Thursday, April 29, 2010

Sudah hampir sebulan sejak terakhir kali aku menghadap dosen pembimbing skripsi. Akhirnya aku kembali menemui beliau, Rabu (28/4). 

Bimbinganku pagi itu terbilang menyenangkan dibanding pertemuan sebelumnya. Usai membaca bab I-ku, sang dosen berujar bahwa alur pemikiran dalam skripsiku sudah dapat diterima. Beliau lalu menyodorkanku sebuah buku tebal, warnanya putih, dijilid spiral. Rupanya, semua mahasiswa bimbingannya diharuskan menulis biodata di buku itu. Buku tersebut nantinya juga berisi progress masing-masing mahasiswa pada setiap bimbingan. 

Selain menyuruhku mengisi lembar biodata, sang dosen juga menandatangani form 1-ku. Itu artinya, kini aku sudah resmi menjadi mahasiswa bimbingannya. Beliau telah bersedia menerimaku... Sungguh, aku terharu. Konon, ada seorang mahasiswa yang, berdasarkan hasil rapat jurusan, menjadi mahasiswa bimbingan dosen itu. Namun lima bulan berjalan, beliau tak kunjung menandatangani form 1 mahasiswa tersebut. Mahasiswa itu kemudian memutuskan untuk ganti dosen, dan berkaitan dengan itu ia juga ganti tema. Tak berlebihan kan jika kini aku amat girang karena form 1-ku telah ditandatangani? 

Namun di-acc-nya form 1 belum berarti bab I-ku beres. Banyak sekali revisi yang harus kulakukan. Untuk menunjang bab I-ku, sang dosen berbaik hati meminjami tiga buku tebal berbahasa Inggris. Selain itu, beliau juga menyuruhku mencari tiga buku lain yang judulnya berkaitan dengan “analisis resepsi”. Kemudian kami akan mendiskusikan isi buku-buku tersebut pada bimbingan selanjutnya. Glek. Banyak sekali PR-ku. Tapi seperti kata Bondan dan Fade to Black pada lagu terbaru mereka, “Ya Sudahlah.” 

Ya sudahlah, kerjakan saja perintah beliau. Ucapan dosen pembimbing adalah sabda. Yang penting form 1-ku sudah ditandatangani...

Saturday, April 24, 2010

Rating:★★★
Genre: Drama

Pada suatu malam, seorang profesor bernama Parker Wilson (Richard Gere) menemukan anjing di peron stasiun sepulang dari perjalanannya. Ia menyerahkan anjing itu ke penjaga stasiun, namun si penjaga justru menyuruhnya membawa pulang.

Setibanya di rumah, istri Parker langsung menggelengkan kepala melihat anjing yang dibawa pulang suaminya. Maka esok harinya, Parker membawa si anjing ke tempat penampungan. Namun sudah takdir, tempat penampungan anjing sudah penuh dan tidak menerima anjing baru.

Parker pun memutuskan untuk merawatnya selama beberapa hari. Ia memanggil anjing tersebut Hachi, yang artinya delapan dalam Bahasa Jepang. Saat ditemukan, anjing itu memang memakai kalung dengan angka delapan dalam tulisan Jepang di lehernya.

Hari demi hari berlalu, kedekatan semakin terjalin antara Parker dan Hachi. Tiap pagi dan sore, Hachi selalu mengantar dan menjemput Parker di stasiun. Istri Parker pun akhirnya mengijinkan Hachi untuk dipelihara.

Cerita dalam film berjudul Hachiko: A Dog’s Story tersebut menggambarkan kesetiaan seekor anjing pada tuannya. Film ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Jepang. Secara keseluruhan, film ini cukup mengharukan.

Meski demikian, sejujurnya aku kecewa menonton Hachiko: A Dog’s Story. Sebelum menonton, aku mengira bahwa film ini amat menyedihkan, mampu membuat air mata berlinangan. Namun rupanya, aku berekspektasi berlebihan. Hachiko: A Dog’s Story kurang total dalam menggambarkan kedekatan kakek dan Hachi, kedekatan mereka berdua terlalu ‘biasa’. Oleh karenanya, ia gagal membangkitkan emosi sedih yang mendalam dari pemirsa. Seingatku, air mataku mengalir lebih deras saat menonton Marley & Me dibanding film ini. Jika memang bukan aspek kesedihan yang Anda incar, maka silakan menonton Hachiko: A Dog’s Story.

Thursday, April 15, 2010

Tiga hari lalu aku merayakan tanggal kelahiran untuk ke-22 kalinya dalam hidupku.

Usiaku ini sungguh membuatku merasa tua. Semakin banyak orang yang memanggilku dengan sapaan “Mbak” karena memang umur mereka lebih muda. Bahkan, peserta reality show “Take Me Out Indonesia” saja banyak yang usianya lebih muda dibanding aku.
Tapi aku menolak dibilang tua, aku memilih dikatakan matang. Tahun depan mungkin aku sudah memiliki pekerjaan tetap, tahun depannya lagi barangkali aku sudah siap menikah, dan tahun berikutnya aku telah punya bayi. Wow. Roda kehidupan berputar amat kencang.
Namun sebelum menginjak usia 23, aku memiliki sejumlah target yang harus kupenuhi. Semoga saja bisa kujalankan semua. Amiiiin... 

Jadi Sarjana 
Rasanya sudah menjadi impian semua mahasiswa Komunikasi UGM 2006 untuk lulus secepatnya, kecuali bagi mereka yang tidak ingin. Saat ini aku masih merangkaki bab 1 skripsi, tapi semoga saja waktu setahun ini cukup untuk mengkhatamkan penggarapan skripsiku.
Ada beberapa alasan yang membuatku ingin lekas menyandang gelar sarjana: (1) permintaan orang tua, (2) keinginan memakai selempang cumlaude pada hari kelulusanku nanti, dan yang paling krusial (3) ketakutan akan diberhentikannya tayangan “Take Me Out Indonesia” sebelum skripsiku tuntas. 

Magang, Kerja Sambilan, atau Apalah yang Sanggup Menambah Pengalaman dan Menghasilkan Uang 
Poin ini bisa dibilang untuk sementara telah kupenuhi, meski aku hanya dikontrak 4 bulan saja untuk pekerjaanku kini. Harapanku, aku bisa tetap selalu produktif sepanjang tahun. Selain bisa menambah daftar pengalaman di CV dan bisa glamor dengan uang sendiri, aku juga jadi punya alasan jika orangtuaku menanyakan alasan mandegnya skripsiku. Hahaha... 

Bertemu Jodoh 
Salah satu cita-citaku adalah menikah pada usia 25. Itu artinya, waktuku tinggal tiga tahun lagi untuk menemukan Mr. Right. Meski sudah diburu waktu, tapi tetap harus berhati-hati dalam mencari. Daripada sudah menjalani hubungan selama empat tahun tapi akhirnya putus... Lebih baik dipertimbangkan masak-masak sebelum menjalin hubungan.

Tiga target tersebut rasanya sudah cukup, cukup berat untuk kupenuhi. Semoga Allah selalu memberi petunjuk dan kemudahan dalam meraihnya, amiiiin.....

Thursday, April 8, 2010

Entah lingkungan kampus yang kian tak aman, entah aku yang cukup ceroboh. Yang jelas, peristiwa hilangnya dompetku bisa dibilang cukup aneh. 

Kejadiannya Rabu (7/4) siang. Saat itu aku sedang duduk di salah satu meja kantin FISIPOL bersama Pipit, Mbak Nadia, dan Asep. Kemudian datanglah Viki, temanku yang memiliki pekerjaan sampingan berdagang cimol kering (molring). Tempo hari aku sudah memesan 3 bungkus molring, maka transaksi jual-beli pun terjadi begitu aku bertemu Viki. Saat itulah aku mengeluarkan dompet putihku. 

Seusai membayar, Viki langsung pergi. Aku langsung memasukkan dompet ke dalam tas. Pipit, Mbak Nadia, dan Asep mengaku melihat detik-detik saat aku memasukkan dompet. 

Sekitar 15 menit kemudian, kami berempat meninggalkan kantin untuk menuju Kepel, tongkrongan mahasiswa Komunikasi. Jarak antara kantin dan Kepel tak terlalu jauh, tak sampai 3 menit berjalan kaki. 

Saat menuju Kepel, aku berpapasan dengan Didi, adik angkatanku yang memiliki side job berjualan pulsa. Aku berhutang kepadanya, maka aku segera mencari dompet dari dalam tas. Tapi... naas, dompetku sudah raib!  

Aku langsung kembali ke kantin, siapa tahu ketinggalan di sana. Meja kami tadi sudah ditempati oleh segerombolan mahasiswi. Aku pun menanyakan ihwal dompet putihku, namun mereka mengaku tak melihatnya. Aku bertanya pada si abang berkupluk tukang beres-beres meja, namun ia menggeleng tanda tak tahu. Aku bertanya pula pada ibu berjilbab di balik meja kasir, namun hasilnya tetap nihil. 

Kemudian aku meminta teman-temanku memeriksa tas masing-masing, siapa tahu terbawa. Bahkan Viki pun ditelepon, siapa tahu terbawa beserta dagangan molringnya. Namun lagi-lagi aku harus kecewa. Teman-teman lalu membantuku membuat pengumuman dompet hilang yang kemudian ditempel di papan pengumuman. 

Setelah itu kami menganalisis, kira-kira kapan dan bagaimana dompetku hilang. Saat di kantin, aku memang menaruh tas di belakangku dengan posisi ritsleting terbuka. Tapi kalaupun dompetku diambil orang pada saat tasku berada di belakang, seharusnya ketiga temanku melihatnya karena mereka duduk berhadapan denganku. 

Jadi mungkin saja dompetku jatuh tapi aku tak sadar, lalu ada orang yang cukup sigap mengambilnya saat kami berjalan menuju Kepel. Entahlah. Aku masih cukup shock untuk memikirkannya. Uang sejumlah Rp 60 ribu, SIM, STNK, KTP, KTM, kartu perpustakaan, fotoku bersama Fauzi Baadilla, semua ada di dalam dompet. 

Asep kemudian mengantarku ke kantor polisi untuk membuat surat keterangan hilang. Aku makin stres saat sang polisi memberi tahu bahwa aku harus membuat iklan kehilangan di radio dan media cetak lokal sebelum bisa mengurus STNK baru. Duh piye ikiiiiii??!! 

Setibanya di rumah, aku sudah lemas. Tapi kondisiku rupanya tak membuat Mamaku prihatin. Beliau justru memarahiku habis-habisan karena hilangnya dompetku. Nasiiiiiiibbbbbbbbbb........

Kini aku hanya bisa berharap, semoga ada orang baik yang menemukan dompetku dan mengembalikannya... Amin.
Rating:★★★
Genre: Action & Fantasy

Kisah pada Clash of The Titans bermula saat seorang nelayan menemukan bayi di dalam peti yang terapung di laut. Bayi itu kemudian diberi nama Perseus (Sam Worthington).

Pada suatu ketika, umat manusia merasa lelah harus tunduk kepada para dewa. Mereka melakukan pemberontakan yang membuat Dewa Zeus (Liam Neeson) murka. Dewa Zeus pun mengutus adiknya, Dewa Hades (Ralph Fiennes), untuk memberi pelajaran pada manusia. Dengan senang hati Dewa Hades melakukannya. Rupanya, ia memiliki tujuan lain, yaitu menggulingkan kekuasaan Dewa Zeus.

Saat Dewa Hades berusaha memberi pelajaran pada manusia, barulah diketahui bahwa Perseus adalah manusia setengah dewa. Ia merupakan anak dari Dewa Zeus dengan seorang wanita biasa. Dengan bantuan Dewa Zeus, Perseus berusaha menghentikan usaha Dewa Hades menghancurkan manusia.

Jalan cerita pada Clash of The Titans cukup menarik dan mudah dicerna. Film ini juga menyajikan visual effect yang cukup baik. Meski demikian, film berdurasi dua jam ini kurang menawarkan ketegangan dalam setiap petualangan yang dialami Perseus.

Thursday, April 1, 2010

Unit Fotografi (UFO) UGM merayakan ulang tahunnya yang ke-19, Rabu (31/3) malam.

Tak kurang dari 50 orang hadir pada acara yang dihelat di Gelanggang Mahasiswa UGM tersebut. Perayaan diawali dengan pembukaan pameran foto, dilanjutkan dengan acara hiburan. 

Pameran foto

Pembukaan pameran foto ditandai dengan pengguntingan pita oleh Ririn selaku ketua UFO UGM. Setelah resmi dibuka, para pengunjung dapat menikmati 35 foto yang dipamerkan sembari menikmati cemilan yang telah disediakan.

Pameran yang digelar di Ruang Sidang I Gelanggang Mahasiswa UGM itu masih akan berlangsung hingga Minggu (4/4). Adapun tema yang diangkat pada pameran ini adalah “Low Light”.

Menurut Brinalloy Yuli selaku ketua panitia pameran, tema “Low Light” dipilih karena teknik pemotretan dengan cahaya minim tersebut memiliki tingkat kesulitan tersendiri. “Foto yang dipamerkan merupakan hasil karya calon anggota UFO selama diklat. Karena kami (calon anggota, -Red) masih baru, maka tema ini dipilih agar proses kreatif kami dapat terbentuk dari awal,” papar Brinalloy. 

Acara hiburan

Setelah menikmati foto-foto yang dipamerkan, pengunjung diajak menuju hall Teater Gadjah Mada untuk mengikuti acara doa dan prosesi pemotongan tumpeng. Perayaan ulang tahun kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan dari Paduan Suara Mahasiswa UGM dan Gama Band, ditutup dengan konser dangdut.
Banyak teman memprediksi bahwa aku akan menangis sepanjang penggarapan skripsi di bawah arahan dosen pembimbingku. Dosenku ini memang terkenal perfeksionis, beliau sendiri mengakuinya. Tapi sudah dua minggu berjalan dan aku belum menangis. Belum.

Kemarin (31/3) aku menghadap sang dosen pembimbing untuk yang ketiga kalinya selama bimbingan. Karena sudah dua kali berkonsultasi, kukira aku telah cukup terbiasa dengan berbagai kritikan pedas beliau. Oh iya, sekedar informasi, skripsiku mengangkat tema tentang tayangan televisi favoritku, Take Me Out Indonesia.

Pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, aku tak terlalu ambil pusing dengan masukan dosen gaul yang satu ini. Tapi bukan berarti aku mengabaikannya, bukan. Aku tetap mendengarkan beliau, serta merevisi skripsi berdasar saran beliau. Namun aku tidak terlalu memikirkan setiap ucapannya, tetap santai meski banyak menerima kritikan.

Setelah menemuinya pada Rabu (24/3) lalu, aku menentukan deadline bagi diriku sendiri untuk menyelesaikan kerangka pemikiran dalam waktu seminggu. Namun karena ketidakdisiplinanku sendiri, hingga Senin (29/3) kemarin skripsiku belum menunjukkan progress berarti.

Demi memenuhi deadline yang telah kubuat, aku pun menggunakan sistem SKS (Skripsi Kebut Semalam). Hasilnya bisa ditebak. Menemui dosen perfeksionis dengan hanya berbekal satu malam sama saja dengan bunuh diri. Luar biasa sekali kritikan membangun yang harus kulahap. Dan akibatnya, kini aku stres. Jutaan masukan beliau saling berebut posisi di otakku, hingga rasanya kepalaku mau meledak. Bahkan, menulis kalimat yang barusan pun mengingatkanku pada salah satu kritiknya, “kamu terlalu banyak menggunakan metafora...” Hahaha… Tampaknya memang aku yang keterlaluan.

Kini aku tengah kegerahan diselimuti kebingungan: aku harus mulai revisi dari mana, direvisi menjadi bagaimana, nanti jika setelah revisi masih saja salah aku harus bagaimana... Tidaaaaaaaaaaaakkkkkk! Membayangkannya saja sudah membuatku pusing. Tapi yang perlu digarisbawahi dalam tulisan ini adalah, sudah dua minggu dan aku belum menangis. Belum.
My Rating:★★★
Genre: Adventure & Fantasy

Akhirnya aku jadi juga menonton film yang satu ini. Alice in Wonderland bercerita tentang Alice Kingsleigh (Mia Wasikowska) yang sejak kecil selalu bermimpi tentang kelinci berjas, ulat bulu berwarna biru, dan hal ganjil lainnya.

Pada saat ia berumur 19 tahun, tepatnya saat ia sedang dilamar oleh seorang lelaki, tiba-tiba muncul sosok kelinci berjas yang selama ini hadir di mimpinya. Alice pun meninggalkan acara lamaran, mengikuti kelinci tersebut hingga terperosok ke dalam lubang yang membawanya ke Wonderland. Berbagai petualangan dialami Alice di negeri ini.

Alice in Wonderland berhasil menduduki Box Office Amerika selama beberapa pekan. Meski demikian, banyak temanku yang berpendapat bahwa film ini jelek, jalan ceritanya terlalu sederhana. Menurutku sendiri, Alice in Wonderland lumayan menghibur, meski aku kurang suka dengan ending-nya. Semua orang punya penilaian masing-masing, silakan tonton dan berikan penilaian Anda.