Tuesday, June 30, 2009

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Kids & Family
Garuda di Dadaku berkisah tentang perjuangan seorang bocah untuk masuk ke dalam timnas sepak bola Indonesia U-13. Film ini berpusat pada kehidupan Bayu (Emir Mahira), anak berusia 12 tahun yang gemar bermain sepak bola. Ia ingin menjadi pemain sepak bola seperti almarhum ayahnya, namun mimpinya ini ditentang keras oleh kakeknya (Ikranagara). Menurut beliau, pemain sepak bola akan hidup melarat, apalagi pemain sepak bola Indonesia. Oleh karena itu, sang kakek lebih memilih mendaftarkan Bayu ke tempat les lukis dan drum.

Walau begitu, diam-diam Bayu tetap mendaftar ke Arsenal Soccer School Indonesia (SSI) dengan dibantu oleh Heri (Aldo Tansani), sahabatnya. Secara sembunyi-sembunyi, Bayu berlatih sepak bola. Ia bahkan sering berbohong pada kakeknya agar tetap bisa latihan. Saat peluang untuk masuk timnas U-13 sudah di depan mata, sang kakek akhirnya mengetahui kegiatan Bayu selama ini.

Garuda di Dadaku merupakan film yang sarat akan kritik-kritik sosial, misalnya saat Bayu mencari lapangan kosong untuk latihan. Film ini menunjukkan betapa Jakarta sudah amat sesak dengan bangunan, tak ada lagi lahan kosong untuk bermain sepak bola. Bayu pun akhirnya harus berlatih di kuburan.

Kritik lain disampaikan dalam adegan seorang ayah yang berusaha menyuap pelatih Arsenal SSI agar anaknya bisa lolos dalam timnas U-13. Adegan ini menunjukkan masih banyaknya praktek suap yang menodai persepakbolaan Indonesia.

Secara keseluruhan, Garuda di Dadaku amat menarik untuk ditonton. Memang, beberapa teman mengaku kecewa karena tidak banyak adegan sepak bola yang ditampilkan. Namun menurutku, esensi dari film ini memang terletak pada perjuangan Bayu, bukan permainan sepak bola itu sendiri.

Film garapan sutradara Ifa Isfansyah ini mengharukan dan penuh motivasi. Tema yang diangkat cukup berbeda dibanding film-film Indonesia kebanyakan. Jalan cerita yang mudah dicerna, artistik yang baik, ditambah dengan musik yang sesuai, menjadi nilai tambah dari film ini.

Seperti laiknya mahasiswa semester atas, aku harus mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai syarat kelulusan. Selama dua bulan ke depan, yaitu Juli-Agustus, aku akan menjalani KKN di Desa Sumberharjo, Prambanan. Lokasi itu memang cukup dekat dengan rumahku, namun dibutuhkan perjalanan panjang sampai akhirnya aku bisa KKN di sana.

Cerita ini bermula pada akhir tahun lalu. Sejak bulan Desember, aku dan ketiga temanku sudah mulai mencari program KKN milik kakak angkatan yang sekiranya bisa kami lanjutkan. Alasannya, dengan menjalankan program lanjutan milik kakak angkatan, kami tidak perlu pusing lagi menentukan tema KKN. Selain itu, kami juga mendengar kabar bahwa KKN lanjutan lebih besar kemungkinannya untuk lolos seleksi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) .

Kami berempat akhirnya menemukan satu tema KKN yang bisa dilanjutkan, yaitu tentang ekowisata air terjun Curug Muncar, Purworejo. Kami kemudian mulai bergerilya mencari teman-teman dari jurusan lain yang juga hendak KKN tahun ini. Cukup sulit mencari teman yang mau bergabung, karena Purworejo memang cukup jauh dari Jogja. Tapi kami tetap optimis KKN ini berhasil. Kami yakin LPPM akan membantu mencarikan anggota.

Setelah proposal KKN diajukan, kami mengadakan survey ke Desa Bruno, Purworejo. Cukup mengejutkan memang saat pertama kali ke sana. Medannya berbukit-bukit, menelan habis sinyal handphone semua provider . Walau begitu, kami berusaha untuk tetap semangat.

Hingga akhir Mei, LPPM tak kunjung memberi anggota tambahan. Padahal, jika anggota tim berjumlah kurang dari 20, otomatis tim kami harus bubar. Tak adanya kepastian dari LPPM, ditambah dengan sulitnya medan KKN, telah membuat semangat kami merosot drastis.

Kami semua sadar akan situasi kritis yang sedang terjadi. Akhirnya, kami pun memutuskan untuk bubar. Para anggota dipersilakan untuk pindah ke tim lain. Tapi bagi anggota yang tidak tahu akan pindah ke mana, ia akan dimasukkan ke tim KKN lain milik Pak Yoyo, dosen pembimbing kami. Ada dua tim KKN lain yang juga dibimbing oleh beliau, yaitu tim KKN Magelang dan Prambanan.

Kebetulan, tim KKN milik temanku masih membutuhkan satu anggota. Aku pun memutuskan untuk pindah ke timnya saja. Namun saat mengurus kepindahanku ke LPPM, rupanya lembaga ini langsung menolak keinginanku. Menurut mereka, jika tim KKNku bubar, aku harus pindah ke tim KKN lain milik Pak Yoyo. Aku sudah menjelaskan bahwa Pak Yoyo tidak keberatan atas kepindahanku, namun mereka tetap tidak peduli. Aku kemudian mengatakan bahwa tim KKN Magelang dan Prambanan akan overkuota jika kami semua dipindahkan hanya ke dalam dua tim tersebut.

LPPM kemudian memberikan keputusan yang, tumben, solutif. Mereka sudah tahu bahwa masalah utama tim kami adalah semangat dan motivasi. Oleh karena itu, tim kami dipersilakan pindah ke lokasi KKN lain milik Pak Yoyo, yaitu di Magelang atau Prambanan. Kedua lokasi ini relatif dekat dan mudah dijangkau, sehingga dengan berbekal semangat pas-pasan pun kami tetap dapat melakukan KKN di sana. Konsekuensinya tentu saja, kami harus mencari tema baru dalam waktu amat singkat. Mengenai jumlah anggota, LPPM berjanji akan memberi tambahan anggota.

Setelah mengetahui keputusan itu, kami memilih untuk pindah KKN ke Prambanan. Kami bersama Pak Yoyo kemudian langsung mengurus pondokan KKN di Desa Sumberharjo, Prambanan. Pak Lurah Desa Sumberharjo lalu menempatkan kami dalam dua pondokan, masing-masing di Dusun Sawo dan Dusun Umbulsari B.

Seminggu berikutnya, kami dilanda kabar mengejutkan. Saat rapat koordinasi dengan tim KKN seluruh Sleman, kami mengetahui bahwa Dusun Sawo telah ditempati oleh tim KKN lain. Bahkan, tim KKN lain itu juga menempati pondokan yang sama dengan kami. Entah kenapa, Pak Lurah tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini. Di sela-sela ujian, kami harus mengurus masalah pondokan. Keputusan akhir, kami semua dipersilakan untuk menempati dua pondokan di Dusun Umbulsari B.

Saat mengurus pondokan, tak lupa juga kami melakukan survey atas potensi yang dimiliki dusun tersebut. Sabtu (27/6) lalu, akhirnya kami menemukan tema KKN, yaitu tentang pertanian terpadu berbasis potensi lokal. Kami nekat mengambil tema itu meski tak satu pun anggota tim berasal dari fakultas pertanian.

Penerjunan KKN akan dilakukan hari Kamis (2/7). Dari tujuan awal ke Purworejo, akhirnya kami pindah KKN ke Sumberharjo. Gara-gara malas membuat tema baru, nasib kami justru berakhir dengan mencari tema baru, dalam waktu singkat pula. Semoga saja, keadaan selama dua bulan ke depan tidak lebih sulit dibanding perjalanan kami selama ini.


Wednesday, June 10, 2009

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Satu lagi film action yang harus kutonton dengan terpaksa, yaitu Terminator: Salvation. Film ini masih berkisah tentang pertarungan antara manusia dan robot, sama seperti film Terminator sebelumnya.

Cerita bermula dari Marcus Wright (Sam Worthington) yang tubuhnya dijadikan separuh robot. Beberapa tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 2018, terjadi peperangan hebat antara manusia dan robot. Salah seorang pejuang dari kubu manusia adalah John Connor (Christian Bale). Dengan kondisinya yang separuh robot, Wright kemudian membantu Connor untuk menyelinap masuk ke markas para robot.

Selain peperangan, film produksi Sony Pictures ini juga dibumbui dengan sedikit kisah cinta. Proses pencarian Connor terhadap ayahnya juga cukup menjadi sorotan dalam Terminator: Salvation ini.

Pada awal film, aku merasa kesulitan dalam mencerna jalan ceritanya. Hal ini barangkali karena aku belum menonton film Terminator sebelumnya. Tapi seiring dengan berlangsungnya film, semakin jelas pula ceriteranya.

Sepanjang film, aku tak henti-hentinya dibuat tegang. Cukup seru, wajib ditonton oleh para pecinta film action.
Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Comedy
Film ini berkisah tentang petualangan Larry (Ben Stiller), mantan penjaga malam Museum Sejarah Nasional yang kini sudah menjadi pengusaha sukses. Pada suatu ketika, Larry menengok musem tempat kerjanya dulu. Ia kemudian mendapat kabar bahwa Museum Sejarah Nasional akan direnovasi. Untuk sementara, sebagian besar isi museum dipindahkan ke Museum Washington. Larry harus bertindak, karena di Museum Washington terdapat Kahmunrah, sosok jahat Pharaoh yang hidup dan dapat mengakibatkan perang.

Film sekuel dari Night at The Museum ini masih dibintangi oleh pemeran-pemeran dalam film pertamanya, seperti Ben Stiller dan Robbin Williams. Walau begitu, film produksi 20th Century Fox ini terasa lebih kocak dibanding film pendahulunya. Kelucuan demi kelucuan muncul di sela-sela film, bahkan di saat-saat tegang.

Night at The Museum: Battle of The Smithsonian merupakan film pertama yang mengambil lokasi di Museum Washington. Film ini lucu, menarik, dan merupakan penghibur jitu di kala stres.

Monday, June 1, 2009

Pada kuliah Cybermedia minggu lalu, Cak Budhy selaku dosen pengampu melontarkan satu pertanyaan kepada para mahasiswanya. “Kamu ingin bekerja di mana kelak?” tanya beliau. Tidak ada yang menjawab, Cak Budhy kemudian menunjuk teman sekelasku bernama Gleni.“Belum tahu, Cak,” jawab Gleni.

“Gimana ini kok belum tahu? Coba, kalau kamu ingin bekerja di mana?” Cak Budhy tiba-tiba menudingkan jari telunjuknya ke arahku.

Sedikit terkejut, kujawab pertanyaan beliau dengan singkat dan agak marmos, “rahasia!”
Cak Budhy tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala.

Memang sudah menjadi kebiasaanku untuk menjawab “rahasia” jika ada teman yang menanyakan sesuatu. Tapi jika dosen yang bertanya, baru kali ini aku sembrono menjawabnya demikian. Jawaban tersebut tampaknya terlontar karena aku juga belum tahu pekerjaan apa yang kuinginkan, sama seperti Gleni.

Keesokan harinya, aku iseng mengajukan pertanyaan Cak Budhy itu kepada Awe, ketua Publicia Photo Club (PPC) 2008/2009.

“Kerjaan yang bisa dapet uang banyak,” jawabnya sambil tertawa.

Lewat percakapan lebih lanjut, akhirnya kuketahui bahwa ia juga belum menentukan pilihan tentang kariernya di masa depan. Padahal sebelumnya, aku yakin 100 persen ia bercita-cita menjadi fotografer. Tapi rupanya Awe mengaku fotografi hanyalah sekadar hobi yang membantunya membuat hidup menjadi lebih bermakna.

Entah dengan mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM yang lain, tapi yang jelas teman-teman di sekelilingku kebanyakan masih bingung tentang pekerjaannya kelak. Hal ini barangkali bisa terjadi karena luasnya bidang pekerjaan yang dapat kami geluti. Mulai dari media planner, humas, produser, sutradara, jurnalis, fotografer, hingga dosen. Banyaknya profesi tersebut sayangnya tidak didukung dengan adanya pengelompokan secara jelas di jurusan kami.

Sebenarnya, pihak jurusan sudah mulai mengarahkan kami pada semester tiga. Terdapat tiga konsentrasi yang dapat kami pilih, yaitu media, sistem penunjang media, dan perspektif media. Namun demikian, jurusan kami seolah kekurangan mata kuliah. Seorang mahasiswa pengambil konsentrasi media misalnya, pada akhirnya juga akan mengambil mata kuliah milik konsentrasi sistem penunjang dan perspektif media. Dengan demikian, materi yang kami pelajari tidak lagi terfokus, melainkan terpecah.

Di satu sisi, keadaan ini menguntungkan karena seorang mahasiswa dimungkinkan untuk mempelajari berbagai macam skill. Di sisi lain, kondisi ini menimbulkan kebimbangan dalam menentukan profesi di masa mendatang, seperti yang kini sedang kualami bersama teman-teman.

Kami sudah semester enam. Bila semuanya lancar, bulan depan kami KKN, semester depan mulai skripsi, tahun depan lulus. Tapi apa gunanya ijazah jika masih belum menentukan arah?

Jurusan Ilmu Komunikasi UGM hendaknya menambah lagi jumlah mata kuliah di masing-masing konsentrasi. Penambahan jumlah mata kuliah ini tentunya juga harus dibarengi dengan penambahan jumlah dosen yang berkualifikasi. Selain itu, bantuan dari KOMAKO selaku himpunan mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi juga dibutuhkan. KOMAKO dapat mengadakan diskusi, seminar, atau kuliah bareng praktisi untuk membantu mengarahkan kami yang masih bimbang. Dengan begitu, semoga tidak ada lagi jawaban “belum tahu” ketika mahasiswa semester enam Ilmu Komunikasi UGM ditanya mengenai pilihan kerjanya kelak.