Monday, November 9, 2009

Sungguh miris rasanya mendengar curahan hati rekan-rekan aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UGM. Tiap UKM memiliki permasalahan masing-masing, semuanya disuarakan pada Lokakarya Pembinaan UKM, Jumat-Sabtu (6-7/11) lalu.

Kebetulan, saya mewakili SKM Bulaksumur dalam menghadiri lokakarya yang dihelat di Wanagama tersebut. Lokakarya yang digelar oleh Direktorat Kemahasiswaan UGM itu diikuti oleh sekitar 30 UKM. 

Permasalahan dana

Permasalahan umum yang dihadapi tiap UKM adalah mengenai pendanaan dari rektorat. Dari jumlah anggaran dana yang diajukan UKM, biasanya tidak sampai 50% yang dicairkan oleh UGM. UGM, khususnya bagian Direktorat Kemahasiswaan, dinilai tidak transparan dalam melaporkan alokasi dana untuk UKM.

Permasalahan lain adalah mengenai kesejahteraan pelatih UKM, hal ini khususnya dirasakan oleh teman-teman dari UKM seni dan olahraga. Misalnya saja untuk pelatih UKM UKJGS (tari Jawa gaya Surakarta), pelatihnya hanya digaji Rp 150 ribu per bulan oleh kampus yang mengaku sebagai world class university ini. Sementara untuk pelatih UKM basket, pelatihnya digaji Rp 750 ribu per bulan. Padahal pelatih basket UGM saat ini merupakan mantan pelatih klub Satria Muda, yang standar gajinya di atas Rp 1 juta. Namun jangan salah, uang Rp 750 ribu itu pun tidak seluruhnya berasal dari kampus biru. Tak disebutkan berapa jatah uang gaji yang diberikan UGM, yang jelas kekurangannya ditutup menggunakan uang saku manajer tim basket.

Menanggapi keluhan tersebut, Drs. Haryono, Ak., M.Com. selaku Direktur Keuangan UGM hanya mengatakan, “namanya juga kampus kerakyatan,” yang langsung kami sambut dengan tawa sinis. Memang untuk permasalahan ini, bukan kapasitas Pak Haryono untuk memberi tanggapan. Tugas Direktur Keuangan “hanya” mencairkan dana. Keputusan mengenai jumlah nominal yang diberikan kepada UKM terletak pada Drs. Haryanto, M.Si selaku Direktur Kemahasiswaan UGM. Namun amat disayangkan, beliau yang terhormat itu tidak bisa mengikuti jalannya lokakarya. Karena sibuk, sosok yang akrab disapa Pak Sentot itu hanya sempat datang ke lokakarya untuk memberi kata sambutan. 

Peminjaman tempat

Problem lain yang banyak dikeluhkan adalah mengenai peminjaman gedung yang dimiliki UGM, seperti UC (University Club) dan Gedung Koesnadi Hardjasoemantri. UKM tidak diberi keringanan dana dalam meminjam gedung-gedung tersebut, padahal tempat itu seharusnya merupakan fasilitas yang bisa dinikmati oleh mahasiswa UGM.

Jangankan meminjam tempat untuk mengadakan event, untuk melakukan kegiatan rutin saja kini banyak UKM yang terancam digusur dari tempatnya semula. UKM Marching Band yang biasa berlatih di halaman Gedung Koesnadi Hardjosoemantri misalnya, dalam waktu dekat ini tak lagi diperbolehkan berlatih di sana. UKM-UKM bela diri juga harus mencari tempat latihan baru, karena pihak rektorat lebih sayang kepada hijaunya rumput boulevard. Sementara itu, UKM Pramuka tidak lagi boleh melakukan upacara di sebelah utara gedung pusat.

Menurut Pak Bambang, salah satu kepala subdirektorat di Direktorat Kemahasiswaan, tempat-tempat itu berada di luar kewenangan Direktorat Kemahasiswaan. Beliau tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu UKM. Sementara untuk permasalahan lain yang terkait dengan Direktorat Kemahasiswaan, beliau berjanji akan menyampaikannya pada Pak Sentot.

Semoga saja hasil sharing dari lokakarya tersebut benar-benar disampaikan dan ditanggapi oleh sang Direktur Kemahasiswaan. Jika tidak, lokakarya mewah selama dua hari itu hanya merupakan salah satu bentuk penghambur-hamburan uang yang dilakukan kampus kerakyatan.
My Rating:★★★
Genre: Drama

Satu lagi film yang mengisahkan persahabatan antara anjing dan manusia, Marley & Me. Yang menjadikannya berbeda dibanding film bertema serupa adalah, persahabatan anjing-majikan yang disajikan dalam Marley & Me tergolong cukup unik.

Kisah di film ini bermula dari pernikahan antara John Grogan (Owen Wilson) dan Jenny Havens (Jennifer Aniston). Merasa belum siap memiliki anak, John berusaha menyibukkan Jenny dengan menghadiahinya anak anjing. John kemudian menamai anak anjing itu Marley, terinsipirasi oleh penyanyi reggae Bob Marley.

Seiring dengan berjalannya waktu, Marley tumbuh menjadi anjing yang besar, kuat, namun amat sulit diatur. Masalah kian bertambah saat John dan sang istri akhirnya sepakat untuk memiliki anak pertama.

Secara keseluruhan, Marley & Me cukup menarik untuk ditonton. Beberapa adegan terasa mengharukan, amat memanjakan mata para penggemar film drama.

Monday, November 2, 2009

My Rating:★★★★
Genre: Drama

Film ini bercerita tentang sepasang kakak-beradik dengan kisah cinta mereka masing-masing. Kwang Sik (Kim Joo-hyuk), sang kakak, adalah seorang lelaki yang amat pemalu. Ia tak berani menyatakan perasaan pada wanita yang telah ia cintai selama tujuh tahun. Keadaan begitu sulit menurut Kwang Sik hingga ia berpendapat, Tuhan seharusnya memberi pertanda bila seseorang baru saja bertemu dengan jodohnya.

Sementara itu adiknya, Kwang Tae (Bong Tae-gyu), memiliki sifat yang amat berkebalikan. Kwang Tae adalah seorang lelaki bengal, amat percaya diri dalam urusan cinta. Meski demikian, kisah cinta Kwang Tae bukan berarti tanpa rintangan.

Meski menggunakan alur loncat, jalan cerita When Romance Meets Destiny cukup mudah dipahami. Film Korea satu ini juga kerap diselingi dengan adegan humor. Film ini cukup menarik, dapat dijadikan alternatif tontonan di kala senggang.