Friday, August 27, 2010

Rating:★★★
Category:Restaurants
Cuisine: Indonesian, Japanese
Location:Jl. Godean, Yogyakarta

Baru saja dibuka restoran baru di Jalan Godean kilometer 4. Restoran bernama Paradise ini memberi diskon sebesar 15% selama soft opening.

Tertarik dengan diskon yang ditawarkan, aku dan teman-teman mencoba restoran ini saat berbuka puasa. Dari luar, Paradise Resto terlihat sepi. Hanya terlihat beberapa sepeda motor saja di parkiran. Namun setelah berada di dalam, ternyata restoran ini sangat sangat sepi. Mengalahkan kuburan. Tidak ada pengunjung lain selain aku dan teman-teman. Krik.

Terlanjur masuk, kami pun terpaksa duduk. Seorang waiter yang tampak gugup memberi kami daftar menu. Menu yang ditawarkan lumayan standar, harganya juga tak terlalu mahal. Sekedar gambaran, aku memesan paket nasi+ayam kremes seharga Rp 10.500 dan ice chocolate seharga Rp 7 ribu. Teman-temanku memesan chicken katsu Rp 10 ribu, chicken teriyaki Rp 10 ribu, nasi putih Rp 3 ribu, watermelon juice Rp 8 ribu, dan ice tea Rp 3 ribu. Harga-harga itu belum termasuk diskon 15%.

Setelah mencatat pesanan kami, si waiter pun pergi. Namun tak lama kemudian ia kembali membawa tiga mangkok puding. “Hidangan dari kami untuk berbuka puasa, Mbak,” ujarnya. “Gratis, Mas?” tanya kami tak percaya. Si waiter mengangguk sambil tersenyum. Slrrrpp..

Beberapa menit sebelum adzan maghrib, seluruh pesanan kami telah terhidang. Dari segi porsi, menu yang kami pesan bisa dibilang standar. Tak terlalu banyak dan tak terlalu sedikit, kecuali chicken teriyaki yang hanya menyajikan sekitar lima iris ayam saja dalam satu piring. Ngok. Untung aku tidak memesannya.

Dari segi rasa, pesanan kami sebenarnya juga standar-standar saja. Tapi karena lapar, ayam kremesku jadi terasa amat lezat. Hajar bleh!!!

Kesimpulannya, sesungguhnya Paradise Resto amat layak untuk dicoba. Restoran ini memang tidak terlalu luas, namun suasananya cukup cozy. Apalagi selama Bulan Ramadhan ini mereka memberi bonus puding gratis, plus diskon 15% selama soft opening. Ditambah lagi, Paradise Resto sepi pesaing mengingat di Jalan Godean belum terlalu banyak restoran sejenis. Namun memang, sepinya restoran membuat pengunjung menjadi sedikit tidak nyaman. Selain itu, porsi menu yang lain masih menjadi tanda tanya. Semoga saja hanya chicken teriyaki yang porsinya sesedikit itu...

Friday, August 20, 2010

Rating:★★★
Genre: Action

Sebuah film action yang sarat pemain bintang. Alasan itulah yang membuat papaku mengajak kami sekeluarga menonton The Expendables.

Film tersebut berkisah tentang sebuah kelompok bernama The Expendables yang kerap mengerjakan misi rahasia berbayaran besar. Kelompok ini antara lain beranggotakan Barney Ross (Sylvester Stallone), Lee Christmas (Jason Statham), dan Yin Yang (Jet Li). Suatu ketika, The Expendables mendapat tugas untuk membunuh Jenderal Gaza di Pulau Vilena. Sebelum melaksanakan tugas, Barney dan Christmas melakukan survey terlebih dahulu di pulau tersebut. Pada saat survey, mereka ditemani Sandra, putri Jenderal.

Suasana di Pulau Vilena ternyata amat menyeramkan. Pulau itu telah dikuasai oleh mantan anggota CIA James Monroe dan pasukannya yang kerap menyiksa warga dengan keji. Barney dan Christmas pun memutuskan untuk membatalkan perjanjian misi dan segera kabur dari pulau tersebut. Namun sebelum benar-benar pergi, dua jagoan ini sempat membuat pasukan Monroe kalang kabut dengan melemparkan sejumlah tembakan dan bom. Pada saat inilah menurutku adegan terbaik yang diperankan Jason Statham dalam film ini. :)

Meski membatalkan perjanjian tugas, namun rupanya ada yang mengganjal di hati Barney. Ia ingin kembali ke Pulau Vilena untuk menyelamatkan Sandra. Teman-temannya yang setia pun akhirnya mengikuti Barney ke sana.

The Expendables merupakan film action yang amat sadis. Film ini juga sukses membuatku tegang hampir sepanjang film–aku nggak suka film menegangkan . Namun memang, banyak adegan keren yang diperagakan oleh sejumlah pemain bintang dalam film yang disutradari sendiri oleh Sylvester Stallone ini. Wajib tonton buat para penggemar film action.
Terhitung sejak 1 Agustus 2010 aku memulai penelitian skripsiku. Saat tak sengaja bertemu dosen pembimbing di kampus, beliau request ingin melihat transkrip wawancara hasil penelitian. Akhirnya aku pun mengumpulkan transkrip yang beliau minta, Rabu (18/8). 

Sehari sebelum bertemu, aku sudah mengirimi sang dosen SMS untuk meminta bimbingan. Namun tak ada balasan dari beliau. Aku pun langsung menggerebek ruangannya keesokan harinya. Sang dosen ada di tempat dan memersilakanku masuk, namun beliau membimbingku dengan multitasking. Disambi membaca tugas lain, disambi mengobrol, disambi keluar ruangan...

Pagi itu aku mengumpulkan tiga transkrip wawancara karena memang sudah tiga informan yang berhasil kuwawancara. Seusai membaca satu transkrip, sang dosen mengatakan bahwa transkrip yang kubuat sudah cukup baik dan rapi. Hanya saja, aku harus menggunakan bahasa wawancara yang lebih membumi. Selanjutnya, hanya tinggal permasalahan bagaimana aku menganalisis transkrip tersebut kelak.

Perjumpaan pagi itu sudah hampir berakhir saat aku mengajukan pertanyaan bumerang, “patokan pertanyaan dari Potter udah cukup buat mengetahui literasi media informan belum, Mas?”

Beliau menjawab, “sebenarnya sudah cukup, tapi kamu nggak fair. Kamu membawa patokan dari luar dan menerapkannya untuk warga Minomartani... Yang namanya penelitian lapangan itu pertanyaanmu harus benar-benar menyesuaikan dengan keadaan di lapangan...”

“Wew... trus gimana dong, Mas?”

“Ya sudah nggak pa-pa, lanjut aja,” jawab beliau singkat, yang justru menimbulkan kegundahan tersendiri di hatiku. Semoga hal ini memang bukan perkara besar yang dapat menjatuhkanku di saat pendadaran.
Setia. Satu kata yang mudah diucapkan tapi sukar direalisasikan. Kata ini pun kini sering diplesetkan menjadi akronim dari “SElingkuh TIada Akhir” atau “SETIap tempat Ada”. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, setia berarti “tetap dan teguh hati.” Dalam konteks tulisan ini, setia diartikan tetap dan teguh hati pada pasangan. Dulu, aku kira setia merupakan sebuah sifat lazim yang dimiliki seseorang yang telah berpasangan. Tapi rupanya waktu itu aku masih belum banyak mencicipi asam garam dunia. Menurut survey yang telah diolah menggunakan SPSS versi mimpi, kini kutahu bahwa lelaki setia itu jumlahnya hanya satu dari 756.

Sebelum melanjutkan pembahasan, kukatakan dulu bahwa posting-an ini sama sekali tidak bermaksud untuk menyudutkan laki-laki. Hanya saja, tulisan ini memang menggunakan sudut pandangku sebagai perempuan. Jadi memang kebusukan lelaki terkait kesetiaan akan lebih banyak dikupas, meski kuakui bahwa kini banyak juga perempuan brengsek. 

Ada sebuah pertanyaan yang cukup mengganjal di pikiranku terkait kesetiaan: sebenarnya apa sih yang kurang dari pacar para lelaki kampret itu? Kekurangan apakah gerangan yang ada pada diri pacar mereka sampai-sampai mereka memutuskan untuk selingkuh? Kurang cantik? Kurang asik? Kurang ajar?

Sebuah kalimat simple yang terlontar dari seorang teman lelakiku rasanya cukup mampu menjawab pertanyaan itu. “Cowok itu nggak cukup kalo cuma sama satu cewek...” ujar pria berinisial SAA tersebut. Sebuah lelucon juga sempat beredar di Twitter, “mengapa cewek sebaiknya bermuka dua? Karena cowok nggak pernah bisa setia sama satu wajah...”

Ya, makhluk dari Planet Mars itu ternyata memang tidak puas hanya dekat dengan satu cewek. Sesempurna apa pun pacarnya, mereka tetap memiliki sifat dasar untuk bercentil-centil dengan wanita lain. Padahal perempuan lain itu belum tentu lebih cantik ataupun lebih baik dibanding pacarnya.

Lalu bagaimana triknya agar pacar kita tetap setia? Ups maaf, maksudku pacar KALIAN. Aku jomblo (penulis sedang melakukan promosi diri, -Red). Sejujurnya tidak ada trik yang bisa selalu berhasil 100%. Kalau jenis cowoknya memang super brengsek, sejuta trik dilakukan pun tetap tak akan mempan membuatnya setia.

Namun ada sebuah trik yang patut dicoba: buatlah pacar kalian tetap merasa penasaran seperti masa-masa PDKT dulu. Sejumlah curhatan lelaki yang berhasil kuhimpun mengatakan bahwa mereka merasa terganggu dengan perhatian pacar yang berlebihan. SMS-SMS perhatian yang pada awal jadian merupakan lem perekat hubungan, pada perjalanannya justru berubah menjadi gangguan bagi para lelaki itu. Cobalah sedikit cuek dan biarkan mereka merasa kangen sama kita... eh, kalian ding. Terlalu banyak interaksi bisa menimbulkan kebosanan, sedangkan kebosanan menurutku adalah penyebab utama perselingkuhan.

Jika trik itu tidak berhasil, jangan khawatir. Masih ada satu solusi ampuh yang kutawarkan: beri dia pelet. Akhir kata, mari beramai-ramai pergi ke dukun! 

Monday, August 2, 2010

My Rating:★★★
Genre: Drama

Aku melihat cover film ini di rak rental saat menemani adikku menyewa CD game. Dunia selepas kuliah akan kuhadapi tak lama lagi, jadi tentu saja judul film ini menarik perhatianku. Aku pun langsung meminjamnya.

Sesuai judulnya, Post Grad berkisah tentang kehidupan seorang mahasiswi bernama Ryden Malby (Alexis Bledel) setelah lulus dari universitas. Ryden adalah gadis pintar, hidupnya penuh rencana. Selepas kuliah, ia telah berencana untuk bekerja di perusahaan penerbitan Happerman & Browning. Namun rupanya dunia tidak selalu berjalan seperti rencananya. Ryden tidak diterima di perusahaan tersebut. Ia pun melamar di beberapa perusahaan lain, tapi nasib baik belum juga berpihak padanya. Ryden semakin merasa terpuruk saat mengetahui bahwa teman-temannya telah memperoleh pekerjaan.

Meski mengambil setting di Amerika, namun film ini cukup menggambarkan realitas yang dihadapi para lulusan perguruan tinggi kita. Selain itu, tak lupa juga Post Grad dibumbui dengan kisah percintaan. Film ini ringan, menarik, dan dapat menjadi penyemangat bagi para lulusan universitas yang belum memperoleh pekerjaan.