Friday, February 25, 2011

Rating:★★
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
The Mechanic is another cool movie starred by Jason Statham. Film ini berkisah tentang Arthur Bishop (Jason Statham) yang berprofesi sebagai ‘mechanic’, yaitu seseorang yang bertugas membunuh target-targetnya dengan rapi. Pekerjaan ini membutuhkan skill tinggi, karena si target harus tampak meninggal karena alasan lain, bukan karena sengaja dibunuh.

Pergulatan batin dialami Arthur ketika ia diharuskan membunuh Harry McKenna (Donald Sutherland), guru sekaligus teman dekatnya. Jika Arthur tak membunuhnya, Harry tetap akan dibunuh oleh ‘mechanic’ lain. Akhirnya, Arthur pun menghabisi Harry dengan tangannya.

Tak lama setelah kematian Harry, Arthur bertemu dengan Steve McKenna (Ben Foster), putra Harry. Arthur adalah murid Harry yang paling hebat, oleh karena itu Steve ingin berguru padanya. Hari demi hari kemudian dihabiskan Steve untuk belajar dari Arthur, hingga pada suatu saat Steve mengetahui bahwa Arthurlah pembunuh ayahnya.

Film berdurasi 93 menit ini didominasi oleh adegan kekerasan yang tak jarang menampilkan pertumpahan darah. Namun ending The Mechanic cukup keren dan mengejutkan.

Mengenai penampilan Jason Statham sendiri, terus terang aku lebih suka saat ia berakting di The Expendables. Meski peran Statham di kedua film ini hampir sama, yaitu sama-sama pembunuh bayaran, tapi Statham tampak lebih serius dan asosial di film The Mechanic. Dua bintang saja untuk film ini.
Setelah berminggu-minggu melakukan revisi skripsi, akhirnya aku lulus juga. 

Proses revisi skripsiku bisa dibilang mudah dan tanpa tantangan. Aku hanya perlu menghadap Bang Abrar dua kali sebelum beliau memberikan acc. Dosen pengujiku yang lain, Cak Budi, lebih enak lagi. Aku hanya bertemu beliau sekali saja. Dan yang menggembirakan sekaligus menyakitkan, Cak Budi meng-acc skripsiku tanpa membacanya sama sekali. -_-

Setelah dua dosen penguji membubuhkan tanda tangan, tibalah saatnya aku menghadap dosen pembimbing. Sebelum meng-acc skripsiku, beliau menanyakan proses revisiku dengan dua penguji lain. Kujawab saja jujur dan apa adanya. Dosen pengujiku kemudian tertawa mengejek. Zzz.

Yak, dengan ditandatanganinya skripsiku oleh ketiga dosen, secara tidak langsung aku sudah dinyatakan lulus. Tapi sedihnya, aku tidak pernah mendengarkan kata itu resmi diucapkan oleh dosen pembimbingku. Ya sudahlah, yang penting intinya aku sudah lulus. Alhamdulillah.

Beberapa minggu kemudian, nilai skripsi keluar. Hasil jerih payahku selama 10 bulan hanya mendapat nilai B. Tidak apa-apa, sekali lagi, alhamdulillah.

Pada hari Rabu (23/2) kemarin, secara resmi aku diwisuda dan menyandang gelar Sarjana Ilmu Politik (S.I.P.). Dan yang lebih membanggakan sekaligus mengejutkan, aku dinyatakan sebagai lulusan terbaik jurusan. Kegembiraanku hari itu semakin lengkap saat tiba-tiba aku ditelepon HRD sebuah majalah yang mengabarkan bahwa aku diterima bekerja di sana.

Foto bareng Mba Hermin
Aku langsung teringat ucapan dosen pembimbingku saat aku tengah terjatuh dalam proses penggarapan skripsi, “mungkin saat ini kamu memang sedang diberi cobaan. Tapi siapa tahu nanti kamu diberi kemudahan dalam hal lain, misalnya cepat mendapat kerja...” Kata-kata beliau tersebut rupanya diamini malaikat. Lagi dan lagi, alhamdulillah.

Yah, akhirnya perjalananku selama menjadi mahasiswa memiliki happy ending. Ini adalah edisi terakhir dari serial Starin dan Skripsi, semoga kisahku bisa menginspirasi dan memberi semangat teman-teman yang masih bergumul dengan skripsi. Tetap semangat, no one can beat you except the cute person who you see in the mirror. ;)