Wednesday, March 26, 2014

My Rating:★★★★
Genre: Science-fiction, action

‘Resep’ film ini sama dengan trilogi The Hunger Games: bergenre science-fiction-action, diangkat dari novel bestseller, dengan tokoh utama seorang remaja perempuan. Tapi apakah hasil akhirnya juga sekeren The Hunger Games?

Dikisahkan, di Chicago masa depan manusia akan dibagi-bagi ke dalam lima faksi berdasarkan kecenderungan kepribadiannya: Erudite, Amity, Candor, Dauntless, dan Abnegation. Para remaja yang udah cukup umur harus mengikuti tes untuk menentukan faksinya.

Saat melakukan tes, Tris (Shailene Woodley) mengetahui kalau ternyata dia Divergent, yaitu memiliki lebih dari satu kecenderungan kepribadian, sehingga nggak masuk ke dalam lima faksi yang ada. Kaum Divergent ini dianggap membahayakan kedamaian yang telah tercipta, sehingga harus dimusnahkan. Tris pun merahasiakan hasil tesnya dan memilih masuk faksi Dauntless.

Di faksi untuk para pemberani ini, ternyata segalanya nggak berjalan mudah bagi Tris. Para anggota baru harus melalui sejumlah proses yang menentukan mereka boleh bergabung atau mesti dikeluarkan dari faksi. Pada proses ini Tris banyak dibantu oleh instrukturnya, Four (Theo James).

Dengan kesamaan ‘formula’ yang dimiliki, sulit untuk nggak membanding-bandingkan film yang disutradarai Neil Burger ini dengan trilogi The Hunger Games. Dari segi karakter tokoh utama, ada sedikit perbedaan, Katniss Everdeen digambarkan tangguh sejak awal sedangkan Tris mulanya adalah sosok lemah namun memiliki jiwa petarung. Menurutku Shailene Woodley berhasil memerankan Tris dengan baik, meski nggak sebaik Jennifer Lawrence sebagai Katniss. ;)

Dari segi jalan cerita, Divergent terasa lebih cheesy. Beda dengan seri pertama The Hunger Games yang mampu membuat penonton tegang sepanjang film, Divergent nggak terlalu banyak menampilkan adegan action dan sadis. Mungkin karena di film ini tujuan si tokoh utama emang lebih untuk menyembunyikan jati diri, ya. Divergent justru terasa cukup menonjolkan hubungan romance antara Tris dan Four. Tapi untunglah, kisah cinta Tris dan Four ini beda dengan cerita cinta segitiganya Katniss yang mengingatkan kita sama Twilight. =p

Kesimpulannya? Tentu kembali pada diri masing-masing, lebih suka yang cheesy atau banyak action-nya. Tapi terlepas dari perbandingannya dengan The Hunger Games, Divergent cukup menarik untuk ditonton. Terbukti saat ini, di minggu pertamanya tayang, film yang juga akan berbentuk trilogi ini langsung menempati nomor satu box office dengan memperoleh sekitar $US 56 juta. Lumayanlah. x)

Wednesday, March 19, 2014

Penyakit satu ini emang rada nggak elit. Soalnya mitos yang berkembang, bintitan (timbilen atau hordeolum) disebabkan karena penderitanya habis ngintip orang. Ada juga yang bilang sebabnya karena dikencingin kecoak. Eiyuh bingit kaaan? Makanya malu banget pas kemarin aku terjangkit penyakit ini. 

Menurut beberapa sumber yang kubaca di internet, bintitan terjadi ketika muara kelenjar pada lapisan kelopak mata atas atau bawah meradang. Peradangan ini disebabkan karena muara kelenjar itu tersumbat kotoran seperti debu atau makeup. 

Nah, biasanya bintitan ini bisa sembuh sendiri. Makanya aku santai aja kayak di pantai waktu tiba-tiba si bintit ini nongol di kelopak atas mataku awal Februari lalu. Tapiii, sebulan telah berlalu, ternyata si bintit ini betah. Dia sempat sih mengecil beberapa hari, tapi kemudian membesar lagi. Karena udah mulai panik, akhirnya Sabtu (7/2) lalu aku memeriksakan mataku di Rumah Sakit Mata Dr. Yap.

Waktu itu dokternya nggak bilang banyak. Beliau cuma menekan bintitku terus nanya, “sakit, nggak?” Aku bilang “nggak”. Sang dokter bilang, kalo bintitnya masih sakit, berarti masih bisa diobati pake salep. Tapi berhubung bintitnya udah nggak sakit, berarti jalan satu-satunya buat menyembuhkan bintitanku ya hanya dengan operasi minor, alias dikoret biar nanahnya keluar.

Sore itu juga, aku langsung menjalani operasi bintit. Operasinya ternyata cuma sekitar 10 menit aja, tapi nungguinnya yang sampe 2 jam. :| Dan kalo menurutku sih sebenernya operasinya nggak sakit-sakit amat. Kalo dibandingin sama nyeri haid mah, sakit operasi bintit ini tergolong sakit level cupu. :p Tapi emang, horornya lebih ke secara psikologis. Ruang operasinya bikin seremmm.

Jadi pertama-tama, mata kita bakal ditetesi obat yang rasanya agak perih. Rambut kita kemudian ditutup pakai kain, baru deh siap masuk ke ruang operasi. Di dalam ruang operasi, kita dipersilakan tiduran di tempat tidur yang diterangi lampu menyilaukan. Lalu muka kita bakal ditutup pakai kain yang bolong di bagian mata yang akan dieksekusi. Karena takut, aku langsung minta ijin dokter buat menutup mata, hehe. Aku pun nggak liat apa yang dokter lakukan pada kelopak mataku. Yang jelas aku ngerasa kelopakku disuntik, ditarik-tarik, rada sakit sih.

Setelah operasi selesai, mataku ditutup pake kain kasa. Darah sempet netes walaupun mataku udah ditutup, bikin rada parno. Tiga jam setelah operasi, sesuai petunjuk dokter, kain kasa itu akhirnya dilepas, kemudian mataku harus dikompres dan diberi salep. Aku pikir, setelah itu simsalabim mataku langsung cantik lagi. Tapi ternyata enggak. T.T Kelopak mataku masih bengkak. Kata temenku yang dokter, emang begitu. Butuh waktu sekitar seminggu sampai kelopakku pulih seperti semula. Tapi ternyata sampai sekarang, udah hampir dua minggu, kelopakku masih rada bengkak. :’( Emang sih udah mendingan banget, tapi tetep aja belum oke buat dipakein eyeliner, haha.

Nggak dinyana, bintitan ternyata bisa semenderita ini, plus memakan banyak duit pula. Biaya operasinya sekitar Rp 600 ribu. Tuh makanya, jangan sepelekan bintitan! Selalu jaga kebersihan daerah seputar mata!

Monday, March 17, 2014

Udah keliatan dari judulnya, konser yang digelar kemarin Sabtu (15/5) ini emang khusus menampilkan grup musik yang berformat duo. Unik banget! 

Begitu sampai venue Berdua Concert di Langensuko Park, Jogja, konsep pikniknya langsung ngingetin aku sama JOYLAND Festival. Tapi kalo menurutku sih, taman yang ada di Jogjakarta Plaza Hotel ini lebih berhasil membangun suasana pikniknya. Kebunnya dipenuhi rerumputan dan pepohonan asri, plus ukurannya juga nggak terlalu luas. Dekornya juga lucu, ada tenda kemping dan bendera-bendera yang digantung. Sayang aku baru dateng habis maghrib, padahal acaranya sebenernya udah mulai dari jam 4 sore. Kalo dateng dari sore, pasti seru banget foto-foto di sana!

Pas aku dateng, Bottlesmoker lagi beraksi di atas panggung. Musik band asal Bandung ini asik sih, tapi nggak ngerti deh mereka main berapa lagu, judulnya apa, habisnya musik semua nggak ada liriknya. ;p Sambil menikmati lagu-lagu elektropop dari Bottlesmoker, aku jajan jagung bakar yang dijual murah meriah di venue. xD

Setelah Bottlesmoker, giliran Teman Sebangku yang tampil. Ini pertama kalinya aku denger musik duo akustik asal Bandung itu, dan ternyata langsung suka! Suara Sarita sang vokalis terdengar sangat merdu saat membawakan sekitar enam lagu pada malam itu, di antaranya Berhenti Sejenak dan Menari.

Next, saatnya bergoyang bareng Stars and Rabbit! Malam itu Elda dan Adi ditemani seorang additional keyboardist, rada curang nih karena mereka tampilnya nggak cuma berdua. =)) Seperti biasa duo folk asal Jogja ini tampil asik, mereka membawakan sekitar sembilan lagu termasuk Rabbit Run dan Worth It. 

Stars and Rabbit
Jam udah menunjukkan angka sembilan, waktunya penampil terakhir malam itu: Endah N Rhesa! Ini yang kelima kalinya aku nonton duo akustik asal Jakarta itu, tapi baru yang pertama sejak album ketiga mereka dirilis Mei tahun lalu. Jadi aku rada penasaran juga sama daftar lagu yang bakal mereka bawain. Dan ternyata, tiga lagu pembuka penampilan Endah N Rhesa malam itu diambil dari album ketiga mereka yang berjudul Escape, yaitu Someday, No Tears from My Eyes, dan Spacybilly. 

Endah N Rhesa
Selanjutnya, pasangan suami-istri ini membawakan salah satu lagu dari album wedding mereka, Perfect Afternoon, disusul dengan Uncle Jim yang diambil dari album pertama. Kedua lagu itu lumayan jarang mereka mainin di panggung, jadi seneng banget bisa liat versi live-nya. Endah N Rhesa kemudian lanjut menghibur earFriends yang nonton dengan memainkan single pertama dari album kedua mereka, Tuimbe. Saking semangatnya ngegenjereng kali ya, senar gitar Endah putus pas bawain lagu ini! Sambil masang sendiri senar yang baru, Endah N Rhesa mainin sebuah lagu jadul berjudul Don’t Worry, Be Happy. 

Romantic, as always!
Di lagu kedelapan, Endah N Rhesa menyanyikan sebuah lagu berbahasa Indonesia yang belum mereka rilis, judulnya Balada TKW. Lagu bertempo pelan ini dulu juga pernah mereka bawain pas manggung di Pekan Raya Jakarta tahun 2011. Wish You Were Here dan Liburan Indie kemudian menyusul dimainkan. Berikutnya, ada lagu yang udah melambungkan nama duo favoritku ini, When You Love Someone! Endah lalu berimprovisasi menyanyikan lagu yang isinya promosiin buat beli album mereka. :D Seperti yang sudah-sudah, mereka menutup penampilan dengan lagu nge-blues Baby It’s You.

Walaupun udah beberapa kali nonton aksi live Endah N Rhesa, tapi tetep aja aku nggak bosen-bosen. Penampilan mereka selalu menghibur, romantis, interaktif, nggak lupa juga diselingi pamer skill yang keren. TOP banget deh!

Selain Endah N Rhesa, menurutku performers lain pada malam itu juga nggak kalah dahsyat. Salut juga buat panitianya yang udah berhasil membuat semua penonton tetap duduk dan menikmati konser romantis ini dengan tenang. Best concert I’ve watched so far!

Konsep pikniknya asik

Tuesday, March 4, 2014

My Rating:★★★★
Genre: Drama

Film ini cocok banget buat kamu yang ngerasa #ForeverAlone! =))

Cerita dalam film Her berpusat pada kehidupan seorang penulis bernama Theodore Twombly (Joaquin Phoenix). Theodore ini udah bertahun-tahun pisah rumah sama istrinya, Catherine (Rooney Mara), tapi dia keukeuh nggak mau menandatangani surat cerai.

Suatu ketika, Theodore membeli sebuah operating system (OS) semacam SIRI-nya Apple, tapi OS yang satu ini canggih banget dan berjenis kelamin perempuan. OS itu menamai dirinya sendiri Samantha (voice by Scarlett Johansson). Makin hari mereka makin deket, sampai akhirnya Theodore memutuskan buat dating sama OS-nya itu!

Tema yang diangkat emang unik banget ya, bikin jalan cerita film yang disutradarai Spike Jonze ini sulit ditebak. Kisah yang berlatar belakang tahun 2025 juga bikin film Her menampilkan banyak teknologi canggih yang bikin kita mupeng! Misalnya aja, manusia di film ini nggak butuh keyboard lagi untuk mengetik di komputer, tinggal ngomong aja. Waktu nge-game pun, kita bisa ngobrol sama karakter yang kita mainin!

Film berdurasi 126 menit ini lumayan menarik, walaupun kuakui aku sempet agak bosen di tengah-tengah. Tapi beneran deh, nggak rugi kok nonton film ini, apalagi kalo kamu senasib sama Theodore alias #ForeverAlone! =))