Thursday, May 20, 2010

Aku kembali menghadap dosen pembimbing skripsi dengan membawa revisi bab I, Rabu (19/5) pagi. Tak lupa juga aku menjinjing tiga buku tebal berbahasa Inggris milik beliau untuk kukembalikan. 

Secara keseluruhan, bimbingan kelimaku dengannya ini bisa dibilang berjalan cukup lancar. Beliau memuji latar belakang di bab I-ku. “Mengesankan,” begitu katanya. Subbab kerangka pemikiran juga hanya beberapa bagian saja yang masih perlu ditambal-sulam. Beliau betul-betul terlihat 'jinak', sampai akhirnya ia membaca halaman 13 yang berisi subbab metodologi penelitian.

“Tradisi komunikasi apa yang kamu gunakan dalam penelitian ini?” sebuah pertanyaan terlontar dari mulut beliau.

Glek. Aku hanya terdiam.

Belum sempat kujawab, beliau mengujiku dengan pertanyaan lain, “bagaimana sejarah analisis resepsi?”

Ehm. Modar aku. Karena tidak bisa menjawab, aku cuma cengengesan.

Sederet pertanyaan lain kemudian ia ajukan. Beberapa kali kucoba untuk menjawab, beberapa kali pula jawabanku ia nyatakan salah.

Beliau pun menerangkan mengenai pentingnya tradisi komunikasi sebagai pijakan sudut pandang dalam penelitian. Teori tentang ketujuh tradisi komunikasi sebenarnya terdapat dalam salah satu buku yang telah ia pinjamkan padaku, namun jujur saja aku tak paham saat membacanya. Maka aku hanya pasrah saat terlihat bodoh di depan beliau.

Dosen pembimbing skripsiku ini kemudian browsing mengenai analisis resepsi dengan komputernya. Begitu menemukan satu artikel menarik berbahasa Inggris, ia langsung menge-print dan memberikannya padaku. Hmmm... baca lagiii... bahasa Inggris lagiii... selalu ada oleh-oleh seusai bimbingan.

Dari pertemuan selama satu seperempat jam tersebut, ada satu kalimatnya yang terus terngiang di telingaku, “kamu nggak serius bikin skripsi ini.” Whaaat??!! Jatuh bangun aku menulis bab I, ia menganggapku nggak serius. Anggapan beliau ini tampaknya gara-gara aku terlalu banyak cengengesan di depannya. Tapi bodohnya, setelah beliau mengatakan kalimat itu, aku malah kembali cengengesan.

Waktu terus berlari, tak ada gunanya sakit hati memikirkan anggapan beliau. Sudah dua bulan dan bab I-ku belum juga tuntas. Aku harus lebih memacu diri lagi, lagi, dan lagi.

Tuesday, May 11, 2010

Rating:★★★
Genre: Comedy

Cerita pada The Bounty Hunter berpusat pada sepasang mantan suami-istri, Milo (Gerard Butler) dan Nicole (Jennifer Aniston). Saat Milo sedang amat membutuhkan uang, ia ditawari bayaran menggiurkan untuk melakukan suatu tugas, yaitu menyeret Nicole ke pengadilan. Berbagai cara dilakukan Milo untuk menangkap Nicole, namun beribu jalan pula ditempuh Nicole untuk melarikan diri.

Menurutku, jalan cerita pada The Bounty Hunter cukup membingungkan, tak seperti film drama komedi biasanya yang mudah dipahami. Film berdurasi 106 menit ini juga kurang menampilkan suasana romantis.

Meski demikian, Andy Tennant selaku sutradara mampu menutup film ini dengan indah. Adegan pada ending film ini merupakan favoritku dalam The Bounty Hunter. Bagaimana dengan adegan favorit Anda?