Thursday, July 22, 2010

Barangkali dosen pembimbingku sudah muak melihat mukaku. Akhirnya beliau meng-acc Bab I-ku, Rabu (21/7). 

Pagi itu aku datang lebih awal dibanding dosenku. Begitu tiba, sang dosen langsung curhat ihwal mobilnya yang ditabrak lari oleh motor saat perjalanan tadi. Kutunggu sampai beliau usai berkeluh kesah. Lalu kuajukan pertanyaan, “tapi mood-mu tetep baik kan, Mas?”

Setelah dosenku tersenyum sambil menjawab “iya”, baru kuserahkan revisi Bab I-ku.

Namun alih-alih membuka dan membaca hasil ketikanku, beliau justru mengajukan pertanyaan beruntun seputar penelitian.

“Saat tiba di lapangan, apa yang pertama kali kamu lakukan?”

Kujawab sepengetahuanku.

“Setelah memperoleh data, apa yang kamu lakukan?”

Kujawab seingatku.

“Apa bedanya peneliti yang datang ke lapangan dengan menggunakan analisis resepsi dan analisis teks?”

Kujawab sebisaku.

“Lalu apa bedanya dengan sosio-hermeneutik?”

Modar. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang beliau ajukan tanpa belas kasihan. Dia telah mencuri start pendadaranku.

Setelah menjelaskan tentang jawaban pertanyaan yang belum berhasil kujawab, sang dosen akhirnya berkata bahwa semua proses ini sudah cukup. Aku sudah siap untuk terjun ke lapangan. Namun beliau akui, bagus atau tidaknya hasil skripsiku kelak tergantung pada improvisasi yang kulakukan di lapangan.

Sang dosen kemudian memintaku membuat interview guide. Dengan sombong kujawab, “udah saya bikin, Mas. Itu, di halaman paling belakang...”

Belum sampai tiga menit membaca interview guide-ku, beberapa kritikan langsung meluncur dari mulut beliau, “kamu melupakan pertanyaan tentang sejarah media habit audiens... Media insight audiens juga belum kamu masukkan...”

Setelah kucatat semua tambahan pertanyaan ke dalam interview guide, sang dosen lagi-lagi berceloteh tentang kurang seriusnya aku dalam penggarapan skripsi.

“Saya belum melihat passion kamu... Kamu tidak pernah serius, kalau menjawab pertanyaan selalu sambil tertawa,” ujarnya.

“Maaf, Mas, hehehe...” ups, aku tertawa lagi.

“Ya sudah, selamat melakukan penelitian, ya,” beliau menyudahi sesi bimbingan hari itu.

“Makasih, Mas. Eh tapi... Bab I saya udah di-acc kan ini berarti??”

“Iya...” beliau mengangguk sambil tersenyum amat menawan.
Perempuan tahu pasti bahwa playboy merupakan spesies berbahaya yang harus dihindari. Meski telah mengetahuinya, tapi tetap saja banyak perempuan yang terjerat pesona dan tipu daya para playboy. Apa pasal?

Menurut Pythagora Yuliana, pakar percintaan dari Universitas Gatel Mentel, playboy adalah jenis lelaki yang menyadari dan mampu memaksimalkan potensi dalam diri mereka. “Cowok playboy menyadari bahwa mereka memiliki kadar ke-charming-an yang lebih dibanding cowok lainnya, dan mereka sanggup memaksimalkan itu,” tutur Pythagora saat diwawancara via Yahoo! Messenger.

Lelaki jenis ini dapat dikenali dengan mudah. Mereka biasanya berwajah tampan dan berpenampilan menarik, meski tak jarang juga playboy bertampang pas-pasan. “Yang jelas, cowok tipe ini pintar membuat cewek merasa senang, nyaman, dan penasaran,” terang Pythagora.

Karena keterampilan yang mereka miliki inilah, playboy kerap sekali berganti pacar, selingkuh, atau justru tidak terikat hubungan tetapi memiliki koleksi cewek yang berceceran. Kebiasaan makhluk ini tentu sangat merugikan kaum wanita.

Namun demikian, berbagai informasi tentang bahaya playboy yang telah disebarkan secara work of mouth tampaknya belum cukup untuk memperingatkan para perempuan. Saat berhadapan dengan playboy, seluruh informasi yang telah ditanamkan ke dalam otak perempuan tersebut seolah memuai, tak sanggup bertahan dari sengatan daya tarik alami sang playboy. Playboy pun kembali memakan korban.

Menurut analisis penulis, kondisi ini terjadi tak lepas dari pengaruh kata-kata semanis madu yang dilontarkan playboy. Berbagai teknik gombalan, dari yang basi hingga kontemporer, telah terbukti secara empiris sanggup mengambil hati wanita.

Rayuan rupanya memang merupakan titik lemah perempuan. Hal ini telah dijelaskan oleh Allan dan Barbara Peace dalam bukunya Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps, “pria terangsang melalui mata mereka, sedangkan wanita melalui telinga mereka. Otak pria tersusun untuk melihat pada bentuk wanita, sementara wanita ingin mendengar kata-kata manis.“

Saat sepak terjang playboy sudah tidak bisa dibendung lagi seperti sekarang, maka perempuan harus diberdayakan. Perempuan harus membentengi iman dari godaan para playboy, menyumpali telinga dari gombalan para kampret. Harus diakui oleh penulis, menghindari pelet playboy sama sulitnya dengan bertahan hidup di Jalur Gaza. Tapi perempuan harus terus berjuang, demi menjauhkan diri dari resiko menetesnya air mata.

Monday, July 5, 2010

Minggu lalu, dosenku tak bisa ditemui selama sepekan penuh karena sedang sakit. Penelitianku yang rencana akan dimulai bulan ini pun terpaksa ditunda.

Tadi pagi (5/7) akhirnya aku bisa juga menemui beliau. Namun rupanya, bukan kemajuan yang kudapat, melainkan kemunduran. Sang dosen kembali memeriksa kerangka penelitianku dan bersabda bahwa masih ada yang perlu dibenahi. Selain itu, masih banyak lagi revisi yang harus kulakukan.

Muak. Hanya itu yang kurasakan saat ini.

Tersenyumlah kalian yang menduga aku akan menangis selama pengerjaan skripsi, karena prediksi Anda benar...