Friday, December 23, 2011

The Art of Getting By
The Art Of Getting By ini film drama remaja, tapi ceritanya nggak menye-menye.

George Zinavoy (Freddie Highmore, pemeran Charlie di Charlie and the Chocolate Factory), seorang pelajar SMA, terinspirasi banget sama quote, "you are born alone, die alone, and everything else is an illusion." Karena itu, dia pun jadi nggak nemuin makna hidup, nggak mau ngerjain semua tugas sekolah, nggak mau berteman. Sampai akhirnya, George kenal sama Sally Howe (Emma Roberts), teman sekelasnya, dan Dustin (Michael Angarano), seniornya. Sedikit demi sedikit, George mulai berubah. Ia jadi lebih berubah lagi pas tau kalau ibunya mau bercerai dengan ayah tirinya, dan keluarga mereka mengalami kesulitan keuangan.

Cerita dalam The Art Of Getting By ini emang lebih berat dibanding drama remaja biasanya, kerasa banget indie-nya. Tapi yang bikin aku jatuh hati sama film ini bukan jalan ceritanya, bukan pemainnya, tapi justru soundtrack filmnya! Karena suka sama lagu-lagunya, aku langsung browsing dan nemuin beberapa band indie Amerika dan Inggris yang jadi pengisi soundtrack-nya, kayak The Shins, Earlimart, Mates Of States, Clap Your Hands Say Yeah, The Boxer Rebellion, dan French Kicks. Film score-nya juga nggak kalah keren, dikomposisi oleh Alec Puro.

Just watch the movie and enjoy the soundtrack!

Track List:
1. We Will Become Silhouttes - The Shins
2. We Drink On The Job - Earlimart
3. Sally's Theme - Alec Puro
4. Sleep The Clock Around - Mates of State
5. This Momentary - Delphic
6. Christmas Break - Alec Puro
7. Winter Lady - Leonard Cohen
8. The Skin Of My Yellow Country Teeth - Clap Your Hands Say Yeah
9. Sally's Bedroom - Alec Puro
10. Spitting Fire - The Boxer Rebellion
11. Here - Pavement
12. The Trial Of The Century - French Kicks

Wednesday, December 14, 2011

Dulu aku hobi banget ngejekin temen-temen yang pacaran long distance, "diiih pacaran kok sama telpon!" atau "kamu yakiiin pacar kamu yang di sana setiaaa? Belom tentu loooh, hihihi."

Image: sassyhongkong.com

Sebelum lanjut, aku mau ngingetin dulu kalau tulisan ini bakal rada personal ya, uhuk. Jadi gini, dulu aku orangnya emang anti banget LDR-an. Yaa ngapain juga pacaran kalau jarang ketemu? Nggak ada yang bisa diminta nganter sana-sini, nggak ada yang bisa diajak malam mingguan, dan pastinya bakal sering kangen. Makanya LDR sering diplesetin jadi Lelah Dilanda Rindu. Selain itu, mengutip isi salah satu thread di Kaskus, kalau mau LDR-an syaratnya harus sama orang yang emang high quality, soalnya kalau orangnya biasa, cari di deket rumah juga ada. -___- Intinya, LDR is a big no for me.

Tapi, yah, orang kan bisa berubah. Tanggal 8 Oktober kemarin, aku jadian sama cowok Bandung. Kenalnya udah lama sih, tapi emang baru ketemu lagi pertengahan September gara-gara aku ada tugas liputan di Bandung. Kata temenku yang nggak tau kalau aku pacaran sama orang Bandung, "cowok Bandung itu brengsek semua!" Tapi ya gimana, kalau cewek udah terlanjur luluh ya luluh aja. Lagian aku mikirnya jarak Jakarta-Bandung kan deket, jadi not-too-long distance relationship-lah ya.

Kesan-kesan selama LDR, ternyata pacaran jarak jauh itu nggak seburuk dugaanku sebelumnya kok. Ya emang sih, selama dua bulan pacaran aku cuma pernah ketemuan tiga kali. Krik. Tapi yang paling penting dalam hubungan long distance adalah komunikasi rutin, saling jujur + percaya. Tiap jam makan, aku pasti BBM-an sama dia, tiap malam juga dia pasti telpon. Jadi nggak ada yang disembunyiin dari kegiatan kami sehari-hari. Walaupun malam minggu sendirian, tapi paling nggak, ada yang nemenin lewat telpon. *sedih*

Tapi yaaah, jujur sih godaan long distance itu banyak banget. Kita harus kuat iman, nggak boleh tebar-tebar pesona lagi. Dan itu susah dilakukan kalau kita ngerasa masih kayak jomblo, ngerasa pacar yang nun jauh di sana nggak bakal tau kelakuan kita di sini. Yah, begitulah. Tapi untungnya sih, selama dua bulan ini hubungan kami baik-baik aja. Jakarta-Bandung bukan halangan. Tapi ternyata, justru ada hal lain yang jadi penghalang, dan akhirnya kami pun putus baik-baik tadi malam. :'(

Walaupun cuma pacaran bentar, tapi aku jadi tau gimana rasanya LDR. Not too bad, tapi kalau distance-nya cuma Jakarta-Bandung lho ya, nggak tau deh kalau jaraknya lebih jauh lagi. Buat semuanya yang sekarang lagi LDR, coba dipikir lebih jauh lagi ke depannya, apakah si pacar dan hubungan kalian ini layak untuk terus dipertahanin? Apakah kalian udah bener-bener sreg buat nantinya menikah? Apakah keluarga dan teman-teman kalian udah setuju? Agama kalian udah sama belum? LDR bukan buat orang yang sekedar iseng. LDR cuma bakal bertahan buat orang yang udah sama-sama serius. Dan kalau emang kita niatnya cuma mau iseng, ya isengnya cari yang deket aja, ngapain iseng sama yang jauh-jauh. Capek sendiri. 

Think twice before you decide to have a long distance relationship.


Wednesday, December 7, 2011

Halo Gan, ane Starin

Berita dan foto tentang kerennya kantor baru Kaskus udah menyebar luas di internet. Seneng banget, aku bisa berkunjung ke sana pas acara Office Warming Kaskus, Selasa (6/12).

Kantor baru situs ber-taglineThe Largest Indonesian Communityini terletak di Menara Palma lantai 11, Kuningan. Rada bingung kalau baru pertama datang ke kantor Kaskus, soalnya musti pakai ganti lift dulu kalau mau ke sana. Jadi, pertama-tama kita harus naik lift ke lantai 2, trus jalan ke gedung seberang, nah dari situ baru kita naik lift lagi sampai lantai 11.

Pas aku sampai di kantor Kaskus, acara Office Warming-nya udah mulai. Temen-temen dari berbagai media udah pada kumpul di Green Room yang terletak persis di samping ruang receptionist. Di ruangan yang bentuknya kayak lapangan golf ini, seorang officer Kaskus lagi menjelaskan aturan main acara yang ditujukan buat memperkenalkan kantor baru Kaskus ini. Jadi selama kami keliling kantor mereka nanti, kami dapat ‘misi’ buat nyari duit palsu yang udah disembunyikan di beberapa tempat. Berasa ikut Running Man yah, hihihi. Selain itu, kami juga musti minta para officer Kaskus buat menandatangani Kartu Keluarga Kaskus kami. Nah, Kartu Keluarga Kaskus yang udah ditandatangani ini nantinya bisa ditukar sama duit palsu juga. Buat apa sih duit palsunya? We’ll find about it later.

Green Room
Kartu Keluarga Kaskus
Dari Green Room, kami diantar menuju lorong berdinding keramik putih. Di lorong ini ada mesin absen berbentuk kloset yang lucu banget. Di lorong yang disebut Wall Of Fame ini juga, para visitor kantor Kaskus boleh bikin coretan apa aja di dinding.

Wall Of Fame
My Signature ;)
Habis corat-coret, kami pun masuk ke office area yang mereka sebut sebagai Playground. Begitu datang, langsung ada seorang officer yang nawarin buat foto di library-nya Kaskus. Fotonya langsung dicetak pula! Kesempatan narsis ini tentu nggak kusia-siakan, hihihi. Pokoknya selama di office area ini kami bener-bener bebas mau ngapa-ngapain deh, berasa di rumah sendiri. Kami dipersilakan buat meng-explore semua ruangan yang ada, memotret, menyebarkan foto, mau nyolong makanan juga boleh. Pas aku lagi jalan-jalan ke Game Room yang ada beberapa console game-nya, aku ngeliat kertas kecil berwarna biru... Yap, aku nemuin selembar duit palsu!

Office Area
Game Room
Foto Cetak Di Library Kaskus
Penjelajahanku berlanjut ke Secret Room-nya Kaskus yang terletak di ujung lorong dinding berkeramik putih tadi. Di sini, aku nemuin selembar duit palsu lagi! Yeay! Selain itu, di ruangan ini juga ada setumpuk coklat Chunky Bar yang halal hukumnya buat diambil, horeee! Walaupun gitu, Secret Room yang biasa dipakai buat meeting ini tetep kerasa ‘angker’-nya. Ruangannya dingin, kaku, yang pasti kalau rapat di sini pasti bawaannya tegang dan serius!
Secret Room
Dalemnya Secret Room
Setelah puas meng-explore kantor Kaskus di lantai 11, kami diantar turun ke kantor yang ada di lantai 10. Begitu masuk, kami langsung berada di Cafetaria. Di samping Cafetaria, ada office area lagi. Kalau nggak salah denger sih area ini ditempati sama officer bagian finance & accounting. Kalau di lantai 11 tadi kantornya bernuansa ceria, di lantai ini tone yang digunakan lebih kalem dan dewasa. Tapi kedewasaan ini diimbangi dengan bentuk ruangan dan garis yang dinamis, beda sama kantor di lantai 11 yang bentuknya cenderung kotak dan monoton. Intinya, mereka berusaha menciptakan keseimbangan di setiap lantainya. Lanjut ya gan! Kami kemudian masuk ke Auditorium buat menonton video tentang Kaskus dan band performance. Setelah itu kami balik lagi ke Cafetaria buat makan siang.

Cafetaria
Auditorium
Ini Ruang Apa Ya?
Habis semua tamu menukar Kartu Keluarga Kaskus yang udah ditandatangani dengan duit palsu, acara bagi hadiah pun dimulai. Jadi, fungsi semua duit palsu yang kami temukan dan tukarkan tadi adalah buat modal ikut lelang! Tapi, barang yang dilelang dimasukin ke dalam tas, so we didn’t have any idea about what’s inside the bag. Dan ternyata, barang yang dilelang itu lumayan banget, kayak iPod dan Blackberry Bellagio! Tapi ada juga yang kurang beruntung cuma dapet tisu, ada juga yang dapet paperclip. LOL!

Overall, acara Office Warming-nya seru bangeeet! Two thumbs up buat para officer Kaskus yang udah bikin acara perkenalan kantor barunya yang keren itu jadi tambah seru. Sering-sering bikin acara kayak gitu lagi ya gan. X)

*Oiya, kalau kami punya ID Kaskus, kami bisa nyobain Kaskus Beta lho. Sekarang aku lagi nungguin email yang berisi link invitation-nya. Hahay, nggak sabar pingin pertamax nyobain Kaskus Beta!