Monday, December 30, 2013

Pasti udah bisa nebak kan apa korelasinya polisi dan plat kendaraan luar kota? Iya, polisi setempat paling demen 'ngincer' kendaraan yang platnya dari luar kota.

Dua minggu lalu, hari Jumat - Sabtu (20-21/12), aku sama papaku ke Semarang buat nonton adikku lomba inline skates. Nah, Sabtu paginya, mumpung belum waktunya adikku tanding, aku sama Papa berencana foto-foto di Kota Lama. Dengan berbekal petunjuk dari petugas hotel, kami pun meluncur ke arah Kota Lama sekitar jam 7 pagi.

Dalam perjalanan, aku dan Papa ngelewatin jalan yang tadinya kami kira perempatan, soalnya bentuk jalannya emang rada melengkung ke kiri. Nah, begitu udah deket 'perempatan' itu, kami baru lihat kalau ternyata itu adalah pertigaan. Di sebelah kiri jalan juga ada papan bertuliskan 'lurus jalan terus.' Papa yang tadinya berada di lajur tengah pun pindah ke lajur paling kiri karena mau terus.

Pertigaan 'jebakan'. Aku dateng dari arah yang seberang sana.
Tiba-tiba, seorang polisi menghentikan mobil kami. Beliau meminta kami menepi. Ternyata, kesalahan kami adalah mengambil lajur tengah, padahal mau terus. Seharusnya kami ambil lajur kiri. Papa pun berusaha menjelaskan ketidaktahuan kami, tapi tentu polisinya nggak mau denger. Dia meminta biaya damai sebesar Rp 250 ribu. Tapi berkat kelihaian Papa nyembunyiin uang di dompet, Papa akhirnya cuma membayar Rp 100 ribu aja.

Lucunya, pas kami menyelesaikan urusan tilang itu, beberapa kendaraan lain juga dihentikan polisi dengan alasan yang sama. Kendaraan-kendaraan itu memiliki plat "AD" dan "B", yang berarti bukan dari Semarang. Selama ini aku udah sering denger cerita temen-temen yang bilang polisi suka 'galak' sama kendaraan luar kota, tapi baru kali ini aku ngerasain sendiri.

Saat ditilang, warga luar kota emang punya posisi yang 'lemah'. Mereka nggak tahu apa kesalahan yang mereka lakukan itu sebenarnya sering dilakukan penduduk setempat, jadi nggak bisa ngeles. Mereka juga nggak mungkin nyelesaiin urusan di persidangan, soalnya keburu balik ke kota asal. Jadi yang bisa mereka lakuin cuma 'berdamai' dengan polisi.

Funny, isn't it? Seharusnya tugas polisi itu membantu masyarakat, mengayomi masyarakat. Kalau ada warga yang kebingungan saat berada di luar kota asalnya, ya dibantu. Bukannya malah sengaja 'dijebak' kayak di pertigaan tadi. Aku bilang 'dijebak', soalnya mereka emang udah berdiri siap-siap di tengah jalan, kayak udah nungguin ada kendaraan luar kota yang berbuat kesalahan.

Tuh dua polisi yang udah siap nyetop kendaraan yang berbuat kesalahan.
Ibarat guru, kalau banyak muridnya yang nilainya jelek atau bolos pelajaran, berarti gurunya yang harus introspeksi metode pengajarannya. Begitu juga dengan polisi. Jelas-jelas ada banyak warga luar kota yang melakukan kesalahan di pertigaan itu, harusnya polisi introspeksi diri. Gimana biar nggak banyak yang salah lagi? Oh, mungkin sebelum pertigaan harus dikasih papan rambu-rambu persimpangan.

Papan rambu-rambu lalu lintas
Iya sih, emang nggak semua polisi 'jahat' kayak gitu. Aku bersyukur dan berterima kasih banget kepada Bapak-Ibu polisi yang tulus mengabdi pada masyarakat. Untuk yang masih mengabdi pada duit, yaa semoga Allah segera memberi hidayah-Nya. Amiin.

Friday, December 6, 2013

Cieee... udah mau married ya? Kok baca-baca postingan ini? Hihihi. Bulan lalu aku sama calon suami (uhuk) udah survei ke beberapa gedung pertemuan yang biasa dipake nikah di Jogja. Berikut ini beberapa yang harga sewanya di bawah Rp 5 juta. 

1. Balai Pamungkas

Tempatnya yang di tengah kota bikin gedung berkapasitas 1.200 orang ini laris disewa buat nikahan. Walaupun tempat parkirnya nggak terlalu luas, tapi di depan gedung ada Stadion Kridosono yang siap dijadikan lahan parkir tambahan. Tapi kata pacar dan mamaku, kalo mereka kondangan di sini siang-siang biasanya gerah.

Untuk harga sewanya sendiri bakal naik di tahun 2014 nanti, tapi masih terjangkau kok. Berikut ini biayanya: 

Hari biasa
7.00 – 14.00: Rp 3 juta
16.00 – 23.00: Rp 3,5 juta
7.00 – 23.00: Rp 4 juta 
Hari Sabtu/Minggu
7.00 – 14.00: Rp 3,5 juta
16.00 – 23.00: Rp 4 juta
7.00 – 23.00: Rp 5 juta

Dengan harga di atas, kita udah dapet fasilitas sound system, 150 kursi lipat, 2 meja tamu, AC 4 PK, 2 blower, 2  ruang transit AC, ruang rias, ruang catering, dan cadangan genset. 

2. Gedung Serba Guna Adisucipto 

Letaknya emang rada jauh dari pusat kota, tapi gedung berkapasitas 1.000 orang ini juga lumayan jadi favorit orang-orang buat nikah. Luas parkirannya lumayanlah, dan menurutku tampilan gedungnya lebih bagus dibanding Balai Pamungkas.

Pas aku ke sana, bapak pengelolanya bilang belum ada kabar untuk harga sewa tahun 2014. Untuk saat ini, harga sewanya Rp 3,1 juta. Siang atau malam harganya sama, hari kerja ataupun hari libur juga segitu. Waktu pemakaiannya 7 jam, dari jam 7.00 – 14.00 atau 15.00 – 22.00.

Fasilitas yang didapat adalah 300 kursi, AC, listrik, air, keamanan, parkir panitia, dan kebersihan praacara. Kalo mau pake sound system, tambah lagi Rp 600 ribu. Kalo mau pake cadangan genset, tambah lagi Rp 1,25 juta. Tapi kalo ternyata genset-nya nggak kepake, uang kita dikembaliin Rp 500 ribu.

Jadi kalo diitung-itung, total biaya sewa gedung ini sekitar Rp 4,45 juta – Rp 4,95 juta. Tapi itu belom total juga sih, kalo mau tambah kursi+meja VIP, free parkir undangan, atau tambah yang lain-lain ya duitnya juga tambah lagi.

3. Pendapa SMKI 

Yang ini lokasinya juga agak jauh dari pusat kota, tapi karena papaku kenal orang SMKI, jadi aku dapet diskon, hehe. Tempat parkirnya juga luas. Kalo nyari tempat nikah yang bentuknya joglo, pendapa SMKI bisa jadi alternatif.

Untuk harga sewanya saat ini (tanpa diskon), pendapanya aja (kosongan) Rp 2,5 juta. Berikut ini biaya sewa tambahannya yang pasti kita pake:

Kursi lipat per buah: Rp 1.500 
Sound system: Rp 600 ribu 
Keamanan: Rp 100 ribu
Kebersihan: Rp 250 ribu 

Untuk biaya totalnya tergantung sih kita mau sewa berapa kursi, trus mau pake tambahan apa. Anggaplah kita sewa 200 kursi, berarti total biaya sewanya sekitar Rp 3,75 juta. Inget, itu belum termasuk sewa kursi dan meja VIP plus tambahan lain yang kita inginkan. 

Yah, itu beberapa gedung yang udah aku survei. Hopefully it will help. Yeah, you're welcome. ;)

Thursday, November 28, 2013

I change. You change. We change. Everything in this world change.

Aku tahu sih kalo teorinya emang gitu. Tapi rasanya tetep aja aneh saat perubahan itu datangnya tiba-tiba. Umm... nggak tiba-tiba juga sih sebenernya.

Beberapa minggu lalu, aku kembali ke Jogja setelah dua bulan merantau di Jakarta. Tentu aja, yang terekam di pikiranku adalah keadaan Jogja sebelum kutinggalkan. Maka terkejutlah aku saat menemui beberapa perubahan. Kamar tidurku berubah, gedung kampusku berubah, teman-temanku berubah, bahkan motorku pun berubah gara-gara dijatuhin sama adikku!

Sebenarnya perubahan itu nggak tiba-tiba. Tapi karena nggak kuduga sebelumnya, maka aku pun terkaget-kaget. Duh, aku jadi ngerasa kayak orang tua kolot yang shock akan perubahan. Harusnya aku udah menduga kalo bakal ada hal-hal yang berubah. Tapi kadang aku–dan mungkin juga kamu-emang terlalu egois, menghendaki semuanya tetap sama. Istilah politisnya, aku masuk ke golongan status quo.

Padahal kan bukan gitu teorinya. Everything in this world change... except the change itself. Jadi kita pun harus selalu siap, everything will not be the same as it was. Kalo perubahan ke arah yang lebih baik sih relatif lebih gampang menerimanya, tapi kalo perubahan ke arah buruk... yah, kita juga harus siap. Because that’s the way world works.

P.S.: tulisan ini dibuat 4 Mei 2011, tapi waktu itu lupa di-posting. :p

Image: dulcinasgarden.blogspot.com

Saturday, November 16, 2013

Udah hampir tiga minggu aku ninggalin Jakarta. Selain temen-temenku yang lucu, ternyata banyak juga yang aku kangenin dari tinggal di Jakarta. Here they are.

1. Ciz n Chic dan Resto Bunda
Temen-temenku di kantor lama pasti tahu, aku langganan delivery makanan dari dua tempat ini. Kalo Ciz n Chic menunya ayam-ayaman, favoritku Cheesy Chic saos blackpepper sama Chic Melted Cheese. Nah kalo Resto Bunda ini menunya lebih ke chinese food. Favoritku di sini Nasi Goreng Keju Spesial sama Nasi Gila. Kenyang dan endul bangettt! Sayangnya kedua tempat makan ini nggak ada di Jogja, huhu.

2. Net TV dan B Channel
Dulu, setelah pulang kantor aku suka nonton Sarah Sechan sama The Comment. Kadang nonton E News. Sekarang udah nggak bisa lagi, kemarin pas terakhir nyari channel, Net TV belum nyahut di rumahku. Bisa streaming sih, tapiii sayang internetku terbatas kuota. Lagian yah, senikmat-nikmatnya nonton siaran TV ya di TV, bukan di komputer pake internet. Trus, dulu tiap weekend aku sering nonton drama Korea di B Channel, tapi stasiun TV ini juga belom nyampe Jogja.

3. Mall dan Bioskop
Udah jadi rahasia umum kalo Jakarta itu gudangnya mall, yang otomatis jadi gudang bioskop juga. Mau hang out sama temen tinggal pilih, mau ke mall yang mana. Walaupun, biasanya aku request-nya ke mall itu-itu aja sih, kalo nggak ke Senayan City, Grand Indonesia, ya Gandaria City. But still, banyak pilihan itu nyenengin. Sementara ini, di Jogja yang oke cuma ada Ambarrukmo Plaza. Bioskopnya cuma di Empire XXI, soalnya Studio 21-nya Ambarrukmo Plaza seringnya nayangin film lokal. Gosipnya sih dalam waktu dekat bakal ada banyak mall dan bioskop baru di Jogja, kita tunggu aja.

4. Artis yang Bertebaran
Kalo malem Minggu ke Senayan City atau ke PIM, pasti deh bakal ngeliat artis. Yaa buat yang suka kepo sama kehidupan artis sih ini hiburan, hihihi. Pernah aku ngeliat Donny Alamsyah sama anak-istri di PIM, di situ aku bisa liat sisi kebapakan Donny pas dia lagi main-main lucu sama anaknya. Pernah juga ngeliat Ahmad Dhani sama Mulan, ciye ciyeee. Dan alhamdulillah pekerjaanku dulu juga memungkinkan buat sering ketemu artis idola.

5, Banyak Event
Terutama event musik sama pertandingan bola sih, event market atau sale juga ngangenin kalo lagi punya duit. :| Selama setahun pertama di Jakarta, aku bisa empat kali nonton performance-nya Endah N Rhesa. Selama di Jogja belom pernahhh. Dan seneng banget pas di Jakarta sempet nonton Indonesia vs Liverpool. Yaa di Jogja juga sebenernya banyak event musik dan olahraga sih. Tapi di Jakarta tetep lebih banyak, artisnya juga banyak yang berskala internasional.

Sementara sih lima hal itu yang aku kangenin dari tinggal di Jakarta. Kalo kamu, kangen apanya?

Temen-temen kerjaku dulu. Kalo sama mereka sih udah pasti kangennn. :*

Tuesday, October 22, 2013

Ini lanjutan dari ringkasan buku Handbook of Magazine Article Writing yang kemarin udah ku-post di sini yah. Happy reading! 

Writing Techniques and Revision 
The overview: 
- Find your focus.
- Organize your story.
- Once finished, put the story aside for a while-at least overnight if you have the time. That allows you to come back and edit it with a fresh eye.

How to craft a successful lead:
- You don’t need to start from the beginning. Tell them why you are writing this article and, more importantly, why they have to read it.
- Don’t begin your article with a definition. 
- If used well, a quote can be a very effective and eye-opening way to begin an article. 
- Use metaphors. 
- Your readers are smart and their patience is thin, so don’t over-dramatize.

Ending your article:
The ideal close should do at least one of the three things: leave your readers feeling they’ve learned something or gained some new insight; show your readers how this information impacts or relates to their own lives; and/or encourage your readers to explore the topic further. 
- Use a quotation.
- Have the last word.
- Choosing the appropriate ending often depends on your lead. The “bookend” approach revisits a word, phrase, or idea from your introduction.
- Take the idea in your final paragraph to the next level by introducing a provocative statement or question that has not been explored and is probably out of the scope of your article.
- Use a common cultural idea like “diamonds are a girl’s best friend".
- Trust your gut. Don’t be afraid to end your article at a logical place. 

Revising before submitting: 
- Focus. Ask yourself, “What is the major impression I want my article to make on my reader?” and as you reread it, see if your article succeeds. 
- Organization. Reread the article again, this time concentrating on organization. Does the piece flow? Are the various components presented in a logical fashion? 
- Style. Is my lead interesting? Does my ending bring everything together and leave the reader feeling satisfied? Does my style fit the market I’m writing for? 
- Grammar. Make sure you keep your point of view consistent. Check the spelling and punctuation. 

Writing profiles 
- Let the story come to you. Watch for lecturers at local colleges, nationally known comedians performing at nightclubs, band stopping by on concert tours, singer visiting coffee shops, bookstore signings by best-selling authors, or other special events. 
- Ask the right questions. All good stories need conflict, so structure your interview questions to bring out the conflicts or struggles in your subject’s life. For example:
1. What’s the biggest setback you’ve had?
2. What dreams do you have? What obstacles do you foresee? How will you handle them?
3. Some people criticize you for... How do you respond?
4. It must be tough dealing with life on the road. What keeps you going? What makes it all worthwhile?
5. What special memories do you have? What regrets do you have?
6. How did you get started? What kinds of struggles did you face?
Look for the passion that drives that person, and ask questions that reveal the story behind the story.
- Target your article.
- Tell a good story.
- Open with an image.
- Look for contrasts.

Working With an Editor
- Be professional. Meet your deadlines with clean, well-reported, and well-researched copy. If something is amiss with your article, let your editor know sooner than later. 
- Have team spirit.
- Know the calendar. Get an editorial calendar and propose ideas that correspond with the topics listed and the seasons.
- Be on the lookout. Whether you’re reading, watching the news, or driving the kids to school, always have the radar on for ideas.
- Discuss your ideas. 
- Take tough assignments.
- Be flexible. 
- Solicit feedback. Ask your editors about your work. 

That's all, hope it will be useful to you!

Monday, October 21, 2013

Setelah sempet batal konser di Indonesia tahun 2011, akhirnya CNBlue jadi juga manggung di sini, Sabtu (19/10) kemarin!

Jam 7 lewat dikit, Yong Hwa (lead vocal, guitar), Jong Hyun (lead guitar, vocal), Jung Shin (bass, vocal), dan Min Hyuk (drum, vocal) membuka penampilan dengan Where You Are yang nge-beat. Seluruh Boice yang memenuhi Tennis Indoor Senayan langsung ‘panas’! Apalagi setelah keempat cowok ganteng itu langsung lanjut memainkan Get Away dan One Time tanpa jeda. Habis itu, baru deh Yong Hwa yang malam itu memakai kaos hitam menyapa para Boice, “Apa kabar?” Jung Shin nggak mau kalah, dia pamer hasil latihan Bahasa Indonesianya dengan bilang, “Apa kalian senang bertemu kami?” Of course we were! 

CNBlue kemudian lanjut memainkan lagu-lagu dari mini album terbaru mereka Re:Blue, seperti Naran Namja dan Coffee Shop. Setelah bawain Love Light, semua Boice langsung dibikin melting sama penampilan keyboard solo Yong Hwa di lagu Feeling! Nggak lupa juga band Korea ini mainin lagu-lagu hits mereka kayak Intuition dan I’m a Loner.

Confetti yang disemprotkan di akhir lagu I’m Sorry seolah menandai akhir konser malam itu. Apalagi panggung langsung ditutup dengan layar putih. But we’re not getting fooled! Para penonton langsung meneriakkan “CNBlue!” berkali-kali, memanggil mereka kembali. Layar putih kemudian memutar video gambar-gambar CNBlue, diakhiri dengan tulisan “CNBlue is back”. Layar diangkat, keempat personil yang udah ganti jadi pake kaos Blue Moon pun keluar lagi dan mainin Hey You! 

Setelah bawain lima lagu encore, Jung Shin bilang, “next song is the last song,” yang bikin seluruh Boice sedih. Tapi cowok-cowok ini emang bisa banget bikin kita senyum lagi, Try Again Smile Again dipilih sebagai lagu penutup.

Setelah 24 lagu yang mereka bawain selama 2 jam, rasanya puas banget lihat konser CNBlue malam itu. Apalagi mereka kelihatan total banget selama perform, interaktif sama penonton, dan sering ngomong pake Bahasa Indonesia, hihihi. Thank you CNBlue, we really had a good time, had a good night!

Suasana 2013 CNBlue Blue Moon World Tour in Jakarta
CNBlue saat press conference (18/10)

Friday, October 18, 2013

Kemarin aku sempet pinjem buku terbitan tahun 2005 ini dari kantor. Karena ini buku impor yang susah nyarinya di Indonesia, jadi mumpung bisa pinjem, aku tulis aja ringkasannya di sini. Semoga bermanfaat buat yang pingin atau lagi jadi writer majalah!
 
Finding Ideas 
More than paper, more than ink, more than even those annoying subscription cards that tumble out at every opportunity, magazines are made of ideas. And where do all those ideas come from? Many come from writers. So how do you get article ideas? 
- Take a lot of showers. 
- Put your subconscious to work. 
- Read everything you can get your hands or eyes on: books, magazines, newspapers, online, junk mail.
- Listen up. 
- Tap into your own experience. 
- Get to know some PR people. 
- Keep a notebook handy. 
- Doing something totally different.

Researching 
When you write, you have to be a kind of expert. Here’s how to get up to speed on any subject:
- Cruise the information superhighway. 
- Read all about it. 
- Ask and you shall receive. 
- Use organizations and associations. 
Finding experts: 
- Remember the source of your ideas
- Ask other writers.
- Use a professional.
- Remember PR.
- Make a list of experts and resources, read it when you need it. 
- Cast a wide network. 

Interviewing 
You need to be ready for the secretaries and assistants who control access to the important people. They aren’t your enemies. You need to understand that you are bringing something of value to your interviewee. You have to show this in the opening presentation. If the presentation is good enough, the secretaries wouldn’t dare not to tell the president. You are giving people free publicity, so call with confidence. 
Conducting the interview:
- Relax. It will make the source feel comfortable with the interviewer.
- Nothing will relax you more than feeling prepared, and for feeling prepared, doing your homework before an interview. 
- Jot down a list of questions that pertain specifically to your topic before the interview. 
- Even though you might know the right questions to ask, sometimes you need to know the right way to ask them. 

Avoiding Problems 
Improving your accuracy: 
- When you’re researching, gather all of your sources, like newspaper clippings, web page printouts, and library books. Consider tape-recording interviews.
- Beware of shaky sources
- Listen to your gut 
Avoiding plagiarism: 
- Always put quotation marks around any string of words taken from the text 
- Try to quote rather than paraphrase. 

Continue

Monday, September 30, 2013

Rating:★★★★
Category:Music
Genre:Piano, Pop
Artist:Frau

Aku udah suka Frau sejak album pertamanya, Starlit Carousel, yang rilis 2010 lalu. And this album makes me love her even more.

Ada 8 track di album kedua penyanyi bernama asli Leilani Hermiasih ini. And the good news is, album berjudul Happy Coda yang baru rilis 19 Agustus kemarin ini bisa kita download di web Yes No Wave, for free! Dari situ juga kita bisa download tulisan pengantar dari Frau yang menceritakan makna di balik judul album Happy Coda. Coda berasal dari Bahasa Italia yang berarti ekor. Di musik, coda mengantar suatu komposisi menuju bagian akhir. Album Happy Coda sendiri berisi cuplikan kisah bahagia sederhana orang-orang yang ditemui dan diimajinasikan Frau. Kenapa Coda, ya karena ceritanya bukan tentang ending.

Begitu nge-play albumnya, kita bakal disambut dengan Something More yang temponya agak cepat. Di lagu kedua, ada Water yang berhasil bikin aku, dan pasti banyak pendengarnya, langsung melting. This is the most beautiful song I've ever heard! Mungkin begini ini kali ya musik yang diputer di surga, haha mulai lebay. Tapi beneran deh, alunan piano di lagu ini berpadu sangat indah sama suara lembut Frau. Bikin hati langsung adem. Selanjutnya, ada Empat Satu yang, mungkin bisa dilihat dari judulnya, bercerita tentang sekelompok orang yang lagi main kartu. Musiknya playful dengan tempo cepat.

Di track keempat, kita bisa denger Tarian Sari yang dijadikan single andalan di album ini. Aku denger lagu ini pertama kali pas konser Frau di LIP tahun 2011. Tapi pas denger lagi Tarian Sari di radio baru-baru ini, aku langsung inget kalo udah pernah denger lagu ini sebelumnya. Soalnya melodi pianonya emang khas banget, kayak gending Jawa, sesuai sama lirik lagunya tentang penari yang sudah tua. Berikutnya, Frau kembali memainkan melodi playful bertempo sedang di lagu Mr. Wolf.

Setelah itu ada Arah yang temponya cukup pelan dengan suasana syahdu. Di track tujuh ada Suspens yang mengisahkan kekhawatiran orang tua karena anaknya jadi murung dan cepet marah, tapi untungnya besoknya udah normal lagi. Ternyata kemarin dia cuma lagi salah sangka aja sama temennya, hihihi. Lagu Whispers menutup album ini dengan indah, baik musik maupun liriknya. Tentang seorang lelaki yang berusaha hidup jujur, walopun kantornya mungkin ngebosenin banget buat kita. "Something’s better when you think it is."

Kedelapan lagu itu cukup banget bikin aku jatuh hati sama album Happy Coda. Tiap lagu punya daya tarik masing-masing, permainan pianonya sama sekali nggak monoton. Oh ya, Frau juga merilis albumnya dalam bentuk buku partitur lho. Tebalnya 73 halaman, hard cover dan color, harganya Rp 90 ribu.

Belum lama ini, Frau berangkat ke Irlandia Utara buat ngelanjutin studi. Semoga di sana tetep bermusik dan begitu balik ke Indonesia langsung rilis album baru lagi ya, hihihi. =) 

Wednesday, August 21, 2013

Kebetulan banget, laga persahabatan antara Indonesia lawan Brunei (15/8) ini diadain di Stadion Maguwoharjo pas aku lagi di Jogja. Aku bareng temen-temen nggak nyia-nyiain kesempatan ini buat nonton langsung di stadion. 

It was my first experience watching a football match at Maguwoharjo Stadium. Entah karena cuma laga persahabatan atau ngikut standar Jogja, harga tiketnya lumayan murah, mulai dari Rp 20 ribu. Aku duduk di tribun merah (sebelah timur) yang tiketnya Rp 30 ribu.
 
Untuk masuk gate-nya, penonton harus ngelewatin lorong yang melingkar ke atas, bentuknya kayak jalan menuju parkiran mobil di mall gitu. Kebayang dong gimana sumpeknya. Tapi sisi positifnya, model lorong gini bikin first come first served. Penonton jadi harus antri, nggak bisa nyelonong dari sisi kanan atau kiri kayak kalo mau masuk gate-nya GBK. Tapi karena tiket masuk baru diperiksa di gate, jadi ya arus masuk gate-nya padat merayap. Lama. 

Well, tapi yang paling menarik perhatianku di pertandingan ini ya suporternya. Di Jogja ada banyak kelompok suporter, di antaranya Brigata Curva Sud (BCS) dan Slemania. Walaupun yang tanding malam itu adalah timnas, tapi karena tandingnya di Jogja, wajar dong kalo kelompok-kelompok suporter itu nonton. Nah, BCS ini emang udah terkenal sering bikin konfigurasi keren saat mendukung timnya tanding. Malam itu mereka membuat tulisan 68 dalam rangka menyambut HUT kemerdakaan Indonesia ke-68. Seluruh suporter di sisi selatan stadion kompak mengangkat kertas merah dan putih yang kalo diliat dari kejauhan, membentuk gambar panah dan angka 68. Tribun utara yang diisi Slemania juga nggak mau kalah, mereka mengibarkan bendera merah putih raksasa.

Sepanjang pertandingan, chant nggak berhenti-henti dinyanyikan. Suasana emang jadi seru dan meriah, tapi sebenernya ada juga sih kelakuan mereka yang bikin aku nggak habis pikir. Para suporter sering banget ngelempar gulungan kertas putih ke lapangan hingga pertandingan sempat dihentikan. Apa coba tujuan mereka? Kalo mau men-support ya harusnya jangan mengganggu jalannya pertandingan dong. Belum lagi suara petasan atau kembang api yang lumayan keras dan ngagetin. Aku yang cuma nonton aja kaget, gimana para pemain? 

Overall sih pertandingan yang berakhir 1-0 untuk kemenangan Indonesia ini berjalan tertib, nggak rusuh. Tapi sedikit saran buat panitia, mungkin ke depannya jumlah petugas di pintu masuk perlu ditambah. Aku rada lupa sih kemarin bentuk gate-nya gimana, tapi yang jelas pintunya cuma dibuka sedikit biar petugas bisa memeriksa tiket satu per satu. Nah, kalo petugasnya banyak, kan di gate itu bisa dikasih sekat-sekat (sekat pager kayak kalo mau masuk venue konser), jadi di satu gate bisa ada beberapa jalur masuk. Crowd nggak numplek lama di gate masuk, panitia juga nggak 'kecolongan'. Heheh tapi ini aku cuma sotoy doang sih. Ya semoga aja ke depannya Stadion Maguwoharjo bisa sering-sering dipake buat pertandingan internasional. One last word, salut buat suporter Jogja yang kreatif!

Konfigurasi membentuk angka 68
Sang merah putih raksasa dikibarkan
Aku bareng temen-temen
 

Monday, August 19, 2013

Buat pecinta ramen di Jogja, ada resto Japanese food yang terbilang baru di daerah Demangan! 

Hari Senin (12/8) lalu, aku sama pacar sempet makan siang di sini pas matahari Jogja lagi terik-teriknya. Begitu masuk, rasanya langsung adem. Bukan karena AC, tapi berkat angin sepoi-sepoi yang masuk. Tempatnya luas dengan interior bernuansa kayu. Lumayanlah dari segi tempat.

Menu yang disediakan juga cukup banyak dan variatif. Untuk ramennya, kita bisa pilih level kepedasannya. Kemarin aku pesen Chicken Teriyaki Ramen (Rp 38.500) level 1, hehe maklum aku nggak doyan pedes. Kayak ramen biasanya, porsi di sini juga lumayan gede. Tapi yang juara di Hakone itu menurutku kuahnya, rasanya seger. Kalo pacarku kemarin pesen Spicy Chicken Ramen (Rp 38.500) level 3. Kata dia sih kurang pedes, tapi kita bisa kok minta bubuk cabe ke waiter-nya. Untuk minumnya aku pesen ocha (Rp 8.000), hehe standar. 

Overall sih walopun harganya sedikit mahal untuk standar makanan Jogja, tapi sekali-sekali bolehlah mampir ke sini, apalagi buat yang ngaku penyuka ramen!

Hakone
Jl. Komplek Colombo No. 40, Yogyakarta
(0274) 536161

Chicken Teriyaki Ramen
Dekorasi ala Jepang
Interior bernuansa kayu

Wednesday, July 31, 2013

Timnas Indonesia emang berasa kayak ikut Premier League dua minggu belakangan ini. Habis lawan Arsenal (14/7), Liverpool (21/7), trus lawan Chelsea (25/7). Dari tiga pertandingan itu, aku cuma nonton langsung yang Indonesia vs Liverpool. Walaupun nontonnya cuma berdua aja sama Mba Tere, tapi ternyata aman-aman aja kok!

Pas pamit mau nonton Indonesia vs Liverpool di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), apalagi berdua aja sama temen cewek, pacar sama Mamaku langsung khawatir. Si pacar takut kalo nanti masuknya aku harus desek-desekan, sedangkan Mama khawatir kalo bakal ada copet di tengah-tengah keramaian gitu. Aku sendiri sih lebih cemas kalo susah dapet taksi pas pulang. Soalnya dulu aku pernah selesai nonton di Plaza Senayan jam 23.00, eh sampai jam 12 malem lebih tetep aja nggak dapet taksi. T.T

Tapi ternyata, pertandingan yang berakhir dengan skor 2-0 untuk Liverpool itu bener-bener aman kok buat ditonton secara live.

# 1st Worriness: Desek-desekan
Setahun yang lalu aku pernah nonton Indonesia vs Malaysia di Stadion GBK. Waktu itu emang desek-desekan di pintu masuk stadionnya parah banget, bahkan sampai ada yang meninggal. Karena udah pernah ngalamin gimana brutalnya desek-desekan di pintu masuk, jadi pas mau nonton Liverpool aku udah lumayan mempersiapkan fisik dan mental. Tapi ternyata, malam itu Liverpudlian bener-bener antri dengan tertib! Aku masuk lewat pintu III, di situ sama sekali nggak ada yang namanya dorong-dorongan atau desek-desekan. Ditambah lagi, panitia udah memeriksa tiket sejak di pelataran GBK, jadi yang bisa mendekati pintu masuk stadion emang bener-bener pemegang tiket yang udah diperiksa keasliannya.

#2nd Worriness: Copet
Hmm... nggak tau sih malam itu ada yang kecopetan atau enggak, tapi alhamdulillah sih semua barangku aman. Asal tas selalu ditaruh di depan, Insya Allah aman.

#3rd Worriness: Susah dapet taksi
Karena pertandingan baru mulai jam 20.30, jadi selesainya juga baru sekitar jam setengah sebelas malem. Udah lumayan larut, even though Jakarta is the city that never sleeps. Untuk menghindari keramaian, aku dan Mba Tere sengaja keluar stadion sepuluh menit sebelum pertandingan usai. Alhasil jadi nggak liat golnya Sterling di menit 87 deh. -_- Tapi begitu aku keluar stadion ke Jalan Asia Afrika, ternyata taksi-taksi berseliweran, hampir tiap 3 detik sekali ada taksi yang lewat. Ditambah lagi, ada polisi yang bertugas di jalan, dengan senang hati beliau membantuku menyetop taksi lewat. Nggak ada lima menit, aku langsung dapet taksi deh. Jadi kalo menurut kesimpulanku sih, as long as jalanan belum macet, taksi-taksi pada demen kok lewat Jalan Asia Afrika.

Nah tuh, ternyata nggak masalah kan cewek-cewek nonton bola secara live. Yang penting banyak berdoa aja, then you’ll never walk alone. ;)

Di dalem stadion
Yang ini fotonya di FX
Foto bareng Reina yang ternyata nggak main malam itu


Tuesday, July 23, 2013

Kalo lagi di daerah Kebayoran Baru, sempetin deh nongkrong-nongkrong imut di Pipiltin Cocoa.

Begitu masuk kafe di Jalan Barito 2 ini, kita bakal langsung ketemu open kitchen dan tangga. Langsung naik aja ya, kursi-kursinya ada di lantai atas. Tempatnya lumayan luas dan mejanya banyak, suasananya juga cozy.

Untuk menunya, dari namanya aja udah keliatan, yang paling dijual di kafe ini ya cokelatnya. Tapi pas ke sana Sabtu (29/6) lalu bareng Sahnath, aku lagi nggak pingin makan yang manis-manis. Jadi aku malah pesen lasagna (Rp 40 ribu) dan sama sekali nggak order menu cokelatnya, hehe. Lasagna di Pipiltin Cocoa nggak disusun berlapis kayak lasagna biasanya, tapi rasanya enak! Sayang pesenan pastaku itu datengnya agak lama, wafelnya si Sahnath udah abis, lasagna-ku baru dateng. -_- Oh iya, waktu itu aku sempet nyobain wafelnya Sahnath, manisnya pas kok dan nggak bikin eneg. Untuk minumnya, aku pesen hot jasmine tea (Rp 25 ribu) yang baunya harum.

Dari segi harga, makanan di sini bisa dibilang masih terjangkau, mulai dari Rp 30 ribu. Cocok buat nongkrong sambil ngegosip bareng temen-temen!

Suasana di lantai dua
Dekorasi di deket tangga
Hot jasmine tea
Lasagna

Tuesday, June 4, 2013

Rating:★★★★
Category:Music
Genre: Acoustic/Folk/Pop
Artist:Endah N Rhesa

Ini dia album yang paling ditunggu-tunggu earFriends!

Setelah tiga tahun, akhirnya pasangan suami-istri Endah Widiastuti (vokal, gitar) dan Rhesa Aditya (bass) kembali dengan album ketiganya. Album berjudul Escape ini bisa dibilang spesial, karena merupakan penutup dari album trilogi Endah N Rhesa. Di album pertamanya, Nowhere To Go, mereka nyiptain karakter bernama Shane Harden yang tinggal di Silence Island. Album kedua Look What We've Found menceritakan perjalanan Shane balik ke masa lalu. Sementara di album ketiga ini, Shane kembali ke masanya dan memutuskan buat escape dari Silence Island.

Ada sepuluh track di album yang baru rilis Jumat (3/5) lalu ini. Track pertamanya, Hypergalaxy Intro, dengan segala sound effect elektroniknya seolah ingin mempersiapkan imajinasi pendengarnya untuk berada di sebuah tempat yang dikuasai teknologi. Setelah itu ada lagu yang dijadikan single pertama di album ini, Silence Island, yang juga ramai dengan suara elektronik di sela-sela genjrengan gitar Endah. Lagu ini bercerita tentang kekacauan di sebuah tempat akibat penggunaan teknologi yang nggak bertanggung jawab.

Berikutnya, kita diajak bersantai di lagu Someday yang pelan dan sedikit galau, sebelum masuk ke lagu Spacybilly yang playful dan ceria. The fifth track, Just Tonight, is my favorite song from this album. Lagunya lumayan nge-beat, liriknya juga walaupun galau tapi optimis, hihihi. Somewhere in Between di track keenam juga masih tentang cinta-cintaan. Kalo aku nggak salah tangkap sih, si Shane ini escape-nya nggak barengan sama si doi, jadi mereka harus pisah.

Selanjutnya ada No Tears From My Eyes yang judulnya terkesan tegar banget ya, hehehe. Dari musiknya sendiri kita juga bisa merasakan adanya power dan keteguhan buat survive lho. Sepertinya si Shane yang mau escape ini justru nyasar ke tempat sepi antah berantah dan berusaha buat survive. Lagu kedelapan, Alone In The Loneliness, itu lagu paling galau di album ini, dari musik sampai liriknya, hihihi. Ceritanya tentang penantian terhadap seseorang yang nggak kunjung datang.

Setelah itu masih ada Gone Forever yang slow dan Sun Goes Down yang menutup album ini dengan sempurna. Menurutku Sun Goes Down itu liriknya meaningful banget, mengingatkan kita bahwa hidup itu cobaannya emang banyak, tapi nggak masalah. Although we fall for many times, we'll be fine. Kayak matahari yang tiap sore jatuh, tapi paginya selalu bisa bangkit lagi.

Overall aku suka sama album ini. Endah N Rhesa kembali membuktikan kalo mereka emang paling jago bikin lagu galau dan lirik meaningful. Dari musiknya sendiri juga khas banget. Nuansa di album Escape ini emang sedikit beda, tapi kita tetep bisa tahu kalo ini Endah N Rhesa. Lebih serunya lagi karena misteri cerita dan benang merah di trilogi album mereka akhirnya terungkap, jadi berasa didongengin.

Hmm... setelah album triloginya kelar, ke depannya mereka bakal bikin konsep apa lagi yaa? Can't wait!