Friday, March 25, 2011

There’s a monkey who lives somewhere far away, far away from here. Maybe we can call the place the Eden of the East. The monkey climbs a tree, and sees a rainbow in the sky, and sees the jungle from the top of that tree. He is looking for a banana tree, it’s so hard to find. He will never stop until the night has come, swinging from the vines. 

Finally, he find the banana tree. Yes, he is so happy, but there’s only one that’s ripe. He can’t wait to eat it. The monkey climbs the tree and grabs the banana with his hand. But when he wants to eat, he sees a little monkey on the ground. Little monkey can’t jump, he just stares at him and cries. He is starving. The monkey thinks so hard and doesn’t bear to ignore him, and then... he gives the banana to the little monkey! 

Cerita tentang monyet berhati mulia di atas sebenarnya merupakan lirik salah satu lagu Endah N Rhesa, judulnya Monkey Song. Berkali-kali denger lagu ini, aku sama sekali nggak ngeh tentang cerita yang dikandungnya. Baru pas kemarin mau nonton konser duo indie asal Jakarta ini, aku mencermati maksudnya. Temponya yang lumayan cepat emang bikin nuansa lagu ini jadi terasa riang. Tapi habis kudengerin sambil baca liriknya, tiba-tiba aja aku merasa merinding dan terharu, terutama pas kalimat terakhir: 

What a life... IS TO CARE AND SHARE. 

Endah N Rhesa berhasil menyadarkanku tentang makna hidup, ‘cuma' lewat cerita tentang monyet! Seekor monyet kelaparan udah bersusah payah nyari pisang, tapi pada akhirnya ia memberikan pisang temuannya pada seekor monyet kecil. Monyet aja bisa peduli dan berbagi, kenapa manusia enggak? Manusia, dengan segala kecerdasan yang dimilikinya, kadang malah jadi terlalu egois. Semua tindakan didasari perhitungan untung-rugi. Kepentingan individulah yang utama. Biarin aja yang lain sengsara, yang penting diri sendiri senang. 

Aku jadi inget kisah Arga Tirta Kirana. Ibu dari Alanda Kariza ini dituduh terlibat dalam pencairan kredit kepada debitur yang merugikan Bank Century sebesar Rp 360 miliar. Padahal, sebagai karyawan, Arga sama sekali nggak punya wewenang buat ngasih persetujuan aliran kredit. Sungguh aneh luar biasa, tuntutan terberat justru jatuh pada ibu tiga anak ini, yaitu 10 tahun penjara dan denda Rp 10 milyar! Bahkan Gayus aja cuma dihukum 7 tahun penjara dan denda Rp 300 juta. Pada sidang yang baru berlangsung Kamis kemarin (24/3), Arga akhirnya emang ‘cuma' ditahan 3 tahun dan denda Rp 5 milyar. Tapi dari kisah ini, jelas bahwa Arga hanyalah kambing hitam dari perbuatan sekelompok orang yang memiliki uang dan kekuasaan. Sekelompok orang itu, as a ‘monkey’, nggak seharusnya berbuat demikian pada Arga selaku ‘a little monkey’. Kecuali, mereka lebih nggak punya hati dibanding monyet. 

Well, what I’m trying to say is, alangkah indahnya hidup ini kalo sesama manusia bisa saling peduli. Nggak ada lagi sirik-sirikan antartetangga. Nggak ada lagi kekerasan antarumat beragama. Nggak ada lagi saling sikut demi uang dan kekuasaan. Hey, kita semua sama-sama manusia! All of us want the world to be a better place to live in, right? So, always remember that-as Endah N Rhesa said through their Monkey Song-life is about CARE and SHARE.

Monday, March 21, 2011

Finally, I could watch my favourite band Endah N Rhesa’s live performance!

Dalam rangka ngerayain ulang tahunnya yang pertama, Langit Musik menggelar sebuah pentas musik, Sabtu (19/3). Meski gratisan, tapi nggak semua orang bisa nonton acara ulang tahun online shop musik ini. Kita musti ngisi formulir di web Langit Musik dulu. Kalo setelah itu kita menerima approval email, berarti kita bisa nonton konser ini. 

Oke, langsung ke acaranya! Konser ulang tahun yang diadain di Epicentrum Walk, Kuningan, ini udah dimulai sejak pukul 15.00. Tapi aku, Nadia, dan Jaki janjian di sana ba’da Maghrib. Yah, namanya juga naik Transjakarta, aku dan Nadia baru sampe di TKP jam 20.00. Setibanya di acara yang didatengin ribuan orang ini, kami menemukan Jaki lagi asik mantengin aksi The Milo di stage dua.

Yup, there were two stages in this concert. Stage satu terletak di dalam ruangan, sedangkan stage duanya outdoor. Usai nonton The Milo, kami bertiga bergerak ke stage satu buat nonton penampilan Tika and The Dissidents. Lalu terjadilah perdebatan singkat. Habis Tika and The Dissidents, bakal ada The Trees and The Wild (TTATW) di stage satu, dan Endah N Rhesa di panggung dua. Kedua sohibku pingin nonton TTATW, sedangkan aku, udah pasti pilih Endah N Rhesa. I came to the concert because of that band! Aku belum pernah nonton mereka secara live. Baiklah, karena nggak mungkin juga maksa teman-teman buat nonton duo favoritku, akhirnya aku ke stage dua sendirian. Sendiri, dan pas banget stage yang terletak outdoor itu lagi diguyur gerimis agak deras. Nggak pa-pa, demi Endah N Rhesa!

Pas aku sampe stage dua, Drew masih belum selesai tampil. Baru kali ini aku nonton band beraliran pop-akustik ini, tapi mereka sungguh berpotensi menjadi the next my favourite band! I love their music, I love the way they performed. Setelah Drew kelar manggung, para penonton yang pingin nonton TTATW langsung mundur untuk pindah ke stage satu. Aku langsung merangsek maju, mencari posisi paling depan yang bisa kutempati. Alhamdulillah, dapet lumayan depan! Now, it’s time for Endah N Rhesa! Woohoo!!

Pasangan suami istri ini membuka penampilan dengan sebuah lagu dari Bela Fleck & Flecktones. Tapi cuma bentar aja, karena mereka langsung menyambungnya dengan satu track dari album kedua mereka, judulnya Monkey Song. Setelah beramah-tamah dengan earFriends yang nonton, mereka lanjut memainkan Tuimbe, disusul dengan lagu favoritku yang video klipnya udah bisa ditonton di YouTube, Waiting.

Endah N Rhesa
Di lagu kelima, band beraliran ballad-akustik ini membawakan lagu di album pertama mereka, I Don’t Remember. Serunya, intro gitar lagu ini dimodifikasi jadi kayak intro lagunya Red Hot Chilli Pepper. Pas lagi nampilin lagu kelima ini, tiba-tiba terdengar sirine. Endah N Rhesa langsung nge-freeze selama semenit. Momen yang berlangsung jam 22.00 teng ini disebut Moment of My Expression. Dari momen itu, penonton diajak untuk menyadari apa yang akan terjadi pada musisi Indonesia kalo musik mereka nggak diapresiasi dengan tepat. Kalo kita terus membajak lagu mereka, maka industri musik Indonesia akan mandeg.

Gaya nge-freeze-nya Endah N Rhesa
Lanjut gan! Pada lagu keenam, Endah N Rhesa menyanyikan lagu yang memopulerkan nama mereka, apalagi kalo bukan When You Love Someone. Seluruh earFriends yang nonton langsung ikutan nyanyi. Habis lagu ini selesai, Endah tiba-tiba memeluk Rhesa sambil nangis. Pingin tau kenapa lagu ini terasa begitu emosional bagi Endah malam itu? You can read her reason here. Band asal Jakarta ini kemudian menutup penampilan 30 menit mereka dengan lagu bersentuhan blues dari album pertama, judulnya Baby It’s You.

Secara keseluruhan, penampilan Endah N Rhesa malam itu sungguh mengesankan. Selain interaktif, mereka juga kerap berimprovisasi dan unjuk skill bermusik di sela-sela lagu. Pas lagu terakhir, mereka sempat memainkan satu gitar bersama-sama. Sempat pula Rhesa mencium kening Endah. Awesome, entertaining, and so sweet also... Love you more, guys!

Main bareng di satu gitar
Habis tersihir sama penampilan duo favoritku itu, aku kembali ke stage satu untuk bergabung dengan Nadia dan Jaki. Setelah TTATW, stage satu menampilkan White Shoes and The Couples Company. Usai band asal Jakarta ini manggung, giliran Ran yang bakal tampil sebagai band penutup. Tapi Pure People mana yang peduli sama Ran, kalo di stage dua ada Pure Saturday! Aku dan kedua sahabatku langsung menghambur ke stage dua buat nonton aksi Pure Saturday. Ini adalah kali ketiga aku nonton band asal Bandung ini. Tapi tetap aja aku nggak bosen, apalagi ada dua lagu baru yang mereka bawakan.

Pure Saturday
Puas banget deh nonton konser ulang tahun Langit Musik ini. Meski malamnya kami terpaksa menginap di McDonald’s karena udah kemalaman, but I enjoyed the concert very much!

Foto bareng Nadia
Bermalam di McDonald's

Friday, March 18, 2011

Tiga minggu tinggal di Jakarta, ada banyak hal yang kurindukan dari Jogja. But there is someone who I miss the most, she is my best friend ever. Her name is Rachma Merdania, I often call her “Kabol” or “Bebeb”. 

Starin & Kabol
Aku kenal Kabol udah sejak SD, tepatnya kelas 5 SD. Kebetulan kami emang tinggal di satu komplek perumahan. Waktu itu geng kami berseteru, Kabol dan teman-temannya merupakan pemuja Base Jam, sedangkan gengku adalah fans The Moffatts. Pas SMP, kami berdua sama-sama diterima di sekolah favorit di Yogyakarta. Meski kelas kami sebelahan, tapi tetep aja kami nggak deket.

Mungkin emang jodoh, pas SMA lagi-lagi we studied at the same school. Teman sekelasku pas kelas dua, namanya Pengky, adalah sahabat Kabol pas kelas satu. Secara sepihak, Kabol kemudian membuat geng bernama Pengkierz yang beranggotakan ia sendiri, aku, Pengky, dan kedua teman lain. Kami pun mulai deket. Apalagi saat kelas tiga menjelang UM UGM dan UN, hampir tiap malam kami belajar bareng. Alhamdulillah, jerih payah kami nggak sia-sia. Aku berhasil diterima di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM, sedangkan Kabol masuk ke Jurusan Psikologi UGM. Tapi gara-gara beda jurusan, hubungan kami jadi lumayan renggang.

Sekitar tahun 2009, I broke up with my boyfriend. Menurut Kabol, itulah momen yang ‘mengembalikanku’ pada Pengkierz. Kami jadi sering curhat-curhatan dan jalan bareng lagi. Dan mungkin karena kedekatan domisili, aku lebih deket ma Kabol dibanding anggota Pengkierz lain.

Aku dan Kabol mengakui bahwa persahabatan kami sebenarnya berbasis pada simbiosis mutualisme. Aku mengantarkannya beli mie, tapi habis itu dia harus mengantarkanku fotocopy. Kami pergi naik motorku, maka nanti Kabol yang harus membayar biaya parkir. Kami sudah pergi naik motorku minggu ini, jadi minggu depan giliran doski yang bawa motor. Yah, semacam itu. Penuh perhitungan dan nggak mau rugi. Tapi justru itulah yang membuat kami jadi semakin saling ketergantungan. 

Day after day we spent together. Setelah dipikir-pikir, ternyata ulahku udah banyak ngrepotin dia. Mulai dari kejadian di foodcourt ***, di kafe ****, hingga di dokter *********. Dia tau semua aib dan kebejatanku. Kalau pada akhirnya nanti kami bermusuhan, Kabol punya banyak cara buat merusak nama baikku melalui infotainment (uhuk!). Tapi aku percaya sahabatku ini nggak akan melakukannya, soalnya aku pun juga memegang banyak rahasianya. *evil grin*

Pas aku mau ninggalin Jogja tiga minggu lalu, she accompanied me to the Tugu Railway Station. Nggak lupa juga ia ngasih aku kenang-kenangan berupa Al-Quran beserta sepucuk surat. Di surat sepanjang 3 halaman itu, Kabol memberiku banyak wejangan yang bikin air mataku titik. Hari-hari awalku di Jakarta, aku merasa hampa tanpa Kabol. Dan ternyata ia pun demikian. “Aku merasa sebelah sayapku hilang,” ujarnya. So sweet, Beb. *blushing*

Hingga kini, meski kami terpisah sejauh 600 km, tiap harinya kami tetap saling bertukar info melalui SMS ataupun messenger. She’s really my true bestfriend. Although we’re apart, but we’re close in heart.

Sunday, March 13, 2011

What are the benefits of working as a reporter at a teen's magazine?

Kebanyakan orang tua lebih senang liat anaknya kerja di bank atau perusahaan besar ketimbang di media. Pekerja media memang identik dengan gaji kecil dan jadwal kerja semrawut. Tapi buat anak muda kayak kita, sebenarnya ada banyak lho keuntungan yang bisa didapat dengan kerja di media. Manfaatnya beragam, tergantung kita kerja di media apa. Di sini aku mau bahas keuntungan jadi reporter di majalah remaja. Let's check them out!

1. Meet a lot of celebrities and get the free pass of some music concerts
Apa lagi sih yang diliput reporter majalah remaja selain kehidupan artis dan event musik? Kerja di majalah remaja memungkinkan kita buat ketemu para seleb dan nonton acara musik gratis. Tapi jangan keasyikan, ngliput harus tetap jadi kegiatan utama kita.

2. Go out quite often
Nggak cuma liputan aja lho yang membuat reporter majalah remaja bisa keluar kantor. Kalau dapat jatah nulis rubrik resensi buku, kita bisa keluar ke sejumlah toko buku. Atau, kalau kerjaan kita udah beres, kita boleh kok ikutan anak bagian wardrobe cari kostum buat pemotretan model. Semua kegiatan 'jalan-jalan' itu diantar sopir kantor pakai mobil pula. Sounds fun, huh?

3. Get some discount clothing
Setelah baju-baju selesai dipakai untuk pemotretan model, kita boleh lho ngliat-ngliat pakaian tersebut. Dan kalau ada baju yang ditaksir, kita bisa langsung membelinya. Asiknya lagi, biasanya butik-butik pemilik pakaian itu bakal ngasih diskon buat kita. Udah nggak perlu keliling mall buat cari baju, dapet diskonan pulaaa!

4. Casual outfit everyday
Males kerja pakai pakaian formal? Kebetulan banget, di majalah remaja kita emang nggak perlu pakai baju formal kok. Yang penting sopan. ;)

5. Free internet
Yah, namanya juga kerja di media. Pasti ada fasilitas internet gratis dong di kantor. Lumayanlah. Hemat, beb.

So, are you interested in working at a teen's magazine?

Sunday, March 6, 2011

Have you ever lived on your own?

Selama 22 tahun hidup di dunia, aku nggak pernah tinggal jauh dari orang tua. Paling mentok pas aku harus menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama dua bulan di Kecamatan Prambanan, Yogyakarta. Pada waktu itu pun, aku pulang seminggu sekali karena lokasinya memang nggak begitu jauh dari rumahku.

And now, I suddenly have to live alone in Jakarta which is 600 km away from my home. Jujur, di rumah aku nggak pernah masak dan nyuci baju. Nyapu dan nyuci piring juga jarang-jarang. That's why, orang tuaku khawatir banget saat aku harus tinggal sendiri, jauh dari mereka.

Yah, hari-hari pertamaku di Jakarta memang terasa berat. Tapi hal ini bukan karena aku nggak terampil dalam mengerjakan pekerjaan rumah, toh di sini banyak warung makan dan laundry. My big problem is, I have no friends. Padahal ada banyak hal yang harus kulakukan. Beruntung aku punya kakak yang tinggal di Jakarta juga, meski kami nggak satu kos. Saat lagi nggak bekerja, dia setia mengantarku ke mana-mana. Tapi pas kakakku sibuk? I forced myself to go alone.

Hal ini nggak gampang buat aku yang terbiasa dikelilingi teman-teman. Tanpa teman, aku merasa lemah. Setiap hari aku memang berinteraksi dengan sahabat-saabatku melalui SMS, chat, atau Twitter. Tapi aku malah jadi sering nangis gara-gara kangen mereka. Bahkan aku pun nangis pas lagi ngetik tulisan ini. Oh my God, I'm so weak.

But hey, there are so many people out there who have bigger problems than me. Pendaki gunung Aron Ralston pernah terjebak selama lima hari di antara tebing di Utah, tapi dia tetap bisa survive walau sendirian. Keadaanku di sini jauh lebih menyenangkan dibanding keadaan yang harus dialaminya. So, there is nothing to do but be strong!

When we're afraid of the dark, don't forget that the light is always there. ;)


Image: ircsma50b.blogspot.com

Friday, March 4, 2011

"Aku pingin deh kerja di majalah kayak Gogirl!."

Kalimat itu kuucapkan kepada sahabatku Nadia pada suatu siang yang selo di Galeria Mall. Entahlah, barangkali saat itu ada malaikat yang lagi iseng nge-mall dan mengamini permintaanku. Yang jelas, beberapa hari kemudian pakdeku memberitahuku lowongan kerja di majalah remaja wanita tersebut. Kesempatan bagus itu tentu nggak kusia-siakan. Aku segera mengirim surat lamaran, CV, dan portfolio.

Pada saat Valentine's Day, Gogirl! menunjukkan kasih sayangnya padaku dengan mengundangku interview pada 16 Februari. Selain wawancara, mereka juga memintaku untuk membuat sebuah tulisan. Aku langsung menyanggupinya.

Singkat cerita, aku telah menjalani tes interview untuk menjadi reporter Gogirl!. Kalau diterima, mereka bilang akan meneleponku pada 18 Februari. Namun rupanya, telepon yang kutunggu-tunggu itu nggak kunjung datang. Ya sudah nggak apa-apa, my life must still go on.

Pada 23 Februari lalu, aku pun menjalani acara wisuda S1-ku dengan khidmat. Tanpa kuduga sama sekali, Gogirl! meneleponku seusai wisuda. Mereka bilang aku bisa mulai kerja hari Senin (28/2). It means, I only have five days to prepare everything! Aku langsung ngebut melegalisir ijazah, mengembalikan toga, menyelesaikan proyekku yang lain, menggelar acara perpisahan kecil-kecilan, dan nggak lupa juga buat packing.

Dan, di sinilah aku sekarang, di sebuah kos putri di Jalan Assirot nomor 30. Terhitung sudah lima hari aku bekerja di Gogirl!. Semua ini masih terasa seperti mimpi bagiku, mimpi indah yang terlalu cepat untuk menjadi nyata. This is really my dream job. I enjoy it very much when I have to write about cool and cheesy things. Although I haven't got any bestfriend yet, but at least I love my job.

Aku bisa bilang, dunia nyataku saat ini berawal dari mimpi. Nothing is impossible, the word itself says "I'm possible."
All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them. :)