Tuesday, January 26, 2010

Topik tulisan ini barangkali sudah amat klasik dan kuno, bahkan bagi diriku sendiri, yaitu perihal kejombloan. Namun karena aku sedang benar-benar merasakan nikmatnya menyandang status single, maka kutulislah.

Setiap hal selalu memiliki sisi positif dan negatif, tak terkecuali dengan kondisi jomblo. Ada manisnya, pahitnya juga terasa.

Sewaktu habis putus dulu, aku menangis dua hari dua petang. Meski kala itu aku sudah merasa tak nyaman dengan hubunganku bersama sang pacar, tapi tetap saja, perpisahan adalah hal yang menyesakkan.

Banyak asam yang kucecap setelah putus. Mau nonton film, harus pusing cari teman. Mau beli sepatu, harus SMS sana sini ajak kawan. Yang paling terasa tentu saja, saat malam Ahad menyapa.

Sudah menjadi rutinitas selama empat tahun, akhir pekan kuhabiskan bersama pacar. Namun tiba-tiba agenda rutin itu menguap lenyap bagai disulap. Aku jadi kesetanan sendiri saat malam minggu tiba. Teman-teman gengku sudah memiliki pacar, atau paling tidak sedang dekat dengan seorang lelaki. Selama berminggu-minggu, bahkan tampaknya sudah memasuki hitungan bulan, aku pasrah menjalani kehidupan sengsara jomblowati.

Keadaan suram ini terus merangkak, hingga pada suatu ketika aku dihubungi oleh seorang sahabat lama. Akan ada kumpul geng SMA, begitu katanya. Reuni geng pun dihelat, aku kembali merajut silaturahmi dengan mereka. Satu hal yang membuat hubungan kami terus berlanjut, kami semua single. Selain itu, wilayah rumah kami yang cenderung dekat dan searah juga lebih memudahkan kami untuk berkumpul.

Kini tiap butuh ditemani belanja, aku tahu bisa mengandalkan mereka. Saat malam Minggu tak punya acara, aku masih punya mereka. Tak perlu khawatir menenggak malam tahun baru seorang diri, karena ada mereka. Memang kami biasanya cuma curhat dan bergosip, tapi menyenangkan. Hanya jajan nasi goreng di dekat rumah, namun menceriakan.

Aku jadi sadar, banyak kepingan cerita yang telah aku lewatkan. Sewaktu dulu mereka berkumpul, aku sering cuma bisa titip salam karena sudah ada janji dengan sang pacar. Sekarang saatnya aku membayar utangku, dengan meluangkan waktu lebih banyak, bahkan sangat banyak, untuk mereka.

Tak hanya kembali akrab dengan sahabat lama, kusadari lingkaran pertemananku kini kian melebar. Aku punya banyak waktu untuk menjalin relasi dengan kawan-kawan baru.

Yah, banyak teman memang cukup membuai, membuat lupa akan masamnya status single. Kini aku memang sedang menikmati era jomblo, namun bukan berarti aku enggan mencari pacar. Ada kerinduan tersendiri akan sosok seorang pacar, meski kerinduan itu kini tengah terselimuti hangatnya kebersamaan dengan teman-teman.

Friday, January 22, 2010

Satu per satu temanku mengajukan form 1 skripsinya. Rapat demi rapat pun digelar oleh pihak jurusan untuk menentukan form 1 mana yang layak untuk ditindaklanjuti menjadi skripsi.

Tak terasa, dua rapat telah dilangsungkan untuk menentukan nasib skripsi teman-teman Komunikasi UGM 2006. Belasan form 1 teman seangkatan sudah di-acc untuk segera dijadikan skripsi. Rapat berikutnya, atau yang biasa kami sebut sebagai kloter ketiga, menurut kabar yang berembus akan diadakan pada akhir bulan ini.

Sebagai mahasiswa yang ingin cepat lulus, tentu aku ingin mengajukan form 1 sesegera mungkin. Tapi ternyata tak semudah itu bagiku untuk menyelesaikan beberapa lembar sakti tersebut.

Skripsiku menggunakan metode penelitian kuantitatif yang, menurut Burhan Bungin dalam buku Metodologi Penelitian Kuantitatif, pola pikirnya sederhana dan sistematik. Tapi maaf Bung, saya tidak sependapat dengan Anda. Atau paling tidak, buku Anda belum berhasil mengubah anggapan saya tentang metode ini.

Selama beberapa minggu, aku dirawat oleh kebingungan. Ruang referensi skripsi yang kerap menyediakan jalan keluar bagi teman-teman seolah-olah justru menutup pintunya untukku. Hal ini disebabkan oleh miskinnya koleksi ruang referensi akan skripsi bermetode kuantitatif.

Terlepas dari keluhan seputar metode kuantitatif, menurutku esensi perguruan tinggi adalah tempat persiapan mahasiswa untuk menghadapi dunia kerja. Ia hanyalah persinggahan untuk menuju tujuan hidup. Di bangku kuliah, mahasiswa seharusnya membekali diri dengan banyak berorganisasi, memperluas link, dan bekerja magang.

Namun bukannya mempersiapkan diri dengan baik, saat kuliah kebanyakan mahasiswa justru terforsir tenaga dan pikirannya untuk menggarap syarat kelulusan bernama skripsi. Konsentrasi mahasiswa lebih banyak terfokus pada cara untuk lulus, bukan pada cara untuk memperoleh pekerjaan yang layak setelah lulus. Hal ini terbukti, cukup banyak mahasiswa yang setelah lulus baru bertanya, “sekarang harus bagaimana?” Ijazah sudah tak lagi menjadi jaminan untuk memperoleh pekerjaan idaman.

Detik demi detik terus beranak pinak, namun aku justru “membuang” waktu dengan mem-posting tulisan ini. Skripsi tak kunjung mulai, magang juga tidak kujalani. Tak apalah, semua orang kan butuh curhat. Termasuk aku, seorang mahasiswa semester delapan.

Monday, January 18, 2010

“Potong poni aja pake ke salon, mending pinjem gunting aja di burjoan…”

Kalimat itu terlontar dari salah satu teman lelakiku saat aku mengeluh batal ke salon untuk potong poni. Sore itu, hujan deras telah memudarkan rencanaku. Tak hanya dia, seorang teman perempuanku juga geleng-geleng kepala mengetahui planning-ku potong poni di salon.

Bagi sebagian orang, poni hanyalah poni. Bagian kecil dari rambut. Tidak ada yang istimewa. Saking tidak pentingnya, bahkan ada orang-orang yang memutuskan untuk tidak memiliki poni.

Namun bagi sebagian lainnya, termasuk aku, poni adalah aset yang cukup berharga. Potong poni sama spesialnya dengan creambath, sama urgent-nya dengan potong rambut bercabang. Baca dulu alasanku.

Image: fashionisers.com
Poni ibarat garda depan rambut. Ia terletak di dahi, langsung terlihat saat bertemu orang lain. Ia harus selalu tampil prima, karena sedikit banyak memberi pengaruh pada muka. Kalau poniku sudah terlalu panjang, ia jadi lebih gampang lepek dan berantakan. Padahal kalau poniku lepek, pipi tembemku jadi menonjol. Kalau poniku berantakan, jidat jenongku jadi terkuak.

Namun bukan berarti potong poni bisa asal. Asal potong sendiri di rumah, yang penting pendek. Potong di salon tentu hasilnya lebih rapi. Selain itu, biasanya saat potong poni aku juga sekalian memotong rambut samping kanan-kiri. Rambut samping kujaga agar senantiasa hanya sepanjang dagu agar ia bisa menutupi pipiku.

Jika kondisi poni sudah prima, tentu aku jadi lebih percaya diri saat harus bertemu orang lain. Ibarat dalam regresi linier, poni adalah variabel x dan percaya diri adalah variabel y. Variabel x mempengaruhi variabel y, kondisi poni mempengaruhi rasa percaya diri. Dan seperti kata Dedy Dahlan dalam bukunya Start Young, orang yang memiliki kepercayaan diri selalu terlihat lebih menarik.

Oleh karena itu aku amat senang, setelah menunda lebih dari seminggu, akhirnya tadi siang aku jadi juga memotong poni di Salon Puspita. Hanya potong poni biasa, dengan model yang masih sama, tapi memberi dampak yang istimewa.

Saturday, January 16, 2010

Saya bukanlah seorang pengagum Bung Karno. Namun saya juga tidak anti terhadap ajaran-ajaran beliau. Netral-netral saja, biasa-biasa saja.

Beberapa hari terakhir, saya merasa “dekat” dengan sosok presiden pertama Republik Indonesia itu. “Kedekatan” tersebut bermula saat saya menggarap tugas Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Sejarah Sosial Politik Indonesia. Dari nama mata kuliahnya saja sudah kelihatan, topik perkuliahan tak akan jauh-jauh dari masa pendudukan Belanda, proklamasi kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru... Singkat kata, Bung Karno menjadi tokoh utama pada beberapa bab dalam buku referensi utama saya, yaitu Sejarah Indonesia Modern karangan M.C. Ricklefs.

Setelah tugas itu rampung, “keintiman” ini rupanya terus berlanjut. Om saya memberikan sebuah buku bertajuk Bung Karno, The Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer yang merupakan karangan beliau sendiri. Adik dari papa saya itu memang pengagum berat Putra Sang Fajar, julukan Bung Karno. Saya yang sedang tidak banyak kegiatan pun langsung melahap habis buku tersebut dalam waktu dua hari.

Kedua buku yang saya baca itu, Sejarah Indonesia Modern dan Bung Karno, The Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer, bagaikan puzzle yang saling melengkapi. Sejarah Indonesia Modern menceritakan tentang fakta-fakta yang lazim dicatat dalam buku sejarah, sedangkan buku karangan om saya banyak mengisahkan kehidupan Bung Karno yang tak ditulis sejarah. Sisi humanis Bung Karno, kisah cinta beliau, hingga kebiasaan makan sang Pemimpin Besar Revolusi...

Menarik juga saat membaca prolog yang ditulis oleh Dr. Cornelis Lay untuk buku tersebut. Selama ini saya mengenal Kartosuwiryo sebagai tokoh pemberontak DI/TII di Jawa Barat (kebetulan soal nomor 1 tugas UAS saya tentang pemberontakan DI/TII). Rupanya, Kartosuwiryo adalah sahabat Bung Karno sewaktu berguru kepada HOS Cokroaminoto di Surabaya. Dulu, Kartosuwiryo kerap mengejek Bung Karno yang hobi berpidato berapi-api di depan kaca, “Hei, Karno... buat apa kamu berpidato mengepal-ngepalkan tangan di depan kaca, seperti orang gila saja...”

Bung Karno tidak mau kalah, ia balas mengejek, “oh iya... karena kamu memang tidak pantas, orangnya kecil, pendek, keriting... tidak mungkin kamu jadi pemimpin besar.”

Sekian lama mereka bersahabat, akhirnya Kartowuwiryo melakukan pemberontakan DI/TII. Setelah tertangkap, ia pun divonis hukuman mati. Setiap hari, keputusan hukuman mati ditaruh di atas meja Bung Karno bersama berkas-berkas kenegaraan lain yang harus ditandatanganinya. Setiap membaca lembar vonis mati bagi Kartosuwiryo, Bung Karno menyingkirkannya. Begitu berhari-hari sampai klimaksnya beliau lempar berkas itu hingga berserakan di lantai. Bagi Bung Karno, Kartosuwiryo tetap seorang sahabat. Meski demikian, sejarah mencatat, Kartosuwiryo pada akhirnya tetap dieksekusi.

Begitulah sekelumit cerita tentang Bung Karno, tokoh proklamator kita. Tokoh yang berangsur-angsur mulai saya kagumi, karena pemikiran-pemikirannya, sikap nasionalisnya, semangat juangnya... Merdeka!
Rating:★★★★
Genre: Biographies & Memoirs
Author:Roso Daras

Inilah buku yang telah membuat saya jatuh hati pada Bung Karno. Bung Karno, The Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer berisi 30 kisah kecil tentang Bung Karno yang terlewatkan sejarah.

Salah satu dari cerita itu adalah tentang romusha yang menjadi lembar hitam dalam kehidupan Bung Karno. Jutaan rakyat Indonesia yang begitu mencintai Bung Karno, mati dengan cara mengenaskan akibat sistem kerja paksa yang kejam zaman pendudukan Jepang. Ironis, karena justru Bung Karno yang ditugas Jepang untuk “merayu” rakyatnya memasuki ranah kerja paksa yang mengerikan itu. Lima aktivis pergerakan segera mendatangi beliau, sesaat setelah gambar Bung Karno yang kerkesan mendukung romusha terpampang di mana-mana.

Jawaban Bung Karno kepada mereka, “dalam setiap perang ada korban. Tugas dari seorang panglima adalah untuk memenangkan perang, sekalipun akan mengalami kekalahan dalam beberapa pertempuran di jalan. Andaikata saya terpaksa mengorbankan ribuan jiwa demi menyelamatkan jutaan orang, saya akan lakukan...”

Kisah menarik lain, yaitu ihwal sejarah mobil pertama Presiden Republik Indonesia. Pascaproklamasi dikumandangkan, Bung Karno yang sudah menyandang predikat presiden itu rupanya tidak punya mobil. Para pengikutnya lantas “mencuri” mobil Limousine hitam merek Buick milik seorang Jepang yang menjabat Kepala Jawatan Kereta Api. Mereka meminta kunci mobil tersebut pada sang sopir, seorang pribumi yang kebetulan telah mereka kenal baik. Sopir itu pun menurut, lantas langsung pulang ke kampung halamannya di Kebumen tanpa pamit pada majikannya.

Cerita-cerita dalam buku setebal 276 halaman ini ditulis dengan bahasa yang ringan, mengalir, dan enak dibaca. Tulisan-tulisan tersebut rupanya diambil dari blog pribadi Roso Daras, sang penulis, tentu dengan melalui segenap revisi dan penambahan data.

Sebagai bangsa Indonesia, sudah selayaknya kita berusaha mengenali dan menyayangi proklamator kita, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan membaca buku ini, Bung Karno, The Other Stories, Serpihan Sejarah yang Tercecer.

Saturday, January 2, 2010

Puring, sebuah kecamatan di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Di pedesaan inilah ayah saya lahir, 50 tahun yang lalu.

Almarhum kakek dan nenek saya memang asli Kebumen. Setiap tahunnya, tepatnya pada momen Idul Fitri, saya sekeluarga selalu mudik ke sana. Hingga kini, meski kedua eyang saya sudah tiada, Kebumen tetap menjadi kota tujuan mudik kami.

Walau demikian, ada perbedaan yang amat mencolok semenjak kakek saya meninggal dua tahun lalu (nenek saya meninggal lebih dulu). Dulu, keenam anak kakek beserta 19 cucunya selalu membuat riuh rumah eyang di kala Lebaran.

Pagi hari, kami biasa bermain air bersama di pantai, entah Pantai Petanahan atau Pantai Karangbolong. Siangnya, kami menyantap soto buatan Bude Mar, salah satu bude saya yang jago memasak. Jika ikut kompetisi memasak, malaikat juga tahu Bude Mar yang jadi jawaranya.

Sore menjelang malam, kami ngemil golak, makanan khas Kebumen yang amat saya gemari. Kebetulan ada penjual golak yang mangkal di dekat rumah saban habis maghrib. Malamnya, para tetua (ayah, ibu, pakde, bude, om, tante) beristirahat di kamar-kamar tidur. Sementara kami para cucu, tidur bersama bagai ikan pindang di ruang tamu seluas 5 x 3 meter. Sebelum tidur, biasanya kami menyempatkan diri untuk bermain kartu bersama.

Tapi itu dulu. Ketika kakek-nenek saya masih hidup. Semenjak mereka meninggal, rumah di perempatan jalan itu ditinggali oleh Bude Mar. Meski tetap ada yang menempati, namun tiap tahunnya semakin menyusut saja jumlah sanak saudara yang mudik ke sana. Selain karena eyang sudah tiada, juga karena para pakde-budeku sudah menjadi eyang bagi cucu-cucu mereka. Rumah merekalah yang kini menjadi tujuan mudik bagi sang anak-cucu.

Kini, aku tak yakin rumah bercat krem di Puring itu bisa kembali ramai seperti dulu. Hanya kenangan yang masih tersisa, siap dikais saat rindu menyapa.

Puring, 30 Desember 2009