak”.

Aku sudah menyampaikan uneg-uneg ini, tapi dia malah membela bandnya yang tentunya membuatku menjadi tambah kesal. Aku mencoba curahkan uneg-unegku melalui tulisan ini, tapi aku yakin dia juga tidak akan membacanya. Toh dia hampir tidak pernah membuka blogku. Meski sudah sering aku memintanya. Meski tersedia akses internet unlimited di rumahnya.

Yah… inilah duka yang kurasakan sebagai pacar anak band. Tapi sebenarnya banyak juga sisi positifnya. Selain bangga untuk menggandengnya ke mana pun, aku juga dilatih untuk menjadi orang yang lebih sabar.

Tuesday, February 3, 2009

 
Pemerintah Sidoarjo kembali menggelar kejuaraan in line skate Sidoarjo Cup, Sabtu-Minggu (31/1-1/2). Tak kurang dari 200 atlet in line skate berlaga dalam perlombaan yang mengambil tempat di Gelora Delta Sidoarjo ini. Kebetulan, adikku adalah salah satu pesertanya. Selama dua hari perlombaan, aku ikut menonton jalannya kejuaraan in line skate tingkat nasional ini.

Hujan deras mengiringi Sidoarjo Cup hari pertama. Belasan atlet terjatuh dan mengalami cedera akibat licinnya lintasan. Jadwal molor, ruang istirahat atlet tergenang air. Beberapa nomor perlombaan terpaksa diundur ke hari kedua. Beruntung, hari berikutnya dapat berjalan hampir tanpa kendala. Hanya sesekali gerimis turun membasahi lintasan.

Seperti kejuaraan in line skate biasanya, ada banyak nomor yang dilombakan di Sidoarjo Cup, di antaranya sprint 300 meter, eliminasi 5000 meter, dan PTP 5000 meter. Setiap nomor perlombaan dibagi-bagi lagi berdasar jenis kelamin dan kelompok usia.

In line skate sendiri merupakan cabang olah raga yang sudah mulai dilirik oleh banyak kalangan. Jumlah atlet in line skate semakin banyak dari tahun ke tahun, meski masih belum terlalu banyak. Belum terlalu banyaknya jumlah atlet, ditambah banyaknya nomor yang dilombakan, membuka peluang lebar untuk hadirnya para atlet pendatang baru.

Saat ini, sudah lazim terjadi jual beli atlet in line skate. Daerah kaya yang kerap membeli atlet-atlet handal dari daerah lain adalah Kalimantan Timur (Kaltim). Para atlet yang dibeli tentu tidak keberatan membelot dari daerahnya sendiri karena gaji yang ditawarkan Kaltim cukup menggiurkan, mencapai Rp 2 juta per bulan. Belum lagi berlimpahnya bonus yang diperoleh atlet jika memperoleh juara dalam berbagai perlombaan.

Sebagai gambaran, pada PON 2008 lalu, atlet in line skate Kaltim yang berhasil menggondol medali emas berhak mendapat bonus sebanyak Rp 150 juta, medali perak Rp 100 juta, dan medali perunggu Rp 75 juta. Tak heran, banyak atlet in line skate yang berusaha sekuat tenaga agar dilirik oleh Kaltim.

Bagi Anda yang tertarik untuk menjadi atlet in line skate, segera saja bergabung di klub-klub in line skate yang sudah banyak bermunculan. Di Yogyakarta sendiri terdapat beberapa klub in line skate, di antaranya EMIC yang kerap berlatih di kawasan UGM, serta Mataram di Stadion Mandala Krida.