Wednesday, December 15, 2010

Awalnya aku kira tulisan ini akan menjadi penutup dari rangkaian cerita Starin dan Skripsi. Namun ternyata semua ini belum usai.

Aku menjalani ujian skripsi hari Senin (13/12) kemarin pukul 9.00. Seharusnya aku diuji oleh Mas Sulhan dan Bang Abrar. Namun karena Mas Sulhan belum menampakkan diri hingga pukul 10.00, Cak Budi kemudian ditunjuk untuk menggantikan beliau.

Di dalam ruang sidang, semuanya berjalan lancar selama 10 menit aku presentasi. Sesi diskusi kemudian diawali oleh pertanyaan-pertanyaan dari Bang Abrar. Beliau banyak mengritik masalah teknis, namun aku masih bisa memertahankan diri. 

Selanjutnya, giliran Cak Budi yang diberi kesempatan berkomentar. Kalimat pertama yang muncul dari mulut beliau adalah, “baru kali ini saya melihat penelitian resepsi yang kurang dari 100 halaman.” Sang ketua jurusan ini lalu mengritik masalah kedangkalan skripsiku, kurang detailnya deskripsi yang kuberikan. Cak Budi juga bertanya berapa kali aku mengobservasi dan mewawancara informan. Mati aku. Memang di situlah letak kelemahan skripsiku. Aku hanya bisa pasrah, menjawab dan mencari alasan semampuku.

Setelah Cak Budi, saatnya dosen pembimbingku angkat bicara. Ia bertanya seputar signifikansi penelitian dan pengambilan informan. Setelah kujawab, aku dipersilakan keluar sebentar.

Lima menit aku menunggu di depan ruang sidang. Dosen pembimbingku kemudian menyuruhku masuk sembari mencari tisu. Doh. Bau-bau nggak enak nih.

Di dalam ruang sidang, ia bertanya, “menurutmu, apakah alasan yang membuatmu layak lulus?” Sumpah, aku pingin pingsan. Aku jawab, “penelitian resepsi masih sedikit dilakukan, Mas...” Tak puas dengan jawabanku, beliau meminta alasan lain. Aku tak bisa melontarkan sepatah kata pun.

Sang dosen pembimbing kemudian berkata, “kamu adalah bimbingan pertama saya yang...”

“Mas...” potongku sambil menutup muka.

“Ya gimana? Kami masih ragu untuk meluluskanmu. Semua tergantung revisimu. Kalau revisimu bagus, kamu lulus. Kalau revisimu nggak jauh beda, ya sampai jumpa tahun depan,” ujarnya santai, tak peduli melihat mukaku yang menahan tangis.

“Nih, tanda tangan dulu,” beliau lalu menyodorkan secarik kertas. Di kertas itu ada tulisan ...menyatakan bahwa mahasiswa ini LULUS/TIDAK LULUS. Tapi sang dosen belum mencoret salah satu dari kedua pilihan itu. Aku membubuhkan tanda tangan dengan lemas.

Bersama dosen pembimbing
Sekeluarnya aku dari ruang jurusan, teman-teman ramai menyambutku dan memberi selamat. SELAMAT APANYA WOIII?! Air mataku akhirnya tetes. Tak peduli dengan kesedihanku, mereka memintaku berfoto bersama sang dosen pembimbing. Tapi tak hanya berfoto, aku juga diharuskan membawa kertas yang telah mereka siapkan. Kertas itu bertuliskan: YESSS! Saya berhasil menaklukkan doski. Gilak! Keren beud gueh!

Yah, whatever will be, will be. Dengan status digantung seperti ini, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berjuang merampungkan revisi. Doakan saya agar bisa segera mendengar kata “LULUS”...

Wednesday, December 1, 2010

Dua pekan lalu merupakan masa tersulit selama proses penggarapan skripsiku.

Setelah dosen pembimbing memintaku melakukan revisi skripsi, aku langsung ngebut menggarapnya. Siang dan malam, pagi dan sore, semua waktu kucurahkan untuk menyelesaikan revisi. Dalam waktu empat hari, akhirnya aku berhasil merampungkan revisi. Aku pun kembali menghadap sang dosen, Jumat (19/11).

Beliau membaca skripsiku sekilas. Raut mukanya menunjukkan bahwa skripsiku masih jauh dari harapannya. Ia kemudian berbaik hati memberitahukan keinginannya secara detail, bagian ini harusnya begini, bagian itu harusnya begitu. Lalu kami mulai menegosiasikan kemungkinanku untuk maju sidang skripsi periode ini. Sang dosen mengatakan semuanya masih mungkin, aku hanya perlu bersungguh-sungguh dalam melakukan revisi.

Di sisi lain, waktu pengumpulan persyaratan sidang sudah semakin dekat. Deadline pengumpulan sebenarnya jatuh pada tanggal 20 November, namun seperti dilansir dari bari.com, mahasiswa masih boleh mengumpulkan semua persyaratan selama rapat dosen belum berlangsung. Aku pun dipaksa untuk kembali lembur melakukan revisi skripsi. Kini aku menyelesaikannya dalam waktu tiga hari. Aku menghadap dosen lagi pada hari Senin (22/11).

Sang dosen membaca bab 4 skripsiku perlahan. Memasuki subbab diskusi, beliau berhenti membaca. Ia berujar, "bocah iki dipiye-piyeke yo tetep wae, pancen kapasitase semene." Jleb jleb jleb. Lebih lanjut, sang dosen mengatakan bahwa aku kurang membaca selama kuliah, maka aku kurang mampu mengembangkan analisis. Hal ini tidak bisa diperbaiki dalam sekejap, tidak akan ada perubahan besar meski aku menunda kelulusan hingga periode berikutnya. Oleh karena itu, dengan bijak beliau kemudian menandatangani permohonan sidangku. Alhamdulillah. Hal itu berarti revisiku sudah di-acc, meski beliau melakukannya dengan berat hati.

Aku kemudian segera mengurus berkas lain yang menjadi persyaratan sidang. Pada hari Jumat (26/11), akhirnya semua persyaratan sudah bisa kukumpul di meja Mas Bari. Sekarang tinggal menunggu rapat dosen yang gosipnya akan berlangsung pada hari Jumat (3/12). Rapat dosen akan menentukan jadwal dan dosen penguji masing-masing sidang. Doakan saya ya teman...

Tuesday, November 16, 2010

Setelah cukup lama tidak konsultasi, kemarin (15/11) aku kembali menemui dosen pembimbingku dengan membawa hasil garapan bab 2 hingga bab 5.

Sang dosen mencacat skripsiku habis-habisan. Menurut beliau analisisku dangkal, tidak memberikan temuan baru, pemberian nama subjudul juga masih kurang catchy. Lebih lanjut, beliau mengatakan aku belum siap maju sidang skripsi. Padahal pengumpulan skripsi untuk wisuda periode Februari sudah semakin dekat, sekitar tanggal 20-an November. Melihat banyaknya revisi yang harus kukerjakan dan semakin mepetnya waktu pengumpulan, sungguh aku tidak tahu kenapa aku masih sempat curhat di sini.

Wednesday, November 3, 2010

My Rating:★★★
Genre: Drama

Eat Pray Love berkisah tentang Liz Gilbert (Julia Roberts), seorang wanita Amerika modern yang telah memperoleh semua hal yang ia inginkan. Namun bukannya bahagia, Liz justru merasa sedih dan bimbang dalam menghadapi kehidupan. Ia sampai bercerai dengan suaminya karena hal ini. Setelah bercerai, Liz kemudian berusaha memulihkan dirinya dengan berlibur ke tiga tempat impiannya.

Tempat pertama yang ia kunjungi adalah Italia. Di sini ia belajar seni menikmati hidup dan tak lupa juga menikmati kelezatan makanannya. Tempat kedua yang ia datangi adalah India. Di negara ini ia belajar meditasi dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Tempat terakhir yang dikunjungi Liz adalah Bali, Indonesia. Di sini ia belajar menyeimbangkan kesenangan duniawi dengan ketenangan batin. Di tempat ini pula Liz jatuh cinta lagi dengan seorang pria.

Pada film yang diangkat dari novel ini, penonton bisa melihat Julia Roberts beradu akting dengan Christine Hakim, aktris papan atas Indonesia. Namun selain hal tersebut, tidak ada hal menarik lain dalam film ini. Film ini kurang ‘menggigit’ dan tergolong agak berat untuk kategori film drama. Tapi paling tidak, Eat Pray Love sudah membantu Indonesia dalam memromosikan Bali. :)

Friday, October 22, 2010

Setelah memaki-maki jenis cowok playboy dalam dua tulisanku (Playboy, Brengsek tapi Disuka dan Sulitnya Setia), akhirnya aku justru takluk pada cowok tipe ini. Tragis. 

Perkenalanku dengan si kampret, ups maaf, maksudku sang pacar, terjadi sekitar bulan April. Waktu itu ia datang ke kampusku untuk membagikan flyer Gama Billiard Community (GBC). Saat itu beberapa temanku memang sedang senang bermain billiard, maka kami pun mencoba untuk ikut komunitas ini. Singkat cerita, dengan bergabungnya aku ke GBC, aku jadi sering bertemu dan cukup dekat dengan lelaki ini.

Akhirnya, tepat sebulan yang lalu (22/9), ia nembak aku. Sumpah, saat itu aku tidak sedang berada di bawah pengaruh alkohol. Aku sedang dalam kesadaran penuh. Akal sehatku juga tengah dalam kondisi prima. Meski demikian, tampaknya mata dan telingaku berfungsi lebih optimal lagi, mengalahkan kerja kesadaran dan akal sehat. Aku pun menerimanya jadi pacarku.

Tak terasa kini sudah satu bulan kami memadu kasih (ngik!). Ia ternyata cukup bawel, memintaku menata rambut seperti ini, memakai sepatu seperti itu, melakukan olahraga begini, mengatur pola makan begitu. Ia juga selalu mencemaskan kerapihan rambutnya yang cepak. Ia sering jealous kalau aku ngomongin Lee Min Ho. Bahkan saat aku menulis posting-an ini, terbayang wajah resehnya yang berkata, “Yang, jangan nulis yang aneh-aneh ah di blog... Malu...” Zzz. Ke laut aje deh lu!

Tapi di sisi lain ia juga kerap melontarkan gombalan ringan namun efektif membuatku melayang. Ia tak segan mengajakku berdansa diiringi lagu dari MP3. Ia mengirimiku SMS pagi-pagi hanya sekedar untuk mengingatkan sholat shubuh. Ia rela selalu mengambil jalan memutar jika akan ke rumahku, karena ia pernah ditilang di Jalan Godean.

Terkadang rasanya aku ingin memplester mulutnya dan mengikatnya di Tugu, tapi kadang aku juga ingin memeluknya erat hingga perut buncitnya mengempis. Terkadang aku ingin menyeburkannya ke Selokan Mataram, namun kadang aku juga ingin membelai sayang rambutnya yang mirip kulit rambutan. Secara keseluruhan, dirinya adalah satu paket cantik yang mampu membuatku klepek-klepek. Dasar kampret, paling tahu cara mengambil hati wanita.

Sejauh ini aku masih enjoy menjalin hubungan dengannya. Yah, namanya juga baru satu bulan. Sampai sejauh mana kami akan bertahan, we’ll see.

P.S.: I Love you, Lutfi. Happy 1st month anniversary! 

Tuesday, September 21, 2010

Wew... tak terasa sudah sembilan kali aku curhat di blog tentang skripsi.

Minggu lalu, sang dosen pembimbing tiba-tiba mengirimiku SMS. Beliau menawariku sesi konsultasi skripsi, Senin (20/9) pagi. Maka kemarin bertemulah aku dengan beliau.

Hmmm... sebenarnya aku sedang tak berminat untuk menceritakan isi bimbinganku kemarin. Tapi karena seri Starin dan Skripsi rupanya cukup banyak peminatnya, maka kutulislah.

Aku menghadap sang dosen pembimbing dengan membawa tulisan mengenai profil keenam informanku. Setelah kujelaskan sekilas, sang dosen pembimbing kemudian meng-acc jumlah dan karakteristik informan skripsiku.

Beliau lalu memberikan saran mengenai poin-poin yang harus kutulis dalam bab 4. Hal inilah yang membuatku cukup tertekan. Ada banyak hal yang menurut beliau harus kutulis, dan parahnya ada beberapa hal yang belum kumiliki datanya. Haruskah aku kembali penelitian ke lapangan? Males bok. Duh, sebaiknya aku sholat istikharoh dulu.

Rating:★★★
Genre: Drama

Cerita dalam Tricks of a Woman bermula dari hutang Rex, seorang fotografer handal, kepada temannya Albert. Karena Rex tak kunjung melunasi hutangnya, Albert pun menantang Rex untuk bertaruh: jika Rex berhasil menjadikan “gadis biasa” sebagai model sampul majalah, maka seluruh hutang Rex dianggap lunas. Tapi jika Rex gagal, ia harus berhenti menjadi fotografer. Dengan penuh keyakinan, Rex menerima tantangan tersebut.

Pada suatu ketika, Rex dan Albert bertemu dengan Dessi, seorang pelayan di toko ikan. Albert pun memilih Dessi sebagai “gadis biasa” yang harus dijadikan Rex sebagai model sampul. Rex kemudian banyak melatih Dessi di bidang modelling, juga banyak mengajari Dessi tentang trik yang harus dilakukan wanita untuk memikat pria.

Jalan cerita di Tricks of a Woman amat mudah ditebak. Seperti dongeng, film ini menyulap gadis buruk rupa menjadi tuan putri. Namun secara keseluruhan, film ini cukup ringan dan menghibur. Satu lagi nilai plus dari Tricks of a Woman: Scott Elrod (pemeran Rex) tampak menawan di film ini. :)

Tuesday, September 7, 2010


Rating:
Category:Restaurants
Cuisine: Indonesian
Location:Jl. Palagan Tentara Pelajar, Yogyakarta

Restoran di sepanjang Jalan Palagan Tentara Pelajar sudah terkenal elit dan mahal. Entah kenapa, acara buka bersama dengan teman-teman SMA-ku diadakan di Ngomah, salah satu restoran di kawasan tersebut.

Dilihat dari tempatnya, Ngomah memang menawarkan suasana yang cozy dan romantis. Tempatnya luas, pengunjung dapat memilih untuk duduk lesehan atau menggunakan kursi. Terdapat taman di bagian tengah dengan sorotan lampu hijau yang indah untuk dijadikan latar foto.

Aku dan teman-teman kemudian mulai membuka daftar menu. Seperti yang sudah diperkirakan, harga makanannya tergolong mahal untuk restoran di Yogyakarta. Es teh Rp 5 ribu, es jeruk Rp 8 ribu, nasi goreng Rp 20 ribu, sate kambing Rp 20 ribu... Aku lupa harga menu lainnya, tetapi rata-rata harga makanannya berkisar di angka Rp 20 ribu.

Untunglah, restoran ini juga menyajikan menu paket yang diberi nama Parit Duo. Parit Duo menawarkan menu dan harga yang beragam, tapi yang paling murah adalah Parit Duo Satu. Dengan harga Rp 35 ribu, pengunjung dapat memperoleh 2 porsi nasi putih, 2 porsi ayam goreng lombok ijo, 2 porsi tahu dan tempe, dan 2 gelas es teh. Jadi, tiap orang hanya perlu membayar sebesar Rp 17.500 saja. Harga tersebut sudah termasuk pajak.

Namun ada satu hal yang amat mengecewakan dari restoran ini. Aku dan kedua belas temanku memesan makanan sekitar pukul 17.30, dan seluruh makanan baru tersaji lengkap pukul 18.30. Menu yang datang paling akhir adalah lauk utamanya, jadi mau tidak mau kami memang baru bisa makan jam segitu. Kami harus menunggu satu jam, padahal restoran tersebut sedang sepi pengunjung! Rasa makanannya pun biasa saja. Tapi untunglah, mereka menyajikan cocktail gratis pada waktu berbuka, sehingga kami bisa segera membatalkan puasa.

Ada satu hal lagi yang membuatku terheran-heran. Pada saat hendak memesan Parit Duo, kami bertanya terlebih dahulu, Rp 35 ribu adalah harga yang harus dibayar per orang ataukah dua orang. Si waitress pun menjawab, “sebentar, saya tanyakan dulu.”

Lalu pada saat waitress yang sama datang membawa bakul nasi, kami pun bertanya lagi, “satu bakul untuk berapa porsi, Mbak?” Si mbak waitress menjawab lagi, “sebentar, saya tanyakan dulu.”

Tak lama kemudian, seorang waiter datang membawa sepiring tahu dan tempe. Kami bertanya, “sepiring buat berapa porsi, Mas?” Si mas waiter pun menjawab, “sebentar, saya tanyakan dulu.” Zzzzzz.

Akhirnya, usai juga acara buka bersama malam itu. Setelah membayar, kami baru tahu bahwa member Ngomah memperoleh diskon sebesar 30%. Dan untuk mendaftar sebagai member pun pengunjung tak perlu mengeluarkan uang alias gratis. Ngok. Tau gitu kan tadi sebelumnya kami bikin member dulu...

Friday, August 27, 2010

Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Indonesian, Japanese
Location:Jl. Godean, Yogyakarta

Baru saja dibuka restoran baru di Jalan Godean kilometer 4. Restoran bernama Paradise ini memberi diskon sebesar 15% selama soft opening.

Tertarik dengan diskon yang ditawarkan, aku dan teman-teman mencoba restoran ini saat berbuka puasa. Dari luar, Paradise Resto terlihat sepi. Hanya terlihat beberapa sepeda motor saja di parkiran. Namun setelah berada di dalam, ternyata restoran ini sangat sangat sepi. Mengalahkan kuburan. Tidak ada pengunjung lain selain aku dan teman-teman. Krik.

Terlanjur masuk, kami pun terpaksa duduk. Seorang waiter yang tampak gugup memberi kami daftar menu. Menu yang ditawarkan lumayan standar, harganya juga tak terlalu mahal. Sekedar gambaran, aku memesan paket nasi+ayam kremes seharga Rp 10.500 dan ice chocolate seharga Rp 7 ribu. Teman-temanku memesan chicken katsu Rp 10 ribu, chicken teriyaki Rp 10 ribu, nasi putih Rp 3 ribu, watermelon juice Rp 8 ribu, dan ice tea Rp 3 ribu. Harga-harga itu belum termasuk diskon 15%.

Setelah mencatat pesanan kami, si waiter pun pergi. Namun tak lama kemudian ia kembali membawa tiga mangkok puding. “Hidangan dari kami untuk berbuka puasa, Mbak,” ujarnya. “Gratis, Mas?” tanya kami tak percaya. Si waiter mengangguk sambil tersenyum. Slrrrpp..

Beberapa menit sebelum adzan maghrib, seluruh pesanan kami telah terhidang. Dari segi porsi, menu yang kami pesan bisa dibilang standar. Tak terlalu banyak dan tak terlalu sedikit, kecuali chicken teriyaki yang hanya menyajikan sekitar lima iris ayam saja dalam satu piring. Ngok. Untung aku tidak memesannya.

Dari segi rasa, pesanan kami sebenarnya juga standar-standar saja. Tapi karena lapar, ayam kremesku jadi terasa amat lezat. Hajar bleh!!!

Kesimpulannya, sesungguhnya Paradise Resto amat layak untuk dicoba. Restoran ini memang tidak terlalu luas, namun suasananya cukup cozy. Apalagi selama Bulan Ramadhan ini mereka memberi bonus puding gratis, plus diskon 15% selama soft opening. Ditambah lagi, Paradise Resto sepi pesaing mengingat di Jalan Godean belum terlalu banyak restoran sejenis. Namun memang, sepinya restoran membuat pengunjung menjadi sedikit tidak nyaman. Selain itu, porsi menu yang lain masih menjadi tanda tanya. Semoga saja hanya chicken teriyaki yang porsinya sesedikit itu...

Friday, August 20, 2010

Rating:★★★
Genre: Action

Sebuah film action yang sarat pemain bintang. Alasan itulah yang membuat papaku mengajak kami sekeluarga menonton The Expendables.

Film tersebut berkisah tentang sebuah kelompok bernama The Expendables yang kerap mengerjakan misi rahasia berbayaran besar. Kelompok ini antara lain beranggotakan Barney Ross (Sylvester Stallone), Lee Christmas (Jason Statham), dan Yin Yang (Jet Li). Suatu ketika, The Expendables mendapat tugas untuk membunuh Jenderal Gaza di Pulau Vilena. Sebelum melaksanakan tugas, Barney dan Christmas melakukan survey terlebih dahulu di pulau tersebut. Pada saat survey, mereka ditemani Sandra, putri Jenderal.

Suasana di Pulau Vilena ternyata amat menyeramkan. Pulau itu telah dikuasai oleh mantan anggota CIA James Monroe dan pasukannya yang kerap menyiksa warga dengan keji. Barney dan Christmas pun memutuskan untuk membatalkan perjanjian misi dan segera kabur dari pulau tersebut. Namun sebelum benar-benar pergi, dua jagoan ini sempat membuat pasukan Monroe kalang kabut dengan melemparkan sejumlah tembakan dan bom. Pada saat inilah menurutku adegan terbaik yang diperankan Jason Statham dalam film ini. :)

Meski membatalkan perjanjian tugas, namun rupanya ada yang mengganjal di hati Barney. Ia ingin kembali ke Pulau Vilena untuk menyelamatkan Sandra. Teman-temannya yang setia pun akhirnya mengikuti Barney ke sana.

The Expendables merupakan film action yang amat sadis. Film ini juga sukses membuatku tegang hampir sepanjang film–aku nggak suka film menegangkan . Namun memang, banyak adegan keren yang diperagakan oleh sejumlah pemain bintang dalam film yang disutradari sendiri oleh Sylvester Stallone ini. Wajib tonton buat para penggemar film action.
Terhitung sejak 1 Agustus 2010 aku memulai penelitian skripsiku. Saat tak sengaja bertemu dosen pembimbing di kampus, beliau request ingin melihat transkrip wawancara hasil penelitian. Akhirnya aku pun mengumpulkan transkrip yang beliau minta, Rabu (18/8). 

Sehari sebelum bertemu, aku sudah mengirimi sang dosen SMS untuk meminta bimbingan. Namun tak ada balasan dari beliau. Aku pun langsung menggerebek ruangannya keesokan harinya. Sang dosen ada di tempat dan memersilakanku masuk, namun beliau membimbingku dengan multitasking. Disambi membaca tugas lain, disambi mengobrol, disambi keluar ruangan...

Pagi itu aku mengumpulkan tiga transkrip wawancara karena memang sudah tiga informan yang berhasil kuwawancara. Seusai membaca satu transkrip, sang dosen mengatakan bahwa transkrip yang kubuat sudah cukup baik dan rapi. Hanya saja, aku harus menggunakan bahasa wawancara yang lebih membumi. Selanjutnya, hanya tinggal permasalahan bagaimana aku menganalisis transkrip tersebut kelak.

Perjumpaan pagi itu sudah hampir berakhir saat aku mengajukan pertanyaan bumerang, “patokan pertanyaan dari Potter udah cukup buat mengetahui literasi media informan belum, Mas?”

Beliau menjawab, “sebenarnya sudah cukup, tapi kamu nggak fair. Kamu membawa patokan dari luar dan menerapkannya untuk warga Minomartani... Yang namanya penelitian lapangan itu pertanyaanmu harus benar-benar menyesuaikan dengan keadaan di lapangan...”

“Wew... trus gimana dong, Mas?”

“Ya sudah nggak pa-pa, lanjut aja,” jawab beliau singkat, yang justru menimbulkan kegundahan tersendiri di hatiku. Semoga hal ini memang bukan perkara besar yang dapat menjatuhkanku di saat pendadaran.
Setia. Satu kata yang mudah diucapkan tapi sukar direalisasikan. Kata ini pun kini sering diplesetkan menjadi akronim dari “SElingkuh TIada Akhir” atau “SETIap tempat Ada”. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, setia berarti “tetap dan teguh hati.” Dalam konteks tulisan ini, setia diartikan tetap dan teguh hati pada pasangan. Dulu, aku kira setia merupakan sebuah sifat lazim yang dimiliki seseorang yang telah berpasangan. Tapi rupanya waktu itu aku masih belum banyak mencicipi asam garam dunia. Menurut survey yang telah diolah menggunakan SPSS versi mimpi, kini kutahu bahwa lelaki setia itu jumlahnya hanya satu dari 756.

Sebelum melanjutkan pembahasan, kukatakan dulu bahwa posting-an ini sama sekali tidak bermaksud untuk menyudutkan laki-laki. Hanya saja, tulisan ini memang menggunakan sudut pandangku sebagai perempuan. Jadi memang kebusukan lelaki terkait kesetiaan akan lebih banyak dikupas, meski kuakui bahwa kini banyak juga perempuan brengsek. 

Ada sebuah pertanyaan yang cukup mengganjal di pikiranku terkait kesetiaan: sebenarnya apa sih yang kurang dari pacar para lelaki kampret itu? Kekurangan apakah gerangan yang ada pada diri pacar mereka sampai-sampai mereka memutuskan untuk selingkuh? Kurang cantik? Kurang asik? Kurang ajar?

Sebuah kalimat simple yang terlontar dari seorang teman lelakiku rasanya cukup mampu menjawab pertanyaan itu. “Cowok itu nggak cukup kalo cuma sama satu cewek...” ujar pria berinisial SAA tersebut. Sebuah lelucon juga sempat beredar di Twitter, “mengapa cewek sebaiknya bermuka dua? Karena cowok nggak pernah bisa setia sama satu wajah...”

Ya, makhluk dari Planet Mars itu ternyata memang tidak puas hanya dekat dengan satu cewek. Sesempurna apa pun pacarnya, mereka tetap memiliki sifat dasar untuk bercentil-centil dengan wanita lain. Padahal perempuan lain itu belum tentu lebih cantik ataupun lebih baik dibanding pacarnya.

Lalu bagaimana triknya agar pacar kita tetap setia? Ups maaf, maksudku pacar KALIAN. Aku jomblo (penulis sedang melakukan promosi diri, -Red). Sejujurnya tidak ada trik yang bisa selalu berhasil 100%. Kalau jenis cowoknya memang super brengsek, sejuta trik dilakukan pun tetap tak akan mempan membuatnya setia.

Namun ada sebuah trik yang patut dicoba: buatlah pacar kalian tetap merasa penasaran seperti masa-masa PDKT dulu. Sejumlah curhatan lelaki yang berhasil kuhimpun mengatakan bahwa mereka merasa terganggu dengan perhatian pacar yang berlebihan. SMS-SMS perhatian yang pada awal jadian merupakan lem perekat hubungan, pada perjalanannya justru berubah menjadi gangguan bagi para lelaki itu. Cobalah sedikit cuek dan biarkan mereka merasa kangen sama kita... eh, kalian ding. Terlalu banyak interaksi bisa menimbulkan kebosanan, sedangkan kebosanan menurutku adalah penyebab utama perselingkuhan.

Jika trik itu tidak berhasil, jangan khawatir. Masih ada satu solusi ampuh yang kutawarkan: beri dia pelet. Akhir kata, mari beramai-ramai pergi ke dukun! 

Monday, August 2, 2010

My Rating:★★★
Genre: Drama

Aku melihat cover film ini di rak rental saat menemani adikku menyewa CD game. Dunia selepas kuliah akan kuhadapi tak lama lagi, jadi tentu saja judul film ini menarik perhatianku. Aku pun langsung meminjamnya.

Sesuai judulnya, Post Grad berkisah tentang kehidupan seorang mahasiswi bernama Ryden Malby (Alexis Bledel) setelah lulus dari universitas. Ryden adalah gadis pintar, hidupnya penuh rencana. Selepas kuliah, ia telah berencana untuk bekerja di perusahaan penerbitan Happerman & Browning. Namun rupanya dunia tidak selalu berjalan seperti rencananya. Ryden tidak diterima di perusahaan tersebut. Ia pun melamar di beberapa perusahaan lain, tapi nasib baik belum juga berpihak padanya. Ryden semakin merasa terpuruk saat mengetahui bahwa teman-temannya telah memperoleh pekerjaan.

Meski mengambil setting di Amerika, namun film ini cukup menggambarkan realitas yang dihadapi para lulusan perguruan tinggi kita. Selain itu, tak lupa juga Post Grad dibumbui dengan kisah percintaan. Film ini ringan, menarik, dan dapat menjadi penyemangat bagi para lulusan universitas yang belum memperoleh pekerjaan.

Thursday, July 22, 2010

Barangkali dosen pembimbingku sudah muak melihat mukaku. Akhirnya beliau meng-acc Bab I-ku, Rabu (21/7). 

Pagi itu aku datang lebih awal dibanding dosenku. Begitu tiba, sang dosen langsung curhat ihwal mobilnya yang ditabrak lari oleh motor saat perjalanan tadi. Kutunggu sampai beliau usai berkeluh kesah. Lalu kuajukan pertanyaan, “tapi mood-mu tetep baik kan, Mas?”

Setelah dosenku tersenyum sambil menjawab “iya”, baru kuserahkan revisi Bab I-ku.

Namun alih-alih membuka dan membaca hasil ketikanku, beliau justru mengajukan pertanyaan beruntun seputar penelitian.

“Saat tiba di lapangan, apa yang pertama kali kamu lakukan?”

Kujawab sepengetahuanku.

“Setelah memperoleh data, apa yang kamu lakukan?”

Kujawab seingatku.

“Apa bedanya peneliti yang datang ke lapangan dengan menggunakan analisis resepsi dan analisis teks?”

Kujawab sebisaku.

“Lalu apa bedanya dengan sosio-hermeneutik?”

Modar. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang beliau ajukan tanpa belas kasihan. Dia telah mencuri start pendadaranku.

Setelah menjelaskan tentang jawaban pertanyaan yang belum berhasil kujawab, sang dosen akhirnya berkata bahwa semua proses ini sudah cukup. Aku sudah siap untuk terjun ke lapangan. Namun beliau akui, bagus atau tidaknya hasil skripsiku kelak tergantung pada improvisasi yang kulakukan di lapangan.

Sang dosen kemudian memintaku membuat interview guide. Dengan sombong kujawab, “udah saya bikin, Mas. Itu, di halaman paling belakang...”

Belum sampai tiga menit membaca interview guide-ku, beberapa kritikan langsung meluncur dari mulut beliau, “kamu melupakan pertanyaan tentang sejarah media habit audiens... Media insight audiens juga belum kamu masukkan...”

Setelah kucatat semua tambahan pertanyaan ke dalam interview guide, sang dosen lagi-lagi berceloteh tentang kurang seriusnya aku dalam penggarapan skripsi.

“Saya belum melihat passion kamu... Kamu tidak pernah serius, kalau menjawab pertanyaan selalu sambil tertawa,” ujarnya.

“Maaf, Mas, hehehe...” ups, aku tertawa lagi.

“Ya sudah, selamat melakukan penelitian, ya,” beliau menyudahi sesi bimbingan hari itu.

“Makasih, Mas. Eh tapi... Bab I saya udah di-acc kan ini berarti??”

“Iya...” beliau mengangguk sambil tersenyum amat menawan.
Perempuan tahu pasti bahwa playboy merupakan spesies berbahaya yang harus dihindari. Meski telah mengetahuinya, tapi tetap saja banyak perempuan yang terjerat pesona dan tipu daya para playboy. Apa pasal?

Menurut Pythagora Yuliana, pakar percintaan dari Universitas Gatel Mentel, playboy adalah jenis lelaki yang menyadari dan mampu memaksimalkan potensi dalam diri mereka. “Cowok playboy menyadari bahwa mereka memiliki kadar ke-charming-an yang lebih dibanding cowok lainnya, dan mereka sanggup memaksimalkan itu,” tutur Pythagora saat diwawancara via Yahoo! Messenger.

Lelaki jenis ini dapat dikenali dengan mudah. Mereka biasanya berwajah tampan dan berpenampilan menarik, meski tak jarang juga playboy bertampang pas-pasan. “Yang jelas, cowok tipe ini pintar membuat cewek merasa senang, nyaman, dan penasaran,” terang Pythagora.

Karena keterampilan yang mereka miliki inilah, playboy kerap sekali berganti pacar, selingkuh, atau justru tidak terikat hubungan tetapi memiliki koleksi cewek yang berceceran. Kebiasaan makhluk ini tentu sangat merugikan kaum wanita.

Namun demikian, berbagai informasi tentang bahaya playboy yang telah disebarkan secara work of mouth tampaknya belum cukup untuk memperingatkan para perempuan. Saat berhadapan dengan playboy, seluruh informasi yang telah ditanamkan ke dalam otak perempuan tersebut seolah memuai, tak sanggup bertahan dari sengatan daya tarik alami sang playboy. Playboy pun kembali memakan korban.

Menurut analisis penulis, kondisi ini terjadi tak lepas dari pengaruh kata-kata semanis madu yang dilontarkan playboy. Berbagai teknik gombalan, dari yang basi hingga kontemporer, telah terbukti secara empiris sanggup mengambil hati wanita.

Rayuan rupanya memang merupakan titik lemah perempuan. Hal ini telah dijelaskan oleh Allan dan Barbara Peace dalam bukunya Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps, “pria terangsang melalui mata mereka, sedangkan wanita melalui telinga mereka. Otak pria tersusun untuk melihat pada bentuk wanita, sementara wanita ingin mendengar kata-kata manis.“

Saat sepak terjang playboy sudah tidak bisa dibendung lagi seperti sekarang, maka perempuan harus diberdayakan. Perempuan harus membentengi iman dari godaan para playboy, menyumpali telinga dari gombalan para kampret. Harus diakui oleh penulis, menghindari pelet playboy sama sulitnya dengan bertahan hidup di Jalur Gaza. Tapi perempuan harus terus berjuang, demi menjauhkan diri dari resiko menetesnya air mata.

Monday, July 5, 2010

Minggu lalu, dosenku tak bisa ditemui selama sepekan penuh karena sedang sakit. Penelitianku yang rencana akan dimulai bulan ini pun terpaksa ditunda.

Tadi pagi (5/7) akhirnya aku bisa juga menemui beliau. Namun rupanya, bukan kemajuan yang kudapat, melainkan kemunduran. Sang dosen kembali memeriksa kerangka penelitianku dan bersabda bahwa masih ada yang perlu dibenahi. Selain itu, masih banyak lagi revisi yang harus kulakukan.

Muak. Hanya itu yang kurasakan saat ini.

Tersenyumlah kalian yang menduga aku akan menangis selama pengerjaan skripsi, karena prediksi Anda benar...

Tuesday, June 22, 2010

Akhirnya tiba juga saatnya aku mencapai kondisi buntu. 

Untuk kesekian kalinya aku mengumpulkan revisi bab I kepada dosen pembimbing, Senin (21/6). Lagi-lagi aku diminta merevisi bagian yang sama, yaitu alasan pemilihan lokasi penelitian dan tahapan analisis resepsi.

Menurut beliau, alasan pemilihan situs penelitianku masih kurang kuat. Sang dosen pembimbing khawatir aku akan diserang dengan dosen penguji skripsiku kelak ihwal hal ini.

Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa tahapan analisis resepsi harus didasari dengan buku atau teori yang ada.

“Analisis resepsi bukan teori baru. Masa nggak ada sih buku yang njelasin tentang tahapan analisis resepsi?” begitu katanya.

“Emang nggak ada, Mas,” jawabku.

“Mungkin hanya permasalahan cara membaca... Kalau ada buku yang nggak kamu pahami isinya, bawa aja ke saya. Akan saya bantu jelaskan... Saya nggak bisa terus-terusan meminjamkan buku yang kamu butuhkan,” ujar sang dosen.

Aku hanya terdiam sambil membatin, ‘tapi kayaknya emang nggak ada, Mas... Huhuhuhu...'

“Minggu ini, kamu harus selesai revisi. Biar bulan depan bisa turun ke lapangan... Mumpung lagi liburan, kan...” tambah beliau.

“Siap, Mas,” ucapku sambil bersungut dalam hati, ‘mauku juga bulan depan udah turun ke lapangan, Mas...'

Sesi konsultasiku pun berakhir dengan kebuntuan merajalela di otakku. Ke mana lagi aku harus mencari bahaaaannnnn?????

Saturday, June 12, 2010

Rating:★★★
Genre: Drama

Masih seperti film pertamanya, Sex and The City 2 berkisah tentang kehidupan empat sahabat, Carrie (Sarah Jessica Parker), Samantha (Kim Cattrall), Charlotte (Kristin Davis) dan Miranda (Cynthia Nixon). Carrie kini sudah dua tahun menikah, mulai merasakan kegelisahan dalam kehidupan rumah tangganya. Samantha yang telah bercerai dengan suaminya, sibuk merawat diri agar terlihat awet muda. Charlotte yang telah dikaruniai dua anak, mulai khawatir suaminya berselingkuh dengan pengasuh anak-anaknya yang seksi. Sementara itu Miranda, ia baru saja memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.

Saat mereka sedang butuh pelarian dari dunia masing-masing, Samantha memperoleh empat tiket liburan gratis ke Abu Dhabi. Berbagai petualangan mereka alami di negeri ini.

Sex and The City 2 sungguh mampu mengocok perut. Dengan keglamoran yang ditampilkan, terselip berbagai kebodohan yang menggelikan. Meski harus diakui bahwa film ini tidak mendidik, namun Sex and The City 2 merupakan film yang cukup menghibur.

Monday, June 7, 2010

Tampaknya suasana hati dosen pembimbingku Jumat (4/6) pagi itu sedang cerah. 

Begitu aku menyerahkan Bab I, beliau sudah tidak memeriksa bagian latar belakang dan kerangka pemikiran lagi. Ia langsung membuka subbab metodologi dan menanyakan lokasi penelitian skripsiku. Begitu kujelaskan letak situs penelitianku beserta alasannya, beliau tidak banyak mengritik.

Sang dosen pembimbing kemudian lebih banyak berceramah mengenai ketiga perspektif dalam analisis resepsi. Menurutnya, perspektif yang kugunakan akan amat menentukan pertanyaan dalam interview guide-ku kelak.

Setelah beliau usai menerangkan dengan panjang lebar, satu pertanyaan bodoh keluar dari mulutku, “paling gampang pake perspektif yang mana, Mas?"

Ia pun dengan sabar menjelaskan bahwa tidak seharusnya aku mempersoalkan gampang atau sulitnya sebuah perspektif. Perspektif dipilih sesuai dengan kebutuhan dalam penelitian. Aku pun hanya bisa cengengesan.

Hmm... setelah bergulat dengan ketujuh tradisi komunikasi, sekarang aku harus mempelajari tiga perspektif analisis resepsi. Yang membuatku resah, dari hampir semua buku mengenai analisis resepsi di perpustakaan yang telah kubaca, seingatku tidak ada satu pun yang membahas tentang ketiga perspektif tersebut. Lalu ke mana aku harus mencari tahu? Yah... nanti akan coba kutanyakan pada Mbah Google.

Selain persoalan perspektif, sang dosen pembimbing juga memintaku untuk memperbaiki tahapan penelitian. Menurut beliau, aku masih kurang rinci dalam memaparkan poin tahapan analisis hasil penelitian.

Dari bimbinganku kali ini, ada satu kalimatnya yang amat memompa semangatku. Beliau berkata, “melihat progress yang kamu lakukan, menurut perkiraan saya kamu sudah bisa terjun ke lapangan akhir bulan ini...”

Woooooowwww!!! Aku jadi semangat untuk segera merevisi kembali Bab I. Semoga revisi ini merupakan yang terakhir kalinya untuk Bab I-ku. Amiiiiin....
Mungkin aku memang nggak gaul. Aku baru tahu beberapa hari lalu ihwal cara melakukan quick count. 

Kabupaten Sukoharjo mengadakan Pemilihan Kepala Daerah Langsung Bupati dan Wakil Bupati, Kamis (3/6). Terkait hal tersebut, Jaringan Suara Indonesia (JSI) berniat untuk melakukan penghitungan cepat (quick count) pada pemilihan tersebut. Tujuannya, selain untuk mengetahui secara lebih cepat pemenang pemilihan, juga untuk menjadi pembanding hasil penghitungan manual oleh panitia pemilihan.

Karena sedang membutuhkan uang, maka saya pun mendaftar sebagai relawan JSI untuk melakukan quick count. Cara melaksanakan quick count rupanya cukup mudah.

JSI mengirim sejumlah relawan ke beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) secara acak. Segera setelah penghitungan suara di tiap TPS selesai, para relawan diminta mengirimkan SMS ke nomor server tertentu. Namun memang, ada sejumlah prosedur ketat dalam pengiriman SMS. Sebelumnya, tiap relawan telah diberi nomor handphone yang hanya berlaku untuk mengirim hasil dari TPS tempat ia bertugas. Selain itu, relawan juga harus menulis passkey terlebih dahulu dalam SMS, dan hasil penghitungan suara diketik dengan format tertentu.

Setelah SMS dikirim, relawan akan menerima SMS balasan dari nomor server. Jika 5-10 menit setelah SMS dikirim belum ada balasan, maka relawan harus mengirim ulang SMS ke nomor server cadangan. Para relawan memang harus sigap, agar pada pukul 16.00 JSI sudah bisa melakukan konferensi pers tentang hasil quick count.

Demikianlah cara penghitungan quickcount. Semoga dapat memberi gambaran bagi Anda yang belum tahu...

Tuesday, June 1, 2010

Sabtu (29/5) pagi, aku mendapat SMS dari Pak Wahyu, Manajer Gelanggang Mahasiswa UGM. Beliau memintaku hadir mewakili UGM pada acara social meeting yang digelar Akademi Angkatan Udara (AAU) malam itu.

Meski sama sekali tak tahu acara apa yang harus kudatangi, aku menyanggupi untuk datang karema memang sedang tidak ada acara. Pak Wahyu kemudian mengatakan bahwa rombongan UGM akan dijemput bis AAU pukul 17.15 di Gelanggang Mahasiswa.

Sorenya, hujan deras yang mengguyur memaksaku untuk datang terlambat setengah jam. Saat aku tiba, bis AAU berwarna biru sudah pergi membawa rombongan UGM. Aku bersama kedua teman yang juga datang terlambat lalu berangkat diantar Pak Wahyu.

Makan makan 

Sesampainya di Gedung Sabang Merauke AAU –tempat diselenggarakannya social meeting- rupanya Pak Wahyu harus langsung pergi. Aku dan teman-teman ditinggal sendiri di tempat asing, di tengah para pria wangi berambut cepak berbadan tinggi tegap. Sesekali kulihat para lelaki itu memasang gerakan hormat saat berpapasan satu dengan lainnya.

Kami kemudian bertanya pada salah satu anak AAU, di mana rombongan UGM yang telah berangkat sebelumnya menggunakan bis. Ia kemudian mengantar kami masuk ke dalam gedung, menunjukkan letak teman-teman senasib. Aku cukup terkejut saat melihat pemandangan di dalam gedung. Terlihat banyak anak AAU yang duduk berpasangan dengan perempuan cantik mengenakan gaun, berdandan all-out. Acara apa ini sebenarnya?

Lelaki yang mengantar kami, yang akhirnya kuketahui bernama Rizki, menjelaskan bahwa social meeting adalah ajang berinteraksi AAU dengan masyarakat luar. Masyarakat luar? Hmmm... Dekorasi panggung bergambar sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang berdansa membuatku berpikir tentang hal lain.

Pukul 19.00 tepat, acara pun dimulai. Gubernur AAU memberikan sambutan singkat sebelum akhirnya kami dipersilakan menyantap hidangan di halaman gedung.

Acara makan malam itu berformat prasmanan, dengan berbagai macam santapan lezat disajikan. Saat rombongan kami sedang menikmati makanan, tiba-tiba ada anak AAU meminta ijin untuk bergabung. Kami pun mengobrol dengannya, dan beberapa anak AAU lain menyusul bergabung.

Namun sesi makan malam rupanya hanya berlangsung singkat. Belum sempat aku mengambil melon segar, acara berikutnya sudah dimulai. Bahkan pudingku pun belum habis. Kuambil Aqua gelas di meja dan kuminum sambil jalan. 

Mantap! 

Acara selanjutnya adalah penampilan dari apa yang mereka sebut Brass Band. Bentuknya seperti drum band, tapi memang hanya terdiri dari pemain Brass. Beberapa lagu pop masa kini mereka bawakan sambil bergoyang. Seusai mereka tampil, para anak AAU bertepuk tangan kaku lalu berseru serentak sambil mengacungkan telunjuk, “Mantap!” Aku hanya melongo melihat pemandangan wagu itu.

Namun rupanya masih ada yang lebih wagu. Agenda berikutnya adalah pertunjukan fashion show (whaaaaat???!!!). Diiringi dentuman musik, belasan anak AAU tampil satu persatu sambil membawakan berbagai macam seragam mereka. Suara di balik layar menjelaskan tentang masing-masing kostum yang dikenakan, kapan kostum tersebut digunakan. Sayang, suara itu kadang tak terdengar jelas, kalah oleh dentuman musik dan sorak sorai “Mantap!” anak AAU. Tapi jujur aku cukup terhibur dengan fashion show itu, karena kebanyakan dari mereka yang tampil berwajah rupawan. Hmmm...

Acara lalu dilanjutkan dengan penampilan tari rumba, band-band AAU, dan calung. Pukul 22.00, Gubernur AAU keluar meninggalkan gedung, tanda acara telah usai. Namun rupanya belum sepenuhnya selesai, karena masih ada penampilan satu band dari luar AAU. Dengan dua vokalis aduhai berpakaian minim, band ini tampil atraktif. Hampir semua anak AAU langsung maju ke depan panggung, ikut bergoyang dengan lagu-lagu milik Lenka, Lady Gaga, dan sejenisnya, yang dibawakan band ini.

Saat jeda antarlagu, tiba-tiba ada pengumuman bahwa rombongan UGM telah ditunggu bis AAU di depan gedung. Kami pun dengan senang hati meninggalkan ruangan sebelum acara usai.

Dari penglihatanku malam itu, bisa kusimpulkan bahwa social meeting adalah ajang membawa pasangan bagi anak AAU yang sudah punya pacar, dan wadah mencari jodoh bagi yang masih jomblo. Secara keseluruhan, sebenarnya acara ini cukup menarik. Kewaguan dan kekakuan dalam social meeting justru menjadi ciri khas yang jarang ditemui di tempat lain. Terima kasih Pak Wahyu, sudah memberiku kesempatan untuk hadir di sana...

Thursday, May 20, 2010

Aku kembali menghadap dosen pembimbing skripsi dengan membawa revisi bab I, Rabu (19/5) pagi. Tak lupa juga aku menjinjing tiga buku tebal berbahasa Inggris milik beliau untuk kukembalikan. 

Secara keseluruhan, bimbingan kelimaku dengannya ini bisa dibilang berjalan cukup lancar. Beliau memuji latar belakang di bab I-ku. “Mengesankan,” begitu katanya. Subbab kerangka pemikiran juga hanya beberapa bagian saja yang masih perlu ditambal-sulam. Beliau betul-betul terlihat 'jinak', sampai akhirnya ia membaca halaman 13 yang berisi subbab metodologi penelitian.

“Tradisi komunikasi apa yang kamu gunakan dalam penelitian ini?” sebuah pertanyaan terlontar dari mulut beliau.

Glek. Aku hanya terdiam.

Belum sempat kujawab, beliau mengujiku dengan pertanyaan lain, “bagaimana sejarah analisis resepsi?”

Ehm. Modar aku. Karena tidak bisa menjawab, aku cuma cengengesan.

Sederet pertanyaan lain kemudian ia ajukan. Beberapa kali kucoba untuk menjawab, beberapa kali pula jawabanku ia nyatakan salah.

Beliau pun menerangkan mengenai pentingnya tradisi komunikasi sebagai pijakan sudut pandang dalam penelitian. Teori tentang ketujuh tradisi komunikasi sebenarnya terdapat dalam salah satu buku yang telah ia pinjamkan padaku, namun jujur saja aku tak paham saat membacanya. Maka aku hanya pasrah saat terlihat bodoh di depan beliau.

Dosen pembimbing skripsiku ini kemudian browsing mengenai analisis resepsi dengan komputernya. Begitu menemukan satu artikel menarik berbahasa Inggris, ia langsung menge-print dan memberikannya padaku. Hmmm... baca lagiii... bahasa Inggris lagiii... selalu ada oleh-oleh seusai bimbingan.

Dari pertemuan selama satu seperempat jam tersebut, ada satu kalimatnya yang terus terngiang di telingaku, “kamu nggak serius bikin skripsi ini.” Whaaat??!! Jatuh bangun aku menulis bab I, ia menganggapku nggak serius. Anggapan beliau ini tampaknya gara-gara aku terlalu banyak cengengesan di depannya. Tapi bodohnya, setelah beliau mengatakan kalimat itu, aku malah kembali cengengesan.

Waktu terus berlari, tak ada gunanya sakit hati memikirkan anggapan beliau. Sudah dua bulan dan bab I-ku belum juga tuntas. Aku harus lebih memacu diri lagi, lagi, dan lagi.

Tuesday, May 11, 2010

Rating:★★★
Genre: Comedy

Cerita pada The Bounty Hunter berpusat pada sepasang mantan suami-istri, Milo (Gerard Butler) dan Nicole (Jennifer Aniston). Saat Milo sedang amat membutuhkan uang, ia ditawari bayaran menggiurkan untuk melakukan suatu tugas, yaitu menyeret Nicole ke pengadilan. Berbagai cara dilakukan Milo untuk menangkap Nicole, namun beribu jalan pula ditempuh Nicole untuk melarikan diri.

Menurutku, jalan cerita pada The Bounty Hunter cukup membingungkan, tak seperti film drama komedi biasanya yang mudah dipahami. Film berdurasi 106 menit ini juga kurang menampilkan suasana romantis.

Meski demikian, Andy Tennant selaku sutradara mampu menutup film ini dengan indah. Adegan pada ending film ini merupakan favoritku dalam The Bounty Hunter. Bagaimana dengan adegan favorit Anda?

Thursday, April 29, 2010

Sudah hampir sebulan sejak terakhir kali aku menghadap dosen pembimbing skripsi. Akhirnya aku kembali menemui beliau, Rabu (28/4). 

Bimbinganku pagi itu terbilang menyenangkan dibanding pertemuan sebelumnya. Usai membaca bab I-ku, sang dosen berujar bahwa alur pemikiran dalam skripsiku sudah dapat diterima. Beliau lalu menyodorkanku sebuah buku tebal, warnanya putih, dijilid spiral. Rupanya, semua mahasiswa bimbingannya diharuskan menulis biodata di buku itu. Buku tersebut nantinya juga berisi progress masing-masing mahasiswa pada setiap bimbingan. 

Selain menyuruhku mengisi lembar biodata, sang dosen juga menandatangani form 1-ku. Itu artinya, kini aku sudah resmi menjadi mahasiswa bimbingannya. Beliau telah bersedia menerimaku... Sungguh, aku terharu. Konon, ada seorang mahasiswa yang, berdasarkan hasil rapat jurusan, menjadi mahasiswa bimbingan dosen itu. Namun lima bulan berjalan, beliau tak kunjung menandatangani form 1 mahasiswa tersebut. Mahasiswa itu kemudian memutuskan untuk ganti dosen, dan berkaitan dengan itu ia juga ganti tema. Tak berlebihan kan jika kini aku amat girang karena form 1-ku telah ditandatangani? 

Namun di-acc-nya form 1 belum berarti bab I-ku beres. Banyak sekali revisi yang harus kulakukan. Untuk menunjang bab I-ku, sang dosen berbaik hati meminjami tiga buku tebal berbahasa Inggris. Selain itu, beliau juga menyuruhku mencari tiga buku lain yang judulnya berkaitan dengan “analisis resepsi”. Kemudian kami akan mendiskusikan isi buku-buku tersebut pada bimbingan selanjutnya. Glek. Banyak sekali PR-ku. Tapi seperti kata Bondan dan Fade to Black pada lagu terbaru mereka, “Ya Sudahlah.” 

Ya sudahlah, kerjakan saja perintah beliau. Ucapan dosen pembimbing adalah sabda. Yang penting form 1-ku sudah ditandatangani...

Saturday, April 24, 2010

Rating:★★★
Genre: Drama

Pada suatu malam, seorang profesor bernama Parker Wilson (Richard Gere) menemukan anjing di peron stasiun sepulang dari perjalanannya. Ia menyerahkan anjing itu ke penjaga stasiun, namun si penjaga justru menyuruhnya membawa pulang.

Setibanya di rumah, istri Parker langsung menggelengkan kepala melihat anjing yang dibawa pulang suaminya. Maka esok harinya, Parker membawa si anjing ke tempat penampungan. Namun sudah takdir, tempat penampungan anjing sudah penuh dan tidak menerima anjing baru.

Parker pun memutuskan untuk merawatnya selama beberapa hari. Ia memanggil anjing tersebut Hachi, yang artinya delapan dalam Bahasa Jepang. Saat ditemukan, anjing itu memang memakai kalung dengan angka delapan dalam tulisan Jepang di lehernya.

Hari demi hari berlalu, kedekatan semakin terjalin antara Parker dan Hachi. Tiap pagi dan sore, Hachi selalu mengantar dan menjemput Parker di stasiun. Istri Parker pun akhirnya mengijinkan Hachi untuk dipelihara.

Cerita dalam film berjudul Hachiko: A Dog’s Story tersebut menggambarkan kesetiaan seekor anjing pada tuannya. Film ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Jepang. Secara keseluruhan, film ini cukup mengharukan.

Meski demikian, sejujurnya aku kecewa menonton Hachiko: A Dog’s Story. Sebelum menonton, aku mengira bahwa film ini amat menyedihkan, mampu membuat air mata berlinangan. Namun rupanya, aku berekspektasi berlebihan. Hachiko: A Dog’s Story kurang total dalam menggambarkan kedekatan kakek dan Hachi, kedekatan mereka berdua terlalu ‘biasa’. Oleh karenanya, ia gagal membangkitkan emosi sedih yang mendalam dari pemirsa. Seingatku, air mataku mengalir lebih deras saat menonton Marley & Me dibanding film ini. Jika memang bukan aspek kesedihan yang Anda incar, maka silakan menonton Hachiko: A Dog’s Story.

Thursday, April 15, 2010

Tiga hari lalu aku merayakan tanggal kelahiran untuk ke-22 kalinya dalam hidupku.

Usiaku ini sungguh membuatku merasa tua. Semakin banyak orang yang memanggilku dengan sapaan “Mbak” karena memang umur mereka lebih muda. Bahkan, peserta reality show “Take Me Out Indonesia” saja banyak yang usianya lebih muda dibanding aku.
Tapi aku menolak dibilang tua, aku memilih dikatakan matang. Tahun depan mungkin aku sudah memiliki pekerjaan tetap, tahun depannya lagi barangkali aku sudah siap menikah, dan tahun berikutnya aku telah punya bayi. Wow. Roda kehidupan berputar amat kencang.
Namun sebelum menginjak usia 23, aku memiliki sejumlah target yang harus kupenuhi. Semoga saja bisa kujalankan semua. Amiiiin... 

Jadi Sarjana 
Rasanya sudah menjadi impian semua mahasiswa Komunikasi UGM 2006 untuk lulus secepatnya, kecuali bagi mereka yang tidak ingin. Saat ini aku masih merangkaki bab 1 skripsi, tapi semoga saja waktu setahun ini cukup untuk mengkhatamkan penggarapan skripsiku.
Ada beberapa alasan yang membuatku ingin lekas menyandang gelar sarjana: (1) permintaan orang tua, (2) keinginan memakai selempang cumlaude pada hari kelulusanku nanti, dan yang paling krusial (3) ketakutan akan diberhentikannya tayangan “Take Me Out Indonesia” sebelum skripsiku tuntas. 

Magang, Kerja Sambilan, atau Apalah yang Sanggup Menambah Pengalaman dan Menghasilkan Uang 
Poin ini bisa dibilang untuk sementara telah kupenuhi, meski aku hanya dikontrak 4 bulan saja untuk pekerjaanku kini. Harapanku, aku bisa tetap selalu produktif sepanjang tahun. Selain bisa menambah daftar pengalaman di CV dan bisa glamor dengan uang sendiri, aku juga jadi punya alasan jika orangtuaku menanyakan alasan mandegnya skripsiku. Hahaha... 

Bertemu Jodoh 
Salah satu cita-citaku adalah menikah pada usia 25. Itu artinya, waktuku tinggal tiga tahun lagi untuk menemukan Mr. Right. Meski sudah diburu waktu, tapi tetap harus berhati-hati dalam mencari. Daripada sudah menjalani hubungan selama empat tahun tapi akhirnya putus... Lebih baik dipertimbangkan masak-masak sebelum menjalin hubungan.

Tiga target tersebut rasanya sudah cukup, cukup berat untuk kupenuhi. Semoga Allah selalu memberi petunjuk dan kemudahan dalam meraihnya, amiiiin.....

Thursday, April 8, 2010

Entah lingkungan kampus yang kian tak aman, entah aku yang cukup ceroboh. Yang jelas, peristiwa hilangnya dompetku bisa dibilang cukup aneh. 

Kejadiannya Rabu (7/4) siang. Saat itu aku sedang duduk di salah satu meja kantin FISIPOL bersama Pipit, Mbak Nadia, dan Asep. Kemudian datanglah Viki, temanku yang memiliki pekerjaan sampingan berdagang cimol kering (molring). Tempo hari aku sudah memesan 3 bungkus molring, maka transaksi jual-beli pun terjadi begitu aku bertemu Viki. Saat itulah aku mengeluarkan dompet putihku. 

Seusai membayar, Viki langsung pergi. Aku langsung memasukkan dompet ke dalam tas. Pipit, Mbak Nadia, dan Asep mengaku melihat detik-detik saat aku memasukkan dompet. 

Sekitar 15 menit kemudian, kami berempat meninggalkan kantin untuk menuju Kepel, tongkrongan mahasiswa Komunikasi. Jarak antara kantin dan Kepel tak terlalu jauh, tak sampai 3 menit berjalan kaki. 

Saat menuju Kepel, aku berpapasan dengan Didi, adik angkatanku yang memiliki side job berjualan pulsa. Aku berhutang kepadanya, maka aku segera mencari dompet dari dalam tas. Tapi... naas, dompetku sudah raib!  

Aku langsung kembali ke kantin, siapa tahu ketinggalan di sana. Meja kami tadi sudah ditempati oleh segerombolan mahasiswi. Aku pun menanyakan ihwal dompet putihku, namun mereka mengaku tak melihatnya. Aku bertanya pada si abang berkupluk tukang beres-beres meja, namun ia menggeleng tanda tak tahu. Aku bertanya pula pada ibu berjilbab di balik meja kasir, namun hasilnya tetap nihil. 

Kemudian aku meminta teman-temanku memeriksa tas masing-masing, siapa tahu terbawa. Bahkan Viki pun ditelepon, siapa tahu terbawa beserta dagangan molringnya. Namun lagi-lagi aku harus kecewa. Teman-teman lalu membantuku membuat pengumuman dompet hilang yang kemudian ditempel di papan pengumuman. 

Setelah itu kami menganalisis, kira-kira kapan dan bagaimana dompetku hilang. Saat di kantin, aku memang menaruh tas di belakangku dengan posisi ritsleting terbuka. Tapi kalaupun dompetku diambil orang pada saat tasku berada di belakang, seharusnya ketiga temanku melihatnya karena mereka duduk berhadapan denganku. 

Jadi mungkin saja dompetku jatuh tapi aku tak sadar, lalu ada orang yang cukup sigap mengambilnya saat kami berjalan menuju Kepel. Entahlah. Aku masih cukup shock untuk memikirkannya. Uang sejumlah Rp 60 ribu, SIM, STNK, KTP, KTM, kartu perpustakaan, fotoku bersama Fauzi Baadilla, semua ada di dalam dompet. 

Asep kemudian mengantarku ke kantor polisi untuk membuat surat keterangan hilang. Aku makin stres saat sang polisi memberi tahu bahwa aku harus membuat iklan kehilangan di radio dan media cetak lokal sebelum bisa mengurus STNK baru. Duh piye ikiiiiii??!! 

Setibanya di rumah, aku sudah lemas. Tapi kondisiku rupanya tak membuat Mamaku prihatin. Beliau justru memarahiku habis-habisan karena hilangnya dompetku. Nasiiiiiiibbbbbbbbbb........

Kini aku hanya bisa berharap, semoga ada orang baik yang menemukan dompetku dan mengembalikannya... Amin.
Rating:★★★
Genre: Action & Fantasy

Kisah pada Clash of The Titans bermula saat seorang nelayan menemukan bayi di dalam peti yang terapung di laut. Bayi itu kemudian diberi nama Perseus (Sam Worthington).

Pada suatu ketika, umat manusia merasa lelah harus tunduk kepada para dewa. Mereka melakukan pemberontakan yang membuat Dewa Zeus (Liam Neeson) murka. Dewa Zeus pun mengutus adiknya, Dewa Hades (Ralph Fiennes), untuk memberi pelajaran pada manusia. Dengan senang hati Dewa Hades melakukannya. Rupanya, ia memiliki tujuan lain, yaitu menggulingkan kekuasaan Dewa Zeus.

Saat Dewa Hades berusaha memberi pelajaran pada manusia, barulah diketahui bahwa Perseus adalah manusia setengah dewa. Ia merupakan anak dari Dewa Zeus dengan seorang wanita biasa. Dengan bantuan Dewa Zeus, Perseus berusaha menghentikan usaha Dewa Hades menghancurkan manusia.

Jalan cerita pada Clash of The Titans cukup menarik dan mudah dicerna. Film ini juga menyajikan visual effect yang cukup baik. Meski demikian, film berdurasi dua jam ini kurang menawarkan ketegangan dalam setiap petualangan yang dialami Perseus.

Thursday, April 1, 2010

Unit Fotografi (UFO) UGM merayakan ulang tahunnya yang ke-19, Rabu (31/3) malam.

Tak kurang dari 50 orang hadir pada acara yang dihelat di Gelanggang Mahasiswa UGM tersebut. Perayaan diawali dengan pembukaan pameran foto, dilanjutkan dengan acara hiburan. 

Pameran foto

Pembukaan pameran foto ditandai dengan pengguntingan pita oleh Ririn selaku ketua UFO UGM. Setelah resmi dibuka, para pengunjung dapat menikmati 35 foto yang dipamerkan sembari menikmati cemilan yang telah disediakan.

Pameran yang digelar di Ruang Sidang I Gelanggang Mahasiswa UGM itu masih akan berlangsung hingga Minggu (4/4). Adapun tema yang diangkat pada pameran ini adalah “Low Light”.

Menurut Brinalloy Yuli selaku ketua panitia pameran, tema “Low Light” dipilih karena teknik pemotretan dengan cahaya minim tersebut memiliki tingkat kesulitan tersendiri. “Foto yang dipamerkan merupakan hasil karya calon anggota UFO selama diklat. Karena kami (calon anggota, -Red) masih baru, maka tema ini dipilih agar proses kreatif kami dapat terbentuk dari awal,” papar Brinalloy. 

Acara hiburan

Setelah menikmati foto-foto yang dipamerkan, pengunjung diajak menuju hall Teater Gadjah Mada untuk mengikuti acara doa dan prosesi pemotongan tumpeng. Perayaan ulang tahun kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan dari Paduan Suara Mahasiswa UGM dan Gama Band, ditutup dengan konser dangdut.
Banyak teman memprediksi bahwa aku akan menangis sepanjang penggarapan skripsi di bawah arahan dosen pembimbingku. Dosenku ini memang terkenal perfeksionis, beliau sendiri mengakuinya. Tapi sudah dua minggu berjalan dan aku belum menangis. Belum.

Kemarin (31/3) aku menghadap sang dosen pembimbing untuk yang ketiga kalinya selama bimbingan. Karena sudah dua kali berkonsultasi, kukira aku telah cukup terbiasa dengan berbagai kritikan pedas beliau. Oh iya, sekedar informasi, skripsiku mengangkat tema tentang tayangan televisi favoritku, Take Me Out Indonesia.

Pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, aku tak terlalu ambil pusing dengan masukan dosen gaul yang satu ini. Tapi bukan berarti aku mengabaikannya, bukan. Aku tetap mendengarkan beliau, serta merevisi skripsi berdasar saran beliau. Namun aku tidak terlalu memikirkan setiap ucapannya, tetap santai meski banyak menerima kritikan.

Setelah menemuinya pada Rabu (24/3) lalu, aku menentukan deadline bagi diriku sendiri untuk menyelesaikan kerangka pemikiran dalam waktu seminggu. Namun karena ketidakdisiplinanku sendiri, hingga Senin (29/3) kemarin skripsiku belum menunjukkan progress berarti.

Demi memenuhi deadline yang telah kubuat, aku pun menggunakan sistem SKS (Skripsi Kebut Semalam). Hasilnya bisa ditebak. Menemui dosen perfeksionis dengan hanya berbekal satu malam sama saja dengan bunuh diri. Luar biasa sekali kritikan membangun yang harus kulahap. Dan akibatnya, kini aku stres. Jutaan masukan beliau saling berebut posisi di otakku, hingga rasanya kepalaku mau meledak. Bahkan, menulis kalimat yang barusan pun mengingatkanku pada salah satu kritiknya, “kamu terlalu banyak menggunakan metafora...” Hahaha… Tampaknya memang aku yang keterlaluan.

Kini aku tengah kegerahan diselimuti kebingungan: aku harus mulai revisi dari mana, direvisi menjadi bagaimana, nanti jika setelah revisi masih saja salah aku harus bagaimana... Tidaaaaaaaaaaaakkkkkk! Membayangkannya saja sudah membuatku pusing. Tapi yang perlu digarisbawahi dalam tulisan ini adalah, sudah dua minggu dan aku belum menangis. Belum.
My Rating:★★★
Genre: Adventure & Fantasy

Akhirnya aku jadi juga menonton film yang satu ini. Alice in Wonderland bercerita tentang Alice Kingsleigh (Mia Wasikowska) yang sejak kecil selalu bermimpi tentang kelinci berjas, ulat bulu berwarna biru, dan hal ganjil lainnya.

Pada saat ia berumur 19 tahun, tepatnya saat ia sedang dilamar oleh seorang lelaki, tiba-tiba muncul sosok kelinci berjas yang selama ini hadir di mimpinya. Alice pun meninggalkan acara lamaran, mengikuti kelinci tersebut hingga terperosok ke dalam lubang yang membawanya ke Wonderland. Berbagai petualangan dialami Alice di negeri ini.

Alice in Wonderland berhasil menduduki Box Office Amerika selama beberapa pekan. Meski demikian, banyak temanku yang berpendapat bahwa film ini jelek, jalan ceritanya terlalu sederhana. Menurutku sendiri, Alice in Wonderland lumayan menghibur, meski aku kurang suka dengan ending-nya. Semua orang punya penilaian masing-masing, silakan tonton dan berikan penilaian Anda.

Thursday, March 25, 2010

My Rating:★★★★
Genre: Drama

Film ini berkisah tentang kehidupan Rizvan Khan (Shah Rukh Khan), seorang lelaki muslim India pengidap sindrom Asperger. Semenjak ibunya meninggal, Rizvan tinggal bersama adiknya di Amerika. Di negeri Paman Sam ini, ia menikah dengan Mandira (Kajol), seorang janda Hindu beranak satu.

Kehidupan mereka yang bahagia harus berubah total semenjak terjadi peristiwa pengeboman WTC pada 11 September 2001. Umat muslim kerap diperlakukan tidak adil. Sameer, anak dari Mandira, banyak mendapat tekanan di sekolahnya karena menyandang nama belakang Khan, tanda bahwa ia beragama Islam. Puncaknya, Sameer dipukuli hingga tewas oleh teman-temannya.

Mandira yang amat terguncang menyalahkan Rizvan atas kematian anaknya tersebut. Dalam keadaan emosi, ia menyuruh Rizvan menemui Presiden Amerika untuk mengatakan, “my name is Khan, and I’m not a terrorist.

My Name Is Khan berhasil menggambarkan dengan baik bahwa tidak semua umat muslim adalah teroris. Meski demikian, film berdurasi 161 menit ini juga tidak menampik adanya umat muslim yang dengan kejamnya melakukan aksi teror dengan mengatasnamakan jihad.

Walau menggunakan alur maju-mundur, namun jalan cerita My Name Is Khan tetap mudah dicerna. Film besutan sutradara Karan Johar ini cukup menguras air mata, meski tak jarang juga penonton dibuat tertawa karena kebodohan-kebodohan yang dilakukan Rizvan. Secara keseluruhan, My Name Is Khan cukup menarik untuk ditonton.

*My Name Is Khan kutonton bersama Pythagora Yuliana yang meminta namanya disebut jika aku menulis resensi film ini.
Dalam rangka memperingati ulang tahunnya yang ke-25, lembaga Bahasa Inggris ELTI menggelar acara jalan sehat, Minggu (21/3).  

Event yang diberi tajuk Fun Walk ini mengambil start dan finish di Balai Pamungkas. Peserta acara jalan sehat yang dimulai pukul 6.30 tersebut harus menempuh rute perjalanan sejauh + 3 kilometer. Rute ini sengaja melewati dua gedung tempat lembaga Bahasa Inggris tersebut berada, yaitu di bilangan Jalan Sabirin dan Jalan Sudirman. 

Untuk dapat mengikuti Fun Walk, peserta cukup membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 20 ribu. Fasilitas yang diperoleh terbilang lumayan, yaitu kaos, snack, dan paket buku. Selain itu, peserta juga berkesempatan memperoleh doorprize berupa sepeda motor, sepeda gunung, TV, lemari es, dan masih banyak lagi. 

Menurut Anis Dwinarti, salah satu panitia, event ini dapat dikatakan sukses. “Target peserta hanya 1000 orang, tapi ternyata pendaftarnya mencapai 1800-an orang,” terang Anis. Usia para peserta pun beragam, mulai dari anak-anak hingga kakek-nenek. 

Sigit (50), salah seorang peserta, merasa puas mengikuti Fun Walk. “Bagi orang tua seperti saya, olahraga jalan kaki lebih sehat dibanding olahraga lain. Saya senang bisa ikut acara ini,” tandas bapak tiga anak tersebut.

Saturday, March 20, 2010

Pemandangan orang yang tengah bergosip bisa kita jumpai dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Tak hanya terbatas pada ibu-ibu, hobi melakukan kegiatan penuh dosa tersebut kini telah mewabah ke hampir segala usia.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa aku termasuk salah satu oknum yang gemar menggosip. Banyak hal yang bisa digosipkan, mulai dari cerita artis hingga teman dekat, mulai dari berita baik hingga yang kurang sedap. Gosip positif biasanya seputar prestasi dan kehebatan seseorang, sedangkan yang negatif cenderung merupakan aib-aib pribadi.

Menurut Hamdi Muluk, Kepala Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia, urusan pribadi adalah dunia yang tersembunyi. Ketika dunia tersembunyi itu diungkap, orang pasti suka (Kompas, 11/10/09). Barangkali itulah sebabnya bergosip menjadi aktivitas favorit di kala senggang. Alasan itu pulalah yang membuat orang senang menonton tayangan yang mengumbar ranah privat seseorang, seperti reality show Take Me Out Indonesia. Lah, kok malah jadi nyerempet tema skripsiku?

Kembali lagi ke ihwal gosip. Para penggosip boleh bersuka cita dengan hadirnya internet, khususnya situs jejaring pertemanan. Dengan adanya situs semacam Facebook dan Twitter, bahan gosip jadi menumpuk. Dari status teman-teman dapat diketahui bahwa si Dono kemarin begini, si Kasino besok begitu. Si Dona habis begini, si Nita lagi mau begitu. Bahkan, tak sedikit user yang statusnya berisi curhat. Seperti aku. 

Facebook memang meminta penggunanya untuk menulis “what’s on your mind?”, tapi tidak semua which is on your mind should be shared. Ibaratnya, kini mouse pad pun bertelinga. Jangankan status yang terang-terangan membongkar rahasia pribadi, status yang tampaknya mencurigakan pun selalu menjadi bahan analisis menarik bagi para penggosip. Jika kemudian gosip menyebar, salah siapa? Tentu bukan dosa para penggunjing. Semua kesalahan ditanggung 100 persen oleh si pemasang status.

Dua pekan terakhir, bisa dibilang aku kena batunya. Beberapa kali aku dirundung problem yang berakar dari kegegabahanku dalam menggunakan situs jejaring kampret. Ya ya ya, kesalahan selalu terletak pada si pemasang status. Jadi aku sendiri yang bersalah. Sungguh ironis, seorang penggosip pada akhirnya juga menjadi korban gosip.

Untuk sementara aku memutuskan untuk absen dari dunia Facebook. Absen di sini maksudnya aku libur dalam memasang status dan memberi comment. Bagaimanapun, tetaplah bersikap bijak saat meng-update status, menulis notes, atau melontarkan comment. Because I’m still watching you.

Thursday, March 11, 2010

Ada kabar gembira bagi para pecinta transportasi kereta api. Mulai Senin (1/3), telah diresmikan kereta baru dengan jalur Jogja-Solo-Semarang (Joglosemar). Kereta yang diberi nama Banyubiru ini bisa ditumpangi hanya dengan merogoh kocek Rp 24 ribu saja.

Hari Minggu (7/3) kemarin, saya dan teman-teman sudah mencobanya. Karena masih tergolong baru, kereta itu masih tampak bersih dan cukup sepi penumpang. Namun sayang, hari itu sang Banyubiru mengalami keterlambatan. Kereta yang dijadwalkan berangkat pukul 8.50 baru menampakkan dirinya sekitar 30 menit kemudian.

Pukul 13.00 akhirnya kami tiba di Semarang. Seperti kebanyakan wisatawan lain, kami tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berfoto di Kota Lama dan Lawang Sewu. Tak lupa juga kami membeli oleh-oleh di Jalan Pandanaran.

Sorenya, tidak ada jadwal Banyubiru yang berangkat dari Semarang menuju Jogja. Kami pun pulang dengan kereta Pandanwangi jurusan Semarang-Solo, dilanjutkan dengan kereta Lodhaya jurusan Solo-Jogja.

Perjalanan sehari pulang-pergi Jogja-Semarang memang cukup melelahkan. Tapi paling tidak, kini kami tahu bahwa si Banyubiru akan siap mengantar jika ingin berwisata ke Semarang.

Di dalam Joglosemar

Wednesday, March 3, 2010

Hari Kamis (25/2) lalu, teman saya Kemas membisikkan isu ihwal form 1 skripsi mahasiswa Komunikasi yang harus dikumpul paling lambat tanggal 5 Maret 2010. Setelah tanggal tersebut, konon rapat jurusan baru akan diadakan tiga bulan kemudian.

Sungguh terkejut rasanya mendengar kabar dari Kemas. Meski baru isapan jempol, tapi aku tidak mau bermain-main dengan hal yang menentukan masa depanku ini. Panik, tentu saja. Aku belum menemukan tema skripsi baru semenjak tema lamaku ditolak. Dan waktuku hanya tujuh hari saja menjelang tanggal 5 Maret 2010.

Rupanya benar teori tak tertulis yang menjelaskan tentang the power of kepepet. Di saat genting, orang memang jadi bisa berpikir dan melakukan hal-hal yang di luar dugaan dan kemampuannya sebelumnya. Selama long weekend, aku sibuk mencari tema baru dan langsung menuliskan latar belakang tema tersebut.

Hari Senin (1/3), berangkatlah aku ke kampus untuk mengonsultasikan tema baruku kepada Mas Rizal, salah satu dosen Komunikasi. Saat tiba di ruang jurusan Komunikasi, aku bertemu dengan banyak teman seangkatan. Sama denganku, rupanya mereka juga panik dengan adanya isu 5 Maret. Beberapa di antara mereka sudah memiliki tema, beberapa yang lain masih bermain petak umpet dengan temanya. Suasana kala itu sungguh ramai, aku dan beberapa temanku bahkan harus antri untuk konsultasi ke Mas Rizal.

Teka-teki isu 5 Maret akhirnya terjawab saat aku ke kampus siang tadi (3/3). Aku melihat pengumuman di meja Mas Bari, TU Komunikasi, yang memberitahukan bahwa periode pengumpulan form 1 hanya berlangsung hingga tanggal 5 Maret 2010. Setelah tanggal yang ditentukan, jurusan baru akan membuka pengumpulan form 1 pada 20 Mei - 5 Juni 2010.

20 Mei - 5 Juni, Saudara-saudara! Bagaimana jika ada mahasiswa yang form 1-nya ditolak pada rapat jurusan 5 Maret? Berarti ia harus menganggur selama 3 bulan hingga rapat jurusan berikutnya. Sebelumnya, rapat jurusan biasa diadakan setiap telah ada 10 mahasiswa yang mengumpulkan form 1. Maka kebijakan baru ini sungguh mengecewakan, aku hanya bisa berdoa agar form 1-ku diterima di sisi rapat jurusan tertanggal 5 Maret 2010. Amin.

Wednesday, February 24, 2010

Tangan pucat itu tiba-tiba muncul dari balik tirai hitam. Meliuk-liuk sembari menggenggam sebuah apel hijau, kemudian menghilang lagi ke balik tirai. Tirai itu lalu tersibak, menampilkan wujud si pemilik tangan. Bertelanjang dada, dengan kulit ular tersampir di bahu, pria asing itu menyanyikan sebuah lagu. Lalu ia mulai menari, sebuah tarian kontemporer.

Pemandangan itu terlihat pada malam pembukaan Hungarian Days, Selasa (23/2). Hungarian Days digelar oleh Lembaga Indonesia Prancis (LIP) selama dua hari, yaitu Selasa-Rabu (23-24/2). Berbagai hal khas Hongaria disajikan pada acara tersebut, mulai dari tarian, lukisan, kuliner, hingga musik. Semuanya gratis, pengunjung tinggal datang ke auditorium LIP di daerah Sagan. 

Tarian, lukisan, makanan

Seusai pertunjukan tari kontemporer, Duta Besar Hongaria maju untuk memberi sepatah kata sambutan. Dengan Bahasa Inggris, beliau memuji sang penari. Ia juga menyelipkan canda, meminta buah apel yang tadi digunakan sang penari saat pertunjukan. Duta Besar itu lalu menjelaskan agenda kegiatan pada Hungarian Days.

Seusai sambutan, pengunjung dipersilakan menuju ruangan di sebelah auditorium. Di ruangan tersebut tengah dihelat pameran lukisan tunggal oleh Eszter Tari, pelukis wanita asal Hongaria.

“Sekilas lukisan-lukisan saya tampak abstrak. Namun jika dicermati dari kejauhan, dapat kita lihat bentuk kepala atau tangan pada lukisan-lukisan itu,” jelas Eszter yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Sayang, banyaknya jumlah pengunjung, ditambah dengan kecilnya ruang pameran, membuat karya seninya tak bisa dinikmati dengan leluasa.

Setelah puas memandangi lukisan, pengunjung dapat menyantap dua jenis makanan khas Hongaria yang telah disiapkan di halaman LIP. Makanan pertama, sejenis pazta yang dilengkapi ayam dan salad. Rasanya gurih bercampur pedas, nikmat tak terkira. Makanan kedua berbentuk seperti bakwan, namun diolesi saus dan ditaburi keju di atasnya. Yang ini lebih lezat lagi, pengunjung sampai berebut untuk bisa melahapnya. 

Hari kedua

Tak perlu khawatir jika Anda ketinggalan Hungarian Days hari pertama. Masih ada hari kedua, yang menurut jadwal akan menampilkan musik khas dari negara Eropa Tengah ini. Kuliner Hongaria juga masih akan disediakan pada hari kedua, tentu dengan menu berbeda dari yang disajikan sebelumnya.

Malam ini, tinggal datang saja ke auditorium LIP pukul 19.00. Tidak ada ruginya kan berusaha mengenal kebudayaan bangsa lain?