Tuesday, November 22, 2011

Kita semua masih inget pahitnya kekalahan timnas U-23 Indonesia pas melawan Malaysia di final SEA Games XXVI tadi malem (21/11). Walaupun akhirnya harus kalah 3-4 dalam adu pinalti, tapi Garuda Muda udah berjuang keras. Begitu juga dengan para suporter Indonesia yang menonton di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), perjuangan mereka pun nggak gampang.

Mulai dari hari Minggu (20/11), para suporter yang pingin mendukung timnas secara live ini udah pada ngantri di loket Stadion GBK. Udah ngantri berjam-jam, eh ternyata banyak di antara mereka yang harus kecewa gara-gara kehabisan tiket. Ditambah lagi, harga tiket buat kategori I ke atas juga jadi lebih mahal, bahkan naik 2x lipat untuk tiket VIP. Hal inilah yang bikin para suporter emosi dan membakar salah satu loket di Stadion GBK.

Pas hari H pertandingan final, keadaan di Stadion GBK nggak kalah rusuhnya. Kebetulan, kemarin aku emang nonton di sana bareng 20-an sodaraku. Jam 17.00, kami jalan kaki dari Hotel Atlet Century Park, tempat kami parkir mobil dan motor. Sebenernya cuma tinggal nyebrang aja sih kalau mau ke Stadion GBK, tapi kira-kira baru jam 18.00 kami resmi meletakkan pantat di kursi stadion. Soalnya emang area GBK rame dan penuh bangeeet! Ada 70 ribu orang lebih di situ. Dan kalau sampai hilang dari rombongan bisa gawat, soalnya BBM, SMS, telpon, nggak berfungsi di sana. Apalagi mau nge-tweet atau check-in Foursquare, mana bisaaa!

Berdasar tiket yang kami dapat, aku sama sodara-sodaraku masuk lewat gate V. Dan perjuangan buat masuk ke situ, naudzubillah, susah bangeeet! Lebih parah dibanding nonton konser. Bener-bener harus desek-desekan. Badanku rasanya udah jadi tambah gepeng gara-gara didorong dari depan, belakang, samping. Polisi yang jagain gate juga ketat banget, mereka sistemnya buka-tutup pintu gitu, gara-gara banyak penonton tanpa tiket yang mau masuk juga. Jadi buat para pemegang tiket, harus angkat tiket tinggi-tinggi, nggak lupa juga sambil sikut-sikutan. Banyak juga yang sambil maki-maki. Baru deh, begitu posisiku udah di deket polisi, aku didahulukan, "yang cewek dulu, kasian..." Alhamdulillah.

Tapi, yah, seperti yang udah banyak beredar beritanya, ada 2 orang tewas terinjak-injak dan 14 orang luka gara-gara peristiwa rebutan masuk ini. Kedua korban tewas itu adalah pemegang tiket resmi, dan keduanya meninggal dengan mengenakan kostum timnas. Tragic, isn't it?

Punya tiket bukan jaminan bisa masuk stadion. Kakakku dan beberapa sodara yang sempet kepisah dari rombongan juga hampir nggak bisa masuk. Mereka mau masuk sekitar jam 19.00, tapi udah nggak dibolehin sama polisi gara-gara stadion udah over capacity. Kakakku pun nekat manjat pager stadion, makanya dia akhirnya bisa masuk. Bahkan, kabarnya ada juga pemegang tiket VIP yang nggak bisa masuk. Padahal kan tiketnya mahal beut...

Di dalam stadion sendiri, situasi lebih aman terkendali. Banyak penonton yang nggak dapet kursi dan harus duduk di jalan sela-sela kursi. Rame, riuh, berisik, apalagi pas suporter Malaysia disorot kamera atau pemain Malaysia giring bola. Langsung pada meng-"huuu" dan teriak "maliiing, maliiing!" Orang-orang Malaysia bener-bener teraniaya malam itu, pantes aja doa mereka lebih didengar Allah. #eh

Waktu 45 menit berlalu cepet banget. Tiba-tiba babak 1 udah selesai aja. Tapi emang seru banget sih nonton langsung di stadion gini, walaupun no replay dan no zoom in. Pas pertengahan babak kedua, aku dan sodara-sodaraku memutuskan buat keluar duluan dan dilanjut nobar di Hotel Atlet Century Park. Habisnya serem kalau ngebayangin ntar keluarnya musti desek-desekan kayak tadi lagi.

Dari peristiwa ini, kita bisa liat kalau ada baaaaanyak banget hal yang perlu dibenahi. Mulai dari sistem penjualan tiket, sistem masuk ke stadion, oknum-oknum nggak bertanggung jawab yang jualan tiket palsu, sampai penonton tanpa tiket yang maksain pingin masuk. Pihak PSSI harus lebih mengontrol lagi jumlah kapasitas stadion biar tiket yang dijual nggak over capacity, dan menerapkan sistem tiket dengan barcode yang sekarang udah mulai banyak dilakukan klub-klub. Dengan barcode, nggak sembarangan penonton bisa masuk, kasus pemalsuan tiket bisa dihindari, jumlah penonton yang masuk ke stadion hari itu pun bisa diketahui secara pasti. Dan tentunya nggak cuma pihak PSSI aja yang harus berbenah, kita sebagai penonton juga harus mau tertib biar nggak ada korban jiwa lagi. :') 

Tiketku
Bareng sodara-sodara
Indonesia!
Narsis di dalem stadion
Merah-merah
Lautan manusia

Monday, November 14, 2011

Terlihat antrian panjang di depan Audi 2 Blitz Megaplex Grand Indonesia, Jumat (11/11) malam. Di situ emang lagi ada opening night iNAFFF (Indonesia Internasional Fantastic Film Festival) yang tahun ini digelar untuk kelima kalinya.

Sebelumnya sih jujur aku nggak tau iNAFFF itu festival film apaan, tapi tetep aja seneng pas dapet invitation buat dateng ke opening night-nya. Di undangan emang udah tertulis sih kalau malam itu kita bakal nonton Immortals yang jadi opening film. Walopun dari judul filmnya udah keliatan serem, tapi tetep aja aku antusias buat nonton, soalnya film Immortals ini emang baru diputer serentak di seluruh dunia pada tanggal cantik 11-11-2011.

Sebelum film diputar, sang festival director memberi sedikit kata sambutan. Nah, dari sinilah aku baru tau kalau genre film yang diputar di iNAFFF itu adalah yang "horor". Tapi horornya nggak melulu tentang hantu, film-film sadis gitu juga termasuk. Pokoknya semua film yang sanggup bikin penonton tegang, jantung mau loncat keluar dari tulang rusuk. Intinya adalah jenis-jenis film yang nggak-aku-banget.

Habis acara bagi-bagi hadiah, Immortals pun akhirnya dimulai jam 21.30. Film yang mengambil setting di Yunani kuno ini dibuka dengan cerita saat manusia belum ada, saat para dewa bertarung dengan Titans. Titans yang kalah perang dipenjara di balik gunung, dan cuma bisa lepas kalau dipanah dengan Busur Epirus. Berabad-abad setelahnya, ada seorang raja jahat bernama Hyperion yang benci sama dewa, dan pingin melepaskan para Titans. Dalam usahanya mencari Busur Epirus, dia membunuh banyak banget orang, salah satunya adalah ibu dari Theseus. Theseus ini adalah warga biasa, tapi sebenernya, secara diam-diam Dewa Zeus udah memilihnya buat bertarung melawan Hyperion.

Yang namanya film perang, udah pasti banyak darah berceceran. Tapi sumpah yaa, film Immortals ini sadisnya berlebihan! Sadis, menegangkan, bikin pingin jerat-jerit. Hampir sepanjang film aku nutup mata pakai majalah. Tapi yah, emang keren sih visualnya.

Buat yang suka genre film beginian, wajib banget buat dateng ke iNAFFF di Blitz Megaplex Grand Indonesia. Festivalnya masih sampai tanggal 20 November kok. Harga tiketnya juga cuma Rp 25 ribu aja per film. Khusus untuk closing film, harganya Rp 45 ribu. Tapi keren kok closing film-nya, Indonesia punya, judulnya The Raid. Buat yang tinggal di Bandung, di kota ini juga bakal ada iNAFFF di Blitz Megaplex Paris Van Java, 25 - 27 November 2012. For more info, feel free to visit their website: www.inafff.com.

Happy watching!

iNAFFF 2011