Wednesday, December 15, 2010

Awalnya aku kira tulisan ini akan menjadi penutup dari rangkaian cerita Starin dan Skripsi. Namun ternyata semua ini belum usai.

Aku menjalani ujian skripsi hari Senin (13/12) kemarin pukul 9.00. Seharusnya aku diuji oleh Mas Sulhan dan Bang Abrar. Namun karena Mas Sulhan belum menampakkan diri hingga pukul 10.00, Cak Budi kemudian ditunjuk untuk menggantikan beliau.

Di dalam ruang sidang, semuanya berjalan lancar selama 10 menit aku presentasi. Sesi diskusi kemudian diawali oleh pertanyaan-pertanyaan dari Bang Abrar. Beliau banyak mengritik masalah teknis, namun aku masih bisa memertahankan diri. 

Selanjutnya, giliran Cak Budi yang diberi kesempatan berkomentar. Kalimat pertama yang muncul dari mulut beliau adalah, “baru kali ini saya melihat penelitian resepsi yang kurang dari 100 halaman.” Sang ketua jurusan ini lalu mengritik masalah kedangkalan skripsiku, kurang detailnya deskripsi yang kuberikan. Cak Budi juga bertanya berapa kali aku mengobservasi dan mewawancara informan. Mati aku. Memang di situlah letak kelemahan skripsiku. Aku hanya bisa pasrah, menjawab dan mencari alasan semampuku.

Setelah Cak Budi, saatnya dosen pembimbingku angkat bicara. Ia bertanya seputar signifikansi penelitian dan pengambilan informan. Setelah kujawab, aku dipersilakan keluar sebentar.

Lima menit aku menunggu di depan ruang sidang. Dosen pembimbingku kemudian menyuruhku masuk sembari mencari tisu. Doh. Bau-bau nggak enak nih.

Di dalam ruang sidang, ia bertanya, “menurutmu, apakah alasan yang membuatmu layak lulus?” Sumpah, aku pingin pingsan. Aku jawab, “penelitian resepsi masih sedikit dilakukan, Mas...” Tak puas dengan jawabanku, beliau meminta alasan lain. Aku tak bisa melontarkan sepatah kata pun.

Sang dosen pembimbing kemudian berkata, “kamu adalah bimbingan pertama saya yang...”

“Mas...” potongku sambil menutup muka.

“Ya gimana? Kami masih ragu untuk meluluskanmu. Semua tergantung revisimu. Kalau revisimu bagus, kamu lulus. Kalau revisimu nggak jauh beda, ya sampai jumpa tahun depan,” ujarnya santai, tak peduli melihat mukaku yang menahan tangis.

“Nih, tanda tangan dulu,” beliau lalu menyodorkan secarik kertas. Di kertas itu ada tulisan ...menyatakan bahwa mahasiswa ini LULUS/TIDAK LULUS. Tapi sang dosen belum mencoret salah satu dari kedua pilihan itu. Aku membubuhkan tanda tangan dengan lemas.

Bersama dosen pembimbing
Sekeluarnya aku dari ruang jurusan, teman-teman ramai menyambutku dan memberi selamat. SELAMAT APANYA WOIII?! Air mataku akhirnya tetes. Tak peduli dengan kesedihanku, mereka memintaku berfoto bersama sang dosen pembimbing. Tapi tak hanya berfoto, aku juga diharuskan membawa kertas yang telah mereka siapkan. Kertas itu bertuliskan: YESSS! Saya berhasil menaklukkan doski. Gilak! Keren beud gueh!

Yah, whatever will be, will be. Dengan status digantung seperti ini, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berjuang merampungkan revisi. Doakan saya agar bisa segera mendengar kata “LULUS”...

Wednesday, December 1, 2010

Dua pekan lalu merupakan masa tersulit selama proses penggarapan skripsiku.

Setelah dosen pembimbing memintaku melakukan revisi skripsi, aku langsung ngebut menggarapnya. Siang dan malam, pagi dan sore, semua waktu kucurahkan untuk menyelesaikan revisi. Dalam waktu empat hari, akhirnya aku berhasil merampungkan revisi. Aku pun kembali menghadap sang dosen, Jumat (19/11).

Beliau membaca skripsiku sekilas. Raut mukanya menunjukkan bahwa skripsiku masih jauh dari harapannya. Ia kemudian berbaik hati memberitahukan keinginannya secara detail, bagian ini harusnya begini, bagian itu harusnya begitu. Lalu kami mulai menegosiasikan kemungkinanku untuk maju sidang skripsi periode ini. Sang dosen mengatakan semuanya masih mungkin, aku hanya perlu bersungguh-sungguh dalam melakukan revisi.

Di sisi lain, waktu pengumpulan persyaratan sidang sudah semakin dekat. Deadline pengumpulan sebenarnya jatuh pada tanggal 20 November, namun seperti dilansir dari bari.com, mahasiswa masih boleh mengumpulkan semua persyaratan selama rapat dosen belum berlangsung. Aku pun dipaksa untuk kembali lembur melakukan revisi skripsi. Kini aku menyelesaikannya dalam waktu tiga hari. Aku menghadap dosen lagi pada hari Senin (22/11).

Sang dosen membaca bab 4 skripsiku perlahan. Memasuki subbab diskusi, beliau berhenti membaca. Ia berujar, "bocah iki dipiye-piyeke yo tetep wae, pancen kapasitase semene." Jleb jleb jleb. Lebih lanjut, sang dosen mengatakan bahwa aku kurang membaca selama kuliah, maka aku kurang mampu mengembangkan analisis. Hal ini tidak bisa diperbaiki dalam sekejap, tidak akan ada perubahan besar meski aku menunda kelulusan hingga periode berikutnya. Oleh karena itu, dengan bijak beliau kemudian menandatangani permohonan sidangku. Alhamdulillah. Hal itu berarti revisiku sudah di-acc, meski beliau melakukannya dengan berat hati.

Aku kemudian segera mengurus berkas lain yang menjadi persyaratan sidang. Pada hari Jumat (26/11), akhirnya semua persyaratan sudah bisa kukumpul di meja Mas Bari. Sekarang tinggal menunggu rapat dosen yang gosipnya akan berlangsung pada hari Jumat (3/12). Rapat dosen akan menentukan jadwal dan dosen penguji masing-masing sidang. Doakan saya ya teman...