Tuesday, December 29, 2009

My Rating:★★★★★
Genre: Pop
Artist:Endah N Rhesa

Endah N Rhesa, duo asal Jakarta yang kini sedang amat saya gandrungi. Mengusung format akustik, duo yang terdiri dari Endah (vokal, gitar) dan Rhesa (bass) ini telah mengeluarkan album indie bertajuk Nowhere To Go (Repackaged). Sebelas lagu dalam album yang dirilis tahun 2009 ini kental dengan nuansa folk, jazz, blues, dan ballads. Musiknya yang easy listening, ditambah lirik-lirik yang menyentuh, membuat lagu-lagu Endah N Rhesa selalu masuk dalam playlist saya.

Berikut ini adalah beberapa track yang saya sukai:

1. When You Love Someone
Lagu yang telah masuk ke dalam album solo Endah di tahun 2004, The New Beginning, ini merupakan lagu andalan mereka. Lirik dalam When You Love Someone mengisahkan tentang seseorang yang pantang menyerah untuk mendapatkan cintanya.

2. Catch The Windblows
Dalam lagu ini, selain gitar dan bass, Endah N Rhesa juga memasukkan instrumen piano. Lirik dalam Catch The Windblows cukup menyentuh, mengajari kita untuk selalu mensyukuri hidup.

3. Thousand Candles Lighted
Thousand Candles Lighted, sebuah lagu yang cukup memotivasi saya untuk terus memiliki harapan dan kekuatan untuk menjalani hari esok yang lebih baik.

4. Living With Pirates
Lagu ini cukup nge-beat, dengan iringan gitar yang asik. Sesuai judulnya, Living With Pirates menceritakan tentang rasanya tinggal bersama seorang bajak laut.

Selain empat lagu favorit saya itu, masih ada lagi tujuh track yang juga asik untuk disimak, yaitu:

1. I Don’t Remember
2. Dreams Interlude
3. Blue Day
4. Uncle Jim
5. Baby Its You
6. Before You Sleep
7. Take Me Home

Album ini amat saya rekomendasikan, terutama bagi mereka yang suka lagu-lagu mellow...

Monday, December 21, 2009

Pas nerima piala
Lagi beraksi
Foto bareng habis nerima piala
Gambarku jadi cover Arif
Piagam penghargaan
Meski aku sekarang seperti ini, tapi sumpah, masa kecilku penuh dengan prestasi.
My Rating:★★★
Genre: Drama

Para penikmat film atau novel Laskar Pelangi pasti sudah tak asing lagi dengan sosok Ikal. Bocah ini adalah siswa SD Muhammadiyah Gantong, sebuah sekolah kecil yang bangunannya hampir roboh. Sang Pemimpi, yang merupakan sekuel dari film Laskar Pelangi, mengisahkan tentang kelanjutan hidup Ikal selepas lulus dari bangku SD.

Suatu ketika, terjadi kebakaran yang menimpa keluarga jauh Ikal. Satu-satunya anak yang selamat dari bencana itu adalah Arai, sepupunya. Oleh karena itu, sudah menjadi tanggung jawab keluarga Ikal untuk mengurus bocah yang ditinggal mati seluruh keluarganya tersebut.

Arai adalah seorang anak luar biasa yang dipenuhi mimpi dan harapan. Ia selalu ceria dan penuh semangat. Jalan pikirannya tak bisa diterka. Hati Arai juga sungguh mulia.

Pada suatu sore di masjid, Ikal dan Arai bertemu dengan Jimbron, bocah gagap yang ayahnya meninggal karena serangan jantung. Mereka bertiga kemudian bersahabat karib hingga SMA.

Saat SMA inilah ketiga sahabat itu bermimpi untuk keliling dunia, mulai dari Eropa hingga Afrika. Namun ada satu negara yang benar-benar menjadi impian mereka, yaitu Perancis. Mereka lalu menyusun rencana untuk lulus SMA dengan nilai tertinggi, melanjutkan kuliah di Jakarta, kemudian mencari beasiswa ke Perancis.

Film yang diangkat dari novel berjudul sama ini mengajarkan tentang mimpi yang tetap harus dikejar, meski banyak rintangan yang menghadang. Beberapa adegan dalam Sang Pemimpi amat menyayat hati, memaksa penonton untuk meneteskan air mata. Munculnya Ariel Peterpan juga menjadi daya tarik tersendiri dalam film yang disutradarai oleh Riri Riza ini.

Meski demikian, tampaknya Laskar Pelangi lebih diminati dibanding film sekuelnya ini. Hal tersebut terlihat dari tak begitu panjangnya antrian untuk tiket menonton Sang Pemimpi jika dibanding dengan Laskar Pelangi. Sekarang, kita tunggu saja film ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi, Edensor.

Luna membenarkan letak bantalnya, lalu kembali merebahkan kepala. Tangan kanannya memegang handphone. Malam itu ia sedang chatting dengan Octa, sahabatnya, melalui aplikasi handphone. Pandangannya menyapu kamar tidurnya yang bernuansa pink. Gadis berusia 21 tahun itu sedang menunggu balasan dari Octa. 

Sudah menjadi rutinitas Luna untuk chatting dengan Octa tiap malam. Topik yang diobrolkan selalu sama: bagaimana cara mendekati Choki, lelaki yang sedang digila-gilai Luna. Sebenarnya Luna sudah mengenal lelaki berambut cepak itu sejak duduk di bangku SMA, namun ia baru mulai menyukai Choki setelah menginjak dunia kuliah.

Luna menghela napas. Ponselnya bergetar, tanda Octa sudah membalas pesannya.

Octa: sabar aja lun, bentar lagi juga choki OL
Luna: kalo dia OL, trus harus kusapa g?
Octa: ini namanya jenis pertanyaan seribu, pertanyaan yg uda kamu tanyain seribu kali
Luna: hehe
Octa: dan jawabanku tetep sama, kamu harus sapa dia
Luna: tiap malem selalu aku duluan yg nyapa, gengsi kalik taaa
Octa: kamu mau dapetin dia g?
Luna: mau siii...
Octa: ya udah, usaha dunk

Luna terdiam, berpikir. Ia lalu mulai mengetik di handphone-nya.

Luna: kalo choki malah jadi ilfil gara2 aq terlalu agresif, gimana?
Octa: kasimbel deh lu
Luna: yee... jahat!
Octa: hihi
Octa: daripada g usaha sama sekali?
Octa: gimana dia bisa tau kamu suka ma dia?

Luna memejamkan mata sejenak, sebelum akhirnya membalas.

Luna: yawda deh, aq bersumpah malam ini akan menyapanya lagi!
Octa: haha
Octa: gila kamu lun
Luna: hihi
Luna: aq gila karena cinta
Octa: hueeek...

Luna memandang jam mejanya yang berbentuk hati. Baru pukul 9 kurang 5 menit. Gadis mungil itu sudah hapal betul, Choki biasanya baru online sekitar jam 22.00.

Luna: aq makan dulu ya ta
Octa: bukan urusanku

Luna tertawa membaca jawaban Octa. Ia lalu me-minimize aplikasi messenger di ponselnya, kemudian beranjak ke ruang makan.

***
Luna meraih handphone­-nya dari atas meja belajar, menghempaskan badannya ke atas tempat tidur. Ia me-maximize aplikasi messenger­-nya. Sekarang sudah jam 22.15. Sesuai dugaan Luna, nama Choki sudah tertera di daftar teman yang online.

Sebelum mengobrol dengan Choki, gadis berambut panjang itu menyempatkan diri menyapa Octa.

Luna: choki uda OL
Octa: buruan disapa

Meski sumpahnya tadi hanya bercanda, Luna tetap melakukannya juga. Ia memberanikan diri menyapa Choki.

Luna: halo chok
Choki: hei
Luna: lagi ngapain nih?
Choki: lembur kerjaan
Luna: wah, semangat ya!
Choki: iya, makasih lun
Luna: btw, kamu uda nonton sang pemimpi belom?
Choki: belom
Luna: pingin nonton g??
Choki: nunggu VCD bajakannya aja deh
Choki: hahaha
Luna: hihi

Luna tersenyum kecut. Tadinya ia berencana mengajak Choki nonton. Namun setelah membaca jawaban Choki, Luna mengurungkan niatnya.

Choki: kamu sendiri uda nonton belom?
Luna: belom juga
Luna: males antri tiket
Choki: hahaha
Choki: makanya, nunggu bajakannya aja
Luna: huu
Luna: tidak menghargai karya anak negeri
Choki: iya nih, payah kamu lun
Luna: loh, ko malah jadi aq yg payah?
Choki: hahaha

Pembicaraan mereka terus bergulir, mulai dari film hingga musik, mulai dari tugas kuliah hingga masalah kerjaan. Luna akhirnya menyudahi pembicaraan saat sudah lewat tengah malam.

***
Luna: halo octa sayaaang
Octa: gimana semalem?
Luna: seperti biasa, gitu2 doang
Luna: g ada perkembangan signifikan

Malam itu Luna chatting lagi dengan Octa. Topik pembicaraannya masih idem dengan malam-malam sebelumnya. Entah kenapa, Octa tak bosan-bosannya meladeni curhatan Luna yang itu-itu saja.

Octa: payah lu lun
Octa: kamu kurang mancing kalik
Luna: mancing gimana ta?
Octa: ya mancing, goda2in
Luna: pas kapan?
Octa: yailah, geblek lu
Octa: kapan aja bisa, tergantung topik obrolanmu apa
Luna: susah taaa
Luna: malu jugaaa
Octa: gimana mau majuuu?!

Luna melirik jam meja berbentuk hatinya. Sudah pukul 22.05. Ia mengecek daftar nama teman online. Choki ternyata sudah muncul.

Luna: ta, si doski uda OL ni
Octa: buruan disapa
Luna: harus aku lagi ya yg nyapa duluan?
Octa: IYA

Luna berpikir sejenak, kira-kira obrolan apa yang menarik dibahas pada malam hari ini. Lima menit kemudian, ia pun menyapa Choki.

Luna: halooo
Choki: hei
Luna: taon baru mau kemana ni?
Choki: lom tau
Choki: kamu?
Luna: lom tau juga
Luna: taon baru sebelom2nya selalu pas lagi ada pacar, kalo taon ini jomblo ni...
Choki: hahaha
Luna: besok taon baruan ma aq aja yuk chok

Jantung Luna berdetak semakin cepat setelah mengirim ajakan itu. Ia tak sabar menanti jawaban Choki. Namun lima belas detik, tiga puluh detik, hingga satu menit pun berlalu tanpa ada balasan.

Luna: woi

Choki tetap diam.

Luna: chok
Choki: ya?
Luna: ko g jawab?
Choki: uda kujawab dua kali ko
Luna: g nyampe...
Choki: hahaha

‘Siaaal! Kenapa koneksinya error pas pertanyaan penting?!’ batin Luna.

Luna: jadi?
Choki: apa?

Luna bimbang, perlukah ia mengulang ajakan. Jika mengajak lagi, Luna akan terlihat sangat berharap bisa melewatkan tahun baru bersama Choki. Jika tidak bertanya lagi, Luna sungguh penasaran dengan jawaban cowok satu itu. Belum sempat Luna memutuskan, handphone-nya bergetar tanda Choki mengatakan sesuatu.

Choki: eh lun, aq off dulu ya
Choki: ada temen yg dateng

‘APAAA?! Aku kan belom tau jawabannya! Kampreeet!’ umpat Luna dalam hati.

Luna: malem2 gini?!
Choki: iya
Luna: hmm... yawda

Gadis itu hanya bisa mengikhlaskan saat status Choki berganti offline. Luna lalu langsung melapor pada Octa yang masih online. Ia menceritakan secara detil kata demi kata dalam obrolan singkatnya dengan Choki.

Luna: dan jawabannya akan selalu menjadi misteri bagiku taaa
Octa: norak lu, hihihi
Octa: aduh, tuh cowok emang rada susah ditebak
Octa: kalo dia peka, mustinya dia uda sadar kalo kamu naksir dia
Octa: atau, benernya dia uda sadar, tp g mau kehilangan fans
Octa: jadi responnya abu2 gitu, antara ya dan tidak
Luna: tauk ah ta
Luna: bete nih, aq off dulu ya

Luna mengela napas. Ia meletakkan ponselnya di atas meja belajar, di samping jam meja hatinya. Setiap malam selalu berjalan seperti ini. Luna chatting dengan Choki tanpa ada perkembangan dalam kualitas obrolan. Perempuan itu mulai lelah, lelah mengejar Choki.

Luna mengambil laptop dari tasnya, meletakkannya ke atas tempat tidur. Ia menyalakan laptop mungil itu, membuka program microsoft word. Luna pun mulai mengetik, merangkai kata tentang kisahnya dengan Choki, menceritakan kegiatan yang dilaluinya tiap malam demi Choki.

Tak sampai dua jam, cerpen itu selesai digarapnya. Luna langsung mem-posting tulisan itu di blog pribadinya.

***
Malam berikutnya, Luna kembali menjalani rutinitasnya: chatting dengan Octa sembari menunggu Choki online. Tapi malam itu spesial, karena tiba-tiba Choki menyapa Luna duluan. Luna sungguh kegirangan.

Choki: ak uda baca tulisan di blogmu

Luna langsung terlonjak dari tempat tidurnya. Handphone-­nya nyaris meloncat dari tangannya. Hati Luna berdegup tak karuan. Ia sama sekali tak menyangka pujaan hatinya akan membuka dan membaca blognya.

Luna: terus?

Dua menit berlalu tanpa balasan dari Choki.

Luna: chok?
Choki: ya?
Luna: kamu uda baca tulisan di blogq. terus?

Lagi-lagi Choki diam.

‘Siaaal! Pasti koneksinya error lagi!!!’ jerit Luna dalam hati.

Luna: helllooo?
Choki: balesanku g sampe lagi?
Luna: engga
Choki: hahaha
Luna: jadi?
Choki: eh bentar lun, ada telpon
Luna: oke

Luna menanti jawaban Choki dengan kecemasan tingkat akut. Ia mengguling-gulingkan badan ke kanan dan ke kiri, tapi rasanya tidak ada posisi yang nyaman bagi tubuhnya. Tiba-tiba, status Choki berubah menjadi offline. Luna terkejut, tapi terus menunggu. Ia yakin Choki akan online lagi. Namun hingga jam meja hati menunjukkan pukul 1 lewat, lelaki itu tak muncul lagi.

Luna pun ketiduran. Dan jawaban Choki, akan selalu menjadi misteri bagi Luna.

Thursday, December 17, 2009

Berlibur ke Bandung bukan lagi hanya sekedar wacana bagi Geng Glamor. Aku, Dildol, Zata, dan Yuyun, akhirnya berwisata juga ke kota kembang itu pada hari Jumat-Minggu (11-13/12) kemarin.

Liburan kali ini bisa dibilang sebagai wisata paket ekonomis, atau kalau menurut bahasa kami, “liburan gembel”. Alasannya, tentu saja karena budget kami yang superminim. Berikut ini secuil pengalaman kami selama 3 hari berwisata di Bandung.

Jumat, 11 Desember 2009

Pagi itu kami menggunakan kereta ekonomi sebagai sarana transportasi menuju Bandung, namun bukan kereta ekonomi jurusan Jogja-Bandung. Kereta ekonomi Jogja-Bandung berangkat dari Surabaya, sehingga kereta itu cenderung sudah sesak akan penumpang ketika sampai di Jogja.

Kami pun memilih untuk naik Prambanan Express (Pramex) menuju Kutoarjo. Dari Kutoarjo, kami naik kereta ekonomi jurusan Kutoarjo-Bandung. Tiket Pramex hanya Rp 8.000,-, sedangkan tiket ekonomi Kutoarjo-Bandung adalah Rp 19.500,-. Total kami hanya membutuhkan Rp 27.500,- untuk sampai ke kota impian.

Dengan style ala gembel, pukul 8.25 kami meluncur dengan kereta ekonomi Kutoarjo-Bandung. Seperti yang sudah banyak kami dengar dari cerita orang, akan banyak pedagang dan pengamen di kereta ekonomi. Benar saja, rasanya ada lebih dari sejuta pedagang dan pengamen yang menghampiri kursi kami selama perjalanan.

Banyak di antara mereka yang justru menjadi hiburan bagi kami, karena cara mereka yang unik dalam menjajakan dagangan atau membawakan lagu. Namun tak sedikit juga yang menyebalkan bahkan cenderung mengerikan, seperti saat kami dikatai pelit karena hanya memberi uang Rp 100,-, atau saat lenganku dicolek pengamen waria.

Hal lain yang menjadi ciri khas kereta ekonomi, kereta ini terkenal hobi berhenti. Rasanya kami berhenti setiap 3 detik sekali. Cuaca panas melengkapi penderitaan kami, membuat tampang kami kian mirip dengan gembel.

Setelah menempuh 7,5 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Stasiun Kiara Condong Bandung sekitar pukul 16.00. Aku dan ketiga temanku langsung membeli tiket perjalanan pulang agar besok tidak kehabisan.

Selanjutnya kami harus mencari angkot untuk sampai ke kos temanku, namanya Vita, yang akan menjadi “hotel” kami selama di Bandung. The journey is begin. Kami berlari-lari mengejar angkot, dimarahi supir angkot karena bayarnya kurang, dan harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke kos Vita.

Pada akhirnya kami tiba di kos sekitar pukul 17.30. Tak ada waktu bagi Geng Glamor untuk beristirahat, karena malam itu Vita mengajak kami menonton ludrug di Institut Teknologi Bandung (ITB). Setelah bersiap-siap dan makan soto di belakang ITB, kami langsung menonton ludrug. Entah apa judul pentas malam itu, yang jelas ludrug tersebut banyak menyindir pemerintah dan juga rektorat ITB. Dikemas dengan amat menarik, aku dan ketiga temanku tak henti-hentinya tertawa.

Meski ludrug belum selesai, namun kami memutuskan untuk pulang pada pukul 22.00. Kami harus beristirahat, untuk menyongsong hari esok yang melelahkan.

Sabtu, 12 Desember 2009

Agenda hari kedua adalah berbelanja di Gedebage, pusat pakaian awul-awul murah meriah. Lokasinya cukup jauh dari kos Vita, namun kami sangat, sangat puas berbelanja di sana. Berbagai sandang lucu dan unik bisa kami bawa pulang, hanya dengan membayar mulai dari Rp 7.500,- saja. Aku sendiri memperoleh 3 kemeja, 2 overall, 1 dress, dan 1 kaos hanya dengan menggelontorkan uang Rp 95.000,-.

Sepulang dari Gedebage, kami mampir makan yamin, makanan sejenis mie bakso. Rasanya enak, apalagi kami kelaparan usai 3 jam berbelanja. Sungguh mantap jaya.

Sampai di kos VIta, kami langsung mandi dan berdandan. Sore itu Vita mengajak kami berfoto di Braga. Entah beruntung atau sial, kebetulan pada saat itu sedang digelar Braga Bike Fest. Kami jadi bisa berfoto dengan moge, tapi di sisi lain kami tidak bisa berfoto di beberapa spot menarik karena ramai. Selain berfoto, kami juga mencicipi es krim tempo dulu di Braga.

Malamnya, kami pergi ke Paris Van Java, salah satu mall di Bandung. Karena keterbatasan dana, malam itu kami makan di tempat makan termurah se-PVJ, yaitu KFC. Jauh-jauh ke Bandung, ujung-ujungnya cuma makan di KFC. Tak apalah, namanya juga wisata paket ekonomis.

Setelah mengisi perut, kami nongkrong di halaman depan PVJ. Kebetulan saat itu sedang ada gerombolan breakers yang berlatih. Lumayan, tontonan gratis. Kami pun akhirnya baru pulang ke kos Vita pukul 23.00.

Minggu, 13 Desember 2009

Hari terakhir di Bandung kami awali dengan jalan-jalan di Gazibu. Kebetulan tiap Minggu pagi digelar pasar murah di Gazibu, seperti Sunday Morning di UGM. Aku sama sekali tidak berniat untuk membeli sesuatu, mengingat kemarin aku sudah banyak belanja. Namun sungguh sial, pulang dari Gazibu aku membawa plastik berisi tas, jaket, dan dompet baru. Aku gagal membendung keinginan untuk belanja.

Dari Gazibu, kami langsung naik angkot menuju Kartika Sari. Di sana kami membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di Jogja.

Tangan kami semakin penuh dengan plastik, namun petualangan hari ketiga belum berakhir. Kami masih terobsesi membeli sepatu di pusat sepatu murah sekitar King’s. Perjalanan menuju King’s amat melelahkan, karena kami harus banyak berjalan setelah turun dari angkot satu untuk naik ke angkot lainnya.

Namun sayang beribu sayang, hari itu adalah hari Minggu. Harga sepatu di sana rupanya bertambah mahal. Pada hari biasa, sepatu-sepatu cantik dijual seharga Rp 20.000,-, namun siang itu tidak ada sepatu yang berharga kurang dari Rp 30.000,-. Kalau harganya segitu mah di Jogja juga banyak. Kami pun terpaksa pulang ke kos Vita tanpa sepatu baru.

Berhubung uang di dompet sudah menipis, siang itu kami hanya makan mie instan di kos. Sorenya, Geng Glamor plus Vita pergi lagi ke ITB untuk jajan cilok.

Hujan deras menyambut setibanya kami di kampus itu. Entah karena hujan atau karena memang sudah sore, penjual cilok yang kami cari sudah tidak mangkal lagi. Akhirnya kami hanya berfoto di ITB, dilanjutkan dengan makan ayam cola di warung sekitar ITB. Sebenarnya ayam cola lumayan lezat, sayang banyak tulangnya. Tapi lumayanlah untuk mengisi perut.

Tak terasa jam sudah menunjuk pukul 18.30, padahal kereta ekonomi Bandung-Jogja berangkat jam 20.25. Kami langsung ke kos Vita untuk mengambil barang dan berangkat lagi ke Stasiun Kiara Contong tanpa sempat mandi.

Ternyata ada sedikit perbedaan situasi antara kereta ekonomi yang berangkat siang dan berangkat malam. Pada malam hari, jumlah pedagang dan pengamen tidak terlalu banyak. Tentu saja tak banyak, karena memang tidak ada tempat lagi bagi mereka untuk lewat. Seluruh lorong penuh dengan penumpang yang berdiri. Tak sedikit juga yang duduk di bawah beralaskan koran. Banyak juga yang duduk di lengan kursi, sehingga cukup mengganggu kenyamanan mereka yang duduk di kursi. Beruntung kami memperoleh tiket duduk, meski malam itu hawa terasa panas dan kami kekurangan oksigen.

Senin, 14 Desember 2009

Kami tiba di Stasiun Lempuyangan Jogja pukul 5.30. Meski kurang tidur, aku tidak bisa langsung beristirahat setibanya di rumah. Ada kuliah jam 7 yang hukumnya wajib hadir, dilanjutkan dengan mengerjakan tugas kelompok pukul 9. Lelah, tapi tetap ceria. Mengantuk, tapi tetap tertawa. Aku sungguh menikmati masa-masa kami berada di Bandung.

Bandung adalah tempat kedua yang paling ingin dikunjungi Geng Glamor. Tempat impian pertama justru belum kesampaian, yaitu Bali. Kita lihat saja, mampukah kami menggembel lagi hingga ke Pulau Dewata.