Tuesday, October 25, 2011

Pingin nonton musisi dari dua generasi berkolaborasi? Tempatnya ya di Djakarta Artmosphere (Djaksphere).

Seneng banget, Djaksphere yang digelar untuk ketiga kalinya ini menampilkan musisi-musisi favoritku, kayak Endah N Rhesa, Luky Annash, dan Pure Saturday. Makanya aku nggak ragu ngeluarin duit Rp 50 ribu buat nonton acara yang diadain di Tennis Indoor Senayan, Sabtu (22/10).

Pas aku sampai di TKP jam 16.30, ternyata yang tampil masih The Experience Brothers. Band beraliran rock 'n roll yang terdiri dari dua kakak-beradik ini lumayan asik, interaktif, dan entertaining.

The Experience Brothers
Habis mereka kelar manggung, baru deh my favourite musician Luky Annash keluar dengan memakai kemeja hitam dan sayap kelelawar. Adik dari Eka dan Rully Annash ini tampil membawakan enam lagu, di antaranya Kritik Tanpa Solusi, Bahasa, cover version Smells Like Teen Spirit (Nirvana), dan Bajingan Ibukota. Seperti biasa, Luky Annash selalu total dan emosinya keluar semua kalau lagi manggung. Terlepas dari permainan pianonya yang outstanding, pas lagunya nge-rock dia cuma kayak orang kesurupan teriak-teriak. Tapi overall aksinya tetep keren kok, apalagi di akhir show Luky Annash sampai menduduki keyboard-nya. Dasar gilak! Hahaha.

Luky Annash
Setelah penampilan cadas Luky Annash, penonton diajak bersantai bareng White Shoes And The Couples Company. Ada enam lagu yang mereka bawakan, di antaranya Masa Remaja, Vakansi, Aksi Kucing, dan Matahari. Mantep dah, semua penonton ikutan goyang. Aku suka banget sama gayanya Sari, sang vokalis, kalau pas lagi nari-nari gitu.

White Shoes And The Couples Company

Kelar White Shoes And The Couples Company, sebenernya masih ada Sir Dandy. Tapi aku mundur ninggalin panggung buat ketemu sama Jaki, temenku. Yap, dari tadi aku nonton sendirian. Pas Sir Dandy main, aku dan Jaki ke musholla. Maghriban dulu, bro. Jadi aku nggak begitu ngamatin penampilan musisi nyeleneh ini. Cuman denger aja dia nyanyiin lagu Juara Dunia yang bercerita tentang Chris John. Habis Sir Dandy, ada Dialog Dini Hari, band beraliran folk asal Bali yang massanya lumayan banyak malam itu. Tapi aku sama Jaki cuma nonton di belakang.

Jam 20.00, semua penampil di Joyland stage udah selesai main. Oiya, sori lupa bilang, tadi yang aku ceritain itu adalah para musisi di Joyland stage, panggung kecil di luar venue. Nah, sekarang saatnya pindah ke panggung utama yang ada di dalam venue. Karena si Jaki males masuk cepet-cepet, padahal aku pingin masuk cepet biar dapet tempat depan, akhirnya kami berpisah. Aku masuk duluan. Metal beut yah akyu nonton cendiri, hihihik.

Habis nunggu lumayan lama, akhirnya MC Sarah Sechan dan Soleh Solihun muncul. Setelah mereka membuka acara, akhirnya duo favoritku Endah N Rhesa naik ke panggung! Pasangan suami-istri ini membuka penampilan dengan lagu I Don't Remember yang, seperti aksi-aksi sebelumnya, intro-nya dibikin kayak lagunya Red Hot Chili Peppers. Endah N Rhesa kemudian bawain single pertama dari album keduanya, Tuimbe. Keseruan terus berlanjut, band indie asal Jakarta ini memainkan lagu daerah Yamko Rambe Yamko, dilanjutkan dengan Wish You Were Here dan When You Love Someone. Selain pamer skill, seperti biasa penampilan Endah N Rhesa juga diwarnai kemesraan, kayak pas Rhesa tiba-tiba mencium kening Endah, atau pas Rhesa berlutut di depan Endah. Ouch! Habis lagu When You Love Someone, saat yang ditungu-tunggu pun tiba. Margie Segers, penyanyi wanita terkenal di era '70an, muncul bareng gitarisnya. Endah N Rhesa berkolaborasi sama Margie Segers bawain tiga lagu, salah satunya adalah lagu hits Semua Bisa Bilang. Semua penonton ikutan nyanyi dan goyang, sekaligus dibikin terpukau sama skill mereka. Oiya, di tengah-tengah performance, senar gitar Endah sempet putus lho! Tapi hal itu nggak terlalu mengganggu penampilan mereka secara keseluruhan, their collaboration was awesome!

Endah N Rhesa & Margie Segers


Oke, lanjut yah! Habis Endah N Rhesa, kini giliran Sarasvati yang tampil. Band asal Bandung yang kalau manggung suasananya langsung berubah jadi mistis ini bawain lima lagu mereka. Setelah itu, Sarasvati mengundang Keenan Nasution, musisi tahun '60-'70an. Kolaborasi mereka sempet bikin penonton goyang pas lagu Jamrud Khatulistiwa, tapi selebihnya, ya kalau menurutku sih boring. Penonton juga kayaknya udah mulai capek gara-gara udah berdiri lama, jadi pas Sarasvati kolaborasi sama Keenan Nasution penontonnya malah pada duduk gelesotan di bawah. Maaf yah Om Keenan, nggak nonton pas Om nge-drum.

Sarasvati & Keenan Nasution
Habis duduk-duduk pas kolaborasi Sarasvati dan Keenan Nasution, penonton jadi seger lagi buat menyaksikan aksi Pure Saturday! Icon musik indie asal Bandung ini langsung bikin penonton goyang sejak lagu pertama, Buka. Mereka pun terus menghibur Pure People yang nonton dengan lagu Spoken, Pagi, dan Desire. Setelah itu, Yockie Suryoprayogo pun naik ke panggung, berkolaborasi bareng Pure Saturday membawakan beberapa buah lagu, di antaranya adalah Elora dan lagu terbaru Pure Saturday, Albatros.

Pure Saturday
Waktu udah menunjukkan pukul 00.00 pas Pure Saturday dan Yockie Suryoprayogo selesai berkolaborasi. Rasanya udah ngantuk dan capek banget, pingin maki-maki panitia gara-gara acaranya molor. Menurut rundown, acara kelar jam 23.20. Tapi udah jam 12 dan masih ada satu penampil lagi. Pingin pulang, tapi sayang karena penutup acaranya adalah BRNDLS. Bukan, bukan, aku bukan nunggu BRNDLS-nya. Aku nggak peduli pas mereka main. Pas mereka perform aku cuma merhatiin aja betapa miripnya sang vokalis, Eka Annash, sama adiknya Luky Annash. Habis mereka mainin beberapa lagu, nah ini dia yang kutunggu-tunggu: kolaborasi BRNDLS dengan Koes Plus! Begitu band legendaris ini muncul, suasana langsung berubah jadi semarak. Semua penonton, yang pasti udah capek, langsung semangat lagi pas Koes Plus nyanyiin lagu-lagu hits kayak Bujangan, Diana, Jemu, dan ditutup dengan Pelangi. Walaupun udah tua-tua, tapi mereka masih rawk abis. Walaupun mereka tampil santai dan akrab sama penonton, tapi aura bintangnya tetep kerasa. Memang luar biasa yah, memang legend.

BRNDLS & Koes Plus

Jam 01.00, akhirnya Djaksphere taun ini resmi selesai. Aku suka banget sama konsep acaranya, semoga taun depan bisa hadir lagi dengan bintang tamu yang nggak kalah asik!

Tuesday, October 18, 2011

Nggak cuma Pramuka aja lho yang punya event Jambore, di komunitas sepeda lipat juga ada. Aku juga baru tau sih sebenernya. Yuk kita liat, ada acara apa aja sih di Jambore Sepeda Lipat Nasional (Jamselinas) yang berlangsung Sabtu-Minggu (15-16/10) kemarin? 

Acara Jamselinas yang bertempat di Vidi Arena, Pancoran, Jakarta, ini dibuka sejak Sabtu pagi, jam 10. Tapi berhubung aku gowes dari Jl. Kebayoran Lama, jadi aku baru sampai TKP jam 12-an. Selain jadi ajang ketemu komunitas-komunitas seli se-Indonesia, di sini juga ada pameran seli, klinik sepeda, bazar, dan bagi-bagi doorprize.

Sabtu malem, acara berlanjut dengan night ride ke Bunderan Hotel Indonesia (HI). Uhui, baru kali ini lho aku gowes malem di Jakarta. Walaupun langit Jakarta nyaris tanpa bintang, tapi kan ada aku tapi ternyata indah juga ya pemandangan berupa gedung-gedung sombong itu. Foto-foto jadi agenda wajib mulai dari awal perjalanan sampai finish. Oiya, sebelum kelupaan nyebutnya, aku gowesnya bareng rombongan dari komunitas Jogja Folding Bike (JFB). Sekitar jam 11 malem, kami pun harus balik ke Sudirman Park, apartemen tempat kami menginap.

Minggu pagi, kami sepedaan lagi. Kalo yang ini rada jauh, tujuannya ke Kota Tua. Jauhnya sih ternyata nggak kerasa, soalnya kan sepedaannya rame-rame. Yang kerasa banget ya panasnya. Ampuuun!

Sebelum ke Kota Tua, kami sempet mampir ke Pelabuhan Sunda Kelapa buat foto-foto. Trus baru deh kami parkir sepeda di depan Museum Fatahillah, Kota Tua, lagi-lagi buat berfoto sekalian berjemur. Sayang sih kami cuma stay lama di situ aja, padahal kalau mau sepedaan di sekeliling situ sebenernya banyak juga gedung tua yang lucu buat background foto. Tapi ya gimana, panas cyin.

Jam 11-an, kami pun harus melalui lagi perjalanan pulang yang melelahkan dan membakar kulit. Menurut catatan Endomondo milik Mas Moko, temenku, kami udah gowes sepanjang 30,85 km selama heritage trip pagi itu. Bukan prestasi sih, soalnya aku pernah sepedaan lebih jauh dari itu (*sombong*). Setelah sampai lagi di Vidi Arena, makan siang, temen-temen dari JFB pun harus kembali ke kota asalnya. Yah, musti pisah deh sama mereka.

Walaupun capek dan panas, tapi overall acara ini seru banget! Kalau bukan gara-gara Jamselinas, aku pasti nggak akan gowes sampai Kota Tua. Aku nggak bakal juga naik sepeda sendirian sampai Vidi Arena di Pancoran. Pokoknya Jamselinas ini sesuatu banget deh. Sampai ketemu di Jamselinas berikutnya yaaah! :D

Foto bareng setelah night ride ke Bunderan HI
Di depan Museum Fatahillah
Seli-seli pada ngumpul
Foto: Muhammad Bayu Setiadi

Monday, October 10, 2011

Warrior
Kalau ada film yang isinya pukul-pukulan, tapi bisa bikin aku nangis and even becomes my favourite movie, jawabannya ya film berjudul Warrior.

Film yang baru dirilis September 2011 ini berkisah tentang konflik kakak-beradik, yaitu Brendan dan Tommy Conlon. Sewaktu kecil, bisa dibilang mereka ngerasain apa yang disebut broken home. Ibu mereka meninggal, sedangkan sang ayah punya watak keras. Brendan pun meninggalkan rumah buat menikah, dan nggak pernah ketemu lagi sama adiknya. Tommy pun benci banget sama kakakknya yang lebih memilih pergi bersama istrinya.

Setelah bertahun-tahun, Brendan yang berprofesi sebagai guru fisika ini punya masalah keuangan, rumahnya bakal disita. Sementara itu, Tommy juga lagi pingin ngumpulin duit buat membantu keluarga almarhum temannya. Background keduanya yang emang akrab dengan seni bela diri, membuat mereka sama-sama ikut kompetisi bela diri berhadiah besar. Singkat cerita, mereka akhirnya ketemu di final. Trus, siapa ya yang menang? Daripada aku spoiler, mending tonton sendiri aja yaah.

Secara keseluruhan, film ini menarik banget buat ditonton. Awalnya sih aku emang bingung sama jalan ceritanya, tapi makin lama makin jelas kok. Para pecinta film action juga pasti puas banget nonton adegan demi adegan di Warrior, apalagi pas udah mulai masuk kompetisi bela diri. Kalau dari segi pemainnya, sebenernya nggak terlalu terkenal, kayak Joel Edgerton dan Tom Hardy, tapi mereka bener-bener berhasil memerankan tokoh masing-masing dengan sempurna. Film yang disutradari Gavin O'Connor ini juga ditutup dengan dramatis. Walau nggak suka film action, tapi film ini tetep wajib tonton!

Friday, October 7, 2011

Lenka is back! She held another great concert in Jakarta, Wednesday (5/10).

Buat yang udah pernah baca blogku di Multiply, mungkin udah tau ya kalau Lenka is one of my favourite singer. Seneng banget, aku dapet kesempatan buat ngeliput konser penyanyi asal Australia ini di Skeeno Hall Gandaria City, Jakarta.

Sebenernya aku pingin cerita banyak tentang konser kedua Lenka di Indonesia ini, tapi gimana ya. Aku juga ada tanggungan nulis di majalah tempat aku kerja. Nah, nulis yang itu aja belom kelar. :|

Pada intinya, Lenka yang ternyata lagi hamil ini bener-bener sukses bikin fansnya goyang. Walaupun di malam yang sama juga lagi ada konser Westlife, tapi tiket Lenka yang dijual sebanyak 2670 lembar tetep aja sold out! Total ada 17 lagu yang dinyanyiin Lenka bareng band-nya, beberapa diambil dari album pertama, kayak Trouble Is A Friend, Like A Song, Don't Let Me Fall. Dan tentunya, ada juga lagu-lagu dari album keduanya yang baru dirilis April kemarin, seperti Heart Skips A Beat, Roll With The Punches, dan Two. Lenka yang malam itu tampil cantik pakai dress pink menutup penampilan satu setengah jamnya dengan single pertama yang udah melambungkan namanya, The Show.

Your concert was really awesome and entertaining, Lenka. I really enjoyed your show, come again to Indonesia!
 
Nyanyi lagu Roll With The Punches sambil main keyboard
Ramah banget sama fans-nya!
Sambil main apa sih itu? Synthesizer yah namanya?
Lenka pakai batik pas press conference!

Monday, October 3, 2011


Kalo ditanya, ”game apa sih yang lagi happening banget belakangan ini?” Mungkin banyak yang bakal jawab: “Caro.” 

Yap, permainan ini emang lagi nge-boom banget di kalangan pengguna BlackBerry. Banyak temen di kontak BBM yang statusnya “Playing Caro.” Yang nggak tau ini game apa, pasti jadi penasaran trus ikutan main juga.

Sebenernya game ini udah nggak asing lagi lho buat kita, soalnya emang Caro tuh kayak permainan kita jaman SD dulu itu lhooo. Yang bulet-silang? Yang duluan bisa bikin lima bulet/silang berjajar, baik mendatar, menurun, atau miring, dialah pemenangnya. Bedanya cuma kalo di Caro ini kita nggak perlu repot-repot lagi nyiapin kertas dan nggarisin bikin tabel, nggak perlu curi-curi main pas jam pelajaran! Hehe. 

Tampilan game Caro
Yang bikin asik, kita bisa nantangin main temen-temen kontak BBM kita! Jadi nggak cuma sekedar main lawan mesin. Dan pas lagi nge-game pun kita bisa chat sama lawan kita itu. Jadi kita tetep bisa ngejek-ngejek kalo udah mau menang, hahaha.

Kalo temen yang mau kita tantang belom download aplikasi Caro, gimana dong? Tenang aja, kita bisa invite friends to download kok, jadi mereka lebih gampang download-nya. Nah, kalo kitanya yang kepingin main tapi nggak ada yang invite kita buat download gimana? Yaudah sih jangan nangis, klik aja BlackBerry App World trus search “Caro”.

Selain itu, masih ada lagi nih kecanggihan Caro. Game ini bakal nyatet statistik kita, udah menang berapa kali, kalah berapa kali, seri berapa kali. Jadi bisa ketauan kalo kita kalahan, hahaha! Oiya, kalo mau, kita juga bisa connect to Facebook lho. Jadi ntar aktivitas Caro kita bisa nongol di wall Facebook. Aah seru banget kan! Nggak heran kalo game yang baru dirilis 22 Agustus kemarin ini udah dimainin sama lebih dari 250 ribu orang.

Terlepas dari kecanggihan yang diusung Caro, permainan ini udah sukses mengobati kerinduan kita akan game-game lawas. Ceileeeh, bahasanya. Eh tapi bener lho, selain mengasah kecerdikan, Caro juga bikin aku jadi kangen sama permainan jaman sekolah dulu, kayak SOS misalnya? Ada yang tau nggak? Kita musti banyak-banyakan bikin atau nemuin kata SOS. Atau game Otello mungkin? Atau balap pensil? Atau bekel? Atau lompat tali? Atau lompat gedung? Yaelah makin lama makin ngaco.

Selain itu, aku juga salut sama ide integrasi antara game dan BBM. Coba kalo nggak terintegrasi, alias main sendirian doang, nggak bakal laris manis tuh game-nya. Ntar kalo ada game asik lain yang bisa dimainin bareng temen-temen BBM, jangan lupa invite aku yeh! Sambil nungguin, main Caro lagi yuuk...