Wednesday, February 24, 2010

Tangan pucat itu tiba-tiba muncul dari balik tirai hitam. Meliuk-liuk sembari menggenggam sebuah apel hijau, kemudian menghilang lagi ke balik tirai. Tirai itu lalu tersibak, menampilkan wujud si pemilik tangan. Bertelanjang dada, dengan kulit ular tersampir di bahu, pria asing itu menyanyikan sebuah lagu. Lalu ia mulai menari, sebuah tarian kontemporer.

Pemandangan itu terlihat pada malam pembukaan Hungarian Days, Selasa (23/2). Hungarian Days digelar oleh Lembaga Indonesia Prancis (LIP) selama dua hari, yaitu Selasa-Rabu (23-24/2). Berbagai hal khas Hongaria disajikan pada acara tersebut, mulai dari tarian, lukisan, kuliner, hingga musik. Semuanya gratis, pengunjung tinggal datang ke auditorium LIP di daerah Sagan. 

Tarian, lukisan, makanan

Seusai pertunjukan tari kontemporer, Duta Besar Hongaria maju untuk memberi sepatah kata sambutan. Dengan Bahasa Inggris, beliau memuji sang penari. Ia juga menyelipkan canda, meminta buah apel yang tadi digunakan sang penari saat pertunjukan. Duta Besar itu lalu menjelaskan agenda kegiatan pada Hungarian Days.

Seusai sambutan, pengunjung dipersilakan menuju ruangan di sebelah auditorium. Di ruangan tersebut tengah dihelat pameran lukisan tunggal oleh Eszter Tari, pelukis wanita asal Hongaria.

“Sekilas lukisan-lukisan saya tampak abstrak. Namun jika dicermati dari kejauhan, dapat kita lihat bentuk kepala atau tangan pada lukisan-lukisan itu,” jelas Eszter yang sudah fasih berbahasa Indonesia. Sayang, banyaknya jumlah pengunjung, ditambah dengan kecilnya ruang pameran, membuat karya seninya tak bisa dinikmati dengan leluasa.

Setelah puas memandangi lukisan, pengunjung dapat menyantap dua jenis makanan khas Hongaria yang telah disiapkan di halaman LIP. Makanan pertama, sejenis pazta yang dilengkapi ayam dan salad. Rasanya gurih bercampur pedas, nikmat tak terkira. Makanan kedua berbentuk seperti bakwan, namun diolesi saus dan ditaburi keju di atasnya. Yang ini lebih lezat lagi, pengunjung sampai berebut untuk bisa melahapnya. 

Hari kedua

Tak perlu khawatir jika Anda ketinggalan Hungarian Days hari pertama. Masih ada hari kedua, yang menurut jadwal akan menampilkan musik khas dari negara Eropa Tengah ini. Kuliner Hongaria juga masih akan disediakan pada hari kedua, tentu dengan menu berbeda dari yang disajikan sebelumnya.

Malam ini, tinggal datang saja ke auditorium LIP pukul 19.00. Tidak ada ruginya kan berusaha mengenal kebudayaan bangsa lain?

Saturday, February 20, 2010

Umbul Sido Mukti, sebuah area pegunungan di pinggiran kota Semarang yang kerap digunakan untuk outbond. Di tempat ini pengunjung dapat mencoba wahana marine bridge dan flying fox, melakukan rappeling, hingga berendam di pemandian belerang.

Tertarik dengan aktivitas yang ditawarkan, aku dan teman-teman berencana mengunjungi wilayah tersebut pada hari Minggu (14/2). Tercatat ada 12 orang yang berminat mengikuti acara jalan-jalan ini –aku, Pengky, Bagor, Gumas, Ridho, Cici, Ryan, Edo, Eky, Rio, Ujo, Sasongko.

Pada tanggal yang telah dijadwalkan, kami sepakat berkumpul di rumah Bagor pukul 7.45. Namun ketika aku dan Pengky sampai di tempat itu pukul 8.30, hanya Ridho, Cici, dan Rio yang kami jumpai. Bagor pun menjelaskan bahwa 5 orang baru saja membatalkan keikutsertaan mereka dengan berbagai alasan, mulai dari harus menemui saudara hingga kesakitan akibat jerawat pecah. Tak apalah peserta berkurang, kami yakin masih bisa seru-seruan. Bagor pun segera mengeluarkan APV merah dari garasi setelah Edo selaku peserta terakhir datang.

Berpose sebelum berangkat

Saat mobil sedang dipanasi, om Bagor –di Jogja Bagor tinggal bersama omnya - mengatakan bahwa mobil bermuatan besar itu hendak dipakai. Sebagai gantinya, omnya menyodorkan dua buah sedan untuk kami gunakan. Masalah pun timbul tentang siapa yang akan menjadi supir selain Bagor. Sebenarnya Ridho dan Edo bisa menyetir, namun mereka terlalu penakut untuk mengendarai mobil orang lain hingga ke luar kota.

Tak hilang akal, Bagor segera menelepon Sasongko –yang awalnya membatalkan ikut karena mau sepak bola- untuk direkrut sebagai supir. Kala itu jam sudah menunjukkan pukul 10.00, sehingga dapat dipastikan Sasongko telah usai menjalani olahraga favoritnya itu. Sasongko menyanggupi, namun ia meminta waktu sebentar untuk mandi.

Pukul 11.00 kami resmi dinyatakan berangkat. Aku, Pengky, Bagor, Ridho, dan Cici berada dalam satu mobil, sedangkan Edo, Rio, dan Sasongko di mobil lainnya.

Sekitar satu jam menempuh perjalanan, kami sudah berada di Magelang kota. Aku baru saja selesai mengomentari cemilan Pengky yang terasa mlempem ketika tiba-tiba terdengar bunyi “JEDUGGG!!!”. Bagor menyerempet mobil Kijang yang sedang berhenti di pinggir jalan. Bagor tak berhenti untuk menyelesaikan perkara, maka si pemilik Kijang segera mengejar dan memepet mobil kami. Kami pun berhenti. Mobil sedan yang dikemudi Sasongko turut berhenti.

Begitu Bagor turun dari mobil, kebetulan sekali si empunya Kijang cukup galak. Beliau langsung memarahi dan menceramahi Bagor tentang pentingnya bertanggung jawab. Bapak berkumis itu kemudian meminta Bagor menunjukkan SIM-nya. Celaka. Kami semua tahu Bagor belum mengantongi SIM A. Sang bapak mengganas. Setelah puas membentak, akhirnya bapak berperut buncit itu meminta uang ganti rugi sebesar Rp 250 ribu. Kerusakan pada mobil beliau memang tak bisa dibilang ringan. Bagor pun dengan terpaksa merogoh uang sejumlah permintaan si bapak dari dompetnya.

Tak sampai 3 detik setelah urusan selesai, hujan turun dengan lebatnya. Masalah lain pun muncul. Kaca mobil Sasongko cs, mulai dari kaca depan, samping, hingga belakang, sulit diajak kompromi ketika hujan. Tak bisa melihat jalanan dengan jelas. Kami pun berhenti di warung makan yang menawarkan menu andalan ayam goreng dan sambal kosek. Seusai makan, kami mampir ke masjid untuk beribadah.

Pukul 13.30, cuaca kembali bersahabat. Kami pun melanjutkan perjalanan.

Satu setengah jam kemudian, hujan deras kembali menyapa. Saat itu kami sudah sampai di Terminal Secang, yang menurut Pengky sudah tak begitu jauh lagi dari tempat tujuan kami. Namun Sasongko memberi kode bahwa mobilnya tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan, lagi-lagi terkendala masalah kaca. Mengingat hari sudah semakin sore, cuaca sedang tak ramah, dan kondisi mobil yang tak memungkinkan, akhirnya kami memutuskan untuk balik arah. Alias pulang.

Kekecewaan yang amat mendalam membuat kami segan untuk pulang. Diputuskan bahwa kami ke Kyai Langgeng saja sebagai gantinya. Namun mobil Sasongko cs melaju terlalu kencang, meninggalkan mobil Bagor cs yang tak tahu jalan menuju taman bermain tersebut. Kami yang berada di mobil Bagor pun salah arah.

Setelah menyadari adanya kekeliruan jalan, mobil Bagor berputar di sebuah lapangan berlumpur tanpa memperkirakan kejadian yang bakal terjadi selanjutnya: ban mobil terjebak lumpur. Mobil tak bisa bergerak, maju ataupun mundur. Bagor dan Ridho dengan heroiknya meminta para cewek tetap di dalam mobil sementara mereka mendorong mobil di bawah balutan gerimis. Aku merasa seperti naik wahana di Sekaten saat mobil didorong maju, lalu mundur lagi ke tempat semula, maju lagi, mundur kembali… Karena usaha mendorong mereka tak kunjung berhasil, maka aku, Pengky, dan Cici pun ikut turun menyumbang tenaga.

Terjebak lumpur! =))
Setelah berhasil terlepas dari “jebakan”, kami langsung menyusul Sasongko cs yang menunggu sekitar 1 km sebelum Kyai Langgeng. Setelah bertemu rombongan mereka, kami pun berdiskusi lagi. Mendung masih memayungi Kabupaten Magelang, rasanya tidak cerdas jika kami tetap memaksakan diri untuk ke taman bermain yang beratapkan langit itu. Kami pun memutuskan untuk karaokean saja di Jogja. Namun untuk menyenangkan hati Ridho yang belum pernah ke Kyai Langgeng, kami tetap menuju ke sana hanya untuk sekedar lewat. Setelah itu, kami langsung meluncur ke Happy Puppy.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 saat kami tiba di tempat karaokean terkemuka di Jogja tersebut. Setelah sholat, kami langsung bernyanyi sekencang-kencangnya, meluapkan seluruh kekecewaan. Setelah dua jam bernyanyi dan bergoyang, kami pun mengakhiri petualangan, atau lebih tepatnya mengakhiri kemalangan bertubi-tubi, kami pada hari itu. Kami pulang ke rumah masing-masing dengan Umbul Sido Mukti masih berada di ranah angan-angan.

Karaokean

My Rating:★★
Genre: Crime & Drama

Entah kenapa aku mau menonton film sadis ini. Edge of Darkness bercerita tentang Thomas Craven (Mel Gibson), seorang detektif di Kepolisian Boston yang putrinya dibunuh secara mengenaskan. Ia pun berusaha menguak misteri di balik kematian putri semata wayangnya itu.

Banyak adegan pembunuhan dalam film ini, terutama sepanjang usaha penyelidikan Craven. Pembunuhan ditampilkan secara sadis dan mengejutkan, cipratan darah berceceran di mana-mana.

Film ini mampu menggugah rasa penasaran penonton, membawa penonton masuk ke dalam petualangan Craven mencari penyebab pembunuhan putrinya. Menurut teman saya pecinta film action, Edge of Darkness cukup menarik. Tapi maaf, bagiku film ini terlalu sadis.

Tuesday, February 9, 2010

Ditolak cowok, aku sudah biasa. Ditolak rapat jurusan, ini baru kali pertama.

Rapat jurusan untuk membicarakan nasib skripsi mahasiswa Komunikasi telah dihelat pada Jumat (5/2) lalu. Walau demikian, hasil rapat sakti tersebut baru diumumkan hari Senin (8/2) kemarin. Aku dan sejumlah mahasiswa lain yang telah mengumpulkan proposal skripsi tentu menantikan pengumuman itu dengan harap-harap cemas.

Siang itu, sekitar pukul 11.30, kertas pengumuman yang masih hangat setelah di-fotocopy baru saja ditempel di papan. Aku tak langsung melongoknya karena takut. Maka aku mengobrol saja dengan seonggok anak angkatan 2005 –Utup, Pradah, Aji, Adit.

Kemudian lewatlah Listy, salah seorang teman angkatanku yang nasib proposalnya juga ditentukan lewat rapat kemarin. Ia pasti baru saja melihat papan pengumuman. Karena penasaran, aku pun menanyakan nasib proposal skripsiku. Dan Listy pun menjawab, “kayaknya... tiga.”

TIGA. Kode tiga berarti proposal skripsiku DITOLAK. Utup, Pradah, Aji, dan Adit dengan jahatnya langsung menertawakan aku. Mereka tak sadar bahwa duniaku sedang terasa runtuh. Mereka memang mengucap beberapa kata penghiburan seperti “aku dulu juga pernah ditolak” atau “aku dulu malah pernah salah dosen pembimbing,” namun kalimat-kalimat itu lewat begitu saja di telingaku. Mereka kemudian mengantarku melihat pengumuman kampret itu.

Judul proposal skripsiku adalah Sertifikasi SPBU Pasti Pas! dan Citra Pertamina. Alasan penolakan singkat yang tertera di pengumuman adalah “sertifikasi SPBU Pasti Pas! tidak identik dengan pencitraan Pertamina.” Entah apa maksudnya, aku tidak mengerti. Dan aku sudah tidak peduli.

Tak hanya pikiran, bahkan pandang pun menolak dipusatkan. Deretan kata dalam pengumuman itu kian kabur, seiring dengan kian buyarnya impianku untuk lulus cepat. Proposalku ditolak, tandanya aku harus menunggu rapat jurusan satu bulan lagi untuk bisa memulai skripsi. Itu pun dengan catatan dalam waktu satu bulan ke depan aku telah berhasil menemukan dan menyusun tema baru. Kalau tidak? Itu artinya gawat.

Berat rasanya harus mengulang proses lagi dari awal. Mencari tema, memantapkan hati, mencari bahan, menulis proposal, menunggu hasil rapat jurusan. Sumpah, aku sudah malas.

Jangankan menulis proposal, menulis posting-an ini pun sebenarnya aku malas. Tapi tetap kupaksakan menulis agar anak cucuku kelak tahu bahwa ibu atau neneknya ini pernah ditolak proposal skripsinya. Jadi kalau nanti mereka ditolak juga, mereka tahu bahwa penolakan itu adalah gen yang diturunkan oleh aku. Hahaha. Bercanda. Maaf kalau garing.

Maksudku, aku ingin anak cucuku nanti tahu bahwa aku juga pernah ditolak, namun pada akhirnya aku bisa bangkit lagi dan menghasilkan karya skripsi yang spektakuler. Semoga. Amin.
My Rating:★★★
Genre: Romantic comedy

The Proposal berkisah tentang Margaret Tate (Sandra Bullock) yang terancam dideportasi ke Kanada. Jika dideportasi dari Amerika, maka ia akan kehilangan pekerjaannya sebagai editor di perusahaan penerbitan buku. Ia pun meminta asistennya, Andrew Paxton (Ryan Reynolds) yang berkewarganegaraan Amerika untuk berpura-pura menikahinya.

Dengan pernikahan, Margaret tak akan kehilangan jabatan. Sebagai kompensasinya, Margaret berjanji akan mempromosikan Andrew menjadi editor. Meski awalnya hanya pura-pura, namun lama kelamaan kedua insan ini benar-benar saling jatuh cinta.

Sebuah cerita klasik sebenarnya, pasangan yang mulanya dipersatukan oleh perjanjian, pada akhirnya benar-benar jatuh cinta. Jalan ceritanya cukup mudah ditebak, namun kisah romantis yang disajikannya tetap mampu memanjakan mata para penggemar film drama.

Friday, February 5, 2010

Setelah hampir satu bulan merencanakan, akhirnya aku jadi juga melakukan rafting pada hari Minggu (31/1) kemarin. 

Foto dulu bareng temen-temen
Rafting yang kujalani bersama ke-11 temanku –Pengky, Ruli, Kabol, Cipto, Gumas, Bagor, Ridho, Bayu, GS, Andes, Mas Yanto– itu bertempat di Sungai Elo, Magelang. Hanya dengan membayar Rp 550 ribu per boat, satu boat-nya berisi 6 orang, kami bisa mengarungi jeram di sungai itu selama kurang lebih 2 jam.

Rombongan kami tiba di Sungai Elo sekitar pukul 10.00. Setelah melakukan persiapan dan mendapat pengarahan dari sang skipper, kami memulai petualangan. Aku, Ruli, Ridho, GS, Andes, dan Mas Yanto berada dalam satu boat, sedangkan 6 sisanya menempati boat yang lain.

Siap rafting!
Meski bersemangat rafting, tapi sejujurnya aku merasa sedikit, banyak sebenarnya, ketakutan sebelum naik boat. Pada jeram “selamat datang” alias jeram pertama, aku berteriak cukup keras, begitu juga teman-temanku yang lain. Menakutkan memang, walau menurutku masih lebih menakutkan naik bianglala di Purawisata. Namun lama kelamaan rasa takut itu sirna, digeser oleh rasa ketagihan. Aku bahkan sempat melakukan “rodeo”, yaitu duduk di garda depan boat saat jeram mengancam.

Satu jam menempuh rafting, kami mampir sejenak di pos peristirahatan. Di tempat itu, semua teman lelakiku, kecuali Ruli yang penakut, melakukan renang jeram. Mereka terjun bebas ke sungai yang berbatu-batu, pasrah membiarkan arus membawa tubuh mereka.

Sungguh seram melihat teman-teman melakukan renang jeram, bahkan aku pikir mereka sudah gila. Tapi lama kelamaan kegiatan itu mulai mengusik adrenalinku. Setelah dibujuk, ditantang lebih tepatnya, oleh teman-teman, akhirnya aku berani juga terjun bebas ke sungai itu. Namun tampaknya renang jeramku itu tak berjalan mulus. Aku tidak menepi di tempat yang seharusnya, melainkan justru kecantol di seberang sungai.

Kala itu teman-teman hanya bisa berteriak “renang Star, nyebrang!” Aku sebenarnya bisa berenang, tapi sudah setahun lebih tak kujalani olahraga air itu. Kepanikan langsung menyergap. Aku pun memberanikan diri berenang, tapi baru setengah jalan aku sudah megap-megap. Untung ada Cipto dan Ridho yang menolong dengan sigap. Tak terlalu sigap sih sebenarnya.

Sesampainya aku di tepian, baru kusadari tangan dan lututku lecet-lecet. Nggak lagi-lagi deh renang jeram. Apalagi kata Bayu, di daerah tempat kami renang jeram itu terdapat palung arus bawah –aku tak tahu maksudnya, tapi tampaknya mengerikan. Aku sungguh heran Mas Yanto sampai melakukan renang jeram hingga 4 kali.

Setelah puas bermain-main, kami melanjutkan rafting. Seru dan mengasyikkan, satu jam berikutnya terasa begitu cepat saat kami berada di boat.

Seusai rafting, rasa pegal menghantam seluruh tubuhku. Lecet pada tangan dan kaki yang kuperoleh dari renang jeram mulai terasa perih. Tak apalah, rasa pegal dan lecet itu cukup setimpal dengan keseruan yang kudapatkan selama rafting.
My Rating:★★★★★
Genre: Romantic comedy

50 First Dates merupakan salah satu film favorit saya. Sebuah film lama, namun kisah romantis yang disajikannya tak pernah lekang ditelan jaman.

Film ini bercerita tentang kehidupan Henry Roth (Adam Sandler), seorang dokter hewan di sebuah taman di Hawaii. Ia takut berkomitmen dengan wanita, oleh karenanya ia biasa mengencani para turis yang datang ke Pulau Hawaii.

Hidup Henry berubah sejak bertemu dengan Lucy Whitmore (Drew Barrymore), seorang gadis cantik penduduk setempat. Namun rupanya Lucy mengidap Goldfield Syndrome, penyakit tak mampu mengingat kejadian jangka pendek. Setiap hari Henry harus memperkenalkan diri lagi kepada Lucy, karena esoknya Lucy sudah lupa padanya.

Perjuangan Henry untuk mendapatkan cinta Lucy benar-benar patut diacungi jempol, amat menyentuh hati. Film yang disutradarai oleh Peter Segal ini hukumnya wajib tonton bagi penggemar film drama romantis.

Monday, February 1, 2010

Gu Jun Pyo, demikian gadis itu biasa memanggilku.

Nama itu dicuplik dari nama tokoh pemeran utama pria dalam serial drama korea favoritnya. Ya, gadis berusia seperlima abad itu memang penggila drama asia. Dulu, setiap Senin malam, ia tak pernah ketinggalan menonton serial drama asia yang diputar di televisi. Acap kali, justru televisi layar datar itu yang gantian menontonnya, karena si gadis tertidur saking lamanya iklan menyela.

Namun sekarang, entah kenapa, aku sudah tak pernah lagi melihat gadis berambut panjang itu menyaksikan drama asia. Barangkali karena ia sudah jenuh, mungkin juga sebab tak sempat, atau bisa jadi karena televisi itu sudah berhenti menayangkan serial kegemarannya tersebut. Aku tak tahu, dan tak pernah tahu. Yang aku tahu, gadis berkulit sawo matang itu tetap menyebutku Gu Jun Pyo.

***

Malam itu, bulan mengintip malu-malu dari kediamannya. Awan mendung menggelayut tipis di langit tanpa bintang. Angin meniup keras. Gadis itu menghambur masuk ke kamar tidurnya dengan mata sembab. Ia membanting tubuh mungilnya ke arahku, dan mulai terisak.

“Gu Jun Pyoooo...” raungnya.

Dengan seluruh tenaga yang dimiliki, ia memukul-mukul badanku. Tampaknya ia sedang kesal. Belum pernah aku melihatnya semarah dan sesedih ini. Aku hanya terdiam, membiarkannya meluapkan emosi, memuntahkan lahar dalam hati.

“Gu Jun Pyoooo...” rintihnya lagi.

Daya pukulnya sedikit berkurang. Namun gadis itu tetap menangis, terus menangis, dan masih akan menangis. Dan aku, meskipun ingin, hanya bisa diam tanpa melontarkan sepatah kata penghiburan.

Jarum panjang pada jam dinding merah polos telah merangkak sejauh enam angka. Sudah setengah jam air matanya titik. Tangisnya kini perlahan mulai reda, sepertinya sepasang bola mata besar itu sudah mulai kehabisan cadangan air mata. Matanya merah, rambutnya berantakan. Gadis manis itu terlihat kacau.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana jeans-nya. Ia belum berganti pakaian sejak tiba tadi. Ibu jarinya kemudian bergerak lincah di atas tombol-tombol handphone. Kiranya ia sedang mengirimkan pesan singkat kepada sahabat-sahabatnya. Sesekali ponselnya berdering, namun ia me-reject panggilan yang masuk.

Gadis itu kemudian mengambil bingkai foto yang ada di atas meja belajar. Bingkai itu memenjarakan foto seorang pria yang sedang tertawa lebar memamerkan kilau giginya. Ya, lelaki itu adalah kekasih sang gadis.

Gadis itu membebaskan foto tersebut dari bingkainya yang berwana hijau cerah. Dengan tangan gemetar, ia menyobek foto sang kekasih. Senti demi senti. Perlahan, tapi penuh keyakinan. Ia lalu meremas foto yang telah terbelah menjadi dua, membentuknya menjadi sebuah bola kecil. Ia lemparkan ke sudut kamar, dan tangisnya menggema lagi.

Aku sudah hafal betul perilakunya. Semarah apa pun dengan sang pacar, ia tak pernah sampai hati menyobek, apalagi meremas foto itu. Paling banter, bingkai fotonya yang ia banting ke arahku. Jadi kalau kini ia sampai bertindak seekstrim ini, berarti...

Hmm... lamat-lamat aku mulai mengerti. Tampaknya kisah cintanya dengan lelaki itu sudah tinggal sejarah. Mereka putus. Pantas saja malam ini ia menangis sejadi-jadinya. Betapa dahsyatnya kekuatan cinta, mampu memukul gadis itu sampai ke ulu hati. Yah... cinta, sebagaimana halnya dengan benda, juga mempunyai bayang-bayang. Dan bayang-bayang cinta itu bernama derita.

Khayalanku berwisata menuju kejadian beberapa tahun silam, saat hubungan mereka masih mesra-mesranya. Kala itu ia kerap melonjak kegirangan ketika menerima telepon dari kekasihnya. Sebelum tidur, ia tak pernah absen membacai ulang SMS-SMS penuh kasih dari sang pacar.

Tapi memang kusadari, belakangan ini ada yang berubah dari kebiasaan malam gadis belia itu. Ia tak lagi segirang dulu saat ditelepon pacarnya, tak lagi mengoleksi kata-kata puitis yang dirangkai sang pangeran hati melalui pesan singkat.

Kini tiap malam lebih banyak ia habiskan dengan chatting melalui messenger di ponselnya, entah chatting dengan siapa. Yang jelas si gadis kerap tertawa sendiri seperti orang gila, tapi tak jarang pula tiba-tiba menaruh ponselnya dengan muka tertekuk. Dan aku tak tahu kenapa.

Gadis itu kini mulai terlelap. Ia kelelahan usai menangis. Mata bengkaknya terpejam. Kupandangi setiap inci wajahnya.

Gadis itu, aku begitu dekat dengannya. Aku bisa melihat setiap detail kegiatannya di malam hari. Namun aku tak tahu, tak pernah tahu pasti apa yang sedang ia rasakan, ia pikirkan, ia renungkan. Aku tak tahu, sungguh. Aku tak paham, meski aku ingin. Dunianya terlalu rumit, terlalu rumit untuk dimengerti seonggok tempat tidur sepertiku.


Image: fashionandhappify.info
Cerpen yang kutulis untuk memenuhi tantangan Ardi Wilda ini kupersembahkan sepenuhnya untuk Gu Jun Pyo, my beloved bed.