Monday, May 25, 2009

Surat Kabar Mahasiswa (SKM) UGM Bulaksumur menggelar lomba mural tas, Minggu (24/5).

Lomba yang bertempat di halaman gedung Koesnadi Hardjasoemantri ini dihelat untuk memperingati ulang tahun Bulaksumur Pos, salah satu produk SKM UGM Bulaksumur. Selain lomba mural tas, SKM UGM Bulaksumur juga mengadakan pameran stand komunitas dan talkshow bertema industri kreatif. Seluruh kegiatan tersebut disusun dalam suatu rangkaian acara bertajuk Aksi Kreasi.


Animo peserta

Lomba mural tas yang ditujukan untuk umum ini berhasil menggaet cukup banyak peserta. Menurut Saiful Bachri selaku ketua panitia, jumlah peserta lomba melebihi target dan kuota yang disediakan. “Jumlah pesertanya 217 orang. Padahal, target kami sebenarnya hanya 200 peserta saja. Takutnya, jika lebih dari 200 orang, tempatnya nggak cukup,” terang laki-laki yang akrab disapa Ipul ini.

Tingginya animo peserta ini disebabkan oleh adanya keinginan untuk menuangkan ekspresi dan kreativitas diri. Hal ini diakui Sinta, salah satu peserta. “Aku daftar karena pingin corat-coret aja,” ungkap Sinta. Selain itu, biaya pendaftaran lomba ini cukup terjangkau. Hanya dengan membayar Rp 20 ribu, peserta dapat memperoleh fasilitas berupa tas, cat, dan sertifikat. Tak hanya itu, tas hasil kreasi para peserta ini nantinya dapat mereka bawa pulang.

Telah ditunjuk tiga juri kompeten untuk menilai karya-karya peserta, yaitu Sandi (Mulyakarya), Indra (Bajigur Magz), dan Angga Dalijo. Dari hasil penjurian mereka, terpilih tiga orang yang berhasil menjadi pemenang, yaitu Imam Santoso (juara 1), Agung Prasetya (juara 2), dan Irfan Muhammad (juara 3). Juara 1 berhak memperoleh uang sebesar Rp 500 ribu, juara 2 sebesar Rp 250 ribu, dan juara 3 sebesar Rp 150 ribu.


Hujan

Lomba mural tas yang diselenggarakan mulai jam 8.00 sampai jam 15.00 ini tak lepas dari kendala. Hujan besar sempat mengguyur area lomba pada pukul 15.00. Panitia yang telah memajang hasil karya peserta di halaman gedung Koesnadi Hardjasoemantri terpaksa memindahkannya ke dalam gedung. “Penjurian akhirnya dilakukan di dalam gedung. Tapi untung saja hujannya turun setelah lomba selesai,” papar Ipul.

Walau begitu, hujan besar tersebut sedikit banyak tetap menimbulkan kekacauan. Salah satu tenda milik sponsor rubuh karena tak kuat menampung air hujan. Para panitia harus rela hujan-hujanan untuk menyelamatkan barang-barang milik sponsor.

Beruntung, cuaca tak bersahabat ini akhirnya berhenti dua jam kemudian. Pengumuman pemenang yang dilakukan pada malam harinya dapat berjalan dengan lancar. 

Tuesday, May 19, 2009

Usai sudah rangkaian kegiatan suksesi KOMAKO yang digelar sejak awal April lalu. Pasangan Iim-Aish akhirnya terpilih sebagai Ketua-Sekretaris Jenderal (Sekjen) KOMAKO periode 2009/2010. Dalam penghitungan suara Senin (18/5) lalu, pasangan ini berhasil mengungguli Dhidha-Fajar dengan angka 149-87.

Perjalanan Iim-Aish menuju kursi panas ini tidaklah mudah. Pada mulanya, Iim hampir tidak mencalonkan diri karena tak menemukan calon sekjen yang sesuai. Namun pada detik terakhir, mahasiswa Ilmu Komunikasi ’06 ini akhirnya berhasil menggaet Aish sebagai calon sekjennya.

Acara serah jabatan untuk pasangan baru ini akan digelar pada hari Rabu (20/5) di Ruang Seminar FISIPOL. Diharapkan, masa depan KOMAKO dapat semakin cerah pada masa kepemimpinan Iim-Aish.


Friday, May 15, 2009

Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) telah disahkan sejak Desember tahun lalu. Namun saat itu aku tak terlalu ambil pusing tentangnya karena memang kurang paham dengan isinya. Baru pada Februari kemarin aku mengenal lebih jauh tentang seluk beluk UU BHP, itu pun juga karena tak sengaja dijelaskan oleh kakakku.

Pada intinya, UU BHP menyebutkan bahwa kewenangan pengelolaan universitas negeri kini sepenuhnya berada pada pihak universitas yang bersangkutan. Universitas tidak lagi ditempatkan sebagai unit pelaksana teknis dari Departemen Pendidikan Nasional, melainkan sebagai suatu unit yang otonom. Hal itu berarti, UU BHP “memaksa” universitas negeri untuk melakukan privatisasi. Dengan privatisasi, terdapat kecenderungan universitas negeri akan menjadi semakin komersil. Biaya pendidikan dikhawatirkan akan melejit tinggi. Tampaknya alasan itulah yang membuat UU ini kemudian menuai berbagai protes.

Walau sudah sedikit mengerti tentang UU BHP beserta problematikanya, namun aku tetap memutuskan untuk tidak terlalu peduli. Toh juga universitas negeri memang sudah mahal sejak belum disahkannya UU BHP.

Tapi beberapa hari yang lalu tiba-tiba persoalan UU ini mendapat ruang di pikiranku. Setrajana, sebuah organisasi pecinta alam FISIPOL UGM, menggelar suatu acara band-bandan, Selasa (12/5) siang. Acara yang digelar di lapangan tengah FISIPOL tersebut tampaknya didukung sepenuhnya oleh sebuah produk multivitamin. Hal itu terlihat dari banyaknya umbul-umbul dan stand di sekitar panggung yang bertuliskan merk produk tersebut. Bahkan, pada awalnya aku mengira acara tersebut digelar murni oleh sang produk multivitamin, bukan oleh Setrajana.

Saat pertama melihat umbul-umbul produk di dalam gedung FISIPOL, tak terlintas pikiran apa pun di benakku. Namun beberapa saat kemudian aku baru tersadar. Tahun lalu ketika KOMAKO hendak menghelat Communication Expo (Commex), panita dilarang memasang media promosi milik sponsor di dalam lingkungan kampus. Spanduk dan segala tetek-bengek milik sponsor paling mentok hanya bisa dipasang di tempat parkir. Namun kini, lapangan tengah FISIPOL dipenuhi warna merah, warna utama produk tersebut.

Barangkali sejak disahkannya UU BHP, pihak fakultas mengambil kebijakan untuk bersikap lebih longgar terhadap masuknya sponsor dari luar. Sekarang kegiatan belajar mengajar seolah dikesampingkan. Acara band-bandan yang digelar di jam kuliah tentu cukup mengganggu kegiatan belajar mengajar. Meski di satu sisi aku merasa senang ada tontonan, tapi di sisi lain aku mengakui bahwa acara itu membuatku malas masuk kelas. Setelah kupaksakan untuk masuk kelas pun, rupanya kegiatan belajar mengajar cukup terganggu oleh kerasnya dentuman musik yang berhasil menerobos masuk ruang kelas.

Terlepas dari dampak UU BHP atau bukan, aku berharap pihak fakultas dapat lebih memikirkan lagi saat hendak menerima proposal acara semacam ini. Biaya kuliah boleh mahal, tapi harus setimpal dengan servis dan fasilitas yang diberikan. 


Sunday, May 10, 2009

Korps Mahasiswa Komunikasi (KOMAKO) sedang menggelar rangkaian acara suksesi untuk mencari ketua dan sekretaris jenderal (sekjen) baru. Rangkaian acara yang dimulai sejak awal April itu kini tengah memasuki tahap pemungutan suara.

Pada awalnya, suksesi tahun ini berlangsung “panas”. Ada tiga calon ketua yang hendak mencalonkan diri. Namun semenjak salah satu calon ketua dinyatakan gugur karena tidak memenuhi persyaratan, atmosfer suksesi langsung berubah menjadi “adem”. Hal ini terlihat dari masa kampanye yang berlangsung hingga Rabu (6/5) lalu. Selama sepekan masa kampanye, tak terlihat satu pun poster kampanye yang tertempel di papan-papan pengumuman. Sejauh pengamatan saya, hanya ada beberapa selebaran milik salah satu calon yang tergeletak di Kepel, pohon rindang di depan Ruang Jurusan Komunikasi UGM. Selebaran itu pun juga baru terlihat pada hari terakhir kampanye. Sementara itu, calon lainnya memilih untuk berkampanye melalui Facebook.

Setelah periode kampanye ditutup, rangkaian acara suksesi dilanjutkan dengan orasi dan debat antarcalon yang dihelat Kamis (7/5) lalu. Acara orasi dibuka dengan yel-yel oleh tim sukses kedua calon. Satu hal yang menjadi perhatian saya, yel salah satu calon hanya dibawakan oleh empat orang tim sukses, dan yel calon lainnya bahkan hanya dibawakan oleh satu orang tim sukses. Padahal, syarat untuk menjadi calon ketua dan sekjen KOMAKO adalah “memperoleh dukungan dari minimal 30 mahasiswa Komunikasi yang dibuktikan dengan mengumpulkan fotocopy ke-30 KTM mahasiswa tersebut.” Tiga puluh. Tapi di mana puluhan orang itu saat calon yang mereka dukung berorasi? 

Hal ini amat kontras jika dibandingkan dengan suksesi tahun lalu yang berlangsung seru dan ramai, mulai dari masa kampanye hingga orasi. Tahun lalu, selama masa kampanye dapat ditemukan berbagai poster kampanye tertempel dengan desain yang menarik. Tim sukses para calon berkoar-koar di mana-mana. Meriah, terdengar gaungnya.

Saat orasi pun tidak kalah seru. Pada orasi tahun lalu memang tidak ada acara yel-yel dari tim sukses. Namun tim sukses salah satu calon berinisiatif untuk memakai topeng-topeng dengan wajah calon yang mereka ajukan. Unik, lucu, serta menunjukkan dukungan dan loyalitas terhadap si calon.

Walau begitu, secara keseluruhan acara orasi tahun ini berjalan lancar. Sesi tanya jawab yang dibuka seusai para calon memaparkan visi dan misi berlangsung ramai. Para mahasiswa Komunikasi, mulai dari angkatan 2005 sampai 2008, berlomba-lomba mengajukan pertanyaan kritis kepada kedua calon.

Sesi tanya jawab itu kemudian diteruskan dengan sesi debat antarcalon. Memasuki sesi debat, ada satu hal lagi yang menjadi perhatian saya. Para calon tampak malu-malu dalam mengritisi dan mendebat pesaingnya. Moderator sudah banyak memancing para calon, namun tetap saja mereka seolah enggan, cari aman, dan tampak berusaha sopan. Hal ini terlihat saat salah seorang calon ingin mengatakan bahwa pesaingnya belum berpengalaman di KOMAKO. Calon tersebut memaparkannya dengan hati-hati dan didahului dengan kata maaf yang tulus, seakan takut menyakiti hati lawan.

Saya tertawa melihatnya. Kejadian ini ibarat Kimi Raikkonen mengucapkan “permisi” sebelum menyalip Jenson Button dalam lintasan F1. Ngapain bilang “permisi”? Jadi, ngapain takut menyakiti hati lawan? Namanya juga acara debat. Asalkan argumen kita masuk akal dan sesuai fakta, tak ada yang perlu disegani.

Tahap pemungutan suara masih akan berlangsung hingga Jumat (15/5). Siapa yang akhirnya menjadi jawara, kita tunggu saja hasilnya. 

Friday, May 1, 2009

“It’s not easy to be me…” (Superman, Five for Fighting)

Kisah ini bermula dari rapat petinggi Korps Mahasiswa Komunikasi (KOMAKO), sebuah organisasi mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM, kira-kira sebulan yang lalu. Rapat yang kuhadiri tersebut membahas mengenai suksesi KOMAKO yang sudah harus segera digelar. Dalam rapat kecil itu dirumuskan persyaratan calon ketua dan sekretaris jenderal (Sekjen) KOMAKO periode 2009/2010. Tercatat ada enam persyaratan yang sudah fix, serta ada satu persyaratan yang masih perlu digodok. Persyaratan yang masih diperdebatkan itu adalah perolehan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimal 3,00 bagi calon ketua dan sekjen.


Setelah membahas persyaratan, rapat tersebut kemudian memutuskan untuk membentuk sebuah badan independen yang bertugas mengurus masalah suksesi. Entah berkah atau musibah, aku ditunjuk sebagai ketua tim suksesi itu.

Seminggu setelah rapat petinggi KOMAKO, aku mengadakan rapat bersama tujuh anggota tim suksesi. Dalam rapat itu, aku dan teman-teman panitia membahas masalah persyaratan IPK minimal 3,00. Setelah perdebatan sengit, akhirnya diputuskan bahwa persyaratan IPK tersebut sah diberlakukan pada suksesi tahun ini.

Awalnya, periode pendaftaran ketua dan sekjen KOMAKO hanya dua minggu saja, yaitu 6-22 April 2009. Namun satu hari menjelang pendaftaran ditutup, baru ada satu pasang calon yang mendaftar, yaitu pasangan Dida-Fajar. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ditetapkan bahwa masa pendaftaran diperpanjang hingga 29 April 2009.

Selama perpanjangan waktu tersebut, banyak hal yang terjadi. Tiga mahasiswi Ilmu Komunikasi 2007, sebut saja 3 Diva, membuat gebrakan dengan menjadi tim sukses Cemi-Aish sebagai calon ketua dan sekjen. Cukup banyak mahasiswa yang menjagokan Cemi sebagai ketua, namun sayang IPK lelaki jangkung tersebut tak mencapai angka 3,00. Tapi bukan 3 Diva namanya jika mereka menyerah. Mereka mengumpulkan tanda tangan teman-teman untuk meyakinkan tim suksesi bahwa IPK di bawah 3,00 tak akan menjadi masalah.

Dengan terpaksa aku menolak tanda tangan tersebut, karena aku berusaha konsisten terhadap peraturan yang telah dirumuskan. Tapi ternyata semua itu tidak mudah, banyak pihak yang berusaha membuatku goyah. Aku berusaha menegakkan peraturan, tapi tak sedikit kujumpai godaan. Semakin aku teguh, semakin banyak yang mengeluh. Aku dihujat banyak pihak, sungguh sulit untuk mengelak. Aku berada dalam dilema, berusaha mencari pencerahan atas permasalahan yang ada.

Percayalah teman-teman, tidak menyenangkan berada dalam posisiku. Meski pada awalnya persyaratan IPK hanyalah sebuah wacana, namun tim suksesi telah mengesahkannya. Seharusnya seluruh tim suksesi ikut mempertanggungjawabkan keputusan yang kami buat bersama, namun pada kenyataannya seolah hanya aku yang menanggung. Tidak mudah bagiku untuk memperoleh dukungan, bahkan dari anggota tim suksesi sendiri. Salah satu anggota tim suksesi adalah anggota 3 Diva, dan salah satu anggota yang lain adalah Aish, si calon sekjen sendiri. Dengan susunan tim suksesi yang amat subjektif itu, tidak mudah menjadi diriku. Sungguh.

Waktu itu rasanya kepalaku mau pecah. Masa depan KOMAKO berada di tanganku. Apa pun keputusanku akan amat berpengaruh terhadap kelangsungan hidup KOMAKO. Beban berat itu tak sanggup kupikul sendirian. Aku butuh masukan, masukan yang objektif. Namun dalam situasi politik sepanas itu, sulit menemukan orang yang masih berkepala dingin, dengan pendapat-pendapat bijaksana.

Hari-hari terakhir menjelang batas pendaftaran, tekanan untukku meningkat tajam. Bahkan hingga 20 menit menjelang pendaftaran ditutup, masih ada saja pihak yang mengirimiku sms agar melunakkan peraturan. Namun aku tetap bertahan, konsisten dengan persyaratan yang telah kutetapkan.

Saat ini pendaftaran ketua dan sekjen KOMAKO telah resmi ditutup. Tercatat ada dua calon yang masuk, yaitu Dida-Fajar dan Iim-Aish. Pasangan yang disebut terakhir ini akhirnya mendaftar pada detik-detik terakhir.

Dengan adanya dua calon, suksesi tahun ini akan berlangsung seru. Namun satu hal yang membuatku kecewa, banyak pihak yang mengancam tidak akan peduli lagi terhadap KOMAKO jika Cemi tak diperbolehkan mencalonkan diri. Menurutku perbuatan mereka sungguh tak dewasa. Mereka seolah meng-underestimate-kan calon-calon yang ada. Belum tentu ketua terpilih nantinya lebih buruk dibanding Cemi. Siapa pun yang menjadi ketua nanti, aku yakin mereka memiliki itikad baik untuk memajukan KOMAKO. Dengan bimbingan ketua-sekjen sebelumnya, aku optimis KOMAKO akan berjalan menuju ke arah yang lebih baik.

Jika kita MEMANG peduli pada KOMAKO, seharusnya tak terpilihnya Cemi bukanlah alasan untuk bersikap apatis. Jika ragu KOMAKO bisa menjadi lebih baik di tangan ketua terpilih, seyogyanya kita justru membantu dan mendukungnya. Bersama, kita bisa menciptakan masa depan cerah bagi KOMAKO.