Tuesday, June 22, 2010

Akhirnya tiba juga saatnya aku mencapai kondisi buntu. 

Untuk kesekian kalinya aku mengumpulkan revisi bab I kepada dosen pembimbing, Senin (21/6). Lagi-lagi aku diminta merevisi bagian yang sama, yaitu alasan pemilihan lokasi penelitian dan tahapan analisis resepsi.

Menurut beliau, alasan pemilihan situs penelitianku masih kurang kuat. Sang dosen pembimbing khawatir aku akan diserang dengan dosen penguji skripsiku kelak ihwal hal ini.

Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa tahapan analisis resepsi harus didasari dengan buku atau teori yang ada.

“Analisis resepsi bukan teori baru. Masa nggak ada sih buku yang njelasin tentang tahapan analisis resepsi?” begitu katanya.

“Emang nggak ada, Mas,” jawabku.

“Mungkin hanya permasalahan cara membaca... Kalau ada buku yang nggak kamu pahami isinya, bawa aja ke saya. Akan saya bantu jelaskan... Saya nggak bisa terus-terusan meminjamkan buku yang kamu butuhkan,” ujar sang dosen.

Aku hanya terdiam sambil membatin, ‘tapi kayaknya emang nggak ada, Mas... Huhuhuhu...'

“Minggu ini, kamu harus selesai revisi. Biar bulan depan bisa turun ke lapangan... Mumpung lagi liburan, kan...” tambah beliau.

“Siap, Mas,” ucapku sambil bersungut dalam hati, ‘mauku juga bulan depan udah turun ke lapangan, Mas...'

Sesi konsultasiku pun berakhir dengan kebuntuan merajalela di otakku. Ke mana lagi aku harus mencari bahaaaannnnn?????

Saturday, June 12, 2010

Rating:★★★
Genre: Drama

Masih seperti film pertamanya, Sex and The City 2 berkisah tentang kehidupan empat sahabat, Carrie (Sarah Jessica Parker), Samantha (Kim Cattrall), Charlotte (Kristin Davis) dan Miranda (Cynthia Nixon). Carrie kini sudah dua tahun menikah, mulai merasakan kegelisahan dalam kehidupan rumah tangganya. Samantha yang telah bercerai dengan suaminya, sibuk merawat diri agar terlihat awet muda. Charlotte yang telah dikaruniai dua anak, mulai khawatir suaminya berselingkuh dengan pengasuh anak-anaknya yang seksi. Sementara itu Miranda, ia baru saja memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.

Saat mereka sedang butuh pelarian dari dunia masing-masing, Samantha memperoleh empat tiket liburan gratis ke Abu Dhabi. Berbagai petualangan mereka alami di negeri ini.

Sex and The City 2 sungguh mampu mengocok perut. Dengan keglamoran yang ditampilkan, terselip berbagai kebodohan yang menggelikan. Meski harus diakui bahwa film ini tidak mendidik, namun Sex and The City 2 merupakan film yang cukup menghibur.

Monday, June 7, 2010

Tampaknya suasana hati dosen pembimbingku Jumat (4/6) pagi itu sedang cerah. 

Begitu aku menyerahkan Bab I, beliau sudah tidak memeriksa bagian latar belakang dan kerangka pemikiran lagi. Ia langsung membuka subbab metodologi dan menanyakan lokasi penelitian skripsiku. Begitu kujelaskan letak situs penelitianku beserta alasannya, beliau tidak banyak mengritik.

Sang dosen pembimbing kemudian lebih banyak berceramah mengenai ketiga perspektif dalam analisis resepsi. Menurutnya, perspektif yang kugunakan akan amat menentukan pertanyaan dalam interview guide-ku kelak.

Setelah beliau usai menerangkan dengan panjang lebar, satu pertanyaan bodoh keluar dari mulutku, “paling gampang pake perspektif yang mana, Mas?"

Ia pun dengan sabar menjelaskan bahwa tidak seharusnya aku mempersoalkan gampang atau sulitnya sebuah perspektif. Perspektif dipilih sesuai dengan kebutuhan dalam penelitian. Aku pun hanya bisa cengengesan.

Hmm... setelah bergulat dengan ketujuh tradisi komunikasi, sekarang aku harus mempelajari tiga perspektif analisis resepsi. Yang membuatku resah, dari hampir semua buku mengenai analisis resepsi di perpustakaan yang telah kubaca, seingatku tidak ada satu pun yang membahas tentang ketiga perspektif tersebut. Lalu ke mana aku harus mencari tahu? Yah... nanti akan coba kutanyakan pada Mbah Google.

Selain persoalan perspektif, sang dosen pembimbing juga memintaku untuk memperbaiki tahapan penelitian. Menurut beliau, aku masih kurang rinci dalam memaparkan poin tahapan analisis hasil penelitian.

Dari bimbinganku kali ini, ada satu kalimatnya yang amat memompa semangatku. Beliau berkata, “melihat progress yang kamu lakukan, menurut perkiraan saya kamu sudah bisa terjun ke lapangan akhir bulan ini...”

Woooooowwww!!! Aku jadi semangat untuk segera merevisi kembali Bab I. Semoga revisi ini merupakan yang terakhir kalinya untuk Bab I-ku. Amiiiiin....
Mungkin aku memang nggak gaul. Aku baru tahu beberapa hari lalu ihwal cara melakukan quick count. 

Kabupaten Sukoharjo mengadakan Pemilihan Kepala Daerah Langsung Bupati dan Wakil Bupati, Kamis (3/6). Terkait hal tersebut, Jaringan Suara Indonesia (JSI) berniat untuk melakukan penghitungan cepat (quick count) pada pemilihan tersebut. Tujuannya, selain untuk mengetahui secara lebih cepat pemenang pemilihan, juga untuk menjadi pembanding hasil penghitungan manual oleh panitia pemilihan.

Karena sedang membutuhkan uang, maka saya pun mendaftar sebagai relawan JSI untuk melakukan quick count. Cara melaksanakan quick count rupanya cukup mudah.

JSI mengirim sejumlah relawan ke beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) secara acak. Segera setelah penghitungan suara di tiap TPS selesai, para relawan diminta mengirimkan SMS ke nomor server tertentu. Namun memang, ada sejumlah prosedur ketat dalam pengiriman SMS. Sebelumnya, tiap relawan telah diberi nomor handphone yang hanya berlaku untuk mengirim hasil dari TPS tempat ia bertugas. Selain itu, relawan juga harus menulis passkey terlebih dahulu dalam SMS, dan hasil penghitungan suara diketik dengan format tertentu.

Setelah SMS dikirim, relawan akan menerima SMS balasan dari nomor server. Jika 5-10 menit setelah SMS dikirim belum ada balasan, maka relawan harus mengirim ulang SMS ke nomor server cadangan. Para relawan memang harus sigap, agar pada pukul 16.00 JSI sudah bisa melakukan konferensi pers tentang hasil quick count.

Demikianlah cara penghitungan quickcount. Semoga dapat memberi gambaran bagi Anda yang belum tahu...

Tuesday, June 1, 2010

Sabtu (29/5) pagi, aku mendapat SMS dari Pak Wahyu, Manajer Gelanggang Mahasiswa UGM. Beliau memintaku hadir mewakili UGM pada acara social meeting yang digelar Akademi Angkatan Udara (AAU) malam itu.

Meski sama sekali tak tahu acara apa yang harus kudatangi, aku menyanggupi untuk datang karema memang sedang tidak ada acara. Pak Wahyu kemudian mengatakan bahwa rombongan UGM akan dijemput bis AAU pukul 17.15 di Gelanggang Mahasiswa.

Sorenya, hujan deras yang mengguyur memaksaku untuk datang terlambat setengah jam. Saat aku tiba, bis AAU berwarna biru sudah pergi membawa rombongan UGM. Aku bersama kedua teman yang juga datang terlambat lalu berangkat diantar Pak Wahyu.

Makan makan 

Sesampainya di Gedung Sabang Merauke AAU –tempat diselenggarakannya social meeting- rupanya Pak Wahyu harus langsung pergi. Aku dan teman-teman ditinggal sendiri di tempat asing, di tengah para pria wangi berambut cepak berbadan tinggi tegap. Sesekali kulihat para lelaki itu memasang gerakan hormat saat berpapasan satu dengan lainnya.

Kami kemudian bertanya pada salah satu anak AAU, di mana rombongan UGM yang telah berangkat sebelumnya menggunakan bis. Ia kemudian mengantar kami masuk ke dalam gedung, menunjukkan letak teman-teman senasib. Aku cukup terkejut saat melihat pemandangan di dalam gedung. Terlihat banyak anak AAU yang duduk berpasangan dengan perempuan cantik mengenakan gaun, berdandan all-out. Acara apa ini sebenarnya?

Lelaki yang mengantar kami, yang akhirnya kuketahui bernama Rizki, menjelaskan bahwa social meeting adalah ajang berinteraksi AAU dengan masyarakat luar. Masyarakat luar? Hmmm... Dekorasi panggung bergambar sepasang laki-laki dan perempuan yang sedang berdansa membuatku berpikir tentang hal lain.

Pukul 19.00 tepat, acara pun dimulai. Gubernur AAU memberikan sambutan singkat sebelum akhirnya kami dipersilakan menyantap hidangan di halaman gedung.

Acara makan malam itu berformat prasmanan, dengan berbagai macam santapan lezat disajikan. Saat rombongan kami sedang menikmati makanan, tiba-tiba ada anak AAU meminta ijin untuk bergabung. Kami pun mengobrol dengannya, dan beberapa anak AAU lain menyusul bergabung.

Namun sesi makan malam rupanya hanya berlangsung singkat. Belum sempat aku mengambil melon segar, acara berikutnya sudah dimulai. Bahkan pudingku pun belum habis. Kuambil Aqua gelas di meja dan kuminum sambil jalan. 

Mantap! 

Acara selanjutnya adalah penampilan dari apa yang mereka sebut Brass Band. Bentuknya seperti drum band, tapi memang hanya terdiri dari pemain Brass. Beberapa lagu pop masa kini mereka bawakan sambil bergoyang. Seusai mereka tampil, para anak AAU bertepuk tangan kaku lalu berseru serentak sambil mengacungkan telunjuk, “Mantap!” Aku hanya melongo melihat pemandangan wagu itu.

Namun rupanya masih ada yang lebih wagu. Agenda berikutnya adalah pertunjukan fashion show (whaaaaat???!!!). Diiringi dentuman musik, belasan anak AAU tampil satu persatu sambil membawakan berbagai macam seragam mereka. Suara di balik layar menjelaskan tentang masing-masing kostum yang dikenakan, kapan kostum tersebut digunakan. Sayang, suara itu kadang tak terdengar jelas, kalah oleh dentuman musik dan sorak sorai “Mantap!” anak AAU. Tapi jujur aku cukup terhibur dengan fashion show itu, karena kebanyakan dari mereka yang tampil berwajah rupawan. Hmmm...

Acara lalu dilanjutkan dengan penampilan tari rumba, band-band AAU, dan calung. Pukul 22.00, Gubernur AAU keluar meninggalkan gedung, tanda acara telah usai. Namun rupanya belum sepenuhnya selesai, karena masih ada penampilan satu band dari luar AAU. Dengan dua vokalis aduhai berpakaian minim, band ini tampil atraktif. Hampir semua anak AAU langsung maju ke depan panggung, ikut bergoyang dengan lagu-lagu milik Lenka, Lady Gaga, dan sejenisnya, yang dibawakan band ini.

Saat jeda antarlagu, tiba-tiba ada pengumuman bahwa rombongan UGM telah ditunggu bis AAU di depan gedung. Kami pun dengan senang hati meninggalkan ruangan sebelum acara usai.

Dari penglihatanku malam itu, bisa kusimpulkan bahwa social meeting adalah ajang membawa pasangan bagi anak AAU yang sudah punya pacar, dan wadah mencari jodoh bagi yang masih jomblo. Secara keseluruhan, sebenarnya acara ini cukup menarik. Kewaguan dan kekakuan dalam social meeting justru menjadi ciri khas yang jarang ditemui di tempat lain. Terima kasih Pak Wahyu, sudah memberiku kesempatan untuk hadir di sana...