Wednesday, November 7, 2012

Pingin sok sweet aja menjahit buat pacar, tapi nggak mampu kalo jahit yang susah-susah. Akhirnya aku bikin gantungan kunci dari kain flanel.

What you'll need

1. Bikin pola dulu di kertas. Aku bikin bentuk bintang. Gunting 2 lembar kain flanel mengikuti pola. Biar nggak geser-geser, kita bisa tusukin jarum pentul ke pola dan kain. Oiya, kalo bisa sih guntingnya pake gunting kain, soalnya rada susah kalo pake gunting biasa.

Gunting kain sesuai pola

2. Jahit tepi kedua kain menggunakan tusuk feston. Klik di sini buat yang lupa atau nggak bisa tusuk feston. Tusuk feston ini sebenernya gampang, tapi rada susah bikin tusuk feston yang rapi, kalo aku lho ya...

Tusuk feston

3. Pas udah 70% terjahit, masukin kapas ke dalamnya. Tapi kalo pake kapas, ntar jangan sampe basah ya gantungan kuncinya. Temenku bilang sih lebih aman kalo dalemnya diisi dakron, tapi katanya kalo mau beli dakron harus langsung banyak, padahal kan aku cuma butuh dikit, jadi akhirnya pake kapas aja.

Masukkan kapas

4. Lanjutkan tusuk feston sampai semua tepi tertutup, lalu jahit ring gantungan kunci di ujung salah satu sudut bintang. Aku nggak tau sih harusnya ngejahit ring-nya gimana, kalo aku sih cuma kujahit biasa, jarumnya di keluar-masukin ring dan kain berkali-kali trus disimpul mati. Tapi hasilnya jadi keliatan rada nggak rapi karena benangnya keliatan. :p

Jahit ring gantungan kunci

5. Voila! Gantungan kunci flanel kita udah jadi. :D

A pair of star flannel keychains

Tuesday, November 6, 2012

My Rating:★★★★
Genre: Drama

Setelah tiga tahun absen, produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza balik lagi dengan film Atambua 39° Celcius. Kayak apa sih filmnya?

Kalo kamu adalah pecinta film komersil dengan bintang terkenal dan jalan cerita cheesy, well, this movie is a no for you. Bisa kita liat dari judulnya, Atambua 39° Celcius berkisah tentang kehidupan Joao dan ayahnya Ronaldo di Atambua, kota perbatasan antara Timor Leste dan Indonesia. Tiga belas tahun lalu mereka mengungsi dari Timor Leste ke kota ini. Walaupun udah belasan tahun lamanya, tapi kepedihan akibat perpecahan politik masih terasa di Atambua.

“Di sana masih banyak yang belum punya listrik, kemiskinan masih tinggi, pendidikan sangat membutuhkan perhatian, problem trauma dari perpecahan politik masih ada, tapi sudah banyak bantuan yang meninggalkan mereka. Jadi saya pikir, penting untuk mengingatkan kita semua bahwa kita masih punya saudara yang membutuhkan perhatian kita, posisinya di bagian timur Indonesia,” ujar Mira Lesmana.

Sekitar 30 menit pertama, aku masih belum bisa menangkap jalan cerita dan maksud film ini. Entah emang berat, atau otakku yang nggak nyampe. Tapi lama-lama bisa dimengerti kok. Walaupun menurutku klimaksnya kurang greget, tapi film ini berhasil menyampaikan pesan cinta terhadap tanah air dan keluarga.

Seluruh pemeran Atambua 39° Celcius adalah masyarakat asli Timor, dialog dalam film ini juga menggunakan Bahasa Tetun, bahasa lokal di sana. Film dengan kemasan bahasa daerah dan tanpa bintang besar gini emang budget-nya nggak terlalu wah. Tapi jangan salah, film ini udah diputar di festival film internasional bergengsi Tokyo International Film Festial (TIFF) lho, bahkan tiketnya sold out!

Penasaran pingin nonton? Coba cek di bioskop terdekat, film ini tayang mulai 8 November 2012, tapi cuma di 20 layar aja. Sekali-kali nggak ada salahnya kok nonton film yang rada berat, sekalian nambah wawasan tentang keadaan dan kultur daerah lain.