Friday, December 23, 2011

The Art of Getting By
The Art Of Getting By ini film drama remaja, tapi ceritanya nggak menye-menye.

George Zinavoy (Freddie Highmore, pemeran Charlie di Charlie and the Chocolate Factory), seorang pelajar SMA, terinspirasi banget sama quote, "you are born alone, die alone, and everything else is an illusion." Karena itu, dia pun jadi nggak nemuin makna hidup, nggak mau ngerjain semua tugas sekolah, nggak mau berteman. Sampai akhirnya, George kenal sama Sally Howe (Emma Roberts), teman sekelasnya, dan Dustin (Michael Angarano), seniornya. Sedikit demi sedikit, George mulai berubah. Ia jadi lebih berubah lagi pas tau kalau ibunya mau bercerai dengan ayah tirinya, dan keluarga mereka mengalami kesulitan keuangan.

Cerita dalam The Art Of Getting By ini emang lebih berat dibanding drama remaja biasanya, kerasa banget indie-nya. Tapi yang bikin aku jatuh hati sama film ini bukan jalan ceritanya, bukan pemainnya, tapi justru soundtrack filmnya! Karena suka sama lagu-lagunya, aku langsung browsing dan nemuin beberapa band indie Amerika dan Inggris yang jadi pengisi soundtrack-nya, kayak The Shins, Earlimart, Mates Of States, Clap Your Hands Say Yeah, The Boxer Rebellion, dan French Kicks. Film score-nya juga nggak kalah keren, dikomposisi oleh Alec Puro.

Just watch the movie and enjoy the soundtrack!

Track List:
1. We Will Become Silhouttes - The Shins
2. We Drink On The Job - Earlimart
3. Sally's Theme - Alec Puro
4. Sleep The Clock Around - Mates of State
5. This Momentary - Delphic
6. Christmas Break - Alec Puro
7. Winter Lady - Leonard Cohen
8. The Skin Of My Yellow Country Teeth - Clap Your Hands Say Yeah
9. Sally's Bedroom - Alec Puro
10. Spitting Fire - The Boxer Rebellion
11. Here - Pavement
12. The Trial Of The Century - French Kicks

Wednesday, December 14, 2011

Dulu aku hobi banget ngejekin temen-temen yang pacaran long distance, "diiih pacaran kok sama telpon!" atau "kamu yakiiin pacar kamu yang di sana setiaaa? Belom tentu loooh, hihihi."

Image: sassyhongkong.com

Sebelum lanjut, aku mau ngingetin dulu kalau tulisan ini bakal rada personal ya, uhuk. Jadi gini, dulu aku orangnya emang anti banget LDR-an. Yaa ngapain juga pacaran kalau jarang ketemu? Nggak ada yang bisa diminta nganter sana-sini, nggak ada yang bisa diajak malam mingguan, dan pastinya bakal sering kangen. Makanya LDR sering diplesetin jadi Lelah Dilanda Rindu. Selain itu, mengutip isi salah satu thread di Kaskus, kalau mau LDR-an syaratnya harus sama orang yang emang high quality, soalnya kalau orangnya biasa, cari di deket rumah juga ada. -___- Intinya, LDR is a big no for me.

Tapi, yah, orang kan bisa berubah. Tanggal 8 Oktober kemarin, aku jadian sama cowok Bandung. Kenalnya udah lama sih, tapi emang baru ketemu lagi pertengahan September gara-gara aku ada tugas liputan di Bandung. Kata temenku yang nggak tau kalau aku pacaran sama orang Bandung, "cowok Bandung itu brengsek semua!" Tapi ya gimana, kalau cewek udah terlanjur luluh ya luluh aja. Lagian aku mikirnya jarak Jakarta-Bandung kan deket, jadi not-too-long distance relationship-lah ya.

Kesan-kesan selama LDR, ternyata pacaran jarak jauh itu nggak seburuk dugaanku sebelumnya kok. Ya emang sih, selama dua bulan pacaran aku cuma pernah ketemuan tiga kali. Krik. Tapi yang paling penting dalam hubungan long distance adalah komunikasi rutin, saling jujur + percaya. Tiap jam makan, aku pasti BBM-an sama dia, tiap malam juga dia pasti telpon. Jadi nggak ada yang disembunyiin dari kegiatan kami sehari-hari. Walaupun malam minggu sendirian, tapi paling nggak, ada yang nemenin lewat telpon. *sedih*

Tapi yaaah, jujur sih godaan long distance itu banyak banget. Kita harus kuat iman, nggak boleh tebar-tebar pesona lagi. Dan itu susah dilakukan kalau kita ngerasa masih kayak jomblo, ngerasa pacar yang nun jauh di sana nggak bakal tau kelakuan kita di sini. Yah, begitulah. Tapi untungnya sih, selama dua bulan ini hubungan kami baik-baik aja. Jakarta-Bandung bukan halangan. Tapi ternyata, justru ada hal lain yang jadi penghalang, dan akhirnya kami pun putus baik-baik tadi malam. :'(

Walaupun cuma pacaran bentar, tapi aku jadi tau gimana rasanya LDR. Not too bad, tapi kalau distance-nya cuma Jakarta-Bandung lho ya, nggak tau deh kalau jaraknya lebih jauh lagi. Buat semuanya yang sekarang lagi LDR, coba dipikir lebih jauh lagi ke depannya, apakah si pacar dan hubungan kalian ini layak untuk terus dipertahanin? Apakah kalian udah bener-bener sreg buat nantinya menikah? Apakah keluarga dan teman-teman kalian udah setuju? Agama kalian udah sama belum? LDR bukan buat orang yang sekedar iseng. LDR cuma bakal bertahan buat orang yang udah sama-sama serius. Dan kalau emang kita niatnya cuma mau iseng, ya isengnya cari yang deket aja, ngapain iseng sama yang jauh-jauh. Capek sendiri. 

Think twice before you decide to have a long distance relationship.


Wednesday, December 7, 2011

Halo Gan, ane Starin

Berita dan foto tentang kerennya kantor baru Kaskus udah menyebar luas di internet. Seneng banget, aku bisa berkunjung ke sana pas acara Office Warming Kaskus, Selasa (6/12).

Kantor baru situs ber-taglineThe Largest Indonesian Communityini terletak di Menara Palma lantai 11, Kuningan. Rada bingung kalau baru pertama datang ke kantor Kaskus, soalnya musti pakai ganti lift dulu kalau mau ke sana. Jadi, pertama-tama kita harus naik lift ke lantai 2, trus jalan ke gedung seberang, nah dari situ baru kita naik lift lagi sampai lantai 11.

Pas aku sampai di kantor Kaskus, acara Office Warming-nya udah mulai. Temen-temen dari berbagai media udah pada kumpul di Green Room yang terletak persis di samping ruang receptionist. Di ruangan yang bentuknya kayak lapangan golf ini, seorang officer Kaskus lagi menjelaskan aturan main acara yang ditujukan buat memperkenalkan kantor baru Kaskus ini. Jadi selama kami keliling kantor mereka nanti, kami dapat ‘misi’ buat nyari duit palsu yang udah disembunyikan di beberapa tempat. Berasa ikut Running Man yah, hihihi. Selain itu, kami juga musti minta para officer Kaskus buat menandatangani Kartu Keluarga Kaskus kami. Nah, Kartu Keluarga Kaskus yang udah ditandatangani ini nantinya bisa ditukar sama duit palsu juga. Buat apa sih duit palsunya? We’ll find about it later.

Green Room
Kartu Keluarga Kaskus
Dari Green Room, kami diantar menuju lorong berdinding keramik putih. Di lorong ini ada mesin absen berbentuk kloset yang lucu banget. Di lorong yang disebut Wall Of Fame ini juga, para visitor kantor Kaskus boleh bikin coretan apa aja di dinding.

Wall Of Fame
My Signature ;)
Habis corat-coret, kami pun masuk ke office area yang mereka sebut sebagai Playground. Begitu datang, langsung ada seorang officer yang nawarin buat foto di library-nya Kaskus. Fotonya langsung dicetak pula! Kesempatan narsis ini tentu nggak kusia-siakan, hihihi. Pokoknya selama di office area ini kami bener-bener bebas mau ngapa-ngapain deh, berasa di rumah sendiri. Kami dipersilakan buat meng-explore semua ruangan yang ada, memotret, menyebarkan foto, mau nyolong makanan juga boleh. Pas aku lagi jalan-jalan ke Game Room yang ada beberapa console game-nya, aku ngeliat kertas kecil berwarna biru... Yap, aku nemuin selembar duit palsu!

Office Area
Game Room
Foto Cetak Di Library Kaskus
Penjelajahanku berlanjut ke Secret Room-nya Kaskus yang terletak di ujung lorong dinding berkeramik putih tadi. Di sini, aku nemuin selembar duit palsu lagi! Yeay! Selain itu, di ruangan ini juga ada setumpuk coklat Chunky Bar yang halal hukumnya buat diambil, horeee! Walaupun gitu, Secret Room yang biasa dipakai buat meeting ini tetep kerasa ‘angker’-nya. Ruangannya dingin, kaku, yang pasti kalau rapat di sini pasti bawaannya tegang dan serius!
Secret Room
Dalemnya Secret Room
Setelah puas meng-explore kantor Kaskus di lantai 11, kami diantar turun ke kantor yang ada di lantai 10. Begitu masuk, kami langsung berada di Cafetaria. Di samping Cafetaria, ada office area lagi. Kalau nggak salah denger sih area ini ditempati sama officer bagian finance & accounting. Kalau di lantai 11 tadi kantornya bernuansa ceria, di lantai ini tone yang digunakan lebih kalem dan dewasa. Tapi kedewasaan ini diimbangi dengan bentuk ruangan dan garis yang dinamis, beda sama kantor di lantai 11 yang bentuknya cenderung kotak dan monoton. Intinya, mereka berusaha menciptakan keseimbangan di setiap lantainya. Lanjut ya gan! Kami kemudian masuk ke Auditorium buat menonton video tentang Kaskus dan band performance. Setelah itu kami balik lagi ke Cafetaria buat makan siang.

Cafetaria
Auditorium
Ini Ruang Apa Ya?
Habis semua tamu menukar Kartu Keluarga Kaskus yang udah ditandatangani dengan duit palsu, acara bagi hadiah pun dimulai. Jadi, fungsi semua duit palsu yang kami temukan dan tukarkan tadi adalah buat modal ikut lelang! Tapi, barang yang dilelang dimasukin ke dalam tas, so we didn’t have any idea about what’s inside the bag. Dan ternyata, barang yang dilelang itu lumayan banget, kayak iPod dan Blackberry Bellagio! Tapi ada juga yang kurang beruntung cuma dapet tisu, ada juga yang dapet paperclip. LOL!

Overall, acara Office Warming-nya seru bangeeet! Two thumbs up buat para officer Kaskus yang udah bikin acara perkenalan kantor barunya yang keren itu jadi tambah seru. Sering-sering bikin acara kayak gitu lagi ya gan. X)

*Oiya, kalau kami punya ID Kaskus, kami bisa nyobain Kaskus Beta lho. Sekarang aku lagi nungguin email yang berisi link invitation-nya. Hahay, nggak sabar pingin pertamax nyobain Kaskus Beta!

Tuesday, November 22, 2011

Kita semua masih inget pahitnya kekalahan timnas U-23 Indonesia pas melawan Malaysia di final SEA Games XXVI tadi malem (21/11). Walaupun akhirnya harus kalah 3-4 dalam adu pinalti, tapi Garuda Muda udah berjuang keras. Begitu juga dengan para suporter Indonesia yang menonton di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), perjuangan mereka pun nggak gampang.

Mulai dari hari Minggu (20/11), para suporter yang pingin mendukung timnas secara live ini udah pada ngantri di loket Stadion GBK. Udah ngantri berjam-jam, eh ternyata banyak di antara mereka yang harus kecewa gara-gara kehabisan tiket. Ditambah lagi, harga tiket buat kategori I ke atas juga jadi lebih mahal, bahkan naik 2x lipat untuk tiket VIP. Hal inilah yang bikin para suporter emosi dan membakar salah satu loket di Stadion GBK.

Pas hari H pertandingan final, keadaan di Stadion GBK nggak kalah rusuhnya. Kebetulan, kemarin aku emang nonton di sana bareng 20-an sodaraku. Jam 17.00, kami jalan kaki dari Hotel Atlet Century Park, tempat kami parkir mobil dan motor. Sebenernya cuma tinggal nyebrang aja sih kalau mau ke Stadion GBK, tapi kira-kira baru jam 18.00 kami resmi meletakkan pantat di kursi stadion. Soalnya emang area GBK rame dan penuh bangeeet! Ada 70 ribu orang lebih di situ. Dan kalau sampai hilang dari rombongan bisa gawat, soalnya BBM, SMS, telpon, nggak berfungsi di sana. Apalagi mau nge-tweet atau check-in Foursquare, mana bisaaa!

Berdasar tiket yang kami dapat, aku sama sodara-sodaraku masuk lewat gate V. Dan perjuangan buat masuk ke situ, naudzubillah, susah bangeeet! Lebih parah dibanding nonton konser. Bener-bener harus desek-desekan. Badanku rasanya udah jadi tambah gepeng gara-gara didorong dari depan, belakang, samping. Polisi yang jagain gate juga ketat banget, mereka sistemnya buka-tutup pintu gitu, gara-gara banyak penonton tanpa tiket yang mau masuk juga. Jadi buat para pemegang tiket, harus angkat tiket tinggi-tinggi, nggak lupa juga sambil sikut-sikutan. Banyak juga yang sambil maki-maki. Baru deh, begitu posisiku udah di deket polisi, aku didahulukan, "yang cewek dulu, kasian..." Alhamdulillah.

Tapi, yah, seperti yang udah banyak beredar beritanya, ada 2 orang tewas terinjak-injak dan 14 orang luka gara-gara peristiwa rebutan masuk ini. Kedua korban tewas itu adalah pemegang tiket resmi, dan keduanya meninggal dengan mengenakan kostum timnas. Tragic, isn't it?

Punya tiket bukan jaminan bisa masuk stadion. Kakakku dan beberapa sodara yang sempet kepisah dari rombongan juga hampir nggak bisa masuk. Mereka mau masuk sekitar jam 19.00, tapi udah nggak dibolehin sama polisi gara-gara stadion udah over capacity. Kakakku pun nekat manjat pager stadion, makanya dia akhirnya bisa masuk. Bahkan, kabarnya ada juga pemegang tiket VIP yang nggak bisa masuk. Padahal kan tiketnya mahal beut...

Di dalam stadion sendiri, situasi lebih aman terkendali. Banyak penonton yang nggak dapet kursi dan harus duduk di jalan sela-sela kursi. Rame, riuh, berisik, apalagi pas suporter Malaysia disorot kamera atau pemain Malaysia giring bola. Langsung pada meng-"huuu" dan teriak "maliiing, maliiing!" Orang-orang Malaysia bener-bener teraniaya malam itu, pantes aja doa mereka lebih didengar Allah. #eh

Waktu 45 menit berlalu cepet banget. Tiba-tiba babak 1 udah selesai aja. Tapi emang seru banget sih nonton langsung di stadion gini, walaupun no replay dan no zoom in. Pas pertengahan babak kedua, aku dan sodara-sodaraku memutuskan buat keluar duluan dan dilanjut nobar di Hotel Atlet Century Park. Habisnya serem kalau ngebayangin ntar keluarnya musti desek-desekan kayak tadi lagi.

Dari peristiwa ini, kita bisa liat kalau ada baaaaanyak banget hal yang perlu dibenahi. Mulai dari sistem penjualan tiket, sistem masuk ke stadion, oknum-oknum nggak bertanggung jawab yang jualan tiket palsu, sampai penonton tanpa tiket yang maksain pingin masuk. Pihak PSSI harus lebih mengontrol lagi jumlah kapasitas stadion biar tiket yang dijual nggak over capacity, dan menerapkan sistem tiket dengan barcode yang sekarang udah mulai banyak dilakukan klub-klub. Dengan barcode, nggak sembarangan penonton bisa masuk, kasus pemalsuan tiket bisa dihindari, jumlah penonton yang masuk ke stadion hari itu pun bisa diketahui secara pasti. Dan tentunya nggak cuma pihak PSSI aja yang harus berbenah, kita sebagai penonton juga harus mau tertib biar nggak ada korban jiwa lagi. :') 

Tiketku
Bareng sodara-sodara
Indonesia!
Narsis di dalem stadion
Merah-merah
Lautan manusia

video

Monday, November 14, 2011

Terlihat antrian panjang di depan Audi 2 Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jumat (11/11) malam. Di situ emang lagi ada opening night iNAFFF (Indonesia Internasional Fantastic Film Festival) yang tahun ini digelar untuk kelima kalinya.

Sebelumnya sih jujur aku nggak tau iNAFFF itu festival film apaan, tapi tetep aja seneng pas dapet invitation buat dateng ke opening night-nya. Di undangan emang udah tertulis sih kalau malam itu kita bakal nonton Immortals yang jadi opening film. Walopun dari judul filmnya udah keliatan serem, tapi tetep aja aku antusias buat nonton, soalnya film Immortals ini emang baru diputer serentak di seluruh dunia pada tanggal cantik 11-11-2011.

Sebelum film diputar, sang festival director memberi sedikit kata sambutan. Nah, dari sinilah aku baru tau kalau genre film yang diputar di iNAFFF itu adalah yang "horor". Tapi horornya nggak melulu tentang hantu, film-film sadis gitu juga termasuk. Pokoknya semua film yang sanggup bikin penonton tegang, jantung mau loncat keluar dari tulang rusuk. Intinya adalah jenis-jenis film yang nggak-aku-banget.

Habis acara bagi-bagi hadiah, Immortals pun akhirnya dimulai jam 21.30. Film yang mengambil setting di Yunani kuno ini dibuka dengan cerita saat manusia belum ada, saat para dewa bertarung dengan Titans. Titans yang kalah perang dipenjara di balik gunung, dan cuma bisa lepas kalau dipanah dengan Busur Epirus. Berabad-abad setelahnya, ada seorang raja jahat bernama Hyperion yang benci sama dewa, dan pingin melepaskan para Titans. Dalam usahanya mencari Busur Epirus, dia membunuh banyak banget orang, salah satunya adalah ibu dari Theseus. Theseus ini adalah warga biasa, tapi sebenernya, secara diam-diam Dewa Zeus udah memilihnya buat bertarung melawan Hyperion.

Yang namanya film perang, udah pasti banyak darah berceceran. Tapi sumpah yaa, film Immortals ini sadisnya berlebihan! Sadis, menegangkan, bikin pingin jerat-jerit. Hampir sepanjang film aku nutup mata pakai majalah. Tapi yah, emang keren sih visualnya.

Buat yang suka genre film beginian, wajib banget buat dateng ke iNAFFF di Blitz Megaplex Grand Indonesia. Festivalnya masih sampai tanggal 20 November kok. Harga tiketnya juga cuma Rp 25 ribu aja per film. Khusus untuk closing film, harganya Rp 45 ribu. Tapi keren kok closing film-nya, Indonesia punya, judulnya The Raid. Buat yang tinggal di Bandung, di kota ini juga bakal ada iNAFFF di Blitz Megaplex Paris Van Java, 25 - 27 November 2012. For more info, feel free to visit their website: www.inafff.com.

Happy watching!

iNAFFF 2011

Tuesday, October 25, 2011

Pingin nonton musisi dari dua generasi berkolaborasi? Tempatnya ya di Djakarta Artmosphere (Djaksphere).

Seneng banget, Djaksphere yang digelar untuk ketiga kalinya ini menampilkan musisi-musisi favoritku, kayak Endah N Rhesa, Luky Annash, dan Pure Saturday. Makanya aku nggak ragu ngeluarin duit Rp 50 ribu buat nonton acara yang diadain di Tennis Indoor Senayan, Sabtu (22/10).

Pas aku sampai di TKP jam 16.30, ternyata yang tampil masih The Experience Brothers. Band beraliran rock 'n roll yang terdiri dari dua kakak-beradik ini lumayan asik, interaktif, dan entertaining.

The Experience Brothers
Habis mereka kelar manggung, baru deh my favourite musician Luky Annash keluar dengan memakai kemeja hitam dan sayap kelelawar. Adik dari Eka dan Rully Annash ini tampil membawakan enam lagu, di antaranya Kritik Tanpa Solusi, Bahasa, cover version Smells Like Teen Spirit (Nirvana), dan Bajingan Ibukota. Seperti biasa, Luky Annash selalu total dan emosinya keluar semua kalau lagi manggung. Terlepas dari permainan pianonya yang outstanding, pas lagunya nge-rock dia cuma kayak orang kesurupan teriak-teriak. Tapi overall aksinya tetep keren kok, apalagi di akhir show Luky Annash sampai menduduki keyboard-nya. Dasar gilak! Hahaha.

Luky Annash
Setelah penampilan cadas Luky Annash, penonton diajak bersantai bareng White Shoes And The Couples Company. Ada enam lagu yang mereka bawakan, di antaranya Masa Remaja, Vakansi, Aksi Kucing, dan Matahari. Mantep dah, semua penonton ikutan goyang. Aku suka banget sama gayanya Sari, sang vokalis, kalau pas lagi nari-nari gitu.

White Shoes And The Couples Company

Kelar White Shoes And The Couples Company, sebenernya masih ada Sir Dandy. Tapi aku mundur ninggalin panggung buat ketemu sama Jaki, temenku. Yap, dari tadi aku nonton sendirian. Pas Sir Dandy main, aku dan Jaki ke musholla. Maghriban dulu, bro. Jadi aku nggak begitu ngamatin penampilan musisi nyeleneh ini. Cuman denger aja dia nyanyiin lagu Juara Dunia yang bercerita tentang Chris John. Habis Sir Dandy, ada Dialog Dini Hari, band beraliran folk asal Bali yang massanya lumayan banyak malam itu. Tapi aku sama Jaki cuma nonton di belakang.

Jam 20.00, semua penampil di Joyland stage udah selesai main. Oiya, sori lupa bilang, tadi yang aku ceritain itu adalah para musisi di Joyland stage, panggung kecil di luar venue. Nah, sekarang saatnya pindah ke panggung utama yang ada di dalam venue. Karena si Jaki males masuk cepet-cepet, padahal aku pingin masuk cepet biar dapet tempat depan, akhirnya kami berpisah. Aku masuk duluan. Metal beut yah akyu nonton cendiri, hihihik.

Habis nunggu lumayan lama, akhirnya MC Sarah Sechan dan Soleh Solihun muncul. Setelah mereka membuka acara, akhirnya duo favoritku Endah N Rhesa naik ke panggung! Pasangan suami-istri ini membuka penampilan dengan lagu I Don't Remember yang, seperti aksi-aksi sebelumnya, intro-nya dibikin kayak lagunya Red Hot Chili Peppers. Endah N Rhesa kemudian bawain single pertama dari album keduanya, Tuimbe. Keseruan terus berlanjut, band indie asal Jakarta ini memainkan lagu daerah Yamko Rambe Yamko, dilanjutkan dengan Wish You Were Here dan When You Love Someone. Selain pamer skill, seperti biasa penampilan Endah N Rhesa juga diwarnai kemesraan, kayak pas Rhesa tiba-tiba mencium kening Endah, atau pas Rhesa berlutut di depan Endah. Ouch! Habis lagu When You Love Someone, saat yang ditungu-tunggu pun tiba. Margie Segers, penyanyi wanita terkenal di era '70an, muncul bareng gitarisnya. Endah N Rhesa berkolaborasi sama Margie Segers bawain tiga lagu, salah satunya adalah lagu hits Semua Bisa Bilang. Semua penonton ikutan nyanyi dan goyang, sekaligus dibikin terpukau sama skill mereka. Oiya, di tengah-tengah performance, senar gitar Endah sempet putus lho! Tapi hal itu nggak terlalu mengganggu penampilan mereka secara keseluruhan, their collaboration was awesome!

Endah N Rhesa & Margie Segers


Oke, lanjut yah! Habis Endah N Rhesa, kini giliran Sarasvati yang tampil. Band asal Bandung yang kalau manggung suasananya langsung berubah jadi mistis ini bawain lima lagu mereka. Setelah itu, Sarasvati mengundang Keenan Nasution, musisi tahun '60-'70an. Kolaborasi mereka sempet bikin penonton goyang pas lagu Jamrud Khatulistiwa, tapi selebihnya, ya kalau menurutku sih boring. Penonton juga kayaknya udah mulai capek gara-gara udah berdiri lama, jadi pas Sarasvati kolaborasi sama Keenan Nasution penontonnya malah pada duduk gelesotan di bawah. Maaf yah Om Keenan, nggak nonton pas Om nge-drum.

Sarasvati & Keenan Nasution
Habis duduk-duduk pas kolaborasi Sarasvati dan Keenan Nasution, penonton jadi seger lagi buat menyaksikan aksi Pure Saturday! Icon musik indie asal Bandung ini langsung bikin penonton goyang sejak lagu pertama, Buka. Mereka pun terus menghibur Pure People yang nonton dengan lagu Spoken, Pagi, dan Desire. Setelah itu, Yockie Suryoprayogo pun naik ke panggung, berkolaborasi bareng Pure Saturday membawakan beberapa buah lagu, di antaranya adalah Elora dan lagu terbaru Pure Saturday, Albatros.

Pure Saturday
Waktu udah menunjukkan pukul 00.00 pas Pure Saturday dan Yockie Suryoprayogo selesai berkolaborasi. Rasanya udah ngantuk dan capek banget, pingin maki-maki panitia gara-gara acaranya molor. Menurut rundown, acara kelar jam 23.20. Tapi udah jam 12 dan masih ada satu penampil lagi. Pingin pulang, tapi sayang karena penutup acaranya adalah BRNDLS. Bukan, bukan, aku bukan nunggu BRNDLS-nya. Aku nggak peduli pas mereka main. Pas mereka perform aku cuma merhatiin aja betapa miripnya sang vokalis, Eka Annash, sama adiknya Luky Annash. Habis mereka mainin beberapa lagu, nah ini dia yang kutunggu-tunggu: kolaborasi BRNDLS dengan Koes Plus! Begitu band legendaris ini muncul, suasana langsung berubah jadi semarak. Semua penonton, yang pasti udah capek, langsung semangat lagi pas Koes Plus nyanyiin lagu-lagu hits kayak Bujangan, Diana, Jemu, dan ditutup dengan Pelangi. Walaupun udah tua-tua, tapi mereka masih rawk abis. Walaupun mereka tampil santai dan akrab sama penonton, tapi aura bintangnya tetep kerasa. Memang luar biasa yah, memang legend.

BRNDLS & Koes Plus

Jam 01.00, akhirnya Djaksphere taun ini resmi selesai. Aku suka banget sama konsep acaranya, semoga taun depan bisa hadir lagi dengan bintang tamu yang nggak kalah asik!

Tuesday, October 18, 2011

Nggak cuma Pramuka aja lho yang punya event Jambore, di komunitas sepeda lipat juga ada. Aku juga baru tau sih sebenernya. Yuk kita liat, ada acara apa aja sih di Jambore Sepeda Lipat Nasional (Jamselinas) yang berlangsung Sabtu-Minggu (15-16/10) kemarin? 

Acara Jamselinas yang bertempat di Vidi Arena, Pancoran, Jakarta, ini dibuka sejak Sabtu pagi, jam 10. Tapi berhubung aku gowes dari Jl. Kebayoran Lama, jadi aku baru sampai TKP jam 12-an. Selain jadi ajang ketemu komunitas-komunitas seli se-Indonesia, di sini juga ada pameran seli, klinik sepeda, bazar, dan bagi-bagi doorprize.

Sabtu malem, acara berlanjut dengan night ride ke Bunderan Hotel Indonesia (HI). Uhui, baru kali ini lho aku gowes malem di Jakarta. Walaupun langit Jakarta nyaris tanpa bintang, tapi kan ada aku tapi ternyata indah juga ya pemandangan berupa gedung-gedung sombong itu. Foto-foto jadi agenda wajib mulai dari awal perjalanan sampai finish. Oiya, sebelum kelupaan nyebutnya, aku gowesnya bareng rombongan dari komunitas Jogja Folding Bike (JFB). Sekitar jam 11 malem, kami pun harus balik ke Sudirman Park, apartemen tempat kami menginap.

Minggu pagi, kami sepedaan lagi. Kalo yang ini rada jauh, tujuannya ke Kota Tua. Jauhnya sih ternyata nggak kerasa, soalnya kan sepedaannya rame-rame. Yang kerasa banget ya panasnya. Ampuuun!

Sebelum ke Kota Tua, kami sempet mampir ke Pelabuhan Sunda Kelapa buat foto-foto. Trus baru deh kami parkir sepeda di depan Museum Fatahillah, Kota Tua, lagi-lagi buat berfoto sekalian berjemur. Sayang sih kami cuma stay lama di situ aja, padahal kalau mau sepedaan di sekeliling situ sebenernya banyak juga gedung tua yang lucu buat background foto. Tapi ya gimana, panas cyin.

Jam 11-an, kami pun harus melalui lagi perjalanan pulang yang melelahkan dan membakar kulit. Menurut catatan Endomondo milik Mas Moko, temenku, kami udah gowes sepanjang 30,85 km selama heritage trip pagi itu. Bukan prestasi sih, soalnya aku pernah sepedaan lebih jauh dari itu (*sombong*). Setelah sampai lagi di Vidi Arena, makan siang, temen-temen dari JFB pun harus kembali ke kota asalnya. Yah, musti pisah deh sama mereka.

Walaupun capek dan panas, tapi overall acara ini seru banget! Kalau bukan gara-gara Jamselinas, aku pasti nggak akan gowes sampai Kota Tua. Aku nggak bakal juga naik sepeda sendirian sampai Vidi Arena di Pancoran. Pokoknya Jamselinas ini sesuatu banget deh. Sampai ketemu di Jamselinas berikutnya yaaah! :D

Foto bareng setelah night ride ke Bunderan HI
Di depan Museum Fatahillah
Seli-seli pada ngumpul
Foto: Muhammad Bayu Setiadi

Monday, October 10, 2011

Warrior
Kalau ada film yang isinya pukul-pukulan, tapi bisa bikin aku nangis and even becomes my favourite movie, jawabannya ya film berjudul Warrior.

Film yang baru dirilis September 2011 ini berkisah tentang konflik kakak-beradik, yaitu Brendan dan Tommy Conlon. Sewaktu kecil, bisa dibilang mereka ngerasain apa yang disebut broken home. Ibu mereka meninggal, sedangkan sang ayah punya watak keras. Brendan pun meninggalkan rumah buat menikah, dan nggak pernah ketemu lagi sama adiknya. Tommy pun benci banget sama kakakknya yang lebih memilih pergi bersama istrinya.

Setelah bertahun-tahun, Brendan yang berprofesi sebagai guru fisika ini punya masalah keuangan, rumahnya bakal disita. Sementara itu, Tommy juga lagi pingin ngumpulin duit buat membantu keluarga almarhum temannya. Background keduanya yang emang akrab dengan seni bela diri, membuat mereka sama-sama ikut kompetisi bela diri berhadiah besar. Singkat cerita, mereka akhirnya ketemu di final. Trus, siapa ya yang menang? Daripada aku spoiler, mending tonton sendiri aja yaah.

Secara keseluruhan, film ini menarik banget buat ditonton. Awalnya sih aku emang bingung sama jalan ceritanya, tapi makin lama makin jelas kok. Para pecinta film action juga pasti puas banget nonton adegan demi adegan di Warrior, apalagi pas udah mulai masuk kompetisi bela diri. Kalau dari segi pemainnya, sebenernya nggak terlalu terkenal, kayak Joel Edgerton dan Tom Hardy, tapi mereka bener-bener berhasil memerankan tokoh masing-masing dengan sempurna. Film yang disutradari Gavin O'Connor ini juga ditutup dengan dramatis. Walau nggak suka film action, tapi film ini tetep wajib tonton!

Friday, October 7, 2011

Lenka is back! She held another great concert in Jakarta, Wednesday (5/10).

Buat yang udah pernah baca blogku di Multiply, mungkin udah tau ya kalau Lenka is one of my favourite singer. Seneng banget, aku dapet kesempatan buat ngeliput konser penyanyi asal Australia ini di Skeeno Hall Gandaria City, Jakarta.

Sebenernya aku pingin cerita banyak tentang konser kedua Lenka di Indonesia ini, tapi gimana ya. Aku juga ada tanggungan nulis di majalah tempat aku kerja. Nah, nulis yang itu aja belom kelar. :|

Pada intinya, Lenka yang ternyata lagi hamil ini bener-bener sukses bikin fansnya goyang. Walaupun di malam yang sama juga lagi ada konser Westlife, tapi tiket Lenka yang dijual sebanyak 2670 lembar tetep aja sold out! Total ada 17 lagu yang dinyanyiin Lenka bareng band-nya, beberapa diambil dari album pertama, kayak Trouble Is A Friend, Like A Song, Don't Let Me Fall. Dan tentunya, ada juga lagu-lagu dari album keduanya yang baru dirilis April kemarin, seperti Heart Skips A Beat, Roll With The Punches, dan Two. Lenka yang malam itu tampil cantik pakai dress pink menutup penampilan satu setengah jamnya dengan single pertama yang udah melambungkan namanya, The Show.

Your concert was really awesome and entertaining, Lenka. I really enjoyed your show, come again to Indonesia!
 
Nyanyi lagu Roll With The Punches sambil main keyboard
Ramah banget sama fans-nya!
Sambil main apa sih itu? Synthesizer yah namanya?
Lenka pakai batik pas press conference!

Monday, October 3, 2011


Kalo ditanya, ”game apa sih yang lagi happening banget belakangan ini?” Mungkin banyak yang bakal jawab: “Caro.” 

Yap, permainan ini emang lagi nge-boom banget di kalangan pengguna BlackBerry. Banyak temen di kontak BBM yang statusnya “Playing Caro.” Yang nggak tau ini game apa, pasti jadi penasaran trus ikutan main juga.

Sebenernya game ini udah nggak asing lagi lho buat kita, soalnya emang Caro tuh kayak permainan kita jaman SD dulu itu lhooo. Yang bulet-silang? Yang duluan bisa bikin lima bulet/silang berjajar, baik mendatar, menurun, atau miring, dialah pemenangnya. Bedanya cuma kalo di Caro ini kita nggak perlu repot-repot lagi nyiapin kertas dan nggarisin bikin tabel, nggak perlu curi-curi main pas jam pelajaran! Hehe. 

Tampilan game Caro
Yang bikin asik, kita bisa nantangin main temen-temen kontak BBM kita! Jadi nggak cuma sekedar main lawan mesin. Dan pas lagi nge-game pun kita bisa chat sama lawan kita itu. Jadi kita tetep bisa ngejek-ngejek kalo udah mau menang, hahaha.

Kalo temen yang mau kita tantang belom download aplikasi Caro, gimana dong? Tenang aja, kita bisa invite friends to download kok, jadi mereka lebih gampang download-nya. Nah, kalo kitanya yang kepingin main tapi nggak ada yang invite kita buat download gimana? Yaudah sih jangan nangis, klik aja BlackBerry App World trus search “Caro”.

Selain itu, masih ada lagi nih kecanggihan Caro. Game ini bakal nyatet statistik kita, udah menang berapa kali, kalah berapa kali, seri berapa kali. Jadi bisa ketauan kalo kita kalahan, hahaha! Oiya, kalo mau, kita juga bisa connect to Facebook lho. Jadi ntar aktivitas Caro kita bisa nongol di wall Facebook. Aah seru banget kan! Nggak heran kalo game yang baru dirilis 22 Agustus kemarin ini udah dimainin sama lebih dari 250 ribu orang.

Terlepas dari kecanggihan yang diusung Caro, permainan ini udah sukses mengobati kerinduan kita akan game-game lawas. Ceileeeh, bahasanya. Eh tapi bener lho, selain mengasah kecerdikan, Caro juga bikin aku jadi kangen sama permainan jaman sekolah dulu, kayak SOS misalnya? Ada yang tau nggak? Kita musti banyak-banyakan bikin atau nemuin kata SOS. Atau game Otello mungkin? Atau balap pensil? Atau bekel? Atau lompat tali? Atau lompat gedung? Yaelah makin lama makin ngaco.

Selain itu, aku juga salut sama ide integrasi antara game dan BBM. Coba kalo nggak terintegrasi, alias main sendirian doang, nggak bakal laris manis tuh game-nya. Ntar kalo ada game asik lain yang bisa dimainin bareng temen-temen BBM, jangan lupa invite aku yeh! Sambil nungguin, main Caro lagi yuuk...

Monday, September 12, 2011


Atasanku pernah bilang, “cewek itu ngapain nikah muda? Paling enggak umur 30-lah baru nikah. Karier harus mapan dulu.”

DEG. Kata-kata beliau itu tentu menohok banget buat aku yang dari dulu bercita-cita pingin nikah umur 25. Alasanku pingin nikah muda sebenernya simple aja sih: aku pingin jarak usiaku sama anakku besok nggak kejauhan. Jadi aku masih nyambunglah kalo ngobrol sama mereka, masih bisa hang out bareng, hihihi.

Sementara itu, alasan bosku yang kontra sama nikah muda adalah masalah kemapanan. Di jaman sekarang ini emang nggak gampang ngebesarin anak cuma dengan modal cinta. Jadi emang harus siap secara materi dulu kalo pingin nikah. Toh, sekarang juga banyak wanita umur 30-an yang belum married. Jadi nggak perlu khawatir dapet julukan “perawan tua” dari lingkungan sosial. Pemikiran beliau itu emang khas banget pemikiran para wanita modern. Career oriented.
Image: sweetspotcards.com
Aku sih setuju aja sama pernyataan kalo kita musti punya penghasilan dulu sebelum nikah. Tapi hal itu bukan berarti kita harus sukses dan bergelimang harta dulu baru boleh nikah kan? Kalo menurutku sih, yang penting duit kita cukup buat beli semua keperluan anak. Nggak perlu harus di puncak karier dulu. Lagian ya, kalo baru nikah umur 30 ntar keburu cowok-cowok seumuran kita nikahin orang lain. Yang ada ntar tinggal brondong-brondong deh yang masih single. Eiyuuuh.

Nah, kasus lain yang banyak terjadi adalah nikah terlalu muda, yaitu usia di bawah 25 tahun. Temen-temen cewekku yang nikah umur segini sih rata-rata married-nya sama cowok lebih tua yang udah berpenghasilan. Berarti untuk masalah menafkahi anak udah okelah ya. Tapi giiirls, yakin lo mau masa muda lo direnggut secepet iniii? Yakin lo nggak mau sering-sering main sama temen-temen lagiii? Soalnya ya, menurut pengalaman, temen-temen yang udah nikah tuh rata-rata jadi susah diajak jalan. Jangankan main ya, untuk acara penting kayak reuni angkatan aja mereka nggak bisa dateng. Hufff. Selain itu, kalo nikah terlalu muda, aku ngerasa nggak akan punya cukup banyak pengalaman yang nanti bisa dibagiin ke anak-anakku. Gara-garanya ya itu, masa mudaku direbut terlalu cepat.

Tapiii yaa tapiii, masalah nikah itu emang pilihan sih. Pilihan dan nasib, lebih tepatnya. Aku nggak bisa nge-judge nikah terlalu muda atau nikah terlalu tua itu nggak enak, toh aku belum menjalaninya. Yang tadi itu cuma sekedar opini aja. Yang jelas, mau berapapun usianya, nikah itu adalah ibadah. Kalo sanggup beribadah lebih cepat, ngapain ditunda-tunda?

Monday, September 5, 2011

Monday, August 15, 2011

Last Saturday (13/8), me and my college friends broke our fasts at Brussels Spring, Epicentrum Walk, Jakarta. I love this place, it was really cozy and served delicious western food, such as steak, spaghetti, and waffle. Besides, I also enjoyed to walk around Epicentrum area. There is a wide, clean pavement each side of the street, and there are a lot of trees also. It's very pedestrian friendly!

Take a pic at Brussels Spring
With some college friends
OOTD
At Epicentrum area

Thursday, August 11, 2011

A couple weeks ago, my office moved to a new location. Therefore, I planned to move to a boarding house which is nearer to my new office building. At that time, I didn't feel so sad for leaving my friends from my old boarding house. I knew that I would miss them a lot, but we could still meet each other, right? But evidently, I had to cancel my moving plan due to the expensive cost of the new boarding house. So now I'm still living happily with them.

Yesterday, suddenly one of my boarding house friends said that she would go back to her hometown in Medan. Both of her parents were seriously ill, so she had to take care of them. She planned to leave Jakarta by the end of this month, and she didn't know yet when she would return. She also planned to quit her job because of this reason! It means, she will leave for a long time. I feel so sad, really. We're quite close, we have been through so many wonderful times together. I was about to cry when she told me this plan.

Yeah, a goodbye is always painful. But I think it's much more painful to be the one who's being left than be the one who's leaving.

Take care, Jusrini!

Tuesday, August 9, 2011


Hello everyone!

I finally decided to use Blogspot after my old blog host shifting into an online shopping media. Its orientation is no longer social network since its target for this year is become a host of 50.000 online shops. Can you guess what my old blog host is? :p

As you can see above, I choose the name "Girly-Pop" for this blog. That's because I love girly things as much as I love pop culture. Besides, when I was browsing on the internet, I also found that girly-pop is a genre of pop music by certain female singers that has its origins in the early 2000s. It's valuing positive and happy songwriting, not trying to keep up with the trends. Examples of the girly-pop singers are Colbie Caillat, Natasha Beddingfield, Michelle Branch, and Vanessa Charlton. Like I said on my previous blog, I like female singers better than male singers. That's why, I think the name "Girly-Pop" really suits me, although I probably won't talk much about girly-pop music on this blog.

Well, I think it's enough for my first post. Hope you'll enjoy my new blog! :D

I'm new to this house!

Thursday, August 4, 2011


Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Harry Potter And The Deathly Hallows Part 2
Here it is, film yang paling ditunggu-tunggu para pecinta Harry Potter. Walopun udah baca bukunya dan tau ending ceritanya, tapi tetep aja hukumnya wajib buat nonton seri terakhir dari petualangan penyihir ini.

Harry Potter And The Deathly Hallows Part 2 berisi tentang lanjutan perjuangan Harry mencari dan menghancurkan Horcrux. Horcrux yang tersisa adalah Piala Hufflepuff, Mahkota Ravenclaw, si ular Nagini, dan... Harry itu sendiri. Pada saat itulah Harry musti berhadapan head to head sama Lord Voldemort.

Tegang banget rasanya selama nonton film yang disutradarai David Yates ini. Dari awal sampai akhir, suasana filmnya gelap dan suram. Ada beberapa bagian yang bikin sedih juga. Bener-bener mampu mengaduk perasaan deh pokoknya (sirup kaliiik diaduk). Selain itu, visual effect-nya juga keren.

Pas nonton, sebenernya aku udah rada lupa sih sama jalan cerita di bukunya. Ya jelas aja, bacanya kan udah sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Tapi ada bagusnya juga, soalnya jadi nggak ngebanding-bandingin antara buku dan filmnya. Menurutku film ini nggak ada cacatnya, it's a perfect ending for Harry Potter series!

Monday, August 1, 2011


Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Other
Author:Dewi Lestari
Madre
Bulan lalu, Dewi ‘Dee’ Lestari ngeluarin bukunya yang ketujuh, judulnya Madre. Buku ini berisi 13 cerita yang ditulis Dee dalam 5 tahun terakhir (2006 – 2011), di antaranya Guruji, Menunggu Layang-Layang, dan tentunya cerita yang dijadiin judul buku, yaitu Madre.

Bener banget Dee milih Madre sebagai karya andalan di bukunya ini, soalnya aku suka banget sama ceritanya. Madre berkisah tentang Tansen, seorang pria yang tiba-tiba dapet warisan berupa biang roti. Emangnya apa sih biang roti? Baca sendiri aja ya kalo pingin tau. :p

Yang jelas, penjelasan Dee di cerita ini detail banget, aku yang nggak tau apa pun tentang roti jadi bisa ngebayangin gimana cara bikin roti, gimana manajemennya toko roti, baunya... hmmm! Gaya bahasanya juga mengalir, enak dibaca. Bikin penasaran, rasanya pingin baca lagi dan lagi.

Selain cerita, buku setebal 160 halaman ini juga berisi puisi-puisi, kayak Ingatan tentang Kalian, Wajah Telaga, dan Tanyaku Pada Bambu. Jujur sih aku nggak gitu suka sama puisinya. Gimana mau suka kalo nggak ngerti maksudnya? Hahaha. Maaf, aku emang susah mencerna maksud di balik kata-kata dalam puisi.

Walo gitu, overall aku suka banget sama buku Madre ini. Ceritanya menarik dan nggak biasa. Selamat membaca!

Monday, July 25, 2011

Sekarang emang lagi musim banget ya demen band-band Korea. Aku sih dulu sama sekali nggak ngerti apa itu CN Blue, 2 PM, Super Junior, dan temen-temennya. But now, I think I’m caught in the Korean wave. 

Perkenalanku sama band-band Korea itu bisa dibilang ‘kecelakaan’. Dari dulu aku punya banyak temen yang suka ma Korea, kayak si Geo, Baskara, Cipto, Yuyun. Aku tau sih kalo ada banyak bintang Korea yang ganteng plus jago nge-dance, tapi tetep aja aku nggak minat. Sampai pada suatu jam makan siang yang selo, aku nggak sengaja ikutan temenku nonton Running Man.

Buat para Korean addicts pasti udah tau ya, Running Man adalah salah satu variety show Korea yang sampai sekarang masih tayang di negeri ginseng itu. Di situ ada 8 artis Korea yang jadi pemain tetap, trus ada juga beberapa artis yang jadi guests, jumlahnya 1 - 3 guests per episodenya. Nah, semua bintang Korea itu, mulai dari pemain tetap sampai guests, harus memainkan beberapa games buat dapet Running Ball. Para peserta yang nggak berhasil dapet Running Ball harus siap-siap nerima hukuman.

Siang itu, aku ikutan temenku nonton Running Man episode 11. Pas itu, yang jadi guests adalah Jung Yong Hwa dan Kim Jae Dong. Buat yang tau Yong Hwa, pasti ngerti dong betapa gantengnya vokalis dan gitaris CN Blue ini. Kebetulan, berbagai games yang musti dimainin di Running Man emang butuh kepintaran, kekuatan, dan kadang juga kelicikan. Dari variety show ini juga, kita bisa ngeliat gimana personality masing-masing peserta. And Yong Hwa suits my ideal type of guy perfectly! He’s handsome, smart, witty, and has a good sense of humor. Mulai deh, habis itu aku googling tentang Yong Hwa, nggak lupa juga buat mantengin video klip CN Blue di Youtube.

Tapi aku nggak cuma jatuh cinta ma Yong Hwa aja lho. Aku juga jadi suka sama serial Running Man yang lucu buangeeet! Aku pun ngopy variety show ini dari episode 1 – 42. Tiap malem sepulang kantor, secapek apapun, pasti aku sempetin nonton tayangan berdurasi 1 – 1,5 jam ini. Dan setiap episodenya, aku terbawa lebih jauh lagi masuk ke dunia Korea. Aku jadi ‘kenal’ sama bintang-bintang Korea yang muncul jadi guests di situ, kayak Jessica, Yoona, dan Sunny dari SNSD, Nichkhun dan Taecyeon dari 2 PM, Choi Siwon dari Super Junior, dan penyanyi R&B Lee Hyori. Dan tentunya juga jadi apal banget sama karakter pemain tetapnya, kayak MC Yoo Jae Suk yang kocak dan hobi curang, penyanyi Kim Jong Kook yang kekar dan teratur jaga pola makan, atau aktor Song Joong Ki yang ganteng, pinter, dan selalu semangat.

Kalo orang lain biasanya suka dulu ma artis Korea terus jadi suka nonton variety show-nya, aku justru kebalikan. Aku suka nonton variety show-nya dulu, baru jadi suka ma artis-artisnya. Sekarang, kalo mampir ke rak majalah di toko buku, tanpa sadar yang kuambil adalah majalah semacam Asian Stars. Aku juga jadi tau beberapa Bahasa Korea yang sering diucapin, kayak Annyeong, Aigoo, Oppa, Hyung.

Selain Running Man, aku udah ngopy beberapa Korean variety show lain, kayak We Got Married dan Strong Heart, tapi belum sempet kutonton. Aku siap menyelami dunia Korea lebih dalam. Dowa juseyo, kamsa hamnidaaa! :D

Jung Yong Hwa
Running Man

Tuesday, July 12, 2011


Rating:★★★★★
Category:Movies
Genre: Romantic Comedy
Kalo boleh lebay, Crazy Little Thing Called Love is the most romantic movie I've ever seen. 50 First Dates atau bahkan Titanic pun masih kalah romantis dibanding film ini. Soalnya, film Thailand ini mengambil setting yang sehari-hari banget, jadi ceritanya kerasa nyata.

Crazy Little Thing Called Love berkisah tentang Nam, seorang cewek 14 tahun yang naksir kakak kelasnya, Shone. Shone ini adalah cowok ganteng, populer, anak tim sepakbola, digilai banyak cewek. Sementara Nam, dia bukan siapa-siapa di sekolah, anggota geng cupu, tampangnya di bawah rata-rata, kecerdasan juga biasa.

Berbagai macam cara pun dilakukan Nam buat mendapatkan hati Shone. Pada akhirnya Nam emang bisa merubah diri dari itik buruk rupa jadi angsa yang cantik. Tapi apakah Shone lalu mencintainya? Daripada aku spoiler, mending nonton sendiri aja yah. :D

Yang jelas, aku sampe nangis-nangis pas nonton Crazy Little Thing Called Love. Setting-nya emang remaja banget, jalan ceritanya juga cheesy dan sederhana, tapi beneran deh, tonton dulu filmnya. Jarang banget ada film remaja yang bagus kayak gini.

Aku dapet banget feel-nya film ini, dan aku yakin semua yang pernah ngerasain cinta pertama pas jaman sekolah dulu juga berhasil dibawa kembali mengingat masa-masa itu. Masa-masa konyol, hahaha. Apalagi karena setting-nya masih sama-sama di Asia, jadi masih rada-rada mirip gitu sama yang kita alamin. Feel-nya beda deh pokoknya sama film Barat! Di akhir cerita, film ini juga ngasih pesen kalo energi cinta harus digunakan secara positif, it has to be a power that supports us to be a better person.

Banyak konflik juga yang ditampilkan selain kisah cintanya Nam, misalnya kayak pas Nam berantem sama temen-temen gengnya setelah dia berubah jadi cantik. Ada juga kisah Shone terkait dengan masa lalu ayahnya sebagai pesepakbola yang gagal.

Pada intinya, Crazy Little Thing Called Love bener-bener seger dan menghibur. It's a really must watch movie, trust me. ;)