Friday, October 16, 2009

Jurusan Ilmu Komunikasi UGM seolah belum siap menggelar kelas Bahasa Inggris.

Bahasa Inggris sebenarnya merupakan mata kuliah wajib di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM. Mata kuliah ini nyata tercantum dalam buku panduan akademik.

Tak ada kelas

Beberapa tahun lalu, mahasiswa yang mengambil kelas Bahasa Inggris dipersilakan untuk mengikuti mata kuliah ini di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Namun sejak angkatan 2004, tidak ada lagi mahasiswa yang mengambil Bahasa Inggris. Anehnya, para mahasiswa tersebut tetap dapat lulus tanpa harus mengikuti mata kuliah berstatus wajib ini.

Seiring dengan berlakunya kurikulum baru 2009, pihak jurusan menawarkan banyak mata kuliah baru. Salah satu mata kuliah yang disodorkan adalah Bahasa Inggris. Namun karena tidak adanya tenaga pengajar, kelas ini tidak memberikan materi apa pun. “Mahasiswa tinggal menyerahkan hasil tes TOEFL-nya, tidak ada pelajaran di kelas,” ujar Budhy Komarul Zaman, Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi UGM.

Nilai Bahasa Inggris mahasiswa otomatis hanya diukur semata-mata melalui tes TOEFL. Namun, tes TOEFL tersebut tidak digelar oleh pihak jurusan. Mahasiswa dipersilakan melakukan tes di lembaga Bahasa Inggris mana pun. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan mahasiswa. “Terus uang SKS sebesar Rp 180 ribu lari ke mana? Nggak ada dosen, nggak ada materi, mahasiswa malah harus bayar lagi buat tes TOEFL di luar,” tukas Yuyun, mahasiswa Ilmu Komunikasi ‘06.

Menanggapi protes yang bermunculan, Budhy menerangkan bahwa memang sudah seharusnya mahasiswa membayar uang SKS. “Jumlah SKS Bahasa Inggris nantinya masuk di transkrip nilai. Jadi ya memang sudah sewajarnya mahasiswa membayar uang SKS, seperti halnya membayar uang SKS untuk mata kuliah lainnya,” jelas beliau.

Simpang Siur

Status yang disandang mata kuliah Bahasa Inggris pun dirasa kurang jelas. “Ada dosen yang bilang ini mata kuliah wajib, ada yang bilang enggak,” tutur Kiki, mahasiswa Ilmu Komunikasi ’06.

Menurut Budhy, Bahasa Inggris adalah mata kuliah wajib. “Saat sosialisasi kurikulum baru, sudah dijelaskan bahwa Bahasa Inggris adalah mata kuliah wajib,” tandas beliau. Namun karena sosialisasi diadakan saat libur antarsemester, banyak mahasiswa yang tidak mengetahui adanya sosialisasi.

Hingga kini, tak sedikit mahasiswa yang tetap bersikukuh tidak mengambil Bahasa Inggris. Mereka tetap merasa mata kuliah ini tak jelas hukumnya. “Nggak jelas!” komentar Yuyun.

Pihak jurusan hendaknya memperbaiki segala sesuatunya sebelum membuka kelas Bahasa Inggris, apalagi sebelum menetapkannya sebagai mata kuliah wajib. Semua harus dipersiapkan, mulai dari sosialisasi, tenaga pengajar, hingga materi. Dengan demikian, tidak terdapat kesimpangsiuran yang membuat mahasiswa enggan mengambil mata kuliah.